My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFF 125


__ADS_3

Diego & Arini




Hari hari berganti,


Semua berjalan seperti biasanya. Tiga hari setelah Diego mengungkapkan perasaan nya dan dijawab dengan sebuah tantangan oleh Arini, sejak saat itu Digo belum lagi menampakkan dirinya di hadapan gadis itu.


Entah kemana perginya pria itu. Ia tak pernah nampak lagi di restoran. Ia tak pernah nampak lagi menjemput Arini sepulang sekolah. Ia juga tak lagi mengirim pesan dan menghubungi gadis itu. Pria itu seolah olah selalu timbul dan tenggelam, sering ilang ilangan ketika ada masalah yang menerpanya.


Hal itupun sukses membuat Arini merasa kecewa. Sepertinya laki laki itu menyerah. Ia lebih memilih untuk mundur dengan ego nya yang setinggi gunung daripada harus datang ke rumah Arini guna menemui Calvin. Padahal Calvin sudah memberikan sinyal persetujuan untuk hubungan mereka. Andai Digo mau sedikit saja mengalah dan mencoba mendengarkan pengakuan Calvin, mungkin semua akan jadi lebih mudah.


Siang ini,


di halaman tak terlalu luas kediaman Calvin Alexander, pria berbadan tegap dengan dobok ( baju khusus taekwondo) ber sabuk hitam itu nampak sibuk melatih seorang gadis ber sabuk kuning disana.


Arini nampak kurang bersemangat. Pukulannya sering meleset. Gadis itu sesekali terjatuh tak mampu menangkis serangan dari sang ayah yang terus memborbardir Arini dengan pukulan dan hantaman.


buuuuuuuuuuggggghhhhh......


"iiissshh...!!" Arini terjatuh lagi. Calvin menghela nafas panjang.


"dah..! stop aja..! kamu nggak fokus..!!" ucap Calvin sembari menegakkan posisi berdiri nya yang semula nampak memasang kuda kuda.


Laki laki itu mendekati sang putri, mengulurkan tangannya, membantu gadis belia sembilan belas tahun itu untuk bangkit.


Arini meraih telapak tangan besar itu. Ia pun bangkit dari posisinya lalu berjalan mengikuti langkah sang ayah, lalu duduk di tangga teras rumah nya itu.


Calvin meraih botol minum pink pemberian Arini. Membukanya, lalu menenggaknya. Sedangkan Arini pun juga ikut meraih botolnya. Warna hitam, lalu menenggaknya.


"kayaknya bapak perlu ngajak kamu jalan jalan, Rin. Biar otak kecil kamu ini agak fresh dikit..!" ucap Calvin sembari mengetuk ngetuk ringan jidat anak gadisnya itu.


Arini hanya memonyongkan bibirnya sembari menutup botol minum miliknya.


"pergi yuk.." ucap Calvin pada gadis yang hari ini sengaja tidak masuk kerja itu.


Arini menoleh.


"kemana, pak?" tanya Arini.


"motoran aja..! kemana kek, yang penting keluar..! cari cari makan..!" ucap Calvin lagi.


"ih, bapak..! hobinya ngajakin anaknya cari makan terus..! entar kalau Arin gendut gimana?" tanya Arini.


"ya abisnya kamu dari tadi nggak fokus..!" ucap Calvin.


"udahlah, jangan terlalu dipikirin. Mungkin dia nggak ada kabar karena masih butuh waktu untuk berfikir. Kamu yang sabar ya..." ucap laki laki itu.

__ADS_1


Arini mengulum senyum. Ia meringsut. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang ayah. Calvin yang berkeringat pun nampak membelai kepala gadis belia sembilan belas tahun itu.


"bapak..." ucap gadis itu.


"apa?" tanya Calvin.


"makasih ya..." ucap Arini.


Calvin menyipitkan matanya.


"untuk?" tanya Calvin.


"untuk sayangnya bapak ke aku" jawab gadis itu.


Calvin terkekeh. Dipeluknya tubuh ramping itu dengan erat lalu mengecup pucuk kepalanya singkat.


"udah, nggak usah bahas yang melow melow. Mending sekarang kamu mandi. Ganti baju. Dandan yang cantik. Kita jalan jalan berdua..! oke..?!" tanya Calvin.


Arini mendongak.


"oke..!" jawab gadis itu dengan mimik wajah dibuat seimut mungkin. Calvin tersenyum lucu. Tangannya tergerak mengacak acak lembut rambut sang putri.


Gadis itupun lantas bangkit. Arini yang hari ini memiliki waktu cukup senggang lantaran tak ada jadwal kuliah juga memilih libur kerja itupun berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dan dengan segera menuju kamar untuk membersihkan diri.


Setengah jam kemudian. Gadis itu nampak sudah siap. Dengan kaos hitam dan celana hitam, gadis itu nampak keluar dari kamarnya. Menuju ruang tamu tempat dimana sang ayah sudah duduk menunggu kedatangan nya disana.



Calvin tersenyum, lalu bangkit.


"siap?" tanya Calvin.


"siap..!!" jawab gadis itu.


"ya udah, yuk..!" ucap duda empat puluh tahun tersebut.


Arini mengangguk. Calvin meraih tangan sang putri. Keduanya pun lantas pergi dari tempat itu menggunakan satu motor Calvin.


Motor melaju menembus jalan raya. Calvin mengendarai kendaraan roda duanya sambil membonceng Arini yang berada di belakangnya. Calvin mengajak gadis kecilnya berjalan jalan berdua keliling kota, sekedar mencari udara segar dan membuang rasa penat mereka.


Sesekali Calvin mengajak sang putri berbincang. Saling tertawa bersama sama. Mereka sesekali berhenti sekedar membeli jajanan, hunting kuliner serta tempat tempat yang enak untuk sekedar duduk melepas penat.


Hanya sebuah cara sederhana yang dilakukan sepasang anak dan ayah untuk membuang suntuk sekaligus mempererat ikatan keluarga diantara keduanya.


Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya sore pun menjelang.


Calvin dan Arini pulang kembali ke rumah mereka setelah seharian berkeliling kota.


Motor besar itu berhenti tepat di halaman rumah yang tak terlalu luas itu, di samping sebuah mobil mewah yang terparkir disana.

__ADS_1


Arini turun, melepas helm nya. Gadis itu nampak diam. Diamatinya mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya itu. Itu bukan milik ayahnya.


Calvin mematikan mesin motornya. Turun dari sana dan berdiri di samping sang putri. Keduanya pun lantas melangkah menuju teras rumah dua lantai itu.


"hai...Arini....." sapa seorang wanita anggun yang nampak duduk di sebuah kursi yang berada di teras rumah itu.


Ya, itu Giselle..!


"kak Giselle?" ucap Arini.


Giselle bangkit, sembari menenteng sebuah paper bag di tangannya. Ia mendekati sang gadis manis lalu memeluknya hangat. Arini hanya diam. Padahal dalam hatinya sudah berdebar tadi. Ia pikir Diego yang datang, ternyata malah kakaknya.


"kalian dari mana?" tanya Giselle sembari melepas pelukannya atas anak Calvin Alexander itu.


"abis keluar bentar, kak, sama bapak" ucap Arini.


Giselle hanya mengangguk sembari tersenyum. Tangannya kini tergerak merangkul pundak gadis cantik itu. Hal yang selalu ia lakukan ketika bertemu dengan Arini.


"kakak udah lama?" tanya Arini basa basi.


"belum, kok. Tadi kakak kebetulan lewat. Jadi kakak mampir." ucap janda cantik itu.


"oh ya..! nih, tadi kakak bawain kamu baju. Kakak ambil dari butik kakak. Waktu pertama kakak liat ini kakak langsung inget kamu. Kakak langsung ambil deh satu, buat kamu. Ada juga satu buat bapak kamu.." ucap Giselle sembari menyodorkan paper bag itu pada Arini. Tak lupa ia juga melirik sekilas ke arah duda berparas datar yang kini menatap nya dan Arini itu.


Gadis itupun menerimanya.


"ya ampun, makasih, kak. Malah ngerepotin" ucap Arini.


"enggak kok, sayang" jawab Giselle manis.


Giselle menoleh ke arah duda gondrong itu. Calvin hanya diam. Memasang muka tanpa tanpa ekspresi dan ucapan barang sepatah katapun.


"ya udah, masuk yuk, kak?" tanya Arini.


Giselle tersenyum.


"oke.." jawab nya.


Arini pun melangkah kan kakinya, masuk ke dalam rumah bersama Giselle di susul Calvin di belakang mereka.


Tanpa ketiga manusia itu sadari. Ada sebuah boneka beruang berwarna pink yang jatuh dari sebuah tangan kekar seorang pria. Boneka itu nampak tergeletak mengenaskan tepat di depan halaman rumah dua lantai tanpa pagar itu.


Sorot mata nanar terlihat disana. Pria yang baru saja datang itu kemudian berbalik badan. Mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah itu menemui pemiliknya.


...----------------...


Selamat pagi,


salam subuh dari yang libur puasa🤭😁

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2