My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 54


__ADS_3

Siang menjelang di sebuah restoran ternama di kota itu.


Seorang pria berambut gondrong berpakaian preman nampak memasuki tempat makan yang cukup mewah itu.


Duda dengan satu anak yang hingga kini belum jelas dimana keberadaan nya itu lantas mendudukkan tubuhnya di salah satu meja kosong yang berada disana.


Ya, itu Calvin Alexander.


Laki laki itu nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari sosok gadis lucu yang sudah dua kali ia temui.


Entah mengapa, sesuatu mendorongnya untuk kembali ke tempat itu dan menemui gadis polos yang sedikit bodoh tersebut. Gadis itu sangat lucu. Senyum dan tawa cerianya seolah terus menari nari dalam ingatan Calvin. Ia bahkan sampai lupa untuk menyempatkan diri berkunjung ke rumah Diego untuk menanyakan perihal anaknya yang mungkin pernah datang ke rumah itu beberapa bulan lalu.


Calvin masih celingukan. Kemana gadis itu? kenapa tidak terlihat? apa ia sedang mengantar delivery? atau, terjadi sesuatu padanya saat ia meninggalkan nya kemarin? jangan jangan dia dipecat..??!! pikir pria berusia empat puluh tahun itu.


Calvin nampak sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga tiba tiba seorang karyawan wanita datang mendekat.


"selamat siang, tuan. Mau pesan apa?" tanya si pelayan ramah.


Calvin tersadar dari lamunannya. Ia lantas meraih sebuah daftar menu yang ada di atas mejanya. Laki laki itu kemudian memilih milih sejenak lalu menunjukkan makanan yang ingin ia pesan.


"ini aja" ucap Calvin.


"baik, kalau begitu silahkan tunggu sebentar ya, tuan. Nanti makanan nya kami antar" ucap si pelayan.


Calvin hanya mengangguk.


"oh ya, teman lu yang kemarin di omelin bosnya itu mana?" tanya Calvin pada pelayan wanita itu.


Wanita yang mungkin seumuran dengan Arini itu nampak mengernyitkan dahinya.


"Arini?" tanya wanita itu.


"nah, iya..! Arini..! dimana dia? kok nggak kelihatan?" tanya Calvin.


"hari ini dia nggak masuk, tuan"


"nggak masuk? kenapa?" tanya Calvin.


"katanya ayahnya sakit. Makanya dia izin hari ini" ucap gadis itu.


Calvin diam sejenak. Lalu mengangguk samar.


"ok..." ucal laki laki itu sembari menggerakkan telapak tangannya seolah meminta pelayan wanita yang masih muda itu untuk pergi. Sang pelayan pun menurut.


Calvin menghela nafas panjang. Ternyata ayahnya sedang sakit. Gagal deh ketemu gadis lucu itu, pikir Calvin.


Seutas senyum terbentuk dari bibirnya yang kelilingi bulu bulu lebat.


"gadis kecil yang baik" ucap laki laki itu kemudian. Calvin lantas mengeluarkan ponselnya, lalu memainkan nya sembari menunggu pesanan nya datang.


...****************...


Malam menjelang, ditempat terpisah....


Hoooeeeekkk......


Hooooeeeeekkkk.....


Pria tampan itu kembali berjibaku di wastafel kamar mandi itu. Bersama sang putri yang sejak tadi tak beranjak dari kamar mewah tersebut, menemani sang daddy kesayangan yang sedang tidak baik baik saja tersebut.


Dokter Irwan sudah pulang siang tadi setelah melakukan berbagai pemeriksaan pada laki laki itu. Asam lambung nya naik, dipicu makanan sembarangan, serta kafein tinggi yang masuk ke dalam tubuh pria itu. Serta pola makan yang berantakan dan faktor kelelahan membuat kondisi fisik Diego makin melemah. Ingat kan, beberapa hari belakangan ini Digo memang sangat sering kerja lembur? ia bahkan masih bekerja dari rumah hingga larut malam. Tak ayal, kini kondisi laki laki itupun drop.


Arini nampak menatap iba sekaligus jengkel ke arah sang ayah. Ia yang sejak tadi merawat ayah nya itu dibuat frustasi dengan tingkah laku seorang Diego yang bak anak kecil ketika sedang sakit. Disuruh makan tidak mau. Di suruh minum obat tidak mau. Di buatkan bubur tidak mau. Sup tidak mau. Ditinggal tidak mau. Seharian laki laki itu hanya merintih sambil meringkuk memeluk guling. Meratapi rasa sakit yang ia derita tanpa melakukan kegiatan apapun guna menghilangkan rasa sakitnya.


Arini tidak di izinkan keluar kamar. Tangan nya terus dipegangi oleh Diego seolah tak diizinkan untuk bergeser barang se senti pun. Laki laki itu minta di temani, di usap usap rambutnya, di selimuti, dipijat di area atas pergelangan tangan nya, dan sebagainya.

__ADS_1


Sungguh, jika sakit begini, Diego tak terlihat seperti Digo si pria tampan dengan sejuta pesonanya. Ia lebih terlihat seperti anak mama yang begitu manja dan selalu ingin minta di manja.


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


"Allahu Akbar..." ucap Arini sembari menghela nafas.


Laki laki itu tumbang di bawah wastafel. Ia meringis lagi. Hasrat nya ingin muntah namun sejak tadi tak ada yang keluar dari mulutnya.


Bagaimana bisa keluar sedangkan sebutir nasi pun sejak tadi tak ada yang masuk ke tubuh Digo.


Laki laki itu lemah. Wajahnya pucat. Tenaganya seolah benar benar habis.


Arini sedikit membungkuk. Meraih tubuh tegap itu dengan susah payah.


"yok, bangun, yok. Pindah ke ranjang yuk. Ntar tambah masuk angin kalau duduk disini.." ucap Arini mencoba sabar sejak tadi.


Digo yang lemah pun tak menjawab. Ia bersusah payah untuk bangkit di bantu sang putri. Arini lantas memapah Diego menuju ranjang besar itu. Mendudukkannya dalam posisi bersandar di sandaran empuk kasur mahal itu.


Arini lantas meraih bubur di atas meja. Bubur yang dibuatkan oleh bik Sumi tadi. Ia naik ke ranjang lalu menyendok kan bubur lembek itu untuk sang ayah.


"daddy makan dulu ya..." ucap Arini.


Digo menggelengkan kepalanya lemah.


"kalau nggak makan daddy kapan sembuhnya" ucap Arini.


Digo nampak memejamkan matanya. Arini menghela nafas panjang.


Kalau lagi sehat aja angkuhnya setengah mati. Badan gede, muka brewokan, sombongnya nggak kira kira. Giliran kena kopi dua cangkir aja langsung klenger🥱🥱


Ciiihh, lemah...! batin Arini menggerutu dibalik sikap sabar dan full senyumnya.


Arini nampak menyodorkan satu sendok bubur itu ke mulut Digo. Digo memalingkan wajahnya.


"buburnya benyek..." ucap Digo lemah.


"lah, kalo keras ya batu, dad..! yang namanya bubur dimana mana juga benyek..!" ucap Arini.


"ayo dong, dad. Makan dulu" ucap Arini lagi.


"nggak mau..!" ucap Digo bak bocah yang mogok makan.


"satu aja, daddy. Biar cepet sembuh, biar bisa kerja lagi. Yuk, a' yuk...." ucap Arini bak membujuk seorang anak kecil.


Digo menatap jijik ke arah bubur itu. Lalu dengan gerakan ragu ragu ia pun membuka mulutnya tak terlalu lebar. Dengan segera, tanpa membuang buang waktu keburu si mulut tertutup lagi, Arini pun memasukkan sendok itu kedalam mulut ayahnya. Gerakannya sedikit kasar, membuat sendok pun tanpa sengaja mengenai gigi Digo.


"pelan pelan..!" ucap Digo yang lemah itu dengan sedikit kesal.


"i, iya..maap, maap.." ucap Arini.


Diego mengunyah buburnya. Arini kembali menyuapi laki laki itu dengan telatennya.


"udah..." ucap Digo lemah. Arini pun tak memaksa. Tiga sendok bubur sudak masuk kedalam tubuh Diego. Lumayan, dari pada tidak makan sama sekali.


Arini meletakkan mangkok bubur di atas nakas. Kemudian meraih beberapa obat yang tadi Bik Sumi tebus di apotik sesuai resep dari dokter Irwan.


"minum obat dulu, dad" ucap Arini.


"pait..!" ucap Digo lemah sambil memalingkan wajahnya.


"Ya Allah Ya Rabb...! daddy udah tua, dad. Minum obat aja takut pait??" tanya Arini tak habis pikir.


Digo masih tak mau menatap putrinya.


"ayok, minum yuk. Biar cepet sembuh, daddy" ucap Arini sambil menyodorkan beberapa tablet obat itu"

__ADS_1


"Arini, itu pait..!" ucap Digo.


"kan obat..?!!! kalau asin itu upil, bapaaaaakkk.....Ya Allah....!! masak iya minta digerus dulu kayak anak bayi, dad..!" ucap Arini lelah.


Digo berdecak kesal.


Dengan penuh keterpaksaan dan berbagai bujukan yang Arini lancarkan, akhirnya obat obatan itupun masuk dengan sempurna ke dalam tubuh Diego.


Arini lantas membantu laki laki itu tidur lagi. Menyelimuti tubuh pria yang kini terbaring meringkuk memeluk guling itu.


Arini menggerakkan sebelah tangannya. Memijit mijit lengan sang ayah seolah ingin mengantarkan sang ayah untuk menyelami alam mimpinya. Sedangkan satu tangan lainnya kini nampak di dekap oleh Digo seolah tak mengizinkan gadis belia itu untuk menjauh darinya.


Tak lama, Diego pun terlelap. Arini tersenyum menatap wajah tampan dengan mata terpejam itu.


Arini melongok menatap jam di dinding. Masih jam delapan malam. Gadis itu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Seolah ingin meregangkan otot otot lehernya yang kaku.


Ia juga merasa lelah. Sejak tadi ia juga belum beristirahat.


Arini merebahkan tubuhnya di samping Diego. Dengan tangan yang masih didekap erat oleh Digo, Arini pun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Ia memiringkan tubuhnya menghadap sang ayah yang terlelap. Membuat keduanya kini terbaring di kasur yang sama dalam posisi saling berhadap hadapan dengan satu tangan Arini yang di peluk manja oleh sang Diego.


Hanya ada satu guling yang membatasi tubuh mereka.


Arini tersenyum. Diamatinya wajah tampan itu.


Laki laki ini benar benar berparas sempurna. Jika sedang tidur begini, ketampanan nya justru semakin terlihat. Arini menggerakkan satu tangannya yang bebas. Disentuhnya wajah laki laki itu. Mungkin ini yang namanya kagum pada sosok ayah. Kan kata orang orang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayah kandungnya.


Arini mendekat kan wajahnya. Merebahkan kepalanya diatas guling yang berada di hadapannya. Membuat wajahnya dan wajah sang Diego kini semakin dekat. Arini tersenyum. Digo makin tampan. Bahkan sangat tampan.


Gadis belia itu nampak sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga tiba tiba ...


"hiks...."


Digo tiba tiba menangis dengan mata tertutup. Tangannya makin mendekap erat dan posesif lengan Arini.


Gadis itu terdiam.


"dad, daddy kenapa?" tanya Arini.


Digo masih memejamkan matanya. Ia menangis..!


"nggak..! jangan pergi...! no..! jangan....! please, jangan pergi...! hiks...!" ucap Diego makin menangis ketakutan. Ia memeluk erat lengan Arini dan menciumi dengan mata yang masih tertutup. Sepertinya laki laki ini sedang mengigau.


Arini melempar guling di hadapannya asal. Ia mendekat kan tubuhnya pada Digo, berniat untuk menyadarkan laki laki itu dari mimpi buruknya.


"daddy..! ini Arin...! daddy kenapa?" tanya Arini sambil menepuk nepuk pipi Diego.


Digo masih menangis.


"jangan bawa dia, Tuhan. Steff, please..! kembali..!!" ucap pria itu lagi. Arini menggerakkan tangannya. Dalam posisi tubuh yang sangat dekat, wanita itu memeluk tubuh Digo, membelai rambutnya seolah memberikan ketenangan untuk laki laki itu.


"aku nggak pergi, aku ada disini..! daddy tenang ya..." ucap Arini mencoba menenangkan Digo yang masih sesenggukan.


Digo terus menangis. Ia menciumi tangan Arini. Seolah begitu takut kehilangan wanita itu. Arini terus membelai rambut Diego. Sambil membisikkan kata kata untuk memenangkan sang ayah. Perlahan laki laki itu mulai tenang. Ia menempelkan satu telapak tangan Arini di pipi nya seolah menggunakan nya sebagai bantal.


Digo perlahan mulai kembali menyelami alam mimpinya. Membuat rasa kantuk tanpa sadar juga menyerang gadis belia itu.


Arini pun mulai memejamkan matanya. Keduanya lantas terlelap di ranjang yang sama dalam posisi tubuh yang saling berdekatan.


...----------------...


Selamat malam


up 19:06


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2