
braaaaaakkkk...!!
kresek berisi sayur-mayur itu dibanting di atas meja ruang tamu. Bu Tri yang tengah dalam puncak amarahnya itu nampak melepas hijab merahnya, membantingnya ke sofa bunga-bunga yang berada di sana.
"dasar anak haram...!!" umpat wanita berusia empat puluh delapan tahunan itu.
"satu keluarga enggak ada yang bener...!! ibunya murahan...! Anak sama bapak sama-sama berandalan...! ya begitu itu kelakuan anak haram bikinnya jadi lewat jalur dosa gimana bisa punya akhlak yang baik..!" tambahnya seolah ingin menyalurkan emosinya yang baru saja dipermalukan oleh Calvin dan anak serta menantunya.
"lihat saja kamu, anaknya Dewi..! saya akan bikin perhitungan sama kamu..! saya tidak terima kamu dan bapakmu mempermalukan saya seperti itu...!!" ucap wanita bermulut pedas tersebut.
"buk...."
Suara itu berhasil membuat bu Tri yang tengah emosi menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana seorang laki-laki muda berusia dua puluh tahunan nampak keluar dari kamarnya. Itu adalah Hilman Agustaf, atau sering dipanggil Agus, anak kebanggaan nya. Seorang anak muda dengan kulit putih dan rambut cepak yang bisa di bilang cukup berprestasi di masa sekolah nya.
Pemuda itu nampak berjalan mendekati sang ibu yang terlihat tidak baik-baik saja. Hal itu dapat dilihat dari mimik wajah bu Tri terlihat begitu tegang merah padam.
"Ibu kenapa pulang-pulang kok marah-marah? mana sayurannya dilempar-lempar, lagi. Ada apa sih, Bu?" tanya Agus.
Bu Tri tak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu nampak meraih lengan sang putra, kemudian mengajaknya duduk di salah satu sofa panjang ruang tamunya.
"Ada apa sih, Buk?" tanya Agus.
"eh, Gus..! gimana? udah ada kabar dari perusahaan besar yang kamu kirim lamaran kerja itu?" tanya wanita itu.
"belum ada, Buk. Aku belum dapat panggilan. Emangnya kenapa?" tanya Agus.
Bu Tri menghela nafas panjang. Ia nampak kecewa.
"Kamu tahu nggak, Gus. Perempuan yang dulu godain kamu itu, sekarang dia pulang lagi ke kampung ini..!" ucap wanita itu.
Agus nampak mengernyitkan dahinya.
"siapa, Buk?" tanya Agus.
"itu..! anaknya Dewi..! yang rumahnya reyot di pinggir sawah itu..! ucap bu Tri.
Agus diam sejenak seolah tengah berfikir. Lalu..
"Arini?" tanya laki-laki itu dengan mimik wajah yang nampak berubah. Terlihat ada binar bahagia yang berusaha ditutupi di sana.
"ya siapa lagi kalau bukan dia kan emang cuma dia anak kecil gatal yang berani godain kamu..! nggak sadar diri..! nggak punya malu..!" umpat Bu Tri.
Agus menghela nafas panjang. Ibunya memang sejak dulu tak suka dengan Arini. Tak lain dan tak bukan adalah karena latar belakang keluarga Arini yang begitu buruk di mata masyarakat.
"sampai kapan, sih, ibuk beranggapan buruk terus tentang Arini? dia itu gadis baik-baik, Buk. Dia nggak seburuk yang ibuk pikirkan" ucap Agus.
"kamu juga mau sampai kapan belain dia terus?! nggak sadar kamu kalau dia itu bukan perempuan bener..! sama kayak ibunya..! udahlah gak usah ngomongin dia..! sekarang ibuk minta, ya,.nanti malam kamu harus datang ke rumah wanita itu sama bapak kamu..! labrak dia..! Kamu tahu nggak, bapaknya tuh tadi baru saja mempermalukan ibuk..! ibuk didorong-dorong sama bapaknya..! sampai ibuk jatuh..! mulut ibuk disumpal pakai bayam sama bapaknya yang berandalan itu..! Ibuk nggak terima, Gus..! pokoknya kamu harus bikin perhitungan sama mereka..! kamu tunjukkan kalau kamu itu adalah calon orang sukses yang bakal bekerja di perusahaan besar di kota..! Biar tahu rasa mereka..? kamu juga harus bawa bapak kam,u biar bapaknya Arini itu tahu, kalau kamu itu anak seorang guru senior di kampung ini..! mau macam-macam dia sama kita..! dia nggak tahu siapa kita..!" ucap Bu Tri penuh emosi.
Agus menggelengkan kepalanya. Ibunya ini memang memiliki hati yang keras. Tak seperti ayahnya yang masih bisa dibilang tenang dan bijaksana.
Wanita selalu bangga dengan jabatan yang suaminya miliki sebagai seorang guru, serta mendiang ayahnya yang merupakan mantan pejabat desa kampung itu. Ia seolah merasa adalah orang yang paling tinggi di kampung ini. Mungkin Bu Tri lupa, bahwa desas-desus yang beredar selama ini selalu mengatakan, bahwa Arini terlahir dari benih seorang pengusaha kaya raya. Makanya ia meminta suami dan anaknya untuk datang ke rumah Arini dan membuat perhitungan dengan wanita itu serta bapaknya. Seolah ia merasa bahwa orang yang dihadapinya bukanlah siapa siapa.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah....
"lo kirim semua data tentang laki-laki yang namanya Agus itu. Lu hubungin dia, dan bilang kalau dia diterima kerja di perusahaan kita. Tapi gue mau interview dia secara langsung. Suruh dia datang ke alamat rumah gue. Gue tunggu paling lambat besok siang..!" ucap Diego pada Sam sang tangan kanan melalui sambungan telepon.
"iya ,iya...! gue kirim sekarang..! emang susah sih kalau punya istri tuan putri..! senggol dikit bacok..!" ucap duda tampan itu dari seberang sana.
__ADS_1
"bac*t lu..!" jawab Diego.
Sam tergelak dari seberang sana. Diego yang kini berada di kamarnya itu nampak kembali menghisap rokok yang terapit diantara dua belah bibirnya itu.
"Ya udah, gue mau lanjut kerja...! gue tutup, ya..! gue kirim segera data pribadinya si Agus..!" Ucap Sam kemudian.
"oke..!" jawab Diego yang kini tengah menghadap sebuah laptop yang terbuka itu.
Sambungan telepon pun terputus. Digo kembali fokus pada layar laptopnya. Niat hati ingin beristirahat dari segala rutinitas pekerjaannya selama dua minggu ke depan di kampung yang indah ini. Namun pada kenyataanya tidak begitu berhasil. Baru dua hari ia berada di sini, sudah ada saja masalah yang harus ia selesaikan.
Laki-laki itu terlanjur kesal dengan ucapan menyakitkan dari wanita paruh baya yang sempat ada mulut dengan istrinya tadi pagi. Rasanya tangan Diego sangat-sangat gatal ingin membalas dendam pada wanita paruh baya itu meskipun Arini tidak mengungkapkan sakit hatinya. Ia bahkan melarang Diego untuk melakukan hal yang aneh aneh. Tapi sayang, ia dan mertua laki lakinya sudah terlanjur tak terima wanuta6 cantik kesayangan mereka dihina seperti itu di depan banyak orang. Wanita tua itu benar benar tidak tahu, sedang berhadapan dengan siapa.
ceklek....
pintu kamar terbuka...
Seorang pria berambut gondrong muncul dari balik pintu lalu menyandarkan tubuh kekarnya itu di kusen sana. Membuat Diego pun menoleh ke arahnya.
"ketuk pintu dulu, kek" ucap Diego pada sang mertua. Seolah sedang berbicara bukan dengan mertuanya.
"udah lu telepon asisten lu?" tanya Calvin yang juga berbicara seolah bukan dengan menantunya.
"udah..!" ucap Diego tanpa menoleh.
Calvin hanya manggut-manggut dengan kedua lengan yang dilipat di depan dada.
Arini datang....
"bapak, daddy...sarapan dulu. Udah mateng tuh..." ucap wanita itu.
Digo tak menjawab. Sebuah email berisi data lengkap Agus yang Sam kirim masuk dalam laptopnya.
"dad..." ucap Arini.
"bentar, baby .." ucap Digo tanpa menoleh.
Arini yang melihat sang suami begitu serius dengan laptopnya berjalan mendekati laki-laki tampan kesayangannya tersebut.
"kamu lagi ngapain, sih?" tanya Arini.
Wanita itu kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Diego. Fokus matanya kemudian tertuju pada layar laptop, di mana foto seorang pemuda berkulit putih terpampang jelas di sana.
"daddy...!!" ucap Arini.
Diego menoleh ke arah wanita itu.
"dad, daddy mau ngapain?" tanya Arini.
Diego kembali menyesap batang bernikotin miliknya.
"Daddy nggak ngapa-ngapain, sayang" ucap laki-laki itu sembari menutup benda canggih miliknya itu.
"terus itu? itu kan fotonya si Agus?? daddy mau ngapain?" tanya Arini tak tenang.
"daddy nggak usah aneh-aneh, deh..! kita kan ke sini niatnya mau liburan bukan mau bikin gara-gara..!" ucap Arini lagi.
"yang bikin gara-gara itu siapa? ibunya duluan yang gangguin kamu..! daddy kan udah pernah bilang, daddy nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu..!" ucap Diego tanpa lepas menatap wanita kesayangannya itu.
"tapi, dad...."
__ADS_1
"udahlah, Rin..! suami kamu cuma lagi butuh karyawan baru..! dan dia mau menerima lamaran kerja dari mantan pacar kamu itu..! ya udah..! suami kamu baik, dong..!" ucap Calvin membela menantunya. Entah sejak kapan kedua pria itu jadi kompak begini.
Arini menoleh ke arah Diego dan Calvin bergantian.
"kok bapak ikut ikutan kayak daddy, sih?" tanya Arini.
"bapak hanya ingin ikut membalaskan sakit hati kamu..! tidak lebih dari itu" ucap Calvin.
Arini tak bisa menjawab. Ia hanya diam. Diego menggerakkan tangannya membelai lembut kepala sang istri
"udah, nggak usah dipikirin, baby. Serahin semua sama daddy dan dia. Kamu hanya perlu diam dan menyaksikan.." ucap Diego sembari melirik ke arah Calvin sejenak lalu kembali fokus pada Arini.
Arini menghela nafas panjang. Ia hanya takut jika kedua pria itu kebablasan dalam memberi perhitungan pada bu Tri dan keluarganya.
"dah, makan yuk..! daddy laper...!" ucap Diego.
Arini menatap sendu ke arah sang suami.
"daddy...." ucap wanita itu.
"apa?" tanya Digo.
"panggil bapak, dong" ucap Arini. Digo dan Calvin apa mengerikan dahinya.
"maksudnya?" tanya Digo.
"dia bapakku..! jangan memanggil lo gue lo gue..! dia die dia die...! panggil bapak..! nggak sopan banget ini menantu..!" ucap Arini protes mendengar cara Diego memanggil ayah kandungnya.
Calvin yang tadi berdiri di depan pintu nampak menggigit bibir bawahnya. Mengedarkan pandangannya ke segala arah sembari mengulum senyum.
Diego diam...!
"buruan panggil..! bapaaaakkk...gitu..!" ucap Arini mulai cerewet.
Diego berdecih. Ia kemudian bangkit, meraih gulinh di atas ranjang lalu melemparkannya ringan ke arah sang istri.
"gue nggak norak kayak lu..! hari gini manggil bapak..!" ucap Diego sembari berjalan keluar dari kamarnya melewati Calvin yang nampak senyum senyum.
"iiihhh...! daddy...! panggil yang bener...!" ucap Arini protes.
"bapaaaakk, lihat tuh anak mantumuuuhhh....!! nggak sopan banget...!! banting aja, pak..! celupin palanya ke baskom...!!" ucap Arini meminta dibela ayahnya.
Calvin hanya terkekeh. Ia berbalik badan.
"males" ucap pria itu santai.
"astaga, Tuhan..! mantu ama mertua sama aja...!" ucap Arini tak habis pikir.
Baru kali ini ada mantu kurang aj*r ama mertua di diemin aja..! pikir wanita muda itu.
...----------------...
Selamat malam
up 20:23
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
...----------------...
__ADS_1