
"apa apaan ini?!!"
suara itu berhasil membuat sepasang ayah dan anak yang belum saling mengetahui kebenaran di antara mereka itupun menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya disana seorang wanita bertato dengan beberapa tindik di tubuh nampak berdiri di depan pintu. Menatap tajam dan aneh ke arah sepasang pria wanita yang nampak pangku pangkuan itu.
Arini yang menyadari posisi tubuhnya terlalu dekat dengan Calvin itupun lantas bangkit dengan cepat. Ia nampak gugup sambil menggerakkan tangannya merapikan beberapa helai rambutnya yang tergerai ke depan dan menyelipkan nya di belakang telinga.
Calvin merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Menatap datar ke arah Arini yang nampak gugup.
Anya memasang wajah tak bersahabat. Dengan langkah cepat dan memburu, wanita bertato yang diam diam menaruh hati pada Calvin itupun mendekati gadis muda tersebut.
"heh, anak kecil..!! ngapain lo disini?!!" tanya Anya sambil mendorong pundak Arini. Gadis itu nampak menciut.
"a, sa, saya nganter makanan, mbak..." ucap Arini sedikit takut. Wanita itu terlihat seram dengan penampilan nya yang tomboy dan berandalan.
"nganter makanan ampe pangku pangkuan kek gitu..! gatel banget lo anak kecil?!" ucap Anya ngegas.
"enggak..!!" ucap Arini mengelak.
"enggak, enggak..! lu pikir gue buta..?! lu mau godain laki laki dewasa? dia lebih cocok jadi bapak lo bisa bisanya lu godain?!" ucap Anya terlihat begitu marah.
"saya nggak ngapa ngapain, mbak..! saya tadi kepleset..!" ucap Arini membela diri.
"bac*t banget lo............."
"udah...!!! berisik lu berdua ya...!!" ucap Calvin dengan tegas dan lantang membuat kedua wanita beda usia itupun terjingkat kaget.
Laki laki itu nampak menatap kesal ke arah dua wanita itu. Arini menunduk. Anya terlihat menatap bengis kearah Arini.
"pulang lo..!" titah Calvin pada Arini.
Gadis itu dengan cepat mengangguk.
"i, iya, om..! saya permisi, assalamualaikum..!" ucap Arini.
"wa alaikum salam.." jawab Calvin lirih nyaris tak terdengar.
Arini langsung ngacir. Anya menatap tidak suka ke arah gadis itu. Dasar gadis tidak tahu diri. Masih kecil udah ganjen..! ia tidak tahu siapa laki laki yang telah ia goda itu..! batin Anya kesal.
Calvin menatap tajam ke arah Anya.
"lu ngapain liatin bocah itu kayak gitu?!" tanya Calvin membuat Anya reflek menoleh.
"lu ngapain sih, bang? itu anak kecil..!" ucap Anya tak suka.
__ADS_1
"lu kenapa sih? dia cuma kurir..! lagian lu ngapain kesini? gue udah pesen makanan..!" ucap Calvin santai sambil meraih rokok di atas meja, mengeluarkan sebatang lalu menyalakan nya.
Anya nampak mendengus kesal. Laki laki itu sama sekali tidak peka atas semua yang Anya berikan padanya selama ini. Padahal ia selalu berusaha menunjukkan perhatian nya pada pria yang sudah lebih dari sepuluh tahun menduda itu. Tapi tetap saja, Calvin terus bersikap cuek dan dingin pada dirinya. Ia menganggap Anya tak lebih dari teman sekaligus anak buah.
Calvin melirik ke arah wanita yang nampak memasang wajah tak bersahabat itu.
"taruh aja di dapur..! ntar gue makan buat makan malem..!" ucap Calvin kemudian.
Anya menghela nafas panjang.
"iya, bang" jawab wanita itu.
Anya pun segera berlalu pergi dari tempat itu. Menuju dapur untuk meletakkan makanan yang ia bawa disana.
Calvin menghisap rokoknya. Dengan tubuh yang masih bersandar di sandaran sofa, laki laki itu nampak menatap lurus ke arah langit langit rumahnya. Bayangan paras manis gadis belia tadi kembali menari nari dalam benaknya.
Entahlah, ia seperti mengenal paras yang seperti itu. Tapi dimana, ia lupa..!
...****************...
Saat jam makan siang...
Gadis itu nampak berjalan terburu buru memasuki sebuah bangunan tinggi milik daddy tampan kesayangan nya.
Dengan langkah cepat setengah berlari, membawa sebuah box berisi makanan pesanan Diego, Arini pun memasuki lift, bersama beberapa karyawan lain, naik menuju lantai atas tempat dimana ruangan sang Diego berada.
tok...tok...tok....
"masuk..." ucap seorang pria dari dalam sana.
Arini pun dengan segera membuka pintu ruangan itu.
"delivery...!!" ucap Arini sambil menutup pintu lalu setengah berlari mendekati daddy tampan nya.
Digo nampak memasang mode kesal. Ini sudah lewat lima menit dari jam makan siangnya, tapi gadis itu baru datang.
"daddy, maaf ya. Arin agak telat. Tadi abis anterin pesanan dulu ke tempat lain.." ucap Arini sambil membuka box nya dan mengeluarkan aneka hidangan pesanan Diego.
Laki laki dengan jas yang sudah terlepas dari badan itupun bangkit. Melonggarkan dasi nya lalu berjalan mendekati sang putri yang membungkuk menata aneka makanan di atas meja.
"padahal jarak dari resto ke sini itu yang paling dekat. Bisa bisanya kau malah mengirimkan makan siang daddy belakangan?! apa yang kau cari?! kau mendahulukan yang memberimu banyak tip..?!" tanya Digo kesal.
Arini menegakkan posisi tubuhnya. Ia berbalik badan, berhadapan dengan Diego yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"bukannya gitu, daddy. Pesanan daddy kan yang paling banyak. Makanya aku antar paling terakhir. Kan kita mau makan berdua. Iya kan?" tanya Arini sambil memiringkan kepalanya. Tersenyum manis dan menggemaskan dengan mata bulat yang nampak indah berkedip kedip manja seolah ingin menggoda iman Diego.
__ADS_1
Laki laki itu membuang muka sambil sekuat tenaga menyembunyikan senyumnya agar tak terlihat. Gadis ini terlalu menggemaskan untuk di omeli.
Arini meraih dasi Diego, lalu memainkan nya menggunakan jari jari tangannya.
"daddy....." ucap Arini.
"apa?" tanya Digo sok angkuh.
"nanto sore jadi jalan jalan kan?" tanya Arini menagih janji sang ayah pagi tadi.
Digo menatap sang putri. Ia lantas menyunggingkan sebuah senyum simpul di wajahnya.
"emang kamu maunya pergi kemana?" tanya Digo.
"terserah, yang penting jalan jalan berdua ama daddy. Arin pengen pergi berdua, trus abis itu gandeng tangan daddy. Arin pengen semua orang tau kalau Arin juga punya orang tua..! Arin bisa jalan jalan ditemenin daddy..." ucap Arini.
Digo mengulum senyum lembut.
"kamu sayang sama daddy?" tanya laki laki itu.
Arini memiringkan kepalanya. Ditatapnya sejenak laki laki itu dengan sorot mata dalam. Arini lantas menggerakkan tangannya. Dipeluknya pinggang pria itu lalu mendongak menatap wajah laki laki tersebut.
"ketemu sama daddy adalah impian terbesar aku sejak kecil. Nggak mungkin aku nggak sayang ama daddy" ucap gadis itu.
Digo menatap dalam gadis itu. Tangannya tergerak membelai rambut panjang terikat itu dengan gerakan lembut.
"daddy pegang omongan kamu. Kamu sayang sama daddy. Jadilah gadis kecil daddy yang selalu ada di samping daddy, sayang." ucap Digo.
Arini tersenyum. Laki laki ini sangat lembut dan hangat sekarang. Ia nampak seperti seorang ayah sungguhan. Apa benar laki laki ini ayahnya? apa kecurigaan Arini selama ini hanya reaksi berlebihan dari gadis kampung itu?
Astaga, Arini mulai merasakan kenyamanan dalam diri Diego. Ia seolah mulai menyayangi laki laki itu dengan segala bentuk kelembutan dan perhatian yang laki laki itu berikan.
Diego menangkup wajah cantik itu. Di kecupnya lembut pucuk kepala sang putri cantik lalu memeluknya hangat.
Dear Diego,
mau sampai kapan kau menyembunyikan kebenaran ini dari gadis polos dalam pelukanmu..? bukankah jika semakin lama kau memperlakukan gadis itu dengan lembut, semakin besar pula rasa sayangnya padamu. Dan akan semakin sakit pula luka yang akan ia rasakan jika suatu saat nanti ia mengetahui semua kebenaran yang kau tutupi selama ini.
Kenyamanan memang bisa membawa kebahagiaan. Namun ketika kenyamanan itu dibalut dengan sebuah kebohongan, bukankah itu hanya akan menggiring mu dan gadis itu masuk ke dalam luka yang lebih perih di kemudian hari..?
...----------------...
Selamat sore,
yang nungguin kedok Digo terbongkar, tungguin sebentar lagi ya, nggak nyampe 5 bab lagi😁
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰