
Hari berganti hari,
saat yang di tunggu tunggu oleh Arini pun akhirnya datang juga.
Hari ini adalah hari keberangkatan dirinya dan keluarga menuju ke kampung halamannya. Tempat dimana ia dilahirkan oleh sang ibunda dan di besarkan oleh nenek tersayangnya sebelum akhirnya bertamu ayah kandung dan suaminya di kota besar ini.
Gadis itu menjadi orang yang paling bersemangat pagi ini.
Jadwal penerbangan masih pukul sepuluh nanti, tapi sejak subuh, Arini sudah bangun. Menyiapkan barang bawaan nya dan Diego, serta menyiapkan menu sarapan pagi untuk semua penghuni rumah. Bahkan saat subuh baru saja terlewatkan, Arini sudah menyelinap masuk ke dalam kamar ayah kandungnya. Membersihkan kamar itu, membangunkan laki laki gondrong itu dan menyiapkan koper yang bahkan sama sekali belum di sentuh oleh Calvin.
Ya, se bersemangat itulah seorang Arini untuk mengunjungi kampung halaman tercintanya. Meskipun banyak kenangan perih disana, namun tetap saja, tanah kelahiran tak akan bisa digantikan dengan apapun itu.
"bapak...!! bangun...!! mandi..!!" ucap Arini sembari masukkan beberapa potong baju Calvin ke dalam koper.
"eeeemmmhhhh....!!" suara itu lolos dari mulut Calvin. Pria itu nampak menggeliat di atas ranjangnya. Ia nampak mengerjab ngerjabkan matanya, menengok ke arah sang putri yang nampak begitu heboh menata baju bajunya ke dalam koper.
Calvin menoleh ke arah jam dinding. Masih jam enam pagi..!
"pak, bangun..!" ucap Arini lagi.
"ini masih terlalu pagi, nak. Penerbangan kita masih jam sepuluh..!" ucap Calvin sembari meraih guling di sampingnya dan memeluknya.
"bapak, kalau nggak siap siap dari sekarang, ntar kita bisa ketinggalan pesawat. Buruan bangun..!" ucap Arini sembari menutup koper itu kemudian menyandarkan nya di samping nakas.
Calvin tak menjawab. Matanya kembali terpejam. Ia masih terlalu mengantuk untuk bangun se pagi ini.
Arini menghela nafas panjang. Ia mendudukkan tubuhnya di samping ranjang. Digoyang goyang kan nya badan sang ayah yang kembali terlelap dalam tidur cantiknya.
"bapaakk....!!!" rengek wanita itu.
Calvin menggeliat lagi, dengan sebuah senyuman tipis tergambar di bibirnya. Digerakkan nya tangan itu mengacak acak rambut sang putri yang nampak bersungut.
"iya, iya..! bapak bangun...! dah, kamu keluar sana, bapak mau mandi. Bangunin suami kamu..!" ucap Calvin.
Arini nampak tersenyum.
"siap, bos..!" ucap wanita itu.
Arini kemudian berjalan keluar dari kamar sang ayah. Ia lantas berjalan menuruni tangga, menuju lantai bawah tempat dimana sang suami masih tertidur lelap.
ceklek...
pintu terbuka....
__ADS_1
Arini masuk ke dalam kamar itu. Dilihatnya disana Diego masih tidur dalam posisi tengkurap dengan hanya menggunakan bokser putih sebagai penutup tubuhnya. Selimut pun hanya terlilit di pinggang, padahal suhu ruangan itu terasa cukup dingin bagi Arini.
Jelmaan beruang kutub nih kek nya si Digo..!
Arini mendekati sang suami. Di dudukkan nya tubuh itu di tepian ranjang.
Diego masih memejamkan matanya. Wajahnya terlihat tenang. Ketampanan pria itu seolah bertambah ketika tengah terlelap seperti ini.
Arini nampak mengulum senyum. Disentuhnya wajah berjambang tipis itu dengan lembut.
"daddy, daddy bangun..! udah siang.." ucap Arini.
Diego tak menjawab.
"dad...." ucap Arini lagi.
Diego perlahan membuka matanya.
"hmmm..." jawabnya.
"mandi, sarapan..!" ucap Arini.
Diego mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"ini jam berapa?" tanyanya.
Diego tersenyum manis.
"semangat banget yang mau pulang kampung" ucap Diego sembari mencubit sebelah pipi sang istri yang terlihat sedikit tembem itu.
"iya, dong. Kan aku udah nggak sabar pengen ketemu ibuk..." ucap Arini.
"udah ayok buruan bangun...!!" ucap wanita itu lagi.
Diego mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka itu.
"daddy..." ucap Arini lagi.
Diego tersenyum.
"tangan kamu mana...!" ucap Diego meminta tangan Arini.
Wanita itu nampak mengernyitkan dahi nya. Namun ia pun mengulurkan tangan putih itu dengan ragu ragu. Diego menyentuh lengan putih itu.
__ADS_1
"mau ngapain?" tanya Arini.
"gatel..! garukin, dong..!" ucap Diego sembari mengarahkan telapak tangan Arini menyentuh dua buah benda bulat yang terbungkus bokser putih ini.
Arini reflek menjerit. Secara spontan ia menarik tangannya lalu menampar paha laki laki itu sambil terkekeh.
Diego tergelak dibuatnya.
"apasih, jorok banget..!!" ucap Arini. Laki laki itu tak bisa menghentikan tawanya.
"gatel, sayang. Disuruh bantuin garuk aja males..!" ucap Diego.
"garuk ndiri..!" ucap Arini gemas.
Laki laki itu kembali tertawa.
"udah, ayo bangun..!" ucap Arini lagi.
Diego yang masih cekikikan itupun kemudian mengangkat kedua lengannya dengan manja. Seolah meminta untuk dibangunkan dari tempat tidur. Arini pun terkekeh melihat ekspresi laki laki itu. Dengan segera ia pun meraih tangan Diego, kemudian menariknya, membuat laki laki itupun kini bangkit dari tempat tidur yang nampak berantakan itu.
"udah, mandi sana..!" ucap Arini.
Diego menguap lebar. Arini menjauhkan wajahnya dari sang suami sambil menutup hidungnya dan tertawa ringan. Diego kemudian bangkit. Laki laki itu nampak berdiri menghadap kaca lemari. Tanpa aba aba ia menurunkan bokser putihnya. Memperlihatkan sebuah benda yang kini nampak terkulai lemah di bawah sana.
Arini melotot melihatnya.
Kemudian...
buuuuuggghhhh....
bokser terlempar mengenai Arini.
"nitip..!" ucapnya sembari menyambar handuk yang berada di atas rak di samping lemari. Laki laki itupun berlalu pergi menuju kamar mandi menggunakan selembar handuk yang justru ia kalung kan di leher nya, bukannya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Arini menggelengkan kepalanya. Ia jadi geli sendiri melihat tingkah konyol suami nya. Dasar Diego..!
...----------------...
Selamat pagi menjelang siang
__ADS_1
up 10:50
yukk, dukungan dulu 🥰🥰🥰