My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 47


__ADS_3

Hari pun terus berganti, semua berjalan seperti biasanya.....


Arini makin menikmati perannya sebagai seorang anak dari Diego Calvin Hernandez, sekaligus sebagai seorang petugas delivery di sebuah restoran yang cukup besar di kota itu. Kian hari Diego makin menunjukkan sisi baiknya sebagai seorang ayah. Ia jadi lebih perhatian pada Arini meskipun sesekali masih di barengi dengan sikap judes dan galaknya khas seorang Diego.


Namun itu tak bisa menutupi mata Arini atas segala perhatian yang Diego coba berikan padanya itu. Laki laki itu kini lebih posesif. Melarang ini itu dan memberi batasan batasan untuk Arini. Sebuah hal yang bukannya terasa mengekang namun justru terasa membahagiakan.


Ya, Arini menganggap hal itu adalah sebagai bentuk rasa sayang seorang ayah untuk putrinya. Meskipun masih di barengi dengan sikap angkuh dan dingin khas seorang Diego. Mungkin angkuh memang sudah menjadi sifat paten ayahnya itu. Pikir Arini.


Yang penting Diego sudah tidak kejam lagi. Arini sudah tidak dipaksa untuk membersihkan rumah luas itu lagi seorang diri. Ia diijinkan bekerja di restoran, serta di ijinkan tidur di kamar tamu. Sebuah peningkatan yang cukup baik bukan? Mungkin Diego tak mau Arini sakit lagi. Pikir gadis itu.


.


.


.


Malam ini, di rumah megah kediaman sang Diego...


Pria itu nampak sibuk di ruang tamu dengan laptop miliknya.


Seperti biasa, sebuah kacamata berlensa bening nampak membingkai mata tajam itu. Ditemani secangkir kopi panas buatan sang putri, Digo sibuk mengotak atik benda canggih itu, entahlah, apa yang laki laki itu kerjakan. Diego memang selalu sibuk. Ia terlalu gila kerja.


Ceklek....


pintu kamar tamu yang bersebelahan dengan ruang tamu itu terbuka. Membuat Digo pun menoleh ke arah sumber suara.


Gadis cantik penghuni kamar itu keluar dari dalam kamarnya. Dengan langkah kecil wanita itu nampak berjalan mendekati sang ayah sembari menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh rampingnya.


Digo melepaskan kacamata nya. Ia nampak mengernyitkan dahinya melihat tingkah aneh sang putri.


"kau kenapa?" tanya Diego pada gadis ber daster putih itu.


"daddyyy...." ucap Arini setengah merengek.


Diego mengangkat dagunya singkat seolah bertanya, 'ada apa'


Arini nampak bergerak perlahan. Berbalik badan. Lalu melepaskan kedua telapak tangannya yang nampak menutupi bagian belakang ****** nya. Dan.....


.


.


.


.


.


"haaahhhh???!!! Arini, kau kenapa?!!!" pekik Diego kaget sambil memundurkan tubuhnya. Dilihatnya disana daster yang membungkus bagian belakang tubuh anaknya itu nampak merah terkena bercak darah. Cukup banyak. Menempel di kain putih itu membuat warna merah disana terlihat dengan sangat jelas. Diego yang tak pernah melihat hal semacam itupun kaget dibuatnya.


Arini kembali berbalik badan. Menatap kearah sang ayah yang nampak kaget.


"daddy...." ucap Arini setengah merengek


"apa?!!" tanya Digo masih dengan mode shock.

__ADS_1


"Arin d*pet..!" ucap gadis itu.


"dapet apa?" tanya Digo tak paham.


"ih, daddy kok nggak ngerti sih? dapet tamu...!" ucap Arini lagi.


"ta, tamu? tamu apa...?" tanya Digo sambil memiringkan kepalanya seolah mencoba menerka nerka apa maksud bocah itu.


"Ya Allah, daddy. Arin kan cewek. Ya pasti kedatangan tamu kan tiap bulan..! m*ns...! haid...! m*nstruas*..! datang bulan...! keluar darah dari sananya...!!" ucap Arini mencoba menggambarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Diego membuka mulutnya. Astaga..! ia baru sadar, ia punya anak gadis sekarang..! sudah pasti ia akan mengalami masa masa seperti itu..!


Digo memejamkan matanya.


Hai, setan..! jauh jauhlah dari pikiran Diego yang mulai membayangkan yang aneh anehπŸ™ˆ


Digo masih tak bergerak. Arini nampak mengerucut kan bibirnya.


"daddyy....." ucap Arini setengah merengek lagi.


Digo menatap gadis itu.


"apa?!" tanya Digo dengan gaya judesnya.


"boleh minta tolong nggak?" tanya Arini.


"minta tolong apa?" tanya Diego awas dengan raut wajah kesal.


Arini nampak mengaitkan jari jari kedua tangannya. Seolah ragu ingin mengatakan permintaan tolong nya pada sang daddy.


"dad, boleh minta tolong.......beliin pemb*lut nggak?" ucap Arini begitu lirih di akhir kalimat nya.


"kau gila?! kau menyuruhku membeli benda semacam itu?! yang benar saja...?! dasar tolol..!" ucap Digo kesal. Mana sudi ia membeli benda semacam itu?! menjijikkan..! pikir Diego.


"Ya Allah, daddy...! kalau Arin bisa Arin bakal beli sendiri...! masalah nya ini sekarang keluar lagi deres deres nya..! kalau Arin ke mini market sendiri trus tiba tiba pas sampai di minimarket tumpah mak zhoooooooorrrrrrr gimana...?!" tanya Arini.


Digo makin geli mendengarnya. Laki laki itu nampak nyengir mendengar penuturan wanita itu.


"ya daddy ya, beliin ya..." ucap gadis itu lagi.


"enggak...! beli besok pagi aja biar dibeliin ama bik Sumi..!" ucap Digo.


"lah, yang bener aja nunggu besok?! ini Arin berdiri aja udah banjir, dad..! gimana kalau ntar Arin tidur nggak pake pemb*lut...?!!" ucap Arini.


"ck ah...! kenapa sih kau itu selalu menyusahkan ku..! sudahlah...! cari cara lain...! pokoknya daddy nggak mau beliin kamu benda itu ..! bikin malu...!" ucap Diego.


"ayo dong, dad...! kalau Arin bisa Arin pasti beli sendiri...!! ini kan nggak bisa...!!" rengek Arini.


Digo menggelengkan kepalanya.


"nggak, daddy nggak mau...!!" ucap pria itu.


Mendengar penolakan itu, Arini pun lantas bergerak, berjalan mendekati ayah kandungnya tersebut sambil terus merengek minta dibelikan pembal*t. Digo memasang mode awas. Sungguh, ia jijik..!


"heh...heh....! mau ngapain?!!" tanya Digo sambil meringsutkan tubuhnya.

__ADS_1


"beliin..!!" rengek Arini sambil menghampiri ayahnya.


"nggak mau...!!"


"beliin...!"


"nggak, Arini...!"


"pokoknya beliin...!!"


"nggak mau...!!!"


"ya udah kalau nggak mau..! kalau gitu Arin minta pangku......!!!" ucap Arini sambil mencoba mendudukkan tubuhnya di pangkuan sang ayah. Namun Diego dengan segera mencoba mendorong tubuh ramping itu menjauh darinya.


"heeeehhh....!! Arini, kau apa apaan...!! jangan aneh aneh...!!" bentak Digo.


"ya makanya beliin dong, daddy. Arin udah risih banget ini..!!"


"ogah...!!"


"ya udah, pangku...!!" jawab wanita itu lagi sambil terus mencoba mendudukkan tubuhnya di pangkuan ayah nya itu. Digo sekuat tenaga mengelak. Arini makin menjadi jadi. Ia justru nampak puas membuat ayahnya itu panik karena ulahnya yang minta pangku. Diego terus mendorong tubuh ramping itu menjauh dari tubuhnya.


"aaaakkhh....! anjr*t...!! minggir nggak..?!" ucap Digo kesal sembari mendorong tubuh Arini dan bangkit dari posisi duduknya.


Arini seketika itu diam tak bergerak. Ayahnya terlihat memasang mode galak. Ia mulai memasang mode memelas. Bibirnya mengerucut. Kakinya bergerak gerak menendang udara dengan mata yang nampak mengembun. Persis seorang bocah yang merajuk minta permen.


"gue cekek lu lama lama ya....!!!! jorok banget jadi orang....!!!!" bentak Diego kesal. Ia menatap tajam ke arah Arini.


"maaf" cicit wanita itu sambil menunduk.


Diego diam menatap ekspresi kesukaan nya ini. Seolah ia tak bisa meneruskan ekspresi marahnya lagi. Makhluk di hadapannya ini terlalu menggemaskan untuk di marahi.


"ck...! untung anakku...! kalau bukan sudah ku cincang kau malam ini...!" ucap Digo kesal.


"masuk kamar...! jangan duduk disembarang tempat sebelum daddy pulang bawa pembal*t untukmu...!" ucap laki laki itu tegas.


Arini mendongak. Ia nampak berbinar.


"makasih, daddy......." ucap Arini sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Diego namun laki laki itu dengan cepat menghalaunya.


"dekat lagi ku banting kau...!!" ucap Diego membuat Arini pun menghentikan pergerakan nya. Ia nampak tersenyum lucu menatap ayah kandungnya itu.


"masuk kamar...! berdiri aja nggak usah duduk...!" ucap Diego lantas bangkit dan pergi dari tempat itu.


"iya iya...." jawab wanita itu kemudian berbalik badan masuk kedalam kamarnya dengan riang.


"anj*r, bisa bisanya gue miara anak orang modelan begitu...!" ucap Diego pelan sambil menatap Arini yang melenggang riang dengan noda merah di bagian belakang dasternya.




...----------------...


Selamat sore

__ADS_1


up 15:19


yuk, dukungan dulu πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2