
Sore menjelang di rumah mewah kediaman Diego Calvin Hernandez.....
Buuuuuggghhhh.....
"huuuuufftt....!!"
Arini menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu luas itu. Ia membuang nafas kasar. Dadanya naik turun merasakan lelah yang begitu hebat. Dengan sapu di tangan, diregangkan nya sebentar otot otot kaki dan tangan itu.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi pekerjaan nya membersihkan rumah belum selesai juga. Ditambah lagi Arini juga bukanlah gadis yang rajin rajin amat kalau di rumah. Membuat nya yang tak terbiasa beres beres rumah sejak pagi pun kini menjadi kelelahan dibuatnya.
"ya Allah.. kok capek banget aku...! tidur dulu bentar kali ya, toh bapak juga belum pulang" ucap Arini.
Gadis desa itupun lantas meletakkan sapunya di atas lantai. Direbahkan nya tubuh lelah itu di atas sofa dalam posisi tengkurap dengan wajah miring membelakangi sandaran sofa. Tak butuh waktu lama, Arini pun terlelap dalam tidurnya. Dengkuran lembut mulai terdengar pertanda gadis berkulit putih itu kini makin masuk semakin dalam ke area bawah sadarnya.
.....
16:30
Mobil mewah itu nampak memasuki sebuah rumah megah kediaman Diego Calvin Hernandez.
Sam turun dari kursi kemudinya. Ia berjalan mengelilingi mobil dan dengan segera membukakan pintu belakang mobil itu untuk sang tuan.
Diego pun turun. Ia berjalan menaiki beberapa anak tangga menuju teras istana megahnya di ikuti Sam di belakang.
Digo sampai di depan pintu.
"lo kalau mau pulang, pulang aja..." ucap Diego pada Sam.
Sam hanya mengangguk.
Duda satu anak itupun lantas pamit undur diri. Digo membuka pintu utama. Melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruang tamu luas miliknya.
Diego menghentikan langkah kakinya. Dilihatnya di sana, diatas sofa mahal miliknya. Arini tertidur dalam posisi tengkurap dengan satu lengannya terjulur ke lantai. Mulutnya sedikit terbuka, dengkuran lembut terdengar jelas disana. Sedangkan tak jauh dari tempatnya tertidur, sebuah sapu nampak tergeletak mengenaskan. Diego yang lelah sehabis bekerja pun menghela nafas panjang. Di dekatinya bocah kampungan itu.
Tangannya tergerak, menyentuh meja ruang tamu itu dengan ujung jari telunjuknya.
Masih berdebu...!
itu artinya Arini belum membersihkan ruangan ini..!
Lalu apa yang wanita itu lakukan dirumah ini sejak pagi..?! hanya tidur tiduran seperti ini? pikir Diego.
Pria itu menipis kan bibirnya.
"Arini...!!" ucap Diego.
__ADS_1
Arini tak bergerak.
"Arini, bangun...!!" ucap Diego dengan suara sedikit meninggi.
Arini masih tak bergerak. Diego membuang nafas kasar
"Arini, aku bilang bangun...!!!" ucapnya lagi.
Suara dengkuran itu justru makin terdengar jelas.
Diego makin di buat kesal. Dengan satu gerakan...
.
.
.
daaaaaaaggggggghhhhh......!!!
"bangun....!!!" bentak Diego keras sembari menendang sofa tempat Arini tertidur. Wanita itu terjingkat di buatnya. Ia reflek bangun dari tidurnya lalu duduk di atas sofa itu sembari mengusap sedikit lelehan cairan yang keluar dari mulutnya. Dadanya terlihat naik turun dengan wajah kaget akibat ulah laki laki yang kini nampak berdiri dengan sorot mata garang tepat di hadapannya itu.
"bagus sekali kau...! daddy mu seharian kerja banting tulang, kau dirumah asyik asyikan tidur?!!! hebat sekali kau...!!!" ucap Diego terdengar marah.
"ma...maaf, pa...eh maksudnya daddy...! Arin capek makanya tadi ketiduran..!" ucap Arini gelagapan.
Arini menunduk takut.
"maaf, daddy" cicit Arini.
"sekarang bangun...! bersihkan ruangan ini, dan jangan pernah bermimpi untuk istirahat sebelum semua pekerjaan mu selesai...! aku tidak suka dengan manusia pemalas ..!" ucap Diego begitu dingin.
Arini makin menunduk dengan mata mengembun.
Sakit sekali rasanya ketika sosok ayah yang sangat ia rindukan, sangat ia harapkan dekapan dan pelukannya kini justru tak pernah henti memarahi nya sejak pagi tadi.
Tak ada sisi kebapakan dalam diri Diego. Laki laki itu begitu dingin dan angkuh. Menganggap Arini begitu rendah dan remeh tak seperti seorang anak.
Alih alih memeluknya, mendekapnya selayaknya seorang ayah yang lama tak bersua dengan putrinya. Menanyakan kabarnya saja tidak. Padahal Diego tahu bahwa Arini baru saja ditimpa kemalangan lantaran rumahnya yang terbakar dan neneknya yang meninggal. Namun sepertinya Diego sama sekali tak pernah menunjukkan empatinya pada wanita yang katanya putrinya itu.
Diego berlalu pergi dengan wajah berang. Arini mengusap lelehan air matanya. Sakit sekali rasanya dibentak oleh ayah sendiri. Di bilang pemalas padahal sejak pagi ia belum istirahat sama sekali. Makan pun ia baru sekali. Menyantap sebungkus mie instan yang tak sengaja ia temukan di dapur. Mungkin milik salah satu pelayan yang tertinggal.
Arini kembali meraih sapunya. Kembali melanjutkan aktifitas bersih bersihnya. Membersihkan rumah besar nan luas bak istana itu seorang diri tanpa bantuan siapapun.
...****************...
__ADS_1
19:00
Gadis berkulit putih dengan rambut panjang itu nampak masuk kedalam rumah utama dengan sebuah kantong kresek di tangannya berisi dua bungkus nasi goreng yang baru saja ia beli dari tukang nasi goreng yang kebetulan lewat di depan rumah megah itu.
Ya, berhubung Arini sempat gagal membuatkan telur ceplok untuk sang daddy pagi tadi. Maka malam ini Arini berinisiatif untuk membelikan makan malam untuk daddy nya menggunakan sisa uang miliknya. Sekaligus sebagai ungkapan permintaan maaf pada laki laki itu karena sudah lalai mengerjakan tugasnya di hari pertamanya tinggal bersama ayah kandungnya itu.
Arini meletakkan kresek hitam itu di atas meja makan. Ia lantas naik ke lantai dua untuk memanggil sang ayah agar segera turun dan makan malam bersama dengannya.
Gadis manis dengan setelan sweeter serba pink itu sampai di depan pintu kamar Diego.
tok....tok....tok.....
pintu diketuk.
Diego yang nampak asyik memangsa sebuah roti di dalam kamarnya itupun terperanjat mendengar bunyi ketukan pintu tersebut.
"daddy...! makan dulu yuk" ucap Arini.
"ck...! ngapain lagi sih bocah itu?!" ucap Digo kesal. Di bukanya laci nakas. Lalu dimasukkan nya roti bekas gigitannya itu kedalam sana. Diego memang sengaja ingin memangsa roti itu seorang diri tanpa membaginya dengan Arini. Untuk apa ia repot repot berbagi. Anak bukan, istri bukan, saudara juga bukan..! pikir Digo.
Diego memasang wajah masamnya. Lalu mendekati pintu dan membukanya.
"apa?!" tanya Diego.
Arini tersenyum.
"Arin beli nasi goreng, dad. Kita makan dulu yuk" ucap Arini.
"nasi goreng? dapat uang dari mana kamu?" tanya Digo ketus.
"aku kan ke kota ini juga bawa uang pegangan, dad. Masih ada sisa. Cukup buat beli nasi goreng dua bungkus..! kita makan bareng yuk..!" ucap Arini dengan menyunggingkan senyuman termanisnya.
Diego menatap sinis ke arah Arini. Ia lantas mengangguk pelan sembari menipiskan bibirnya.
"oke..! kita makan..!" ucap pria itu.
Arini pun berbinar. Dengan segera ia pun mengikuti langkah sang ayah dari belakang. Menuju meja makan untuk memulai makan malam pertama nya dengan laki laki yang katanya ayah kandungnya
tersebut.
...----------------...
Selamat pagi,
up 03:46
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘