My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 143


__ADS_3

Hari berganti hari, semua berjalan seperti yang seharusnya,


Setelah berbagai persiapan dan kesibukan yang Arini dan Diego lewati menjelang hari pernikahan, kini saat yang ditunggu tunggu pun akhirnya datang juga.


Pagi ini, kesibukan sudah terlihat jelas di kediaman duda satu anak itu. Sebuah acara akad nikah akan segera di laksanakan. Sebuah momen pengesahan terhadap sepasang pria wanita yang akan segera menyandang status sebagai sepasang suami istri.


Acara pagi ini memang bukan sebuah acara yang mewah. Tak banyak tamu undangan. Lantaran Calvin dan Arini sendiri juga sama sama anak tunggal. Walaupun Calvin masih punya beberapa saudara seperti paman, bibi, dan sepupu, namun sepertinya Calvin enggan untuk mengundang mereka.


Tahu sendiri kan, siapa Arini..?


Tak ada yang menghendaki keberadaan gadis itu. Mungkin, segelintir manusia yang bersedia menerima keberadaan gadis itu hanya Pak Yanto, Calvin, Diego, beserta orang orang terdekat mereka. Selain itu tidak ada..!


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ijab qobul akan di gelar satu jam dari sekarang.


Calon pengantin wanita itu nampak duduk di hadapan cermin besar sebuah meja rias kamar yang identik dengan warna biru miliknya. Ditemani seorang perias pengantin, serta dua orang remaja putri dan seorang wanita bertubuh subur berhijab, Arini nampak sibuk mempersiapkan dirinya pagi ini.


Ya, itu adalah bu Yati, istri Pak Yanto, serta dua anak gadisnya yang hari ini spesial datang untuk menghadiri pernikahan gadis cantik itu. Mereka baru saja tiba kemarin, setelah mendapat uang ongkos dari tuan Calvin yang secara khusus mengundang keluarga yang berjasa cukup besar baginya dan Arini.


Arini nampak merem*s punggung tangan nya. Jantungnya berdebar hebat. Ini momen sakral dalam hidupnya. Menikah dengan laki laki yang Insya Allah tepat untuknya. Sekali seumur hidupnya.


ting....


1pesan masuk.


Diego...


" lima puluh lima menit menuju halal" tulis pria itu.


Arini menarik nafas panjang lalu membuangnya. Digo yang hendak mengucap ijab qobul. Arini nantinya hanya akan duduk di sampingnya dan mendengarkan ikrar suci dari laki laki itu. Tapi kenapa justru ia yang merasa gugup sejak tadi? padahal Digo sepertinya biasa saja.


Arini kembali fokus ke cermin di hadapannya. Mengamati riasan cantik di wajahnya. Hasil karya seorang make up artis yang khusus Giselle kirimkan untuk memoles wajah manis gadis itu menjadi lebih elegan.


Ceklek....


pintu kamar terbuka,


seorang pria tinggi besar dengan rambut gondrong dan jambang lebat nampak masuk ke dalam ruangan yang tak terlalu luas milik sang putri.


Ya, itu Calvin...!


Arini tersenyum menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan tubuh laki laki itu. Calvin mendekat. Ia mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang tepat di samping sang putri.


"pak..." ucap Arini.

__ADS_1


Calvin tersenyum. Ia menatap dalam putri kecilnya itu. Sorot matanya seolah menggambarkan betapa ia sangat bangga dan bahagia melihat cantiknya sang putri di hari pernikahan nya ini.


"ada apa, pak?" tanya Arini.


Calvin tersenyum.


"Kamu cantik sekali, nak" ucap laki laki itu.


Tangan itu tergerak membelai rambut sang putri yang kini nampak disanggul itu.


"kamu sudah dewasa. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri dari seorang laki-laki yang bapak yakin dia adalah laki-laki yang tepat untuk kamu.."


"sebagai seorang istri, jagalah marwah mu untuk ssuamimu.Jaga juga nama baik dan harga diri laki laki mu. Jadilah istri yang baik, berbakti padanya, menutup aibnya, mematuhi semua perintahnya selama itu adalah perintah yang baik dan benar. Saling mengingatkan dengan suamimu. Saling menyayangi menjaga perasaannya.."


"Rin, setelah ijab qobul terlaksana, maka kamu adalah Diego, dan Diego adalah kamu. Buruk mu, adalah keburukan juga untuk suamimu, begitu juga sebaliknya. Kalian adalah satu. Maka saling menjaga lah dalam hal apapun."


"saling terbuka dengan suamimu. Jangan kedepankan emosi dan ego ketika kalian sedang menghadapi masalah. Bicarakan baik baik, saling mendengarkan penjelasan masing masing, agar tidak ada salah paham diantara kalian" ucap Calvin.


"jadilah air jika api di hati suamimu tengah berkobar. Jadilah pelangi jika batin suamimu tengah diselimuti awan gelap. Bapak yakin, kamu memang diciptakan sebagai penenang. Untuk semua orang yang berada di sekeliling mu. Selamat menempuh kehidupan mu yang baru, nak. Bapak sayang kamu..." ucap Calvin dengan mata mengembun. Membuat Arini ikut terharu mendengar nya.


Gadis itu nampak berkaca kaca. Ia lantas bergerak. Memeluk sang ayah dengan erat seolah ingin mengungkapkan betapa ia sangat menyayangi pria itu.


"makasih, pak. Makasih bapak udah sayang sama Arin. Arin beruntung punya ayah kayak bapak.." ucap gadis itu dengan setetes air mata di pipinya.


Sepasang ayah dan anak itu lantas berpelukan. Cukup lama, hingga..


ceklek..


pintu kamar terbuka seorang pria bertato dengan kemeja abu-abu nampak masuk ke dalam ruangan tersebut. Arini dan Calvin pun reflek menoleh ke arah pintu itu.


"bang, keluarga Digo udah sampai..." ucap laki laki dengan tubuh digambar dan ditindik itu, Ivan.


Calvin tersenyum.


Ia melepaskan pelukannya atas sang putri.


"calon suami kamu udah datang. Kamu siap siap ya, bapak tunggu di luar.." ucap Calvin.


"iya, pak.." jawab gadis itu.


Calvin pun keluar dari kamar tersebut, menuju ke ruang tamu bersama Ivan guna menyambut rombongan dari calon menantunya itu.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu di ruang tamu...


Para tamu undangan serta rombongan pengantin dari pihak pria sudah berkumpul. Tak banyak, hanya beberapa orang saja yang terdiri dari teman dan beberapa kerabat dekat dari kedua belah pihak.


Diego nampak sudah bersiap di tempat nya. Tak seperti pengantin pengantin pria pada umumnya yang selalu terlihat gugup kala sudah berhadapan dengan penghulu, Digo justru terlihat sangat tenang bahkan terkesan santai. Laki laki itu bahkan masih bisa berbincang dengan Sam yang berada di belakangnya. Ia juga terlihat sesekali memainkan ponselnya. Mengirimkan pesan untuk sang calon istri yang masih bersiap di dalam kamarnya.


"Sepuluh menit menuju halal. Cepetan keluar..!" tulis pria itu yang tak dibalas oleh Arini.


Padahal di dalam sana Arini merasakan gugup yang luar biasa, tapi entah mengapa Digo di hadapan penghulu justru merasa sangat tenang.


Sekitar lima menit berselang, gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri itu nampak keluar dari kamarnya. Ditemani dua orang gadis belia yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, anak anak pak Yanto, Arini keluar dari ruangan tempatnya merias diri.


Diego mengangkat dagunya. Gadis kecilnya terlihat sangat cantik. Kebaya putih rancangan kakak kandungnya sendiri melekat indah di tubuh ramping dengan kulit putih mulus tanpa noda itu.


Diego mengulum senyum. Begitu pula Arini yang nampak malu malu menapaki selangkah demi selangkah ruang tamu, menuju meja penghulu yang berada di sana.


Para tamu undangan nampak ikut berbahagia. Arini duduk disamping Diego, laki laki yang tak lepas menatap gadis cantik itu sejak pertama kali Arini menapakkan kakinya di ruangan utama rumah tersebut.


"sudah siap?" tanya pak penghulu yang sudah sedia di tempat nya sejak tadi.


Arini menarik nafas panjang, lalu mengangguk. Sedangkan Digo nampak merapikan jas nya, bersiap mengucap ikrar suci sehidup semati di hadapan Tuhan, untuk yang pertama dan terakhir.


Digo menoleh ke arah Arini. Ia mendekat kan kepalanya ke telinga Arini, seraya berbisik lembut...


"dua menit menuju halal" ucapnya sembari mengulum senyum khasnya.


Arini menunduk. Gadis itu nampak tersipu malu, membuat Digo kembali gemas dibuatnya.


"bisa kita mulai?" tanya si penghulu lagi.


Digo mengangguk pasti.


Dan, suasana pun seketika hening. Pria tampan berusia matang dengan kehidupan yang sangat mapan itu dengan lantang mengucap lafal ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Dengan penuh keyakinan, Diego bersumpah, menjadikan wanita muda di sampingnya itu sebagai wanita satu satunya dalam hidupnya. Membahagiakannya, menyayanginya menjaganya, dan menjadikannya ratu di kehidupannya Diego Calvin Hernandez.


Tiga puluh lima tahun usianya, belasan tahun ia hidup dalam bayang bayang cinta masa lalu. Gadis polos dengan sejuta keistimewaan dalam dirinya itu tiba-tiba datang dan dengan mudahnya menjungkir balikkan hati dan pikiran seorang Diego Calvin Hernandez. Kini, laki-laki itu mantap memilih Arini sebagai istrinya. Ia bersumpah, akan menjadikan wanita itu satu-satunya dalam hidupnya. Satu untuk selamanya.


...----------------...


Selamat siang menjelang sore,


up 15:14


yuk, dukungan dulu...

__ADS_1


btw untuk episode besok Author up setelah buka besok ya😁😁, maklum, tau lah bakal ada adegan apa, namanya penganten baruπŸ™ˆπŸ™ˆ, nanti author tulis sebelum sahur, di up sehabis buka, kurang enak aja kalau di up siangπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2