My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 48


__ADS_3

Di sebuah minimarket...


Seorang pria nampak celingukan. Berdiri di depan rak panjang berisi aneka pembal*t wanita berbagai model, ukuran dan merk itu.


Diego yang datang ke mini market dengan mengenakan hoodie tebal dengan kupluk menutupi kepalanya itu nampak celingukan. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Memantau aktifitas pengunjung lainnya.


Tolonglah, untuk sekedar mengambil bungkus pembalut dari rak saja rasanya terlalu berat. Ia benar benar malu setengah mati. Jika bukan demi anak perawan nya, ia tak akan mau melakukan hal ini.


Tapi kenapa Digo sekarang jadi bapak penurut begini????


Diego kembali menoleh ke kiri dan ke kanan. Merasa aman, laki laki itupun lantas dengan cekatan meraih tiga pembal*t di hadapan nya dan mendekapnya. Ia mengambil asal. Tak melihat merk, ukuran, bentuk, dan harganya.


Digo menarik kupluk hoodie nya ke depan agar lebih menutupi wajahnya. Dengan segera ia pun berjalan menuju kasir. Berbaris mengantri di salah satu barisan yang berada di sana.


Pengunjung mini market malam ini cukup padat. Membuat dua petugas kasir yang berjaga disana cukup dibuat sibuk oleh dua antrian pengunjung disana.


Digo mengantri di salah satu barisan disana. Berdampingan dengan barisan lain yang berada di sebelahnya.


Digo nampak terus menunduk. Ia seolah ingin menyembunyikan wajah tampannya agar tak terlihat oleh orang lain. Ia terlalu malu dengan barang bawaannya.


Hingga,


tak butuh waktu lama Diego pun sampai di baris depan antrian. Diletakkannya tiga bungkus pembal*t wanita beda merk itu di atas meja kasir. Si petugas kasir pun mulai menghitungnya.


"wah, mas nya pasti sayang benget ya sama istri nya? nggak semua laki laki loh mau beliin pembal*t istrinya..." ucap si tukang kasir itu memuji namun terdengar seperti mengejek di telinga Diego.


Laki laki itu pun hanya diam menahan kesal. Sang kasir menyebut harga yang harus Digo bayar. Laki laki berjambang tipis itu kemudian mengeluarkan dompet kulit dengan foto Steffi di dalamnya itu, lalu mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribuan dari dalam sana.


Namun tiba tiba.....


"Diego......"


Suara itu berhasil membuat anak kandung Grey Hernandez itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana, disampingnya. Di antrian lain yang bersebelahan dengan dirinya. Seorang pria paruh baya berambut gondrong dengan jambang lebat nampak berdiri disampingnya. Menatap ke arah dirinya yang hendak membayar tiga pembal*t wanita, barang belanjaan nya.


Itu Calvin Alexander...!!


Kedua pasang mata itu bertemu. Keduanya terdiam. Saling pandang untuk beberapa saat.


Digo menatap tak suka ke arah pria brewokan itu. Mungkin kebencian nya masih sama. Seperti belasan tahun yang lalu saat wanita yang sangat ia sayangi, yang foto nya masih tersimpan rapi di rumah, kantor dan dompetnya itu tewas di tangan laki laki itu (menurut pemikiran Digo).


Diego tak menjawab. Calvin melirik barang belanjaan Diego. Membuat pria paruh baya itupun menyipitkan matanya melihat tiga benda yang kini tengah dimasukkan ke dalam kantong kresek putih itu.


Diego acuh. Dengan segera ia menyerahkan selembar uang seratus ribuan ditangannya. Ia lantas pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan kembaliannya yang masih cukup banyak itu.

__ADS_1


Calvin yang juga sudah selesai dengan barang belanjaan nya pun ikut bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Mengejar Diego yang kini nampak sudah mendekati mobil mahalnya.


"Diego, tunggu...!!!" ucap Calvin setengah berlari.


Digo menghentikan langkahnya. Calvin berdiri di samping pria itu.


Ayah abal abal Arini itupun lantas berbalik badan. Dengan wajah angkuh dan sombongnya ia menatap laki laki ayah kandung Arini Nindya Putri itu.


Calvin terlihat tenang.


"ada apa?" tanya Digo dengan sorot mata sombongnya.


Calvin menghela nafas panjang.


"tidak ada. Kebetulan kita bertemu disini. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu" ucap Calvin.


"aku tidak ada waktu untuk tanya jawab dengan mu..!" ucap Digo kemudian berbalik badan, membuka pintu mobilnya, hendak pergi dari tempat tersebut.


Namun,


"apa kau masih membenciku?" tanya Calvin lagi.


Diego kembali menghentikan pergerakan nya. Laki laki itu nampak diam tak bergerak masih dengan mode angkuhnya. Bayang bayang tangisannya diatas pusara Steffi dan dukanya yang tak hilang bahkan setelah bertahun tahun lamanya kini kembali menari nari dipikirannya.


"bagaimana menurutmu?!" tanya Diego.


"sampai kapan kau akan terus berkutat dengan pemikiran bodohmu itu?! apa kau tidak pernah berfikir, mana mungkin ada seorang pembunuh yang masih diizinkan berkeliaran secara bebas jika memang ia terbukti bersalah?" tanya Calvin.


Digo tersenyum sinis.


"tapi sayangnya pemikiran ku tidak sebodoh itu..!" ucap Digo dingin.


"bukankah kepar*t seperti mu bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebebasan yang sebenarnya tidak pantas kau dapatkan?" tanya Digo dengan sorot mata dingin dan mengerikan. Dibarengi sebuah senyuman iblis penuh dendam yang mengerikan.


Calvin tersenyum tenang.


"jika aku seorang pembunuh, mungkin aku sudah membunuhmu sebelum kau berteriak lantang menuduhku tanpa bukti kala itu" ucap Calvin.


"tapi nyatanya aku tidak melakukannya. Usiamu sudah semakin matang, tapi kurasa tidak dengan otakmu" ucap Calvin lagi.


Digo menatap tajam ke arah laki laki itu tanpa bergerak. Ia kini bahkan nampak mengepalkan tangannya.


Calvin membuang nafas kasar.

__ADS_1


"baiklah. Sebenarnya aku mengejar mu hanya karena ingin menanyakan sesuatu" ucap Calvin.


Digo masih tak bergerak.


"apakah ada seorang gadis belasan tahun yang datang ke rumahmu kurang lebih sebulan yang lalu? mungkin dia menanyakan keberadaan ku" ucap Calvin.


Diego tak bergerak. Ia tahu siapa yang Calvin maksud. Itu adalah gadis yang saat ini tengah ia belikan pembal*t.


"tidak ada satu manusia pun yang mencari keberadaan mu..! kalaupun ada, dia pasti sudah ku usir..! karena semua yang berhubungan dengan mu adalah haram bagiku...!" ucap Diego begitu angkuh.


Calvin menarik nafas panjang. Mencoba menepis emosi yang kini mulai menerpa hatinya. Tajam sekali ucapan bocah ingusan ini...! benar benar memuakkan...! itulah alasan kenapa Calvin seolah begitu enggan untuk menemui Digo.


Diego menatap angkuh ke arah laki laki itu. Ia kemudian berbalik badan. Masuk ke dalam mobilnya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Calvin diam tak bergerak.


Sebagai seorang pria yang lebih matang usianya dibanding Diego, ia tak percaya dengan ucapan pria itu. Jika putrinya memang selamat sampai kota ini, harusnya gadis itu akan pergi ke alamat rumah Diego. Karena memang tempat itulah tujuan utamanya datang ke kota ini.


Dan jika gadis itu sampai disana dan bertemu Diego, maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Di usir, atau di sesatkan...! mengingat Digo sangat membenci Calvin. Maka mungkin saja kebencian laki laki itu akan ia limpahkan pada putrinya.


Itu jika si putri kandung selamat sampai kota ini. Tapi jika tidak, ya entahlah ...!!


Calvin menghela nafas panjang. Mungkinkah ia perlu mendatangi rumah Diego langsung??


...----------------...


Selamat pagi,


up 04:20..


Author punya rekomendasi bacaan tamat lagi nih...


yuk simak..! dan jangan lupa mampir..


👇👇


🏍️Angkasa ( Kisah Cinta Anak Mafia)🏍️


Bukan tentang drama rumah tangga yang di penuhi konflik orang ketiga, melainkan sisi gelap kehidupan anak muda perkotaan dengan jiwa abu abu yang menggebu gebu. Persaingan, perebutan popularitas, kekerasan, kesalahan dalam didikan, pergaulan bebas, intrik, serta kisah cinta nan rumit yang terhalang prinsip antar keluarga membuat kisah bertabur drama penuh luka yang seolah tidak ada habisnya.


Seperti apa kisah mereka?


__ADS_1


__ADS_2