
Satu minggu kemudian
.
.
.
.
"bapaaaakkkk....!!!"
Suara itu menggema.
Seorang gadis cantik berambut panjang nampak sibuk menata aneka hidangan santap paginya di atas meja makan. Sebuah celana jeans hitam panjang membungkus kaki jenjangnya. Sedangkan di bagian atas, sebuah kaos putih dengan outer kotak kotak berwarna biru berlengan panjang nampak membungkus tubuh ramping nya. Gadis yang sudah bangun sejak sebelum subuh itu nampak sigap dan cekatan menata aneka hidangan itu di atas meja makan berbentuk persegi panjang tersebut.
Ya, itu adalah Arini Nindya Putri, gadis cantik anak Calvin Alexander. Gadis itu sudah bangun sejak sejak subuh. Kini ia sudah bersiap untuk berangkat ke kampusnya sebelum nanti akan menuju tempat usaha ayahnya sepulang kuliah.
Entah mengapa gadis itu sekarang begitu suka ikut ayahnya pergi ke studio tato milik pria berjambang lebat itu. Di tempat itu, Arini selalu sibuk berada di ruangan pribadi sang ayah. Men desain gambar-gambar unik yang akan dijadikan tato kontemporer untuk di jual di studio tato milik sang ayah.
Sekedar mengisi waktu luang, mengingat kini Arini adalah seorang pengangguran. Dia sudah tidak punya pekerjaan lagi pasca keluar dari resto tempatnya bekerja.
Alhasil, kini ia lebih sibuk membantu ayahnya di studio tatonya. Membuatkan gambar-gambar unik untuk usaha laki-laki itu sekaligus menyalurkan hobi dan keahliannya di bidang seni.
Ingatkan bahwa gadis itu juga mengambil jurusan seni di kampusnya?
Gadis itu bahkan sempat berucap, ia punya cita-cita suatu saat nanti ia ingin membuka usaha sablon. Sebuah usaha yang tidak jauh dengan bidang lukis melukis. Usaha yang sepertinya sangat jarang di minati apalagi oleh seorang perempuan. Tapi nyatanya, Arini justru menyukainya.
Tak apa kecil kecilan dulu, yang penting milik sendiri. Agar ia bisa jadi bos, katanya.
Sang ayah turun dari lantai dua kediaman mereka. Dengan tampilan khas seorang Calvin Alexander, duda gondrong itu lantas mendekati sang putri yang sudah duduk di salah satu kursi di meja makan itu.
"pagi, cantik..!" ucap pria itu sembari mengusap pucuk kepala sang putri lalu mendarat kan sebuah kecupan lembut disana.
"pagi, bapak..!" jawab Arini manis.
__ADS_1
"sarapan dulu, pak.." ucap gadis itu sembari membuka piring milik sang ayah dan mengisi nya dengan berbagai makanan yang sudah Arini siapkan.
Calvin hanya tersenyum. Ia lantas menundukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di sana.
Selesai dengan sarapan untuk sang ayah, Arini lantas kembali ke kursinya.
"oh iya pak.. Arin udah bikinin desain tatto temporer yang Arin bilang kemarin.." ucap gadis itu sembari merogoh tas ransel miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas bergambar yang merupakan tato temporer yang kemarin ia janjikan pada sang ayah.
Calvin menerima nya, lalu mengamati nya satu persatu.
Laki laki itu lantas tersenyum.
"bagus..! pinter kamu bikin desain" puji Calvin pada sang putri.
"siapa dulu dong, Arini..!!" jawab gadis itu jumawa sembari melahap makanan dihadapan nya.
Calvin tersenyum.Menyisihkan kertas kertas bergambar itu lalu kembali melanjutkan santap paginya.
Arini melirik ke arah sang ayah.
"boleh..!" jawab Calvin.
"tapi kayaknya nanti bapak agak siang nggak ada di sana.." ucap Calvin lagi sembari mengunyah santap paginya.
"kenapa?" tanya Arini.
"ada urusan sebentar.." jawab laki-laki itu.
"tapi Mas Ivan sama Miko ada di sana, kok..! kamu langsung ke ruangan bapak aja kalau mau istirahat nanti..! okee?!" ucap Calvin.
"iya, Pak..!" Jawab Arini.
Santap pagi pun berlangsung. Sepasang ayah dan anak itu mulai menikmati makan pagi mereka sembari di selingi obrolan obrolan santai.
Ya, begitulah kehidupan Arini dan Calvin sekarang. Semenjak kejadian beberapa minggu yang lalu di mana Arini dibuat menangis jadi-jadinya oleh seorang laki-laki dewasa itu, kini kehidupan Arini dan Calvin perlahan kembali mulai normal.
__ADS_1
Arini mulai berusaha bangkit dan menata kehidupannya lagi. Meskipun dalam hatinya ia belum bisa sepenuhnya melupakan laki-laki yang sudah memberikan banyak luka untuk dirinya itu.
Ya, satu minggu berlalu, tidak ada kabar sama sekali dari seorang Diego Calvin Hernandez. Baik Arini, Calvin, maupun Diego, benar-benar sudah putus kotak. Arini sudah keluar dari restoran tempatnya bekerja dulu. Ia tak pernah bertemu dengan Diego lagi. Ia sudah tak tahu bagaimana kabar laki-laki itu.
Yang sempat ia dengar dari sang ayah adalah, Diego pernah berniat untuk pergi ke luar negeri. Tapi entah apakah jadi atau tidak, ia dan Calvin juga tidak tahu.
Karena kini, baik Calvin maupun Arini juga tidak pernah lagi saling berkomunikasi dengan Gisellle. Lantaran memang sebelumnya Giselle lah yang lebih sering menghubungi Calvin dan Arini. Tapi semenjak kejadian pemukulan yang dilakukan oleh Calvin pada Diego di bandara, Giselle seolah menjauh.
Mungkin janda itu juga merasa malu dan tak enak pada Calvin dan Arini atas sikap Diego kepada sepasang ayah dan anak itu.
Kini Arini mulai menata hidupnya. Kini ia lebih asyik menghabiskan waktunya menikmati pekerjaan barunya sebagai tenaga pembantu di studio tato milik sang ayah. Walaupun hanya sekedar membuat desain desain gambar. Dari pada mengurusi asmara. Setidaknya ia punya kegiatan, meskipun kegiatannya memang kurang positif.
Terserah, yang penting Arini terhibur, pikir gadis itu.
...
....
Tak lama, Arini pun selesai dengan sarapan paginya. Daraihnya sebuah tisu di atas meja itu kemudian mengelap area bibirnya guna membersihkan sisa-sisa makanan yang mungkin menempel di sana.
"Bapak, Arini berangkat duluan, ya” ucap gadis itu.
Wanita itu bangkit dari posisi duduknya. Diraihnya punggung tangan sang ayah kemudian menciumnya sebagai tanda hormat.
"hati-hati, sayang" jawab Calvin sembari mencium kening sang putri dengan lembut.
"iya, Pak..!" jawab Arini.
Gadis itupun lantas berlalu pergi, meninggalkan tempat itu menuju motor trail nya yang berada di garasi rumah berlantai dua tersebut.
----------------
Selamat pagi,
up 04:49
semoga ga bosen ya sama ceritanya. Semoga masih bisa berlanjut sampai akhir bulan.
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘