My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 169


__ADS_3

Di ruang televisi rumah sementara Diego, Calvin, dan Arini,


Sepasang suami istri itu tengah asyik bercanda di depan kotak besar yang tengah menayangkan acara berita siang itu.


Calvin tengah berada di ruang tamu. Berbincang dengan seorang tamu yang entah siapa mereka tak tahu.


"diem..! jangan gerak gerak..!" ucap Digo yang kini duduk di belakang Arini sembari membawa sebuah ikat rambut di tangannya.


"jangan, dad..! ini keliatan semua..!" ucap Arini yang menolak permintaan Diego yang hendak mengikat rambut panjangnya.


"nggak apa apa..! panas, sayang, kalau nggak di iket" ucap Diego ngeyel. Segenggam rambut panjang itu bahkan sudah berada di tangannya. Laki laki itupun dengan cekatan mengikat rambut panjang itu dengan cukup rapi. Sepertinya pria itu sudah sangat terbiasa mengikat rambut perempuan.😁


Sepasang suami istri itu masih asyik dengan kebersamaan mereka. Tiba tiba...


"Go..!" suara itu terdengar dari ruang tamu. Calvin memanggil anak mantunya itu dengan suara setengah teriak. Bak tengah memanggil teman tongkrongannya.


Digo yang tengah asyik memeluk tubuh sang istri dari belakang pun nampak berdecak kesal.


"apa?!" jawab Digo dengan suara yang sama, setengah ngegas.


"keluar...! ada yang mau ketemu..!" ucap Calvin lagi dari sana.


Digo kembali berdecak kesal.


"ck..! ganggu aja...!" ucapnya sembari bangkit dari posisi duduknya.


Pria kemudian melongok menatap ke ruang tamu. Dilihatnya di sana seorang pemuda berkulit putih nampak duduk menunduk sambil merem*s-rem*s jari jemari tangannya.


Diego mengulum senyum. Rupanya tamu yang ditunggu-tunggu sudah datang.


Saatnya pertunjukan dimulai...!


plaaaakkk....


"aduuhhh...!" pekik Arini sembari mendongak menatap kesal ke arah sang suami. Laki laki itu menepuk pundak istrinya dengan gemasnya.


"ayok, bangun..!" ucap Diego lagi. Ia meminta sang istri untuk ikut dengan dirinya menemui Agus yang sudah berada di ruang tamu bersama Calvin.


"ngapain..?" tanya Arini.


"mantan kamu udah dateng tuh..!" ucap Diego.


"Kan daddy yang ada urusan ama dia..! aku juga harus ikut?" tanya Arini.


"ya iyalah, aku harus memperkenalkan kamu sebagai nyonya Hernandez. Biar dia tahu, kalau mulai sekarang, kamu adalah atasan dia..!" ucap Diego.


Arini bangkit. Ia meraih ikat rambut yang berada di kepalanya. Berniat melepaskan nya agar rambut panjang itu tergerai untuk menutupi leher belangnya. Namun...


"jangan di lepas..!!" ucap Diego menarik tangan putih itu menjauh dari rambut Arini.


"apasih? malu, dad..!" ucap Arini.


"bisa diem nggak..! berisik banget anak kecil..! gue makan juga juga lu sekarang..!" ucap Diego dengan mata melotot seolah mengancam. Namun justru terlihat lucu di mata Arini.


Diego menggerakkan kepalanya. Menggigit gemas telinga istrinya itu. Membuat Arini setengah menjerit dibuatnya.


Sepasang suami istri itupun berjalan menuju ruang tamu sambil cekikikan.


Dilihatnya di sana, Calvin duduk di ruangan itu bersama seorang pemuda berkulit putih yang nampak terus menunduk menatap ke arah lantai keramik itu.

__ADS_1


"ada apa?" tanya Diego yang tak lepas menggandeng tangan Arini.


Agus yang menunduk itu kini nampak mendongak menatap sepasang pria dan wanita yang baru saja tiba itu. Pemuda itu diam sejenak. Lalu....


"astaghfirullah haladzim..!" ucap pria itu sembari dengan cepat kembali menundukkan pandangan nya. Dilihat disana, sepasang pria wanita itu seperti manusia tak sehat. Bercak merah dimana. Mana nggak ditutup. Mata perjaka Agus seketika ternodai.


Calvin sekuat tenaga menahan tawanya. Emang agak laen mantu dan anak yang satu ini. Tadi pagi tanda merah di leher pria itu baru ada sebiji. Sekarang udah nambah aja jadi beberapa. Mana si perempuan rambutnya malah di iket pula..! gini amat punya anak dan mantu yang sama sama labil. Ini gimana kalau pada punya anak, pikir Calvin sambil senyum senyum tak jelasπŸ™ˆ


Laki laki berambut gondrong itu menarik nafas panjang. Mencoba menetralkan ekspresi nya lalu menegakkan posisi duduknya.


"oh, ini. Dia mau ketemu sama lo. Dia dapat pesan dari orang kantor lu, katanya disuruh kesini buat nemuin lo" ucap Calvin.


Digo mengangkat dagunya.


"ooo...calon karyawan baru. Sorry..sorry..gue lupa..!" ucap Diego.


Laki laki itu menoleh ke arah sang istri.


"baby, ambilin laptop aku di kamar, dong" ucap pria itu manis.


Arini tersenyum.


"oke.." jawabnya.


Wanita itu berlalu masuk ke dalam kamar mengambil laptop. Sedangkan Diego kini mendudukkan tubuhnya di samping Calvin kemudian meraih sebungkus rokok milik mertuanya yang berada di atas meja itu lalu menyalakan kemudian menghisapnya.


Satu kaki jenjangnya diangkat, lalu di tekuk di atas kaki yang lain. Rokok di hisap dengan santainya. Ia menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa sembari menatap tenang ke arah aku semakin gemetaran berhadapan dengan dua laki laki milik Arini itu.


Wanita cantik berparas manis itu datang. Ia duduk di tengah-tengah antara Calvin dan Diego sembari meletakkan laptop milik sang suami itu di atas meja.


"thank you" ucap Diego. Arini tak menjawab. Ia hanya tersenyum.


Satu tangan kekar Calvin menyentuh pucuk kepala Arini lalu membelainya dengan lembut.


"jadi nama kamu.......?" tanya Diego.


"Hilman Agustaf, om, eh , tuan..." ucap Agus. Diego melirik sekilas kearah pemuda itu.


"panggilan nya?" tanya Digo lagi.


"Agus, tuan.." jawab Agus lagi.


"cih...jelek banget..!" ucap Digo dengan songong nya.


Calvin mengangkat dagunya sembari mengulum senyum. Arini hanya diam. Membiarkan suaminya itu bertindak semaunya. Sedangkan Agus kini makin gugup dibuatnya. Sungguh, ia tak menyangka akan berada di posisi ini. Melamar kerja di perusahaan milik suami dari mantan pacarnya. Di saksikan langsung oleh Arini dan kandung wanita itu. Benar benar interview khusus yang luar biasa...!!


"oke... sebelum nya perkenalkan, nama saya Diego, saya pemilik perusahaan tempat kamu melamar kerja. Ini istri saya, yang saya yakin kamu sudah sangat kenal dengan dia. Dan yang ini, dia adalah mertuanya saya, namanya tuan Calvin Alexander. Saya tertarik dengan CV yang kamu kirimkan. Makanya saya khusus mengundang kamu untuk datang ke rumah saya ini. Saya ingin mengenal kamu lebih jauh..." ucap Diego.


Agus hanya manggut manggut.


Diego kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"sekarang, saya ingin mendengar tentang kamu lebih jauh...perkenalkan diri kamu, sebutkan kelebihan dan kelemahan kamu, apa yang membuat kamu tertarik melamar kerja di perusahaan saya, apa yang mungkin bisa menjadi pertimbangan saya untuk menerima kamu bekerja di perusahaan saya, dan kira kira kontribusi apa yang bisa kamu berikan untuk perusahaan ini.." ucap Diego kini dalam mode serius.


Agus menarik nafas panjang. Laki laki itu mulai menjelaskan tentang dirinya dan semua yang Diego sebutkan tadi.


Jangan tanya apakah laki laki gugup atau tidak. Wajah Agus bahkan terlihat makin pucat. Suaranya terbata bata meskipun tata bicaranya cukup rapi dan sopan. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya di interview secara langsung oleh pemilik perusahaan ternama di negara ini. Sebisa mungkin ia berusaha untuk menunjukkan kwalitas terbaik dalam dirinya pada sang calon atasan.


Diego, Calvin dan Arini mendengarkan dengan seksama. Diego nampak beberapa kali mengangguk paham dan cukup puas tentang penuturan yang Agus sampaikan padanya.

__ADS_1


Agus selesai dengan jawaban jawaban dari mulutnya. Diego nampak menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari pemuda itu.


"oke. Bagus..! saya suka dengan jawaban jawaban kamu. Pinter juga kamu ngomongnya ya..." ucap Diego yang entah itu memuji atau meledek.


Namun lagi lagi, Agus hanya menunduk mendengar ucapan dari pria itu.


"jadi gini, Agus. Sebenarnya, selain kamu, banyak banget orang yang mengincar posisi yang ingin kamu tempati ini. Banyak banget, ratusan, bahkan ribuan. Banyak juga yang sudah berpengalaman..! beda sama kamu yang masih amatiran karena ini pengalaman pertama kamu kerja, kan?" tanya Diego.


Agus hanya mengangguk.


"Asal kamu tahu, Gus. Saya adalah orang yang sangat sibuk. Saya nggak pernah membuang-buang waktu saya untuk interview calon karyawan baru saya secara langsung seperti ini. Kamu adalah orang pertama loh, yang bisa berhadapan dengan saya secara langsung sebelum mulai bekerja..." ucap Diego.


Agus kembali mengangguk.


"sebenarnya kalau saya mau cari yang berpengalaman, saya bisa loh dengan mudahnya melempar kamu dan menolak CV yang kamu ajukan..."


"tapi sepertinya, spesial untuk kamu saya memiliki pandangan lain. Saya bisa menerima kamu bekerja di perusahaan saya melalui jalur khusus yang saya berikan" ucap Digo.


Agus perlahan mengangkat kepalanya. Menatap ke arah laki-laki berparas tampan itu.


"tapi karena kamu diterima nya di jalur khusus yang saya berikan, maka saya juga meminta persyaratan yang khusus dari kamu.." imbuhnya.


"tapi kamu jangan khawatir, diterimanya lewat jalur khusus, syaratnya khusus, tentu saya punya imbalan yang khusus buat kamu kalau kamu bersedia memenuhi persyaratan dari saya. Saya bisa kasih kamu uang saku buat kamu sebelum mulai bekerja. Lima puluh persen dari gaji pokok yang akan kamu terima tiap bulannya.." ucap Diego.


"kamu bersedia?" tanya Digo.


Agus nampak menunduk lagi seolah berfikir.


"maaf, tuan. Kalau boleh tahu, apa syarat khusus nya?" tanya Agus.


Digo tersenyum smirk. Ia mengangkat dagunya. Menatap angkuh ke arah pemuda berkulit putih itu.


"bukan sesuatu yang sulit" ucap Diego.


"Saya yakin, sebagai seorang laki-laki yang merupakan mantan kekasih dari istri saya dan penduduk asli kampung ini, kamu pasti sudah tahu, betapa bencinya ibu kamu pada wanita yang merupakan istri dari laki laki calon atasan kamu ini" ucap Digo.


Agus makin menunduk.


"Persyaratan yang saya ajukan tidak banyak. Saya hanya meminta satu hal saja sama kamu. Besok pagi, saya mau kamu bawa ibu kamu datang ke rumah ini. Temui saya, mertua saya, dan istri saya. Bilang sama dia, saya memintanya untuk bersujud dan mencium kaki istri saya di depan banyak orang.." ucap laki-laki itu dengan mode dinginnya.


Agus dan Arini reflek menoleh ke arah Digo. Keduanya nampak terkejut mendengar ucapan laki-laki itu. Sedangkan Calvin, laki-laki itu tetap tenang. Ia seolah sudah bisa menebak persyaratan apa yang akan Digo berikan pada Agus.


"bagaimana?" tanya Digo lagi.


Agus nampak berfikir.


"satu hal yang perlu kau tau, Gus. Selain sombong seperti yang kau katakan kemarin, aku orangnya juga egois dan nekat. Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku mau. Dan aku sudah terbiasa menutup pintu rejeki seseorang yang mengecewakan ku. Aku punya banyak relasi, Gus. Aku bisa saja memasukkan namamu dalam daftar hitam semua cabang perusahaan ku, juga perusahaan perusahaan relasi bisnis Hernandez Group. Susah loh, Gus, cari kerja jaman sekarang..." ucap Diego lagi.


Agus sama sekali tak menjawab. Ia tak tahu harus berbuat apa. Belum reda kegugupannya karena fakta tentang Arini yang menikah dengan Diego. Kini pria tampan itu sudah kembali memompa jantung Agus dengan memberikan persyaratan aneh dan ancaman gila pada pemuda kampung itu.


Entahlah, harus bagaimana ia sekarang. Pemuda itu benar benar bingung.


...----------------...


Selamat siang menjelang sore.


up 14:43


yuk, dukungan dulu πŸ₯°πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2