My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 127


__ADS_3

Sementara itu di tempat terpisah.....


Di tepi kolam renang kediaman megah milik Diego Calvin Hernandez....


Pria yang hidup sendiri di dalam sebuah rumah megah itu nampak merebahkan tubuhnya di atas bangku kolam renang. Menikmati benda bernikotin di tangannya sembari menatap bintang tentang di langit malam yang cerah.


Pikiran Digo melayang layang mengingat kejadian siang tadi di depan rumah gadis cantik yang kini mulai menguasai pikirannya itu. Kakaknya berada di sana. Nampak begitu hangat merangkul gadis cantik kesayangan nya itu seolah sudah sangat akrab.


Diego tahu siapa kakak nya. Wanita itu terang terangan berkali kali mengungkapkan kekagumannya pada sosok Calvin Alexander. Ia juga tahu bahwa kakaknya itu beberapa kali mencoba menarik perhatian ayah kandung Arini itu.


Tapi Diego tidak menyangka, rupanya kedekatan mereka sudah sejauh itu. Giselle sudah berani datang ke rumah Calvin. Ia juga terlihat begitu menyayangi Arini. Apa mungkin Calvin sudah mulai luluh pada Giselle?


Jika iya, maka itu artinya langkah Giselle untuk mendekati Calvin dan mencuri hatinya mungkin sudah berhasil. Apa mungkin setelah ini mereka akan menjalin hubungan yang lebih serius? Menikah mungkin?! kalau iya, itu artinya Arini akan menjadi kakak dari Zoe dan Zidane. Arini akan menjadi keponakan nya.


Selesai lah sudah kisah Diego dan Arini jika itu benar benar akan terjadi. Arini akan menjadi keponakan nya. Pintu pendekatan Diego atas Arini akan tertutup rapat. Karena tidak mungkin Diego akan mendekati Arini juga jika gadis itu sudah menjadi anak Giselle.


Rumit..! tak baik, kata orang tua..!


Diego mengusap wajahnya kasar. Berhari hari pria itu merenung. Antara maju memenuhi tantangan Arini untuk menemui Calvin atau mundur. Sebuah pilihan yang sulit mengingat kebencian itu seolah sudah sangat mengakar di hati Diego. Namun mengingat wajah gadis polos itu, rasanya ia tak akan sanggup untuk melepaskan gadis itu begitu saja.


Niat hati ingin datang ke rumah Arini guna menemui sepasang bapak dan anak itu, Diego justru diperlihatkan sebuah pemandangan yang cukup membuatnya tersentak. Kakaknya datang ke rumah itu. Terlihat begitu akrab dan hangat bersama Calvin dan Arini. Membuat Diego yang memang suka menarik kesimpulan sepihak itu langsung dengan ke sok tau an nya itu berfikir bahwa rupanya kakaknya sudah diterima oleh Calvin dan Arini.


Tahu sendiri kan, seperti apa jalan pikiran Diego? dia selalu sibuk dengan pemikirannya sendiri...!


Diego menghela nafas panjang. Rumit sekali menaruh hati pada anak musuh sendiri..! Kenapa jalan ceritanya harus seperti ini..? Kenapa Arini harus anak Calvin..?!.


Diego kembali menghisap rokoknya.


Tiba tiba....


"uncle...!!!!"


suara itu menggema. Seorang bocah laki laki dengan robot robotan di tangan nampak berlari mendekati pria itu. Ya, itu Zidane, anak kedua Giselle.


Diego yang menyadari kedatangan sang keponakan itupun lantas bangkit dari rebahan nya dengan senyuman merekah. Bocah tampan yang memang sangat dekat dengan Digo itu nampak berlari ke arah laki laki tersebut, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas badan Digo.


"hei, kamu kesini? sama siapa kamu?" tanya Digo.


"sama mommy..!" ucap Zidane.


"oh ya? trus mana mommy?" tanya Diego sambil meraih tubuh bocah itu dan memangku nya.


"tuuuuhh....." jawab bocah tersebut sembari menunjuk ke arah sang ibu yang nampak mendekat dengan membawa sebuah paper bag.


"hai, Go" ucap janda cantik itu.


Diego tersenyum simpul.


"lagi ngapain kamu? udah makan belum? aku bawain makanan buat kamu" ucap wanita itu sembari meletakkan paper bag di tangannya di atas meja bulat disana. Wanita berpenampilan anggun itu lantas duduk di salah satu bangku kolam renang yang kosong.


Diego diam. Giselle mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya. Wanita itu nampak membuang nafas panjang saat menatap layar ponsel itu.


"butik lo apa kabar?" tanya Diego datar dan kurang bersemangat.


Giselle menghentikan aktivitas bermain ponselnya, lalu menoleh ke arah sang adik.


"tumben nanyain butik? ada apaan nih?" tanya Giselle.


Digo tersenyum.


"nggak apa apa" jawab pria itu.


Giselle memperhatikan sang adik dari atas sampai bawah. Diam sejenak lalu tersenyum manis.


"baik, kok" ucapnya kemudian kembali fokus pada ponselnya.


Digo hanya mengangguk.


"tiap hari di butik, ya...?" tanya Digo lagi.

__ADS_1


Giselle menoleh, lalu mengangguk sambil tersenyum. Diego ikut tersenyum, kemudian menunduk, menyembunyikan raut wajah sedih yang mungkin kini tergambar jelas disana.


Entah bagaimana rasanya. Jika memang Giselle menginginkan Calvin, berniat menjadikan pria itu sebagai ayah sambung dari Zoe dan Zidane, Digo bisa apa? Bocah kecil dalam pangkuannya itu berkali kali sempat menanyakan keberadaan sang ayah yang tiba tiba hilang bak ditelan bumi. Sepertinya bocah itu sangat merindukan sosok ayah. Ayahnya yang dulu sama sekali tak bertanggung jawab. Menelantarkan anak istrinya demi seorang jal*ng..!


Diego menghela nafas panjang sembari mencium pucuk kepala Zidane. Sesuatu yang dapat di lihat dengan jelas oleh mata lentik Giselle.


Wanita itu nampak mengulum senyuman lembut.


"oh ya, Go. Pinjem charger dong. Hp aku udah hampir mati. Charger kamu dimana?" tanya Giselle sembari bangkit.


"cari deket TV deh. Atau kalau nggak ada ya di kamar. Cari aja.." ucap Digo.


"oke..! aku cari dulu. Kamu makan dulu, gih. Entar sakit lagi loh..!" ucap Giselle.


Diego hanya mengangguk. Sedangkan Giselle kini berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan sang putra yang nampak begitu manja di pangkuan Diego.


Di dalam rumah,


Giselle nampak sibuk mencari charger ponsel yang Diego maksudkan. Ia mengotak atik ruang televisi, namun tidak ada. Ia kemudian melangkah kakinya menapaki anak tangga menuju lantai dua. Dibukanya kamar bujang tiga puluh lima tahun itu.


"Astaga, Digo..! ini kamar kandang ayam..! kamar nggak ada rapi rapinya sama sekali..!!" ucap janda itu melihat kondisi kamar seorang Diego yang sama sekali tak menunjukkan kesan rapi.


Padahal laki laki itu sudah mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga yang bekerja dari pagi sampai sore, tapi tetap saja ruangan itu berantakan.


Giselle memunguti satu demi satu benda benda yang berserakan tidak pada tempatnya itu. Mulai dari gitar yang tergeletak di lantai, celana, CD, baju, kemeja, jas, asbak, buku, dan masih banyak lagi. Di punguti nya benda itu satu persatu lalu meletakkan nya di tempat yang semestinya.


Giselle lantas mengedarkan pandangannya ke sagala arah. Mencari keberadaan charger disana. Hingga sorot matanya tertuju pada sebuah kabel putih berkepala kotak yang tertancap pada stop kontak di nakas samping ranjang.


Giselle mendekat. Berniat meminjam charger itu guna mengisi daya ponselnya yang tinggal dua persen.


Giselle mendudukkan tubuhnya di samping ranjang. Diraihnya kabel charger itu dan memasang kan nya di sebuah lubang di ponselnya. Dilihatnya disana, diatas nakas juga ada ponsel Diego yang tergeletak tanpa ada pemiliknya.


"kelamaan nunggu balesan chat dari Calvin ampe hampir mati nih hp ku...!" gerutu Giselle seorang diri yang sudah mulai kewalahan menghadapi sikap Calvin yang super cuek.


Laki laki itu seolah tak memiliki celah hati yang bisa disentuh oleh kakak kandung Diego itu. Calvin terlalu cuek dan masa bodoh. Giselle jadi perempuan gatal yang seolah tak henti mengemis perhatian dari laki laki gondrong itu.


Giselle sibuk dengan ponselnya, hingga....


drrrrtt..... drrrrttt.....


ponsel diatas nakas milik sang Diego nampak bergetar. Giselle melongok. Sebuah panggilan masuk dari rekan bisnis adiknya.


Giselle tak mengangkat nya. Bukan urusan dia. Jika memang penting nanti orang itu pasti akan kembali menghubungi Digo, pikir Giselle. Wanita cantik itupun kembali memainkan ponselnya sendiri.


Tak lama getaran ponsel itupun berhenti. Giselle melongok lagi.


ting...


benda pipih itu berbunyi lagi. Kini pertanda pesan masuk ke dalam benda canggih milik sang adik. Giselle melongok lagi. Wanita itu lantas terdiam.


Bukan pesannya yang membuatnya diam. Namun wallpaper dalam ponsel canggih itu yang membuat wanita itu tak bergerak.


Dilihatnya disana wajah gadis cantik yang tengah terlelap terpampang jelas disana. Mengusik rasa ingin tahu janda dua anak itu.


Diraihnya ponsel itu.


Itu Arini..!!


Diego menggunakan foto Arini sebagai latar belakang ponsel canggih nya.


Giselle tak bergerak. Apa Diego benar benar mencintai Arini?


Setelah sikap dingin dan ketidak sudi an laki laki itu untuk datang meminta maaf pada Calvin dan Arini, ia pikir adiknya itu sudah mulai memupus rasa cintanya pada gadis itu.


Ia memang tahu Diego pernah memiliki perasaan khusus pada Arini. Ingat kan Sam pernah menceritakan semuanya pada Giselle..?


Giselle pikir Diego sudah move on dan tak lagi memikirkan gadis cantik itu. Tapi sepertinya ia salah. Masih ada foto Arini disini.


Giselle kini jadi penasaran. Ingin rasanya ia membuka ponsel milik sang adik, namun sayang, dikunci..!

__ADS_1


Wanita itu kemudian celingukan, seolah mencari cari sesuatu. Hingga fokus matanya tertuju pada sebuah kotak pink yang berada tak jauh dari lampu meja yang berada di atas nakas itu.


Giselle meraihnya, lalu membukanya.


Wanita itu terdiam. Dilihatnya disana ada berbagai pernak pernik khas wanita. Mulai dari jepit rambut, ikat rambut, lipgloss, parfum, serta foto foto Diego dan Arini yang nampak begitu dekat.


Mungkin ini adalah barang barang milik gadis itu dulu saat masih tinggal di rumah ini. Dan sampai sekarang Diego masih menyimpannya.


Giselle meraih parfum disana, lalu menciumnya.


Giselle kembali bergerak. Kini fokus matanya tertuju pada dua buah bantal bersarung putih yang berada di atas ranjang. Tingginya tidak sama. Seperti ada yang mengganjal di bawah salah satu bantal itu.


Giselle meraih satu bantal disana, lalu mengangkat nya.


Dilihatnya disana, sebuah kaos wanita berwarna putih terlipat rapi disana. Ia meraih kaos itu. Kaos siapa ini?


Giselle nanar menatap lurus kedepan. Jadi apakah selama ini Diego masih mencintai Arini?


Apakah selama ini Diego memendam perasaan nya sendiri?


Apakah jangan jangan selama ini sang adik begitu tersiksa, mencintai anak dari laki laki yang sangat ia benci. Dan kini sang adik tengah bimbang, antara menyudahi rasa sakit hatinya pada Calvin lalu mendekati Arini, atau keukeuh membenci Calvin kemudian menjauh dari Arini?


Giselle menghela nafas panjang.


"Go, Digo..! cinta itu di perjuangin, Go..!" ucap Giselle seorang diri.


Wanita itu lantas meletakkan kembali kotak pink dan kaos putih itu ke tempat semula. Hingga tiba tiba....


.


.


.


deeeeegggghhhh...!!


Giselle teringat sesuatu.


"jangan jangan boneka yang jatuh di depan rumah Arini kemarin itu dari Diego?!!" ucap Gisellle spontan.


"kan ada inisial DA..?" imbuhnya.


"jangan jangan dia lihat aku di rumah itu kemarin..?" pikir Giselle jauh.


"iya nggak sih?" ucap janda itu lagi.


Giselle diam tak bergerak. Jika benar begitu, itu artinya secara tidak langsung ia dan adiknya kini tengah bersaing untuk masuk ke dalam keluarga Calvin. Dan Diego mungkin kini tengah merasakan patah hati, karena Giselle bisa dikatakan lebih selangkah di depan Diego. Arini sudah bisa menerima nya dengan baik. Calvin walaupun cuek tapi ia juga tak pernah keberatan jika Giselle sering sering menemui mereka.


Sedangkan Diego?! laki laki itu masih jalan di tempat..! Hubungannya dengan Arini dan Calvin juga masih begitu begitu saja.


Giselle nampak memejamkan matanya. Kenapa ia jadi merasa bersalah begini..? kasihan adik laki lakinya itu..!


Giselle membuang nafas panjang. Ia kemudian kembali meraih ponselnya. Lalu mencoba menghubungi seseorang...


tuuuttt..... tuuuutt.....


"halo.." ucap seorang pria dari seberang sana.


"halo, Sam..." jawab janda itu.


.....


...----------------...


Selamat sore


up 14:12


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2