
Siang menjelang saat jam makan siang...
Sebuah motor matic dengan sebuah box delivery di bagian belakang jog nya itu nampak berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua.
Ya, itu adalah Arini. Gadis periang sembilan belas tahun yang kini kembali menjalankan pekerjaannya sebagai kurir pengantar makanan salah satu restoran ternama di kota itu.
Arini kembali mendatangi bangunan berlantai dua bertuliskan 'Devil Art' itu. Sebuah bangunan milik seorang pria matang yang kini sudah menjadi pelanggan tetap restoran tempatnya bekerja.
Awal nya Arini memang agak ragu ragu untuk datang lagi ke tempat ini. Tak lain adalah karena sesosok wanita yang beberapa hari lalu sempat mengancamnya. Memintanya untuk tidak datang lagi ke tempat itu dan berdekat dekatan dengan seorang pria dewasa yang dikenal dengan nama Bang Ale itu.
Namun mau bagaimana lagi. Glenca sang bos besar menunjuk dirinya untuk mengantar kan delivery para pelanggan tiap harinya. Mau tak mau, suka tak suka ia pun harus mengabaikan ancaman wanita bertato itu. Pekerjaan jauh lebih penting diatas segalanya bukan? toh ia juga tak pernah macam macam disana. Niatnya hanya untuk bekerja, bukan untuk yang lainnya.
Arini dengan dua paper bag berisi empat paket makan siang pun berjalan menuju pintu utama. Hendak memasuki bangunan dengan dinding dan pintu kaca itu.
Namun.....
krriiiieettt....
buuuuuggghhhh....
"aaawww.....!!" pekik Arini saat tiba tiba seorang laki laki keluar dari bangunan itu dan menabrak tubuhnya. Membuat Arini pun kaget dibuatnya. Untung paket makan siang di tangannya tak jatuh lantaran si pria dengan cepat reflek menangkap tubuh rampingnya.
"kamu nggak apa apa?" tanya laki laki berkulit coklat dengan sejumlah tato di badan itu.
Arini membenarkan posisi tubuhnya.
"oh, enggak. Nggak apa apa kok, mas" jawab Arini.
Laki laki itu tersenyum.
"maaf ya. Saya nggak sengaja" ucap pria tersebut.
"iya, mas. Nggak apa apa. Saya juga salah, jalan nggak ati ati" jawab Arini.
Laki laki itupun tersenyum. Keduanya pun lantas berpisah. Si laki laki berjalan mendekati sekumpulan anak anak punk bertato yang nampak nongkrong di sebuah coffeeshop di samping bangunan studio tato itu. Kawasan itu memang sangat ramai menjadi tempat tongkrongan manusia manusia seperti itu.
Arini menghela nafas panjang. Ia pun lantas masuk ke dalam bangunan itu guna mengantar pesanan delivery nya.
"delivery...." ucap gadis itu.
Kosong...! tak ada orang.
"delivery..!" ucap Arini lagi.
Arini pun berjalan menuju sebuah meja rendah di sana. Diletakkannya dua paper bag berisi empat paket makan siang itu lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa panjang di sana sambil menunggu pemilik studio tato itu datang.
Tak lama, seorang pria berjambang lebat dengan rambut gondrong nampak keluar dari sebuah ruangan dalam bangunan itu. Sepertinya itu kamar mandi.
Ya, itu adalah Calvin Alexander, atau sering disapa Bang Ale.
Arini bangkit dari posisi duduknya. Laki laki berpenampilan sangar itu lantas berjalan mendekati Arini dengan raut wajah datar.
"om.." Ucap Arini.
Calvin tak menjawab. Ia hanya menatap datar gadis belia itu tanpa berucap sepatah katapun.
"ini, saya antar pesenan, om" ucap gadis belia itu.
Calvin lagi lagi tak menjawab. Dirogohnya saku celana itu lalu mengeluarkan dompet tebalnya. Diambilnya sejumlah uang dari dalam sana dan menyerahkan nya pada Arini.
Seperti biasa. Selalu ada uang lebih untuk gadis manis itu.
Arini tersenyum.
"makasih, om. Om baik banget, Arin selalu dikasih lebihan kalau antar makanan" ucap gadis belia itu.
Calvin tersenyum simpul.
"rejeki" ucap pria itu.
Arini menyunggingkan senyuman manisnya. Ia lantas memutar waist bag dan melepaskan nya dari tubuhnya. Di memasukkan beberapa lembar uang itu kedalam waist bag berwarna hitam tersebut. Lalu merogoh saku celananya, meraih selembar kertas berisi alamat yang harus ia kunjungi lagi setelah ini.
Sedangkan laki laki yang baru saja keluar dari toilet itu kini nampak celingukan. Seolah tengah mencari sesuatu yang tadi ia tinggalkan di atas meja rendah itu namun kini tidak ada.
Dimana benda itu...?
Saat kedua manusia itu tengah sibuk dengan aktifitas mereka masing masing. Tiba tiba......
"ada apa, bang?" tanya seorang wanita bertato yang tiba tiba datang dari belakang.
Arini mendongak. Itu Anya..! wanita yang pernah melabraknya beberapa waktu lalu.
"lu liat jam tangan gue nggak?" tanya Ale.
__ADS_1
"jam tangan lo? kan tadi sebelum lu mandi lu copot taruh di meja situ?" tanya Anya.
"nggak ada..!" ucap Calvin. Anya mendekat ikut mencari sebuah jam tangan mahal yang Calvin tinggalkan di meja itu sebelum mandi tadi.
Arini yang melihat dua orang celingukan disana pun reflek ikut mencari keberadaan jam tangan itu. Padahal ia yang sejak tadi duduk di tempat itu tak melihat ada jam tangan disana.
Tak lama mereka celingukan mencari keberadaan jam tangan itu. Hingga...
Anya menghentikan pergerakan nya. Ia lantas menyipitkan matanya. Menatap penuh kecurigaan ke arah gadis belia di hadapannya itu.
Arini yang ditatap aneh seperti itupun nampak celingukan. Dia menoleh ke kanan dan kiri dengan tampang polos tak mengerti.
Ada apa? kenapa wanita itu menatapnya seperti itu? pikir Arini.
"ada apa, Mbak..?" tanya Arini tak mengerti.
"lo yang sejak tadi ada di sini kan?" tanya Anya.
Arini mengangguk samar.
"iya, emangnya kenapa, Mbak?" tanya Arini masih tak mengerti.
"lo yang nyolong jam tangannya Bang Ale?!!" tuduh Anya spontan membuat Calvin menoleh ke arah wanita bertato itu.
Arini membuka mulutnya mendengar tuduhan itu. Dengan cepat ia pun menggelengkan kepalanya.
"enggak..! kok saya?!" tanya Arini tak mengerti sekaligus tak suka.
"ya abisnya siapa lagi?! pasti lo kan?! ngaku aja deh..!" desak Anya.
"enggak, Mbak...! saya nggak ngapa-ngapain..! saya nggak tahu soal jam itu..! dari tadi saya di sini nggak ada apa-apa. Saya nggak lihat jam..!" ucap Arini terlihat panik dengan tuduhan itu.
Tolonglah, ia baru beberapa menit duduk di kursi itu. Mana tahu ia tentang jam mahal yang katanya hilang itu! Melihatnya saja pun tidak pernah..!
"alah..! nggak usah bohong lo...! siapa lagi yang ada di sini selain lo?! masih sok sokan ngelak lagi lo...!!" tuduh Anya.
" saya nggak ngapa-ngapain, Mbak! saya nggak tau apa ala..! saya nggak ngambil apapun..!"ucap Arini ikut ngegas melakukan pembelaan.
Calvin diam tak bergerak. Beberapa anak punk yang sejak tadi nongkrong di luar studio pun nampak masuk ke dalam bangunan itu manakala mendengar keributan dari dalam bangunan itu. Membuat gadis itu pun kini dikepung manusia manusia berpenampilan brandalan itu. Sungguh, gadis itu mulai takut sekarang. Tampangnya sangar sangar. Semua menatap tajam ke arahnya bak binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"ada apaan nih?!" tanya salah satu anak punk disana.
"nih, bocah lont* nih...! kecil kecil udah maling..!" ucap Anya memprovokasi.
"eh, mana ada maling ngaku..!" bentak Anya tak kalah kesal.
"udah, udah...! nggak usah diperpanjang..!" ucap Calvin melerai.
"nggak bisa, bang..! nih anak kalau didiemin lama lama ngelunjak disini..! belagu lama lama..!" ucap Anya masih keukeuh dengan pemikirannya bahwa Arini lah pencuri itu.
"saya nggak nyuri...!! saya bukan pencuri..!!!" teriak Arini dengan mata berair. Ia tak suka diperlakukan seperti itu. Semua menatap nya dengan sorot mata mengintimidasi seolah ia adalah pencuri kecil yang baru saja tertangkap.
"LU DIEM..!!!" bentak Anya tepat di depan wajah Arini.
"SAYA BUKAN PENCURI..!!" bentak Arini tal kalah keras. Kedua wanita itu saling tatap dengan sorot mata tajam mengerikan.
"udah, udah..! daripada ribut mending kita geledah aja nih bocah..!" usul Ivan, salah satu anak buah Calvin yang juga ikut mengerubungi gadis belia itu.
"ya udah periksa nih..! orang aku nggak ngambil apa apa..!!" ucap Arini kesal sambil melepas waist bag nya dan melemparnya ke meja dengan kesal.
Calvin tak bergerak. Ia hanya menatap gadis kecil itu dengan sorot mata tak terbaca.
Waist bag pun di geledah. Sedangkan Anya kini mendekati Arini dan mulai meraba tubuh gadis itu seolah ikut menggeledah nya.
Hingga.....
.
.
.
"ini apa?!!"
.
.
.
.
Semua mata tertuju pada Ivan. Laki laki bertato itu nampak memegang sebuah jam tangan yang ia temukan di salah satu kantong waist bag bagian belakang milik Arini.
__ADS_1
Arini melotot..!
itu apa?! bagaimana bisa ada jam tangan itu di waist bag nya?
"nah, kan..! bener kata gue..! emang maling nih bocah..! mukanya aja sok polos, tapi otaknya kriminal..!" ucap Anya keras.
Arini menggelengkan kepalanya cepat.
"enggak..! itu bukan punya saya..! saya nggak tau kenapa itu bisa ada di situ..!" ucap Arini ketakutan. Tolonglah, ia tak mengambil apapun. Bagaimana bisa jam tangan mahal itu bisa ada di situ.
"udah ketahuan lu masih nggak mau ngaku..?! emang dasar anak setan lu ya...!!" ucap Anya sambil mengayunkan tangannya hendak meninju wajah Arini. Gadis itu menjerit ketakutan. Para anak punk yang berada di sana pun dengan cepat menghalangi pergerakan Anya.
Arini mulai menangis. Anya nampak murka. Sedangkan Calvin hanya diam. Sebenarnya ia tak sepenuhnya percaya jika Arini adalah pencuri jam nya. Tapi sepertinya para anak buahnya sudah kadung tersulut emosi.
"udah, udah...! jangan ribut disini..! mending sekarang kita bawa anak ini ke kantor polisi. Kita selesaikan disana...!" ucap Ivan menengahi.
Arinj menggelengkan kepalanya cepat.
"nggak mau..! aku bukan penjahat..! aku nggak nyuri...!!" tolak Arini.
"diem lu...!" bentak Anya lagi.
"aku bukan penjahat..! aku nggak mau diem...!!" bentak Arini marah sambil mendorong tubuh wanita itu.
"aaah..! maling banyak bac*t lo..! udah seret aja..!!" ucap salah satu anak punk.
Dengan cepat gadis itupun ditarik paksa. Diseret oleh para pria pria berpenampilan preman itu dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil. Ivan, Anya dan Calvin pun ikut masuk ke dalam mobil itu. Sedangkan satu lagi anak buah Calvin yang bernama Miko di tugaskan untuk menjaga studio tato agar tak kosong.
Arini menangis sejadi jadinya. Disela sela tangisnya ia berteriak memanggil manggil daddy nya. Sungguh, ia takut..! ini sangat menyeramkan. Mobil pun berlalu pergi. Meninggalkan tempat itu.
Namun tanpa disadari, ada seorang pria paruh baya berpenampilan lusuh yang tanpa sengaja melihat keributan yang baru saja terjadi.
Pria paruh baya dengan beberapa uban di kepala yang baru saja turun dari ojeknya itu tanpa sengaja melihat sekilas seorang gadis muda menangis meraung raung dipaksa masuk ke dalam mobil. Diikuti oleh beberapa orang dibelakang nya, salah satunya adalah pria berewokan yang sangat ia kenal, Calvin Alexander...!
Ia mengenal dua manusia itu. Si gadis yang diseret paksa dan laki laki berewokan itu..! ia mengenal mereka semua...!
Ya, prria lusuh itu adalah Pak Yanto, yang baru datang dari kampung. Pria yang merasakan gelagat tak beres itu dengan segera berlari ke arah Miko yang masih berdiri di depan teras studio.
"mas, mas..!!" ucap pak Yanto tergopoh-gopoh.
Miko menoleh.
"ya, pak" ucap pria bertato itu.
"itu tadi ada ribut ribut apa?" tanya Pak Yanto.
"ada maling ketahuan, pak..!" jawab Miko.
"Maling?"
"iya, cewek tadi. Yang masih bocah..! jam bos saya digasak ama dia..! untung ketahuan..! sekarang lagi di bawa ke kantor polisi" ucap Miko.
Pak Yanto melongo.
"perempuan?" tanya Pak Yanto.
"iya, yang pake baju oren tadi!" ucap Miko.
Pak Yanto terkejut.
"Arini..?!!" tanya laki laki itu.
"nggak tau siapa namanya..! emang bapak kenal?!" tanya Miko.
Pak Yanto nampak shock.
"terus, jam siapa yang diambil, mas..?!" tanya pak Yanto lagi.
"punya bos saya..!"
"bos nya mas yang mana?" tanya pak Yanto lagi.
"yang gondrong tadi, pak. Yang berewokan..!"
"Astaghfirullah haladzim....!! itu ndak mungkin...!!" pekik Pak Yanto begitu kaget membuat Miko nampak mengernyitkan dahinya.
" Ya Allah, Rin..!! itu bapakmu, ndok..!! kamu kenapa to Rin...?!!!" ucap pria paruh baya itu buru-buru sambil berbalik badan. Ia berlari dengan tergopoh gopoh sambil terus berucap seolah meratapi nasib anak kandung Dewi itu. Pak Yanto mendekati tukang ojek nya yang masih berada di depan studio foto. Lalu naik ke atas motor itu dan meminta tukang ojek tersebut untuk dengan cepat menyusul Calvin dan Arini menuju kantor polisi.
...----------------...
Selamat pagi,
up 05: 36
__ADS_1
yuk, kasih dukungan dulu 🥰😘🥰🥰