My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 13


__ADS_3

Hari berganti,


saat jam menunjukkan pukul 06:30 pagi.


Pria tampan yang nampak rapi dengan setelan jas lengkap itu nampak berjalan menuruni tangga rumah megah miliknya. Seperti biasa, Diego yang hari ini akan kembali menjalankan pekerjaan nya sebagai pembisnis handal pun melangkah menuju meja makan, mengisi perutnya sebelum menuju kantor tempatnya memimpin perusahaan besar warisan ayah kandungnya.


Diego sampai di meja makan. Dilihatnya tempat itu sepi. Tak ada orang disana. Diatas meja sudah ada nasi dan satu telur ceplok yang nampak sedikit gosong dan berantakan bentuknya.


Diego mengangkat rendah piring berisi telur itu. Nyengir dikit. Lalu kembali meletakkan nya dengan gerakan kasar. Melihatnya saja ia sudah malas, apalagi memakannya. Pikir pria itu.


Diego kembali celingukan. Mencari cari sosok gadis bodoh yang ia akui sebagai anak itu. Kemana dia? kenapa tidak terlihat. Semalam semenjak adegan menyakitkan yang ia lakukan hingga saat jam sudah menunjukkan pukul dua belas, gadis itu masih menangis di meja makan. Sepertinya gadis itu sangat sakit hati mendengar ucapannya.


Baguslah..! karena memang itu yang ingin Digo lihat. Ia ingin melihat si biang kerok keretakan rumah tangga antara Calvin dan Steffi itu terus menderita seumur hidupnya.


Diego melangkahkan kakinya menuju bangunan di belakang rumah tempat dimana kamar tidur Arini berada. Dibuka nya pintu kamar itu kasar.


Kosong...! tak ada Arini di dalam kamar yang terlihat tak terlalu rapi itu.


Diego membuang nafas kasar. Kemana perginya bocah itu..?


......................


Sementara itu,


Di halaman rumah megah itu. Si gadis yang di cari cari oleh ayahnya itu nampak sibuk menyirami beberapa tanaman yang berada di taman kecil di area halaman depan rumah megah tersebut.


Dengan selang ditangan, Arini dengan mata sembab dan bengkak akibat menangis semalaman itu sibuk menyirami tanaman di sana sambil melamun.


Raganya ada di istana Diego, tapi tidak dengan pikirannya.


Pikirannya menerawang jauh. Gadis itu sepertinya menyesal mencari sosok ayahnya. Membuatnya berfikir, mungkin akan jauh lebih baik jika ia pergi saja dari tempat itu. Memulai hidup baru sebagai wanita sebatang kara namun merdeka dari pada harus hidup dengan sang ayah yang setiap harinya hanya memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan untuknya.


Tapi kemana ia harus pergi?


Rumah tak punya, keluarga tak ada, harta benda pun tak memiliki.


Lalu kemana ia harus melangkah dan berlari??


Arini nampak melamun dengan wajah sedih. Hingga....


"hello..!!" ucap seorang pria membuat Arini pun terjingkat kaget. Arini reflek menggerakkan selang ditangannya dan menyemprotkannya pada seorang pria yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.


Pria itupun terjingkat dan berteriak. Arini yang panik pun secara spontan membuang benda panjang itu ke rerumputan.


Arini membuka mulutnya. Dilihatnya disana seorang pria berbadan atletis nampak basah kuyup karena nya. Membuat Arini pun merasa bersalah dibuatnya.



"aduh...maaf, om..! nggak sengaja...!" ucap Arini membuat pria itupun reflek menoleh ke arah gadis cantik itu.

__ADS_1


"what? om..?!" tanya pria itu, Samuel alias Sam.


Arini mendongak menatap pria tinggi besar itu.


"om nggak bawa baju ganti? bajunya basah semua..!" ucap Arini panik.


Sam terdiam. Ia tertawa sumbang.


"a...aku pinjemin bajunya daddy aja ya...! mungkin ukuran nya sama...!" ucap Arini. Sam masih diam, asyik mengamati tingkah polah gadis belia itu.


"bentar, om..! tungguin bentar...!" ucap Arini kemudian berbalik badan hendak masuk ke dalam rumahnya guna meminjamkan baju milik daddy nya untuk Sam. Namun....


seeeeetttt....


Sam menahan lengan Arini.


"udah, nggak usah...!" ucap Sam.


Arini menoleh.


"tapi baju om basah..!" ucap Arini lagi.


"aku nggak apa apa...! ntar aku bisa beli baju di jalan" ucap Sam.


"beneran?" tanya Arini.


"oh, ya udah kalau gitu. Maaf ya, om. Arin nggak sengaja" ucap Arini sembari mengangguk.


Sam tersenyum manis.


"it's oke..! nggak masalah...!" ucap Sam tanpa lepas menatap wajah gadis cantik itu.


Wajah imut, kulit putih, mata bulat, pipi sedikit cubby dengan bibir tipis yang menggoda. Tubuhnya ramping, tak terlalu tinggi, tapi juga tidak pendek.


Imut sekali, sangat menggemaskan. Rasanya ingin sekali si duda pecinta daun muda itu mengangkatnya menjadi pacar.


"namamu siapa tadi?" tanya Sam.


Arin tersenyum.


"saya Arini, om" ucap gadis itu.


"jangan panggil om dong" ucap Sam.


"terus panggil apa? om kan temen daddy saya" ucap Arini.


"padahal juga tuaan situ dibanding daddy! masa iya mau dipanggil dek..!" batin Arini menggerutu.


"ya panggil apa lah..! mas mungkin, atau kakak, asal jangan om aja" ucap Sam sambil tersenyum. Arini agak kurang nyaman, sepertinya laki laki ini adalah laki laki modelan om om genit. Arini jadi risih sendiri di buatnya.

__ADS_1


Arini tersenyum kaku, hingga tiba tiba.


Sam nampak menyipitkan matanya, menatap wajah cantik yang terlihat sembab itu dengan sorot mata menyelidik.


"wait..! kamu abis nangis?" tanya Sam sembari menggerakkan tangannya hendak menyentuh wajah mulus itu, namun Arini reflek memundurkan tubuhnya.


"nggak kok om, eh, maksudnya kak..! saya nggak apa apa...!" ucap Arini.


"tapi itu.............."


"aku mencari mu kemana mana...! disini kau rupanya..!!" ucap seorang pria dengan tegasnya.


Suara itu berhasil membuat dua pria wanita itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana Diego berdiri dengan gagahnya tak jauh dari tempat dua manusia itu berdiri. Laki laki itu sukses memotong pembicaraan kedua manusia tersebut.


Diego menatap tajam ke arah gadis manis dengan mata yang nampak sangat sembab dan bengkak itu. Menggambarkan jelas bahwa wanita itu baru saja menangis semalaman.


Arini menunduk. Ia berbalik badan. Mendekati keran air lalu mematikan nya. Wanita cantik tersebut nampak menggulung selang panjang berwarna hijau itu lalu hendak berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Namun...


"apa begini caramu menunjukkan baktimu pada ayah mu?!" tanya Diego tegas membuat Arini menghentikan langkahnya.


Sam menatap dua manusia itu bergantian.


"laki laki ini ingin pergi bekerja, sayang..! mencari uang untuk menghidupimu...!" ucap Digo lagi.


Arini menarik nafas panjang ditengah dadanya yang merasa sesak mendengar ucapan dari ayahnya tersebut. Wanita itu berbalik badan. Kembali mendekati Digo masih dengan selang tergulung di tangannya.


Diraihnya punggung tangan laki laki itu, lalu menciumnya sebagai tanda bakti. Kemudian melepaskannya dengan gerakan yang sedikit kasar.


"tiati..." ucap Arini singkat dan pelan terdengar malas. Membuat Diego melotot seolah tak puas dengan ucapan Arini.


"heh, yang sopan kau sama orang tua...!!" ucap Digo kesal.


Namun gadis itu tak peduli. Ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu sembari membawa selangnya. Digo yang kesal karena merasa di remehkan itupun hendak mengejarnya namun Sam menghalangi nya.


"wooee...! kerjaaa...! siang nih..!" ucap Sam sembari mengetuk ngetuk jam tangannya.


Diego berdecak kesal. Mau tak mau laki laki itupun hanya menurut. Pekerjaan lebih penting dari pada bocah ingusan itu.


Laki laki mapan itupun segera bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kendaraan itupun melaju meninggalkan tempat tersebut dengan Sam sebagai pengemudinya.


...----------------...


Selamat sore,


up 16:35


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2