
Ceklek.....
buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
"aaaaaaaakkkkhhhhh....!!!"
Arini yang masih kesulitan berjalan itu jatuh terpelanting ke lantai. Pintu kamar mandi pria tiba tiba terbuka. Seorang pria keluar dari sana dengan terburu buru lalu menabrak tubuh ramping itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.
"aaawwww...!!" pekiknya sambil meringis manakala merasakan ngilu di kakinya yang masih ter perban lantaran terbentur lantai marmer itu.
Arini kesulitan untuk berdiri. Kakinya masih terlalu sakit. Jalan aja susah, kadang masih di bantu, ini disuruh bangun setelah jatuh, sudah pasti makin kesulitan.
seeeeetttt....
Sebuah tangan terulur ke arahnya. Mengulurkan sebuah telapak tangan besar seolah hendak memberikan bantuan untuk gadis malang yang sedang dalam masa pemulihan pasca kecelakaan yang menimpa nya itu.
Arini mendongak....
deeeeegggghhhh.....
Sebuah senyuman lembut tersungging dari bibir laki laki itu. Seolah menggambarkan sebuah perasaan lega lantaran rindu yang membuncah kini seolah terobati.
Sesosok pria yang sangat ia kenal. Yang dulu sangat ia sayangi dan setengah mati ingin ia sentuh hatinya, namun kini seolah berubah, menjadi sosok laki laki yang teramat ia benci dalam hidupnya.
Ya, itu adalah Diego Calvin Hernandez. Si daddy palsu yang sudah membohongi nya selama hampir tiga bulan lamanya.
"butuh bantuan?" suara itu mengalun tanpa dosa dari bibir pria berjambang lebat tersebut.
Seketika itu juga berbagai bayangan yang dulu terasa indah namun kini berubah menyakitkan itu kembali menari nari dalam pikirannya. Betapa ia dulu begitu mati matian berusaha menjadi anak yang patuh untuk laki laki itu m Namun rupanya ia hanya sekedar di bohongi. Ia hanya dijadikan sebagai alat balas dendam sang Diego untuk Calvin atas kematian seseorang yang bahkan Arini sendiri tidak mengenalnya.
Arini nampak menatap benci ke arah pria tersebut. Ia memalingkan wajahnya. Tak sudi menatap apalagi menjawab pertanyaan pria sinting di sampingnya itu.
Gadis itu susah payah mencoba untuk bangkit dengan kemampuan nya sendiri. Tak memperdulikan keberadaan sang laki laki yang seolah menunggu untuk dimintai tolong itu. Gadis itu sepertinya sama sekali tak memiliki niat untuk meminta pertolongan laki laki di sampingnya itu. Malas..! lebih baik ia ngesot masuk ke kamar mandi daripada dibantu pria itu.
__ADS_1
Diego yang masih berada di samping Arini pun kini nampak diam menyaksikan sang gadis keras kepala yang kesusahan untuk bangkit itu. Sungguh, ingin sekali rasanya ia meraih tubuh gadis itu, membopongnya dan mengantarnya kemanapun wanita itu ingin pergi. Namun kini ia sadar, ia tak akan bisa melakukan nya. Arini seperti nya sudah terlalu benci pada dirinya. Wanita itu seolah begitu anti pati pada sosok Diego yang dulu sempat memberikan sebuah ciuman pertama di malam pergantian usianya.
"mbak..!" ucap gadis yang masih bersimpuh di lantai itu.
Seorang petugas cleaning service yang kebetulan melintas pun menoleh.
"lho, Arini?!!" ucap wanita yang sudah cukup lama bekerja di resto itu. Wanita dengan alat pel lantai di tangan itu buru buru mendekat.
"Ya Allah, kamu kenapa, Rin?" tanya wanita itu kini sembari membantu sang gadis malang untuk bangkit.
"kepleset, mbak" ucap Arini berbohong.
"terus ini kaki kamu kenapa? kok diperban? kamu kemana aja? mbak Glenca nyariin kamu terus. Tiba tiba kamu hilang nggak ada kabar..!" ucap si cleaning service itu.
Arini tersenyum lembut.
"aku abis kecelakaan, mbak. Hp aku ilang, jadi nggak bisa ngabarin siapa siapa" ucap Arini.
"ya ampun, pantesan..! terus ini kamu mau kemana? aku anterin. Kaki kamu kayaknya masih sakit" ucap cleaning service itu lagi.
"aku mau ke toilet, mbak" ucap Arini.
Arini mengangguk.
"makasih ya, mbak" ucap gadis itu.
Sang cleaning service itu pun bergegas menuntun Arini masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya meninggal kan Diego yang nampak diam mematung seolah sama sekali tak dianggap ada oleh gadis belia yang Digo inginkan itu.
Lima menit di dalam kamar mandi. Si cleaning service juga sudah berlalu pergi.
Pintu toilet wanita itu terbuka. Gadis pincang itu keluar dari dalam kamar mandi.
Arini terdiam. Pria itu masih berada disana. Berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di sebuah dinding pembatas antara pintu toilet pria dan pintu toilet wanita di sana.
Arini mencoba untuk tak mempedulikan keberadaan laki-laki yang kini menatapnya dengan penuh harap itu. Gadis itu kembali menyeret kakinya yang masih sakit untuk kembali ke mejanya menemui sang ayah.
__ADS_1
"daddy kangen sama kamu, baby" ucap Diego dengan syarat mata nanar menatap ke arah punggung sang gadis yang mengabaikannya itu.
Arini tak memperdulikannya. Ia terus berjalan mencoba untuk lebih cepat agar bisa segera pergi dari tempat itu.
Mendapati ucapannya tak di gubris oleh gadis manis tersebut, Diego pun beranjak dari tempatnya. Ia setengah berlari mengejar gadis itu lalu mencoba meraih tangan Arini.
seeeeetttt....
Arini menghempaskan lengan Digo. Wanita itu lantas menatap tajam ke arah pria itu.
"baby........"
"nama saya bukan baby...!" ucap Arini tegas dengan sorot mata tajam menatap ke arah pria itu.
Digo menatap nanar gadis itu. Sebuah netra tajam yang nampak berembun terlihat jelas di sana.
"daddy............"
"jangan pernah sebut lagi sebutan itu di depan saya..! anda bukan ayah saya, kita tidak punya hubungan darah apapun..!" ucap gadis itu tegas tanpa senyuman.
Diego merasa sesak. Ia menatap nanar ke arah Arini yang nampak garang. Tidak terlihat sosok lembut di sana. Apalagi wajah polos dan menggemaskan yang dulu selalu gadis itu tampilkan di hadapannya.
Sungguh, Arini sudah berubah sekarang. Dia bukan lagi Arini yang lemah. Yang manja. Yang suka merengek di hadapannya.
Wanita itu berubah menjadi wanita yang tegar dan kuat. Yang seolah sudah mati rasa pada pria yang dulu sempat tidur seranjang bersamanya itu.
"maaf.." ucap pria itu lirih. Dua netra itu dapat saling menatap satu sama lain. Seolah saling terkunci. Arini diam tak bergerak mendengar suara lirih pria itu. Sedangkan Diego kini nampak pilu. Sungguh, ia tak bisa begini terus. Ia sangat merindukan gadis itu. Ia ingin memeluk nya seperti dulu lagi.
Arini memalingkan wajahnya tanpa mengucap sepatah katapun. Wanita itu lantas menyeret kakinya, terus pergi meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan pria itu.
Sungguh, luka itu masih terasa sakit di hati Arini. Ia belum bisa secepat itu memaafkan laki-laki tersebut.
...----------------...
Selamat pagi
__ADS_1
up 05:46
yuk, dukungan dulu 🥰