
Malam menjelang, di sebuah kamar bernuansa biru milik Arini Nindya Putri...
Gadis belia itu nampak duduk di atas ranjang sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur berukuran 180x200cm itu.
Arini diam, sembari tangannya tergerak memainkan sebuah boneka beruang berwarna pink dengan bantal hati bertuliskan inisial DA di dadanya itu.
Ya, entah milik siapa boneka itu. Giselle menemukan nya tergeletak persis di depan rumah Arini saat ia hendak pulang tadi.
Tak jelas siapa pemiliknya, namun entah mengapa batin gadis itu merasa sedih melihat boneka ini. Sejak tadi gadis itu tak henti memangku nya sembari mengusap usap kepalanya yang sedikit basah karena air hujan. Terlebih lagi jika gadis itu melihat inisial nama pada bantal hati yang boneka itu pegang. D&A, seolah mengingatkan nya pada seseorang yang tengah ia nanti nanti kedatangan nya.
Kemana pria itu ya sekarang? kok nggak ada kabar. Padahal jika Arini membuat story WhatsApp, Digo sering melihatnya. Tapi laki laki itu tak pernah meresponnya. Menyebalkan..!
Ceklek...
pintu kamar terbuka. Calvin datang. Dengan sebatang cerutu ditangan, pria berkaos singlet hitam itu berjalan mendekati sang putri yang sejak tadi tak lepas memainkan boneka beruang temuan Giselle itu.
"belum tidur, sayang?" tanya Calvin sembari mendudukkan tubuhnya, menyentuh telapak kaki sang putri dan memijit mijit nya pelan.
Arini menoleh. Lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Calvin tersenyum lembut. Di tengok nya boneka beruang ditangan sang putri. Sebuah sisir tergolek di sampingnya. Gadis itu baru saja menyisir rambut beruang merah muda itu bak menyisir bulu anak kucing.
"bapak baru tahu kalau kamu suka boneka.." ucap Calvin.
Arini tersenyum.
"nggak terlalu suka juga sih, pak, sebenarnya" ucap gadis itu sambil menyentuh pucuk hidung beruang pink nya.
"lah itu, dari tadi di pangku terus" ucap Calvin.
Arini tersenyum lagi. Ia menghela nafas panjang.
"kira kira, ini punya siapa ya, pak?" tanya Arini tanpa menoleh ke arah sang ayah. Masih setia dengan boneka lucu dipangkuan nya.
"mungkin punya orang, jatuh" ucap Calvin.
"bisa ya, pas di depan rumah kita" ucap Arini lagi, masih tanpa menoleh.
__ADS_1
Calvin diam. Arini menatap sang ayah. Membalik boneka nya, memperlihatkan dua huruf yang tertoreh di bantal hati beruang pink itu.
"lihat deh, pak. Ada hurufnya..." ucap gadis itu sambil tersenyum.
Calvin masih tak bergerak. Arini kembali membalik boneka itu dan memainkan nya.
Laki laki gondrong itu kembali menghisap batang bernikotin itu, mengamati gerak gerik sang putri yang sepertinya tengah menyimpan suatu dalam benak nya.
"apa yang kamu pikirkan?" tanya Calvin.
Arini diam, menoleh ke arah sang ayah.
"kamu berfikir itu dari dia?" tanya Calvin lagi.
Arini diam. Dalam hatinya sebenarnya ia mengatakan 'ya..! ia berharap boneka itu dari Digo..!'.
Tapi kenapa laki laki itu justru meletakkan boneka itu di depan rumah Arini? bukan masuk ke dalam rumah, menemui nya, dan menyerahkan nya secara langsung?
Apa laki laki itu masih enggan bertemu dengan Calvin? pikir gadis itu.
"bapak..." ucap Arini lagi.
"menurut bapak, mungkin nggak dia datang kesini?" tanya Arini.
Calvin terkekeh. Ia lantas merangkak naik ke atas ranjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping sang putri dan merampas boneka itu dari tangan Arini. Dibolak balikkannya boneka itu dengan sorot mata menilai. Lalu.....
buuuuuuuuuuggggghhhhh......
"ya kalau dia nggak berani kesini, itu artinya dia kurang jantan untuk memperjuangkan kamu..!" ucap Calvin sembari melempar boneka itu asal.
"laki laki itu pemimpin. Laki laki itu melindung..! kalau sekedar datang menemui bapak aja dia nggak mampu, gimana mau melindungi kamu nantinya?!" tanya Calvin santai sembari memposisikan tubuhnya tidur rebahan dengan satu kaki ditekuk dan kedua lengan di gunakan sebagai bantal.
"ih..bapak, jangan di buang..!!" ucap Arini sembari memukul ringan lengan kekar ayahnya. Gadis itu turun dari ranjangnya, sedangkan Calvin hanya terkekeh mendengarnya.
Arini meraih boneka yang kini tergeletak di atas lantai kamar itu. Lalu membawanya naik lagi ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping sang ayah. Diam menatap langit langit.
"tapi bapak masih mau maafin dia, kan?" tanya Arini.
__ADS_1
Calvin terkekeh.
"masih lah..! tapi kalau dia nggak cepet cepet datang kesini, nggak buru buru kesini, bikin anak bapak galau nungguin dia terus, liatin aja, bapak apain dia nanti..!" ucap Calvin seolah sudah memiliki siasat terselubung.
Arini menoleh. Ia mengubah posisi tubuhnya sedikit miring lalu sedikit mengangkat kepalanya dengan satu tangan sebagai penyangga tubuh rampingnya.
"mau apain, pak?" tanya Arini dengan mimik wajah serius.
Calvin menatap ke arah sang putri. Sedikit memicingkan mata nya seolah berfikir.
"eemm...kita culik aja gimana?" tanya Calvin terlihat sungguh sungguh, tapi tidak sungguh sungguh.
Arini menahan tawa.
"kita karungin aja, pak..!" imbuh gadis itu.
"terus kita iket di atas kompor..!" tambah pria itu.
"kita tusuk tusuk pake garpu..!" sahut Arini.
"kita kecapin..!" tambah Calvin lagi.
"kita makan bareng bareng...!" imbuh Arini lagi.
Kedua ayah dan anak itu saling diam dan saling tatap. Lalu....
hahahahaha.........
Sepasang ayah dan anak itu tertawa geli kemudian. Arini menjatuhkan tubuhnya di atas dada bidang sang ayah. Lucu sendiri mendengar candaan yang ia buat bersama sang ayah malam ini.
...----------------...
Selamat pagi...
up 06:49
next up siang atau sore ya...
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰