My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 191


__ADS_3

Jam pulang kerja....


Setelah sebelumnya asyik melakukan aktifitas panas di dalam ruangan pribadi milik sang Diego, kini sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu nampak berjalan bergandengan, menyusuri sebuah pusat perbelanjaan besar yang berada di kota ini.


Beberapa paper bag sudah bergelayut di tangan Arini. Berisi beberapa pakaian ibu hamil, dan barang barang lain untuk ia dan suami.


Arini menoleh ke arah Diego. Dilihatnya pria tampan itu nampak sibuk menikmati sebuah eskrim yang berada di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tak lepas menggandeng tangan wanita cantik kesayangan nya.


Arini mengulum senyum lucu. Semenjak ia hamil, Diego jadi doyan ngemil dan memakan makanan yang manis manis. Digo juga jadi lebih manja, bukan hanya padanya tapi juga pada ayahnya, Calvin Alexander.


"kita mau beli apa lagi, dad?" tanya Arini.


Digo nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"eeemmm, apa ya...?" ucap laki laki itu lagi seolah tengah berfikir. Tangannya kini nampak tergerak merangkul pundak wanita cantik kesayangannya itu.


"bagi dong, dad.." ucap Arini kemudian sembari meraih eskrim di tangan sang suami.


"tadi katanya nggak mau..!" ucap Digo pada wanita hamil itu.


Arini hanya terkekeh. Es krim pun berpindah ke tangan wanita itu. Arini mulai melahap benda itu. Menggerakkan lidahnya menyapu benda lembut tersebut.


Sedangkan Diego kini nampak mengarahkan pandangannya ke segala arah. Mencoba mencari-cari apa yang kiranya ingin ia beli. Hingga fokus mata tajamnya tertuju pada sebuah toko bernuansa merah muda di sana. Digo mengulum senyum. Dengan segera ia menarik lengan sang istri lalu membawanya menuju ruko yang identik dengan warna khusus wanita itu.


"dad..! pelan pelan...!" ucap Arini yang masih memegang es krim.


Keduanya pun masuk ke dalam sebuah ruko yang menjual anek pernak pernik yang kebanyakan untuk kaum hawa itu. Mulai dari tas, aksesoris badan dan baju, boneka, dan beberapa hiasan hiasan lucu bernuansa feminim.


Arini nyengir.


"ini tempat apaan?" tanya Arini.


Digo melepaskan genggaman tangannya atas sang istri. Ia kemudian berjalan mengitari toko itu sambil melihat-lihat barang dagangan yang tersusun rapi di sana.


Arini mengikuti laki-laki berjambang tipis itu dari belakang.


"daddy ngapain sih ngajak aku ke sini? ini tuh tempat apa? kita mau cari apa di sini?" tanya wanita hamil itu kepada sang suami yang makin hari justru terasa makin aneh aneh saja kelakuan nya. Seumur hidup Arini tak pernah masuk ke tempat demikian. Mengingat wanita itu memang miliki jiwa laki-laki dan bar bar warisan ayah kandungnya.


"kamu kan perempuan. Kamu tuh harus sering ke tempat kayak gini. Beli-beli pernak pernik lucu-lucu kayak gini kan bagus" ucap Digo pada sang istri.


"daddy kan tau aku nggak suka kayak gini..!" ucap Arini.


Digo menoleh ke arah sang istri.


"ya udah sih, beli aja. Daddy lagi pengen banget beli buat kamu. Harus kamu pake loh ya..! ini permintaan baby...!" ucap Digo sambil mengusap usap perut rata sang istri.

__ADS_1


Arini hanya menghela nafas panjang. Digo mulai kalap. Membeli banyak barang di ruko yang identik dengan kaum hawa itu. Mulai dari bando kelinci, gelang gelang lucu, bunga bunga plastik, bunny hat, kotak musik, hingga boneka beruang jumbo berwarna merah muda.


Arini hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat aksi sang suami.


"awas aja kalau nanti nih bocah dalam perut nggak keluar cewek..! kalau sampai lahir cowok, berarti suamiku mulai menyimpang...!" ucap Arini sambil mengusap usap perut ratanya.


"tuh, liat bapakmu, beli bando segala..! jangan bilang besok kamu minta lipstik ya...! udah, ibuk nggak mau kamu minta aneh aneh lagi..! cukup bikin bapak kamu deket sama kakek kamu...! oke?!" ucap Arini sembari mengacung jempolnya di depan perut ratanya, seolah tengah berbincang dengan sang bayi yang tengah berada dalam kandungan.


Tak lama, Digo pun berbalik badan. Berjalan mendekati sang istri sambil mengulum senyuman manis.


"dah, yuk...kamu mau makan nggak?" tanya Digo.


"barang barang nya?" tanya Arini.


"ntar dianter ama kurir..!" ucap Digo.


Arini mengangguk.


"kamu mau makan apa?" tanya Digo lagi.


"emm, enggak deh. Aku makan dirumah aja, dad. Ntar kalau aku makan, daddy yang mual. Nanti makan dirumah aja.." ucap Arini.


"beneran?" tanya Digo.


Arini mengangguk.


"eeemmm, apa ya...." ucap Digo.


Pria itu nampak berfikir sejenak. Lalu,


"ck, istirahat dulu, deh. Ntar kalian kecapekan, lagi.." ucap pria itu sembari mengusap usap perut rata sang istri.


Arini mengulum senyum.


"ya udah, deh. Terserah daddy aja.." ucapnya.


"kita cari tempat, yuk..." ucap Digo.


Arini mengangguk. Digo kembali merangkul pundak wanita itu dengan hangat. Keduanya kemudian berjalan keluar dari ruko itu, mencari tempat untuk duduk sejenak sambil beristirahat. Digo tak mau istri dan calon buah hatinya kelelahan hanya karena menuruti keinginannya.


Sepasang suami istri itu lantas duduk di sebuah kursi motif warna-warni yang berada tak jauh dari sebuah pusat permainan anak-anak disana. Arinj nampak menyandarkan kepalanya di pundak pria itu sambil melahap sebuah cupcake yang sempat mereka beli tadi.


Netra sepasang suami istri itu terarah pada sekumpulan anak-anak yang nampak bermain dengan riang di sana.


Digo mengulum senyum.

__ADS_1


"ntar kalau si baby udah lahir, kita ajak ke sini. Dia pasti seneng banget, deh, main di tempat kayak gini" ucap Diego berangan-angan.


Arini hanya terkekeh.


"atau kita bikin playground khusus aja dirumah? biar dia nggak perlu desak-desakan sama anak-anak lain..! biar lebih puas mainnya...!"


"tapi kalau dirumah kamu terlalu sempit, sayang. Ntar kalau baby udah lahir kita pindah ya...." ucap Digo.


"bapak gimana?" tanya Arini.


"masukin aja ke panti asuhan...!"


Arini reflek menjauhkan kepalanya dari sang suami.


"astaghfirullah haladzim, daddy...!!!! itu bapakku..!!!!! daddy pikir dia anak buangan apa, masukin ke panti asuhan...!" ucap Arini kesal.


Digo tergelak.


"iya, iya...nggak, sorry...." ucap Digo sembari kembali meraih kepala sang istri dan menyadarkannya lagi di pundaknya. Arini menurut.


"panti jompo maksudnya" ucap Digo lagi membuat Arini kembali menggerakkan tangannya, mencubit paha sang suami dengan gemas. Membuat Digo pun reflek menjerit lalu tertawa. Dipeluknya wanita cantik di sampingnya itu.


"iya, iya, nggak, sorry sorry..! bercanda..! masa iya bapak mertua paling ganteng dimasukin ke panti jompo..?! ya nggak mungkin lah..! ntar gawat dong kalau di lirik nenek nenek...!" ucap Digo sambil cekikikan di akhir kalimat nya.


Arini menatap sinis kearah sang suami. Sepasang suami istri itu lantas kembali hanyut dalam candaan-candaan ringan mereka. Cukup lama, kurang lebih setengah jam keduanya berada di tempat tersebut, hingga perlahan rasa lelah itu mulai sirna. Sepasang suami istri itu kemudian kembali bangkit, berniat untuk kembali melanjutkan aktivitas jalan-jalan mereka di pusat perbelanjaan besar itu. Namun baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Digo berhenti. Diam mematung menatap ke suatu arah. Dilihatnya di sana sepasang pria wanita nampak berpelukan mesra di depan sebuah etalase toko perhiasan yang berada di kawasan mall tersebut. dilihatnya di sana sang pria nampak merangkul mesra pundak si wanita sambil mengusap-usapnya lembut.


Digo sangat mengenali dua pria wanita itu..! Ngapain mereka di sini? pikir laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu..!


Digo penasaran. Dengan segera ia meraih lengan sang istri lalu berjalan cepat mendekati sepasang pria wanita itu. Tangan itu kemudian bergerak, menyentuh pundak laki-laki yang kini berdiri membelakangi nya tersebut, dan....


....


.


bersambung 😁




 


Selamat sore


up 16:35

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘



__ADS_2