My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 138


__ADS_3

"Saya ingin menikahi putri anda...!"


.


.


.


deeeeegggghhhh,..!


Arini dan Calvin reflek melotot kaget menatap ke arah sang Diego. Namun Digo kini justru makin lama mulai menunjukkan sikap yakin dan percaya diri. Kepalanya terangkat, ia menatap ke arah Arini dengan penuh kesungguhan. Membuat gadis yang sejak tadi merasa malas itu kini nampak diam. Jantungnya mulai berdebar hebat manakala mata bulatnya dan netra tajam sang Diego saling bertemu.


"salah satu yang menjadi alasan saya berani datang kemari juga adalah untuk menjawab tantangan gadis di samping anda. Dia ingin melihat kesungguhan saya, apakah saya berani kemari menemui anda dan meminta maaf secara langsung kepada anda" ucap Diego dengan fokus utamanya adalah mata Arini.


"dan sekarang saya menjawab tantangannya, saya melakukan ini semua. Pertama, karena saya memang merasa bersalah, terutama pada anda. Lalu juga pada putri anda. Dan sekarang saya datang kemari ingin mengakui kesalahan saya itu. Saya ingin meminta maaf pada kalian. Saya benar benar minta maaf atas ketololan saya pada anda dan putri anda. Saya benar benar menyesal. Saya akui saya bodoh.."


"Dan yang kedua, saya datang kemari adalah juga demi putri anda. Demi meyakinkan hatinya bahwa saya sungguh sungguh menginginkannya. Saya tahu saya terlalu bodoh untuk dia. Saya tahu saya juga sudah terlalu banyak membuat kekecewaan untuk dia. Sekarang saya datang kemari, saya ingin meyakinkan dia, bahwa rasa sayang saya padanya sudah berhasil mengalahkan segalanya. Meluruhkan ego dan keangkuhan saya."


"saya mengabaikan semuanya. Saya melepaskan semua keangkuhan dan keegoisan saya. Saya datang kemari hanya bermodalkan keyakinan, bahwa saya mencintai putri anda" ucap Diego tanpa melepaskan pandangannya ke arah Arini.


"saya tahu kesalahan saya terlalu banyak. Tapi saya bersungguh sungguh. Anda sudah mengenal saya cukup lama. Saya tidak pernah bermain-main dengan perasaan saya. Sekali saya mencintai seorang wanita, maka wanita itu akan saya perjuangkan sampai mati. Dan sekarang saya cinta pada putri anda dengan segala keistimewaan yang dia punya. Saya meminta izin pada anda, izinkan saya meminang dia, mencintai dia dan menjaga dia dengan segala kemampuan saya." ucap Diego yakin.


Calvin diam. Tak bergerak. Mendengarkan ungkapan hati seorang Diego yang sepertinya memang tulus dari hatinya itu.


Arini menunduk. Entah bagaimana perasaan nya saat ini. Sedangkan Diego, mata itu tak lepas dari objek cantik di samping Calvin Alexander.


"apa kau yakin kau mencintai Arini?" tanya Calvin kemudian.


Diego menatap Calvin. Sorot mata tajam keduanya saling bertemu. Netra Diego yang biasanya ketika bertemu dengan Calvin selalu memancarkan kebencian dan amarah, kini tak nampak lagi. Laki laki itu kini terlihat bersungguh-sungguh. Laki laki itu kemudian mengangguk penuh keyakinan.


"ya, saya yakin" jawab Diego.


"walaupun Arini adalah putri seorang Calvin Alexander, mantan suami Steffi wanita idamanmu?" tanya Calvin lagi.


Diego diam sejenak. Lalu mengangguk yakin.


"apakah kau yakin kau sudah bisa melupakan wanita tersayang mu itu?" tanya Calvin lagi.

__ADS_1


Diego diam lagi. Lalu kembali mengangguk yakin.


Calvin kembali mengangkat dagunya, menarik nafas panjang kemudian membuangnya.


"Dengarkan aku, Diego. Gadis kecil di sampingku ini adalah putriku, seorang putri yang memang terlahir dari sebuah kesalahan yang ku lakukan. Sejak kecil, hidupnya sudah menderita. Tidak perlu ku jelaskan panjang lebar, aku yakin kau pasti sudah mendengar semua cerita tentang masa lalu gadisku ini" ucap Calvin, Diego hanya mengangguk.


"delapan belas tahun kami terpisah, baru sekali aku menggendongnya, saat usianya masih dua bulan..."


"saat dia sudah dewasa, dia memutuskan untuk mencariku ke kota ini karena rupanya ia hidup sebatang kara di kampungnya. Hingga pada akhirnya Tuhan mempertemukannya dengan mu.."


"Diego, gadis ini adalah gadis yang dulu tidak di terima kehadiran nya oleh Steffi. Gadis ini juga kurang diterima kehadiran nya di lingkungan kampungnya. Gadis ini bahkan juga sempat ku ragukan saat pertama kami saling mengetahui, bahwa kami adalah ayah dan anak"


"dia adalah gadis malang yang haus kasih sayang. Sejak kecil, ia tak pernah mendapatkan figur ayah, ibu, teman, ataupun sahabat..."


"kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu berhasil menyadarkan ku, bahwa gadis ini adalah korban di atas korban dari segala kisah ku, kau, Steffi, ibunya dan keluarga besar kami di masa lalu. Dialah korban yang sebenarnya." ucap Calvin.


"sejak saat itu, aku bertekad, disisa waktu yang Tuhan berikan untukku, aku akan mencurahkan segala kasih sayang yang ku punya untuknya.."


"aku akan memberikan apapun yang bisa membuatnya bahagia. Dan aku tidak akan pernah membatasi apapun yang bisa membuatnya tersenyum, termasuk jodoh sekalipun...." ucap Calvin membuat Arini menoleh ke arah sang ayah. Tersirat jelas dalam pelupuk mata pria itu, betapa ia sangat mencintai putri semata wayangnya itu kini.


"Diego, aku pernah merasakan bagaimana rasanya dipaksa jatuh cinta pada orang yang sebenarnya tidak aku cintai. Meskipun pada akhirnya aku bisa mencintai wanita itu, tapi kau tahu sendiri kan bagaimana akhir dari kisah cintaku itu"


" jujur saja, Diego, aku merasa lebih tenang jika Arini berada di sampingmu, daripada harus mencari laki-laki lain di luar sana yang tidak jelas seperti apa bibit, bebet, dan bobotnya..."


"tapi, sebagai seorang ayah, ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku. Apakah kau bersungguh-sungguh mencintai anakku? apakah cinta yang kau katakan itu tidak mengandung unsur dendam di dalamnya? jujur saja, Diego, aku masih takut jika kedatanganmu saat ini masih kau balut dengan rasa tidak percaya atas apa yang pernah aku katakan padamu di bandara. Aku takut, jika niatmu menikahi putriku, tak lebih dari dendam lanjutan yang kau rencanakan untuk menyakiti putriku.


"sekali lagi ku tanya padamu, Diego. Sebagai seorang laki laki, seorang pria, apakah kau yakin bahwa kau benar-benar mencintai Arini?" tanya pria gondrong itu lagi.


Ia berucap sembari menatap mata sang Diego dengan tajam, tegas, dan penuh kesungguhan.


Kedua nya saling diam untuk beberapa saat. Seolah saling berkomunikasi melalui pandangan mata satu sama lain.


Diego menarik nafas panjang, memejamkan matanya, lalu berucap.


"Demi Tuhan, saya mencintai putri anda. Tidak ada niat lain selain rasa sayang dan rasa ingin memiliki yang ada dalam diri saya untuk Arini. Saya mencintai putri anda karena dirinya, karena pribadinya, karena segala keistimewaan yang ada dalam diri putri anda. Saya mencintai gadis kecil anda karena gadis itulah yang berhasil membuka mata saya, menyentuh dinding hati saya, melunakkan perasaan saya yang sudah terlanjur keras selama bertahun-tahun lamanya. Saya mencintai putri anda karena campur tangan Tuhan, yang membantunya menyadarkan saya betapa bersama bertahun-tahun ini saya sudah bodoh, sibuk dengan pemikiran saya sendiri hingga membuat saya gelap mata dan melakukan segala hal demi menjatuhkan dan menghancurkan anda"


"saya paham, sebagai seorang ayah, wajar jika anda punya pemikiran demikian..."

__ADS_1


" saya sudah mendengar semua tentang Arini dari mulutnya sendiri, bagaimana kisahnya sejak kecil hingga saat dewasa ini yang besar tanpa figur orang tua"


"tuan Calvin, saya mencintai putri anda. Saya ingin ikut membahagiakan dia. Izinkan saya melakukan nya. Sebagai seorang ayah, anda berhak menentukan sikap. Silahkan buat peraturan ataupun syarat yang kiranya bisa membuat anda yakin bahwa saya bersungguh sungguh ingin membahagiakan Arini. Saya akan melakukannya demi putri anda..." ucap Diego yakin.


Calvin menarik nafas panjang. Ia menoleh ke arah putri yang sejak tadi hanya diam.


"Baiklah, aku menyerahkan semuanya pada Arini, biar dia yang menjawab, mau atau tidaknya. Karena mau bagaimanapun, Arini lah yang akan menjalaninya bersamamu..."


" Tapi sebagai seorang ayah, aku ingin berpesan, jika kau bersungguh-sungguh ingin menikahi Arini, maka segera lakukan..! pinang dia secara sah di mata hukum, agama, dan negara. Aku tidak mengizinkan kalian untuk pacaran, penjajakan ataupun sejenisnya. Karena aku tidak mau terjadi hal hal yang tidak di inginkan, baik pada putriku ataupun kau sendiri.


" jangan lupa, sebelum menikah, minta restu pada kakakmu. Perkenalkan dia sebagai calon istrimu, dan pastikan dia menerima putriku sebagai iparnya. Dan satu lagi, jika memang kau ingin menikahi putriku, maka aku minta tinggal di sini untuk sementara ...."


"maaf, bukannya aku masih belum bisa mengikhlaskan putriku menikah dengan laki-laki lain. Tapi sebagai seorang ayah, aku ingin memastikan bahwa kau benar benar memperlakukan gadis kecilku ini dengan sangat baik, bahkan lebih baik dari bagaimana aku memperlakukannya"


"apa kau sanggup?" tanya Calvin.


Diego mengangguk dengan pasti.


"saya sanggup...!!" ucap Diego.


Calvin lantas menoleh ke arah sang putri. Disentuhnya punggung tangan wanita itu dengan lembut..


"nak, ada pria yang ingin meminang mu. Apa kau bersedia??" tanya Calvin lembut.


Arini menunduk. Diam sejenak. Lalu..


.


.


.


.


bersambung dulu☺️😁😁😁🀭


...----------------...

__ADS_1


Lanjut besok ya....😁😁


yuk, kasih dukungan dulu πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ₯°


__ADS_2