
"permisi.."
suara itu berhasil membuat Calvin dan Arini menoleh. Calvin melepas kan pelukannya pada sang putri, lalu menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya disana seorang wanita cantik nampak berdiri tak jauh dari tempat sepasang anak dan ayah itu.
Itu Giselle. Wanita cantik dengan tampilan anggun serta sebuah tas branded ditangan itu nampak tersenyum ke arah ayah dan anak itu. Setelah satu minggu Arini sadar dari tidur panjangnya, Giselle baru sempat menemui gadis itu hari ini. Tentu saja, berbagai kesibukan nya sebagai seorang wanita karir yang kini sudah resmi menyandang predikat janda itulah yang membuatnya kini menjadi super sibuk. Mengurusi butik barunya, mengurus anak, mengurus ayah yang sakit, serta bolak balik menengok Diego yang kini hidup sendiri di rumah barunya.
Diego termasuk prioritas utama untuk Giselle. Ia tahu laki laki itu mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk sekarang. Ia takut jika Diego yang labil dan ngeyel lantas melakukan hal hal uang tidak tidak nantinya jika tanpa pengawasan.
Arini nampak memiringkan kepalanya. Ia seperti pernah melihat wanita ini. Kalau tidak salah, ia adalah kakak kandung dari daddy palsu nya kan? iya, dulu ia pernah bertemu dengan wanita itu kala masih tinggal seatap dengan pria penipu itu. Untuk apa wanita itu kemari? pikir Arini.
"selamat siang.." ucap Giselle ramah.
Calvin menyunggingkan senyuman di balik jambang dan kumis lebatnya. Sedangkan Arini nampak diam menatap polos kearah wanita anggun dengan aura mahal dan berkelas itu.
Calvin bangkit.
"siang" ucapnya tenang dengan mode cuek khas dirinya.
"em, apa kabar, tuan...Arini?" tanya Giselle sedikit canggung.
Calvin menatap datar wanita itu dari atas sampai bawah, lalu mengangguk samar.
"baik" jawabnya.
Giselle tersenyum kaku hingga memperlihatkan barisan gigi-giginya yang putih. Wanita itu selalu terlihat gugup jika berhadapan dengan laki laki berpenampilan garang itu.
Giselle mencoba mengusir kegugupan nya. Ia lantas bersimpuh. Duduk di hadapan Arini yang nampak diam di atas kursi rodanya.
"kamu gimana kabarnya, cantik? udah mendingan?" tanya Giselle pada Arini.
Gadis itu nampak menatap ke arah Giselle dan Calvin bergantian, lalu mengangguk samar.
"u, udah, tante, eh.. ibuk, eh.. mbak..aduuh.." ucap Arini seolah bingung mau menyebut Giselle dengan sebutan apa. Mau di panggil tante kok kayaknya tua amat. Ibu apa lagi. Tapi kalau di panggil mbak, sepertinya tidak cocok dengan penampilan Giselle yang begitu mewah dan sempurna.
Giselle tersenyum.
"panggil se nyaman kamu aja" ucap wanita itu.
"kamu mau kemana?" tanya nya lagi.
"mau jalan jalan aja di sekitar sini sama bapak. Bosen di kamar terus" ucap Arini tersenyum
Giselle nampak menatap lembut ke arah gadis itu. Sangat manis. Lucu pula, kek bapaknya. Enak kali ya dijadiin adik. Atau, jadi anak aja..?! eehhh....ðŸ¤ðŸ™ˆ
Giselle diam diam mengulum senyum.
"saya boleh temenin kamu?" tanya Giselle.
Arini menoleh ke arah sang ayah lagi. Namun Calvin hanya diam seolah menyerahkan keputusan pada putri kecil nya itu.
Arini kemudian menatap wanita itu lagi lalu mengangguk.
"i, iya. Boleh, tante, eh, kakak deh..." ucap Arini.
__ADS_1
Giselle kembali mengulum senyuman manis.
"ya udah, saya dorong ya..." ucap Giselle.
Arini hanya mengangguk. Wanita itu lantas bangkit, lalu menoleh ke arah Calvin yang berdiri di belakang nya.
"tuan, saya izin ikut keliling rumah sakit ya..." ucap Giselle.
Calvin mengangguk lagi tanpa berucap.
"tapi bapak jangan pergi.." ucap Arini seolah tak mau ditinggal jauh jauh oleh sang ayah.
"bapak nggak pergi. Bapak ngikutin kalian dari belakang" ucap Calvin.
Arini mengangguk.
"udah siap? kita ke taman aja gimana?" tanya Giselle.
Arini mengangguk.
"iya, kak" ucap Arini.
Giselle pun mengulum senyum. Ia pun mulai mendorong kursi roda itu. Berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit bertiga. Kedua wanita itu nampak bercengkrama hangat sembari diselingi tawa dan canda. Sangat cepat bagi keduanya untuk saling akrab. Sedangkan Calvin yang berada di samping mereka hanya diam sambil terus berjalan sembari mengunyah snack yang ia ambil dari pangkuan Arini. Laki laki itu sama sekali tak menyahut perbincangan kedua wanita itu. Ia terlalu malas untuk berbaur dengan obrolan yang sama sekali tidak penting itu.
Ketiga manusia itu akhirnya sampai di taman rumah sakit yang berada di belakang bangunan tinggi dan luas itu. Arini nampak tersenyum. Gadis dengan tangan dan kaki di gips itu nampak menghirup udara dalam dalam. Akhirnya ia bisa keluar kamar juga setelah seminggu tanpa kegiatan berarti di dalam sana.
"akhirnya bisa liat rumput..!" celetuk Arini spontan. Giselle terkekeh. Calvin nampak mengulum senyum.
Arini meraih satu bungkus snack dengan tangan kirinya yang tak di gips. Gadis itupun berusaha membuka snack di pangkuannya itu dengan menggunakan mulut dan satu tangan nya.
"eh, sini, biar aku aja yang bukain." ucap Giselle yang dengan sigap mengambil alih snack itu dari tangan Arini.
"nih," ucapnya lagi sembari menyerahkan makanan itu pada Arini.
"makasih, kak" ucap Arini.
"sama sama.." jawab Giselle.
Arini mulai melahap makanan yang tidak mengenyangkan itu. Memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya sembari menikmati pemandangan yang di dominasi oleh orang orang sakit itu.
Giselle menatap dalam gadis belia itu.
"Arini..." ucap wanita itu.
"iya, kak" jawab Arini.
"kakak mau minta maaf sama kamu, dan papa kamu" ucap Giselle.
Arini terdiam.
"emang kakak salah apa sama aku, sama bapak?" tanya Arini polos.
Giselle tersenyum.
"kakak mau minta maaf atas nama Diego" ucap wanita itu lagi.
Arini kini terdiam kala mendengar nama itu disebut. Ia sampai tidak mengetahui bagaimana kabar laki laki itu sekarang.
__ADS_1
"kakak minta maaf atas sifat ke kanak-kanakan Diego selama ini. Harusnya dia bisa lebih dewasa di usianya dia yang sudah sangat matang" tambah Giselle.
Arini tak menjawab. Giselle menatap ke arah gadis itu dan pria berambut gondrong tersebut secara bergantian. Calvin menghela nafas panjang, mengedarkan pandangannya ke segala arah, kemudian berkata...
"Mau sampai berapa kali kau meminta maaf?" tanya laki-laki itu.
Ya, bukan hanya kali ini saja Giselle mengucapkan permintaan maafnya di hadapan laki-laki itu. Saat Giselle mencabut laporannya ke polisi, wanita itu juga sudah meminta maaf pada Calvin. Saat berbicara di sebuah cafe setelah terbebasnya Calvin, dia juga meminta maaf lagi pada laki-laki itu. Wanita itu juga sempat mengungkapkan permintaannya agar Calvin bersedia untuk terus terang perihal penyebab kematian Steffi beberapa tahun yang lalu pada Diego. Semua itu ia ungkapkan pada Calvin agar laki laki itu bersedia untuk terbuka, agar memperjelas perihal apa yang terjadi agar tidak lagi salah paham di antara kedua laki-laki tersebut.
Namun sayang, sepertinya hal itu tidak berjalan mulus. Sampai saat ini hal tersebut belum juga terjadi lantaran di antara Diego dan Calvin sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Calvin tidak pernah mempunyai niat untuk menemui Diego duluan. Ia lebih memilih untuk menunggu pria itu datang padanya lalu mengajaknya berbicara baik baik. Toh memang semua permasalahan Diego yang memulai bukan? jadi untuk apa ia repot repot mendatangi Diego dan meminta maaf..?
Dan Diego pun seperti ini juga sama-sama keras. Jangan tanya seberapa ngeyelnya laki laki itu. Seberapa susahnya mengetuk isi kepala pria itu. Sejak Calvin keluar dari penjara hingga saat ini laki-laki itu juga belum pernah mau menemui Calvin. Ia bahkan memilih untuk tidak menemui Arini dan setengah mati menahan kerinduan nya pada gadis itu demi sebuah gengsi dan ego yang seolah terus Digo pertahanan kan.
Sungguh, dua pria dengan kepala dan hati yang sama-sama keras sekeras batu.
Giselle menunduk.
"kemarin kemarin kan saya cuma minta maaf sama tuan. Saya belum meminta maaf pada Arini. Makanya sekarang saya datang kesini lagi, saya mau minta maaf langsung sama putri tuan" ucap Giselle.
Arini menunduk.
"Arini, kamu mau kan maafin Diego. Saya tahu, kesalahan dia sudah sangat banyak sama kamu. Dia benar benar labil sebagai seorang laki laki. Saya cuma bisa bilang maaf sama kamu atas nama Diego, sayang. Maafkan dia ya..." ucap Giselle.
Arini diam. Ia mengangkat kepalanya lalu mengarahkan pandangannya ke segala arah.
Jika ditanya apakah dia masih sakit hati pada Diego, jawabannya mungkin iya. Sampai sekarang Arini bahkan sama sekali tak mau mengingat laki-laki itu. Ia sudah bahagia dengan ayahnya sekarang. Ia seolah benar-benar melupakan Diego. Sama sekali tidak ada nama laki laki itu dalam pikiran wanita tersebut. Entahlah, apakah saat ini ia sudah bisa memaafkan Diego atau belum. Karena apa yang laki-laki itu lakukan padanya benar-benar sudah membuat Arini kecewa.
"kak, nggak usah bahas itu lah" ucap Arini.
Giselle diam.
"Arin cuma pengen jalan jalan. Nggak mau inget inget itu lagi" imbuhnya.
"Diego sangat menyesal, Rin" ucap Giselle
"Arin juga sangat kecewa" sahut Arini.
"tapi..............."
"jika dia bilang tidak mau bahas, tidak usah dibahas. Jika anda kekurangan bahan obrolan, anda bisa pulang saja..!" ucap Calvin menghentikan ucapan wanita cantik itu. Giselle terdiam. Ngeri melihat mimik wajah laki laki itu...! sedangkan Calvin kini nampak menatap tajam kakak kandung Diego tersebut.
"maaf, tuan" ucap Giselle.
"jika adik anda seorang laki-laki, harusnya anda tidak perlu repot repot untuk meminta maaf secara berulang ulang. Harus nya adik anda lah yang datang pada kami. Biar dia sendiri yang menyampaikan permintaan maaf nya jika emang dia ingin minta maaf. Sebagai seorang laki-laki harusnya dia bisa bersikap jantan. Bukannya malah menjadi pengecut dengan terus-menerus bersembunyi di balik ketiak kakaknya" ucap Calvin tegas dengan mimik wajah garang. Giselle makin gugup. Niatnya meminta maaf tidak mendapatkan respon yang baik dari Calvin.
Arini nampak memijit mijit pelipisnya.
"bapak, jangan berisik..! Arin pusing" ucap gadis itu.
Calvin mendekat. Mengambil alih kursi roda itu.
"kita jalan jalan lagi aja ya.." ucap Calvin.
Arini mengangguk. Pria itupun kemudian kembali membawa sang putri pergi dari tempat tersebut. Giselle hanya bisa menghela nafas. Ia berjalan dibelakang Calvin dan Arini tanpa berucap sepatah katapun.
...----------------...
Selamat siang...
__ADS_1
up 11:15
ini udah up lagi, tapi up yang dari kemarin belum lolos" juga. Semoga nggak numpuk dan salah tempat ya bab nya🙈🙈🙈