My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 95


__ADS_3

Hari terus berganti, waktu pun terus berjalan. Tak terasa satu minggu sudah dua anak manusia tak sedarah itu dirawat di rumah sakit.


Setelah kembalinya Calvin menghirup udara bebas pasca mendekam semalam di sel, kini Calvin sudah kembali menjalankan perannya sebagai seorang ayah untuk gadis manis yang tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang ruang ICU rumah sakit megah itu.


Ya, setelah kepulangan Calvin, laki laki itu seolah mulai mengambil alih semua tentang Arini.


Ia menemani putri kecilnya itu dua puluh empat jam nonstop. Ia pulang kadang hanya untuk mengganti pakaian lalu kembali lagi ke rumah sakit. Pria itu juga sudah memindahkan kamar sang putri dari IGD ke ruang ICU, seperti yang memang seharusnya. Tanpa peduli dengan protes dari Diego yang seolah ingin memakai ruang IGD sebagai kamar khusus bagi ia dan Arini tanpa memperdulikan pasien lain.


Tapi siapa Diego..? Keinginan nya yang kuat tetap akan kalah dengan Calvin selaku ayah kandung Arini.


Satu minggu berlalu, Arini belum juga bangun dari tidur panjangnya. Gadis belia itu masih terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat kesehatan yang melekat di tubuhnya.


Sedangkan Diego, pria itu kian hari kian menunjukkan perkembangan yang baik. Satu minggu berlalu hari ini dokter sudah memperbolehkan pria tampan itu untuk pulang dan beristirahat di rumah.


Satu minggu berlalu, setelah dipindahkan nya Arini dari ruang IGD ke ICU Diego sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis itu. Hal itu lantaran Calvin seolah tidak memberikan celah untuk pria itu masuk ke ruangan rawat Arini.


Calvin sebenarnya tidak pernah melarang laki laki itu untuk datang menjenguk putrinya, namun sepertinya Diego lah yang masih enggan bertemu dengan Calvin. Bahkan setelah berbagai peristiwa yang terjadi di antara mereka hingga wejangan dari Giselle yang seolah hampir tiap hari wanita itu berikan pada Diego, hati Diego masih saja sekeras batu.


Siang ini,


Di ruang rawat inap tempat dimana sang Diego menghabiskan hari harinya selama kurang lebih satu minggu lamanya.


Wanita cantik berpenampilan anggun itu nampak sibuk memasukkan beberapa potong pakaian milik nya dan sang adik kedalam ransel berukuran sedang disana. Hari ini Diego sudah diizinkan pulang. Pria itu sudah dinyatakan sehat setelah menjalani perawatan satu minggu lamanya di rumah sakit besar itu.


sreeekk...


Giselle menarik resleting ransel berwarna hitam itu. Wanita cantik tersebut lantas menoleh ke arah jendela kamar. Dilihatnya disana seorang pria tampan nampak diam berdiri sejak tadi. Menatap lurus ke arah luar jendela tanpa mengucap sepatah katapun.



"Go..." ucap wanita itu lembut sembari bangkit menuju nakas. Memasukkan ponsel, power bank serta peralatan lainnya ke dalam tas selempang mahalnya.


Diego diam. Ia hanya menggerakkan kepala nya sedikit tanpa menoleh ke arah sang kakak.


"hari ini kamu pulang loh. Yakin, nggak mau nemuin Arini dulu?" tanya Giselle.


Diego tak menjawab.


"makan ego nggak akan kenyang loh, Go. Kalau kamu mau dekat sama seorang perempuan, otomatis kamu juga harus bisa dekat dengan orang orang di sekitarnya. Termasuk orang tuanya" ucap Giselle.

__ADS_1


Diego masih diam. Sungguh, sebenarnya ia sangat merindukan gadis kecilnya itu. Tapi ia terlalu malas untuk bertemu dengan Calvin. Entahlah, bagaimana pola pikir pria itu..!


Diego mengangkat dagunya. Mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"gue mau pulang aja" ucap Diego.


"ke rumah papa aja ya.." ucap Giselle menawarkan. Mengingat Diego baru saja sembuh dari sakit dan masih perlu banyak beristirahat. Membuat wanita itu pun merasa cukup khawatir jika sang adik harus tinggal sendiri di rumah mewahnya itu.


"nggak usah. Gue lagi pengen sendiri" ucap Diego dengan wajah yang nampak masam.


Giselle mendekat. Berdiri di samping sang adik lalu menatap lurus kedepan mengikuti arah pandang Diego.


"Go, mau sampai kapan kamu kayak gini terus?" tanya Giselle.


"ini udah lima belas tahun lebih setelah kematian Steffi. Dan hubungan kamu sama Calvin masih gini gini aja. Apa kamu nggak berfikir, untuk belajar ikhlas? mau sampai kapanpun kamu menyimpan dendam, itu nggak akan merubah keadaan. Steffi sudah meninggal, dan dia nggak akan pernah kembali lagi" ucap Giselle mencoba berbicara selembut mungkin.


"Steffi nggak pernah mati. Dia selalu ada di hati gue" ucap Digo dengan sorot mata nanar.


"trus gimana sama Arini?" tanya Giselle.


"Diego, kalau kakak boleh ngomong ya. Hidup itu jalannya maju, Go. Bukan mundur ataupun diam di tempat. Orang yang sudah meninggal, itu artinya Tuhan memang sudah menginginkan nya untuk kembali ke tempat nya yang abadi. Tugas kita bukan meratapi, tapi mendoakan. Agar segala dosa dosanya di ampuni dan dia ditempatkan di tempat yang terbaik di sisiNya" ucap Giselle lembut dan pelan.


"sedangkan kamu, yang masih diberi kesempatan untuk hidup, lanjutkan hidup kamu, Go. Kalau ada yang masih mengganjal, selesaikan. Kan kakak udah bilang, setelah tuan Calvin bebas kemarin, dia menunggu etikat baik kamu untuk datang menemui dia. Dia mengajak kamu bicara empat mata. Dari hati ke hati"


"gunakan kesempatan ini untuk meluruskan semua masalah diantara kalian, Go. Biar nggak ada lagi hal hal mengganjal dalam diri kamu. Lagipun, apa kamu nggak kangen pengen lihat kondisi gadis manis itu? gadis yang rela kamu tunggui semalaman di emperan masjid. Nggak kangen?" tanya Giselle lagi.


Diego diam tak menjawab.


"Digo, sudah saatnya kamu membuka hati kamu untuk orang baru. Yang masih bisa kamu sentuh dan kamu miliki. Biarkan Steffi tetap hidup di salah satu ruang hati kamu sebagai masa lalu. Buka lagi ruang lainnya untuk gadis yang mulai menguasai pikiran kamu"


"Go, kamu pernah gagal memiliki seorang wanita. Jangan sampai, kamu gagal untuk yang kedua kalinya. Sakit loh, Go. Ketika kita mencintai tapi kita terlambat untuk memperjuangkan nya" ucap Giselle.


"turunkan ego kamu, datangi orang tuanya, selesaikan semua masalah kalian. Setelah itu, saat nanto gadis cantik itu sadar, ambil lagi hatinya, minta maaf, dan mulailah berjuang untuk mendapatkan nya. Sebelum semuanya terlambat.." ucap Giselle.


Diego diam tak bergerak. Calon janda cantik itu tersenyum. Disentuhnya pundak sang adik lalu mengusap usapnya lembut.


"dah..! pikir pikir lagi ucapan kakak. Kakak cuma mau yang terbaik buat kamu, Go" ucap Giselle sambil tersenyum.


"dah yuk, pulang. Keburu macet.." ucap wanita cantik itu lagi.

__ADS_1


Diego pun hanya mengangguk. Ia lantas berbalik badan.


"biar gue aja yang bawa, kak" ucap Digo sembari meraih ransel milik Giselle.


Giselle tersenyum.


"emang pasien ajaib kamu, Go. Dirawat sehari minta booking IGD buat berduaan ama Arini. Pulang di sediain kursi roda milih jalan kaki..! mana bawa ransel pula" ucap Giselle sambil terkekeh.


Diego hanya tersenyum. Kedua kakak beradik itu pun lantas berjalan keluar kamar. Menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju lobby dan pulang. Namun saat melewati lorong ICU, tiba tiba....


.


.


.


.


.


"dok...! dokter...! adek gue udah sadar, dok...! Arini udah bangun...!!"


.


.


.


.


.


bersambung 😁


...----------------...


Selamat malam


up 19:47

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2