
"om..."
suara itu terdengar lembut. Mengalun merdu di telinga pria tiga puluh delapan tahun yang sejak tadi nampak sibuk dengan ponselnya.
Sam mendongak.
Mata itu nampak terpana. Melihat sebuah keindahan yang terpancar dari seorang wanita cantik muda belia yang kini berdiri di hadapan nya.
Sam melongo. Gadis itu terlihat begitu cantik dan lebih dewasa dengan penampilan nya yang sekarang. Paras ayunya makin terlihat mempesona. Aura mahal dan anggun terpancar jelas dari wajahnya.
Sam bangkit.
"om, om yakin beliin ini semua buat aku? ini banyak loh, mahal semua..." ucap Arini sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya. Berisi baju baju baru yang Sam belikan untuknya.
Sam tak bereaksi. Ia masih terpana dengan kecantikan Arini. Pantas saja Tuan Calvin tergoda dengan ibunda Arini, anaknya saja secantik ini apalagi ibunya.
Yakin tuh Digo nggak oleng serumah ama bidadari kek gini?🤭😝
Sam masih diam.
"om..." ucap Arini sambil memiringkan kepalanya. Sam tak bergerak.
"ooooommm......" ucap wanita itu lagi sambil menggerakkan telapak tangan nya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Sam. Membuat laki laki itupun tersentak sadar dari lamunannya nya.
"oh, sorry...! kami cantik banget.. !" ucap Sam.
Arini nampak mengernyitkan dahinya.
"om, ini bajunya banyak banget loh...!" ucap Arini.
"nggak apa apa. Kamu kan nggak punya banyak baju. Ya kamu pakai aja baju baju itu. Daripada kamu pakai yang dari kampung..." ucap Sam.
"tapi ini kebanyakan, om.." ucap Arini lagi. Sungguh, ia merasa tak enak hati.
"nggak apa apa, baby. Aku ikhlas kok.." ucap Sam.
Arini hanya menunduk sambil tersenyum.
"makasih, om" ucap Arini.
"sama sama, baby" jawab duda tiga puluh delapan tahun itu.
"ya udah, sekarang kita makan ya..." ucap Sam.
Arini mengangguk. Kedua anak manusia beda usia itupun lantas berlalu pergi dari tempat itu. Menuju sebuah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari butik tempat mereka berada saat ini.
...****************...
Beberapa jam kemudian. Setelah mengajak Arini membeli baju dan makan malam dengan suasana romantis, Sam pun mengajak Arini untuk kembali pulang ke kediaman Diego.
Mobil jeep merah kombinasi hitam itu nampak berhenti di depan gerbang rumah megah milik Diego Calvin Hernandez. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum terlalu malam.
__ADS_1
Arini melepaskan sitbelt nya.
"makasih ya, om. Udah ngajakin aku pergi malam ini. Pakai di beliin baju segala lagi.." ucap Arini sambil mengangkat beberapa paper bag di tangannya.
Sam tersenyum. Sejak tadi matanya seolah tak mau berhenti menatap paras cantik nan manis anak sahabat nya itu. Bahkan saat mengemudi pun ia sesekali mencuri pandang ke arah Arini.
"aku masih punya sesuatu lagi buat kamu" ucap Sam.
Arini nampak mengernyitkan dahinya.
"apa lagi?" tanya gadis itu. Sungguh, sebenarnya ia tak terbiasa dengan perlakuan Sam. Antara tak enak dan risih. Ia takut kalau kalau Sam meminta imbalan atas apa yang sudah ia berikan pada Arini malam ini.
Sam memutar badannya. Meraih sebuah paper bag yang ia letakkan di jog belakang kendaraan roda empat miliknya. Arini nampak diam mengamati pergerakan laki laki itu.
Sam lantas menyerahkan paper bag itu pada anak kandung Diego tersebut.
" buat kamu..." ucap Sam sambil menyodorkan paper bag itu.
Arini menerimanya. Mengeluarkan sebuah box berwarna putih dari dalam sana. Arini membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka. Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan harga yang tak main main.
"om, ini..........." ucap Arini speechless.
"itu buat kamu. Kamu nggak punya hp kan?" ucap Sam.
"tapi, om. Ini mahal banget..!" ucap Arini.
"ya, kamu pantas dapet itu, baby...." ucap Sam lagi sambil menggerakkan satu lengannya. Menyandarkan nya di sandaran jog yang kini di duduki Arini.
" kamu pakai itu, ya. Nomor aku udah aku simpen di situ, kamu tinggal pakai aja" ucap Sam tanpa mengubah arah pandang nya. Tangannya kini bahkan mulai bergerak memainkan beberapa helai rambut Arini.
"enggak, om. Ini mahal banget, aku nggak mau..!" ucap Arini sambil mencoba menyerahkan ponsel yang masih berada dalam kardus itu namun Sam dengan cepat menahannya.
"kenapa? aku beliin ini buat kamu...!" ucap Sam.
"om, om tadi beliin aku baju udah banyak banget. Aku nggak mau banyak banyak hutang budi nya..." ucap Arini.
"baby, ayolah..! ini cuma hp..! kamu butuh ini..! udah, bawa aja..! aku ikhlas ngasihnya buat kamu..." ucap Sam.
"tapi, om...."
"bawa..." ucap Sam sedikit memaksa.
Arini nampak bingung. Sungguh, ia benar benar tak enak hati sekarang.
Sam tersenyum. Ponsel sudah di pangkuan Arini. Sebelah tangannya tiba tiba tergerak membelai rambut panjang wanita itu membuat Arini pun setengah kaget di buatnya.
"kamu berhak dapat ini, baby. Kamu cantik, baik, rajin lagi..." ucap Sam sambil mengeluarkan senyuman dan tatapan mautnya.
Arini nyengir geli. Ia menggerakkan tubuhnya mencoba menghindar dari sentuhan tangan pria yang usianya dua puluh tahun lebih tua dari nya itu.
"di bawa ya hape nya..." ucap Sam lagi.
Arini hanya mengangguk terpaksa. Mau tak mau ia pun membawa ponsel baru itu agar bisa secepatnya keluar dari mobil Sam. Dari pada berlama lama berdiskusi dengan pria ini. Ia ingin secepatnya turun dari mobil itu.
__ADS_1
"oke, makasih ya, om. Maaf ngerepotin.." ucap Arini.
"nggak masalah, baby. Tapi......" ucap Sam.
"tapi apa?" tanya Arini was was. Sam kembali mencoba membelai rambut Arini. Namun wanita itu kembali mengelak.
"kapan kapan kita bisa kan pergi berdua lagi?" tanya Sam.
Arini tertawa nyengir.
"insyaallah, jika Allah menghendaki...!" ucap gadis itu. Sam terkekeh.
"Arin keluar ya, om..! makasih loh ini..! assalamualaikum....!!" ucap Arini sambil buru buru keluar dari mobil itu dengan membawa sejumlah paper bag di tangannya.
"wa alaikum salam, cantik. Nanti kita sleep call ya..." ucap Sam sambil mengulum senyum nakal. Menggerakkan lidahnya mengusap ruang dalam mulutnya. Benar benar gadis cantik nan menggemaskan. Arini nyengir geli.
Sam melambaikan tangannya pada wanita yang kini sudah berdiri di luar mobilnya itu. Arini membalasnya dengan senyuman terpaksa.
Sam pun berlalu pergi.
Arini membuang nafas lega.
"akhirnya, keluar juga dari mobil si om om serem. Ih, badanku merinding, sumpah..!" ucap gadis itu sembari mengusap lengannya yang meremang.
"ya Allah, Rin. Mudah mudahan aja ini bukan awal yang buruk. Mana banyak banget lagi belanjaannya..." ucap Arini sambil mengangkat beberapa paper bag di tangannya itu.
" Kalau bukan karena udah terlanjur ada di dalam mobilnya, aku nggak akan nerima ini semua. Takutnya kalau aku nolak malah aku nggak diturunin lagi..! dibawa kabur kemana kan tambah repot..!" ucap Arini sembari melangkah kan kakinya memasuki halaman luas kediaman ayahnya itu.
"tapi mayan lah ya, ada baju yang layak. Daripada dasternya Rani kekecilan semua" ucap Arini lagi sambil terus mengayunkan kakinya.
"ini mendingan hp nya nggak usah aku pake dulu kali ya, takutnya di ungkit ungkit...! kan ntar bisa aku balikin kalau dia minta imbalan yang aneh aneh..!" ucap gadis itu seorang diri.
Arini berjalan mendekati pintu utama rumah megah itu lalu membukanya. Hingga....
.
.
.
.
prook...prook...prook....
"dari mana saja kau?!!"
...----------------...
Selamat pagi,
up 05:12
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘