My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 49


__ADS_3

Beberapa menit berselang....


Mobil mewah tunggangan Diego Calvin Hernandez sampai di kediaman nya.


Pria dengan wajah masam itu lantas keluar dari mobilnya. Membawa sebuah kresek putih berisi tiga pack pembal*t wanita pesanan sang putri palsu.


Pertemuan nya dengan ayah kandung Arini di mini market tadi berhasil mengacaukan mood Digo. Laki laki itu kembali diliputi rasa benci, dendam, dan kesal. Bahkan setelah belasan tahun berlalu Calvin masih keukeuh pada pendiriannya. Bahwa ia tak bersalah.


Digo yang kembali tersulut dendam itu kini nampak tersenyum sinis menatap kresek putih di tangannya. Baiklah kalau begitu. Jika Calvin bisa hidup tenang selama ini. Maka kini biarlah pembalasan yang seharusnya didapat Calvin itu menghampiri putri nya.


Arini masih aman di tangan Digo. Akan ia pastikan jika selamanya Arini dan Calvin tak akan pernah bertemu. Selamanya mereka tak akan pernah bersatu. Diego bersumpah atas itu.


Sungguh, jangan pernah singgung masa lalu antara Digo, Calvin, dan Steffi. Karena sudah pasti emosi dan dendam akan kembali menggelayuti pria yang 'mungkin' sudah terlanjur cinta mati dengan wanita yang sudah lama mati itu. Dan sudah pasti, itu akan berimbas pada gadis malang yg kini ia sekap di rumahnya itu.


Digo turun dari mobil. Di tutupnya pintu mobil itu dengan mode angkuhnya. Pria itu lantas berjalan menuju pintu utama. Namun saat ia baru saja menapaki satu anak tangga menuju teras yang lebih tinggi dari halaman itu, Digo menghentikan langkahnya. Ia menoleh kearah pos satpam tempat dimana pak Asep nampak asyik berbalas pesan dengan sang kekasih pujaan hati, pembantu sebelah rumah Digo.


"pak Asep...!!" ucap Digo setengah teriak memanggil sang penjaga rumah. Pak Asep yang memang cukup sigap pun menoleh kearah sang majikan. Digo menggerakkan tangannya, meminta si satpam itu untuk mendekat kearahnya.


Pak Asep pun setengah berlari mendekati pria tampan itu.


"saya, tuan.." ucap pak Asep.


Digo mengeluarkan senyuman khas nya. Ia lantas mendekatkan wajahnya pada telinga sang satpam lalu membisikkan sesuatu yang membuat pak Asep nampak mengernyitkan dahinya. Antara kaget dan heran.


Digo menjauh kan wajahnya dari pak Asep.


"paham kan?" tanya Digo.


pak Asep mengangguk ragu.


"pa, paham, tuan" ucap pak Asep.


" bagus..! ingat, jangan sampai salah ucap. Atau, bapak akan tau sendiri akibatnya..." ucap Digo kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan pak Asep yang kini nampak diam tak bergerak.


Digo berjalan masuk ke dalam rumah. Menuju kamar tamu tempat dimana sang putri yang tengah kedatangan tamu itu berada.


...****************...


Ke esokan harinya.....


Setelah menyelesaikan sarapan paginya, pria tampan berpostur tinggi itu nampak berjalan dengan cepat menuju kendaraan roda empat miliknya. Dimana Sam sang asisten sekaligus sahabatnya sudah menunggu disana, bersiap untuk bersama sama pergi ke sebuah tempat guna menemui seorang klien yang dijadwalkan akan mengadakan pertemuan dengan dua pria beda usia itu pagi ini. Tentu saja, untuk membicarakan masalah bisnis.


Digo berjalan dengan sedikit terburu buru. Ia sudah kesiangan. Biasanya ia berangkat dari rumah pukul setengah tujuh pagi. Tapi kini ia sudah terlambat lebih lima belas menit dari jam biasanya. Semalam jadwal tidurnya cukup terganggu.


Digo melangkah kan kakinya dengan cepat menuju mobil. Namun saat pintu mobil dibuka oleh Sam dan Digo sudah bersiap untuk masuk ke dalamnya. Tiba tiba.....


"daddy...!!!!"


suara itu berhasil menghentikan langkahnya Diego yang tergesa gesa.


Dilihatnya disana Arini yang juga kesiangan lantaran harus menunggu Digo berangkat kerja itu nampak berlari mendekati sang daddy.


Sam mengulum senyum tipis melihat gadis belia favoritnya itu.


"daddy...! Arin kesiangan. Boleh nebeng mobilnya nggak?" tanya Arini.

__ADS_1


Digo yang sejak semalam tengah kacau moodnya itupun nampak menatap angkuh ke arah Arini.


"kau pikir aku sudi semobil denganmu?!! jangan mimpi kau...!" ucap Digo angkuh.


"ck...! daddy, Arin udah kesiangan...! sekali doang...! boleh ya...!" ucap Arini.


"kau pikir aku tidak kesiangan?! jangan ngelunjak kamu mentang mentang akhir akhir ini daddy sudah baik sama kamu...! jalan kaki..! nggak usah manja...!" ucap Digo angkuh.


"tapi, dad....!!"


"cukup, Arini...!! jangan merengek di depan daddy atau daddy paksa kau berhenti kerja...!!" ucap Digo tegas dan sedikit keras. Membuat Arini pun tak berani menjawab lagi. Ia nampak menunduk. Seperti nya mood daddy nya sedang tidak baik.


"dengar ya, aku berbaik hati padamu akhir akhir ini bukan karena aku sudah bisa menerima kehadiran mu..! semua itu tidak lebih karena aku tidak mau kau sakit yang akhirnya hanya akan menyusahkan ku...!!" ucap Digo lagi.


Arini pun menunduk.


"maaf, daddy" ucap gadis itu.


"sekarang menyingkir...!" ucap Digo lagi.


Arini menarik nafas panjang. Cukup sakit ia mendengar ucapan ayahnya itu. Tapi sekuat tenaga ia coba untuk menepis rasa sakit itu.


Arini pun mundur satu langkah. Digo menatap angkuh penuh kebencian pada gadis itu.


"Sam, kita berangkat...!" ucap Digo kemudian. Sam mengangguk. Pria itu lantas masuk ke dalam mobilnya dan mengabaikan gadis yang kini nampak menunduk itu.


Sam mendekati Arini.


"baby..." ucap laki laki berstatus duda anak satu itu.


Arini mendongak.


Arini tersenyum


"iya, om. Udah biasa kok.." ucap Arini.


Sam tersenyum.


"jangan sedih ya. Oh ya, ini, kamu pakai buat naik taksi" ucap Sam sambil menyodorkan selembar uang kertas seratus ribuan untuk Arini. Membuat gadis itupun mundur seolah enggan menerima pemberian laki laki itu.


"nggak, nggak usah, om...!" ucap Arini.


"nggak apa apa. Udah, terima aja. Buruan cari taksi. Dari pada kamu telat kerja nanti" ucap Sam.


Arini nampak menatap uang itu


"nih, pakai. Aku nggak mau kamu capek, baby.." ucap Sam.


Arini nampak berfikir sejenak. Lalu dengan ragu ragu ia pun menerima selembar uang kertas itu dari tangan Sam.


"ma, makasih, om" ucap Arini.


Sam tersenyum.


"udah, sekarang kamu buru buru kedepan, cari taksi.." ucap Sam lembut.

__ADS_1


Arini mengangguk.


"iya, om. Sekali lagi makasih banyak ya, om. Arin berangkat dulu, Assalamualaikum..."


"wa alaikum salam..."


Gadis itupun dengan cepat berlari. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa Sam dan Arini sadari, sepasang mata sang Diego menatap tajam ke arah keduanya.


Kenapa sih Sam itu? selalu sok peduli pada Arini? padahal jelas jelas ia tahu bahwa Arini adalah anak Calvin, orang yang sangat sahabatnya benci. Bisa bisanya laki laki itu malah memanjakan Arini dengan membantu nya ketika Digo tengah mengerjainya ataupun menghukum nya.


Digo nampak memasang wajah kesal.


Sam masuk ke dalam mobil. Sedangkan Arini sudah berlari keluar gerbang, menuju ujung komplek tempat dimana jalan raya berada untuk mencari taksi.


"lain kali kayaknya lo nggak perlu deh, sok sokan perhatian ama anak gue..!" ucap Digo tak suka pada Sam yang sudah berada di kursi kemudi.


Duda tampan itu berdecih.


"anak lu darimana?!" tanya Sam.


"kalo lo ada masalah ama bapaknya, itu urusan lo. Target gue anaknya..! dan gue nggak peduli ama dendam lo" ucap Sam kemudian menyalakan mesin mobilnya. Digo nampak menatap wajah garang tanpa senyuman.


Mobil pun melaju. Meninggalkan tempat itu. Membawa Diego yang sedang tidak bersahabat itu menuju tempat kerja. Digo nampak melirik sekilas, saat mobil mewahnya menyalip Arini yang lari larian menyusuri jalanan komplek untuk menuju jalan besar mencari kendaraan.


tiinnn.....


"semangat...!" ucap Sam pada Arini saat mobilnya melewati gadis itu.


Arini tersenyum lebar meskipun ngos ngosan.


Digo menarik nafas panjang. Lagi lagi, ia mencoba tak peduli..! Meskipun dalam hatinya ia tak suka melihat interaksi antara Sam dan Arini. Sam sok asik...! mana si Arini bisa bisanya ketawa lebar di semangatin gitu doang...! benar benar berlebihan...!


Padahal Digo baru saja mengeluarkan kata kata menyakitkan untuk gadis itu, bukannya sedih lalu remuk, redam, dan hancur..! ini malah bisa bisanya senyum senyum lebar...!


Sungguh, Diego tidak suka...!!


Mobil terus bergerak maju. Digo dan Sam saling diam sepanjang perjalanan.


Dengan mood yang makin kacau, laki laki itu lantas mengeluarkan ponselnya. Memainkannya untuk menepis rasa iba nya pada sang putri. Tiba tiba.........


Ting....


satu pesan masuk...


kak Giselle...


"Go, kakak pulang. Kamu ke rumah ya...." tulis wanita itu.


Digo nampak diam.


Tumben sekali kakaknya pulang lagi ke negara ini? padahal biasanya Giselle akan pulang dan mengunjungi negara ini enam sampai delapan bulan sekali. Tapi ini baru sebulan kenapa wanita itu pulang lagi. Ia juga tak memberi kabar sebelumnya. Tiba tiba sudah di rumah saja. Padahal biasanya Giselle selalu minta di jemput jika pulang ke negara ini. Sedikit aneh, tak seperti biasanya..


...----------------...


Selamat sore,

__ADS_1


up 15:33


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2