My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 85


__ADS_3

"Mati aja kalian berdua..! terus aja berantem..! nggak usah peduliin aku...! sibuk aja kalian dengan urusan kalian sendiri..! aku capek..!!" batin Arini yang sudah terlanjur lelah dan muak dengan keadaan.


Gadis itu lantas meraih tas selempang nya. Kemudian bergegas untuk pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan Diego yang sudah tergeletak tak berdaya dan Calvin yang tengah di liputi amarah. Sungguh, ia muak..! ia lelah dengan semua ini. Ia tak peduli dengan siapapun dan apapun..!


Gadis itupun berlari, pergi meninggalkan tempat itu. Ivan si anak buah Calvin yang melihat pergerakan putri bosnya itu lantas bergerak mengikuti langkah sang gadis belia.


"Arini, tunggu...!" ucap Ivan.


Arini tak peduli, ia lantas berlari. Menoleh ke kanan dan ke kiri hendak menyeberang jalan.


Merasa tak ada kendaraan yang lewat, gadis itu lantas mengayunkan kakinya menapaki jalanan beraspal yang tak terlalu padat itu. Namun tiba tiba...


.


.


.


.


tiiiiiiiinnnnn.....


daaaaaaaggggggghhhhh....!!


"ARINIIIIII......!!!!!!" Ivan berteriak sekuat tenaganya. Sebuah mobil sedan tiba tiba melintas ugal ugalan. Ivan berlari mendekati gadis belia itu. Dilihatnya di sana Arini sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah menggenang di aspal.


Ivan berlari. Para anak punk yang mendengarkan teriakan Ivan juga suara benturan kerasa yang terdengar itupun ikut berlari ke arah jalan raya.

__ADS_1


"bang...! anak lu, bang...!!" teriak salah satu dari mereka yang kemudian ikut berlari mendekati Ivan yang memangku kepala gadis belia itu di tengah jalan.


Calvin yang masih dengan batunya pun terlihat kaget. Dilemparnya batu itu asal. Lalu ikut berlari ke arah jalan raya. Meninggalkan Diego yang seolah sudah tak mampu untuk menggerakkan tubuhnya lagi meskipun matanya masih setengah terbuka.


Calvin berlari mendekati anak buahnya.


deeeeegggghhhh.....


Laki laki itu terdiam. Mematung dengan dada bergetar kala melihat gadis manis itu kini lemah memejamkan matanya dengan kepala di pangku Ivan.


"dek, Arini, bangun..!!" ucap Ivan terlihat panik. Padahal laki laki bertubuh kurus itu adalah orang lain untuk Arini, tapi sepertinya diantara teman teman Calvin, laki laki itulah yang memiliki rasa empati lebih tinggi. Ia terlihat panik sekaligus sedih.


Calvin berjongkok tanpa berucap sepatah katapun. Membuat Ivan menoleh.


"lu liat nih?! liat sekarang anak lu...!!! dia darah daging lu, bang...!!! gue udah bilang dari awal, cari dia...!! dia anak lu..!! dia tanggung jawab lo...!! tapi lu masih aja nggak peduli..! seperti apapun perasaaan lu ke ibunya, dia tetep darah daging lo, tanggung jawab lo, orang yang wajib lu bahagiain...!!!" ucap Ivan meluapkan emosinya pada Calvin.


Ingat kan, Ivan juga yang sejak awal menyarankan pada Calvin untuk mencari Arini setelah pria itu tahu bahwa gadis belia tersebut berada di kota ini? Sungguh, empati Ivan pada Arini jauh lebih tinggi di bandingkan laki laki yang katanya ayah kandungnya Arini itu.


Calvin nampak mengembun.


"kita bawa ke rumah sakit sekarang..! lu bawa motor gue, Van..!" ucap Calvin bergetar. Dengan cepat Calvin meraih tubuh lemah itu, lalu membopongnya dan berlari menuju mobil. Ivan yang tubuhnya ikut berlumuran darah pun hanya mengikuti mereka dari belakang.


"sayang, bertahan, nak..! anak papa kuat...!! maafkan papa..!!" ucap pria mabuk itu nampak kalut sembari berlari menuju mobil nya.


Seorang anak punk berlari membukakan pintu. Calvin membawa tubuh sang putri masuk ke dalam mobil tersebut di ikuti anak punk dibelakangnya yang juga masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ivan kini menuju motor Calvin. Menunggangi nya dan mulai melajukan nya mengikuti kendaraan roda empat yang kini mulai bergerak pergi meninggalkan tempat itu dengan Calvin sebagai pengemudinya. Mereka pergi meninggalkan Diego yang terlihat berusaha bangkit kala melihat bayangan seorang gadis berdarah darah di bopong oleh Calvin.


"Arini.." ucap Digo di tengah rasa sakitnya.

__ADS_1


Diego menggerakkan tangannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Diraihnya sebuah ponsel dari dalam saku celananya lalu mencoba mencari nama Sam dan menghubunginya


...****************...


Sementara di tempat terpisah,


Tak sampai lima menit lantaran jarak yang tak terlalu jauh dan mobil yang dilajukan cukup ugal ugalan, kendaraan roda empat itu pun sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota itu.


Calvin memarkirkan mobilnya asal. Pria mabuk itu lantas turun dari kursi kemudi nya. Membuka pintu di bagian belakang kendaraan roda empat itu lalu meraih tubuh sang putri yang bersimbah darah.


Pria mabuk itu membopong sang putri semata wayang. Ia berteriak teriak di lobby rumah sakit memanggil petugas kesehatan yang berjaga disana. Tak jarang laki laki itu juga mengumpat dan memaki maki beberapa petugas yang berada di sana. Seolah begitu lambat untuk memberikan pertolongan pada gadis malang dalam gendongannya itu.


Calvin terus berteriak teriak. Membuat suasana tenang yang semula terasa di rumah sakit itu kini menjadi gaduh dan riuh setelah kedatangan Calvin dan para anak punk itu.


Tak lama, seorang dokter pria datang. Arini pun segera di rebahkan di atas ranjang dorong yang berada di sana kemudian dibawa ke ruang IGD. Calvin tak henti berbicara. Seolah berbicara pada sang putri. Meminta gadis yang sepertinya kehilangan banyak darah itu untuk tetap bertahan samb berkali kali mengucap kata maaf.


Arini sampai di ruang IGD. Calvin yang tidak di ijinkan masuk ke dalam ruangan itupun lantas luruh di depan pintu IGD. Pria yang kini nampak berlumuran darah itu kini terduduk di lantai rumah sakit yang dingin sembari menunduk. Sebuah penyesalan dan rasa bersalah menampar hatinya.


Tolonglah, ia pernah mengalami hal seperti ini belasan tahun yang lalu. Mengantar seorang wanita yang bersimbah darah masuk ke ruang IGD. Namun sayang, pada saat itu nyawa si wanita tak tertolong.


...----------------...


Selamat pagi


up 04:42


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2