
Malam menjelang....
Di halaman belakang kediaman Calvin Alexander. Pria paruh baya berambut gondrong itu nampak sibuk mencari keringat di sana.
Ditemani sang putri yang nampak asyik melahap snack di dalam toples di pangkuannya, Calvin terlihat begitu bersemangat, memukuli samsak besar yang tergantung di sana.
Keringat sudah bercucuran. Pria dewasa yang hanya mengenakan celana training panjang sebagai pembungkus kaki kekarnya itu kini lantas menyudahi aksi berlatih tinjunya.
Pria yang sudah cukup lama menduda itu lantas berjalan mendekati sang putri yang duduk bersila di teras belakang rumah itu.
Calvin mendekat. Hendak mencium pucuk kepala sang putri namun Arini mengelak.
"sombong banget sekarang..!" ucap Calvin.
"bapak bau keringet...!!" ucap Arini sembari memeluk toples makanannya.
"haaaallaaaahhh....!" ucap Calvin sembari mengangkat satu lengannya, mendekatkan ketiak berbulunya pada wajah sang putri. Sesuatu yang sukses membuat Arini menjerit karena nya.
Sepasang ayah dan anak itu lantas tergelak. Calvin mendudukkan tubuhnya di samping Arini. Meraih sebuah handuk kecil kemudian mengusap lelehan keringat yang bercucuran di tubuhnya. Laki-laki itu kemudian meraih sebuah botol minum berwarna pink berukuran cukup besar disana, membukanya kemudian menenggak nya.
Ditutup nya lagi botol pink yang merupakan botol pemberian sang putri itu, lalu meletakkan nya di samping tubuh kekarnya.
Calvin menoleh ke arah sang putri yang nampak sibuk mengunyah itu.
"suami kamu mana?" tanya Calvin.
"dikamar..! lagi kerja..! mumpung nggak teler.." ucap Arini.
Calvin tersenyum.
"belum mau makan dia?" tanya Calvin lagi.
"dia jijik lihat nasi katanya, pak. Tadi dia pesen donat, belum ada setengah jam udah ludes satu kotak. Ini tadi juga pesen kue kayaknya, online, tapi belum dateng..." ucap Arini.
Calvin terkekeh.
"ada ada aja..." ucap Calvin.
"daddy tadi juga beli parfum kayak punya bapak loh..." ucap Arini.
"oh ya? trus? udah di pakai?" tanya Calvin.
"belum..!" jawab wanita itu.
"males katanya. Mau dipake besok aja kalau abis muntah muntah. Soalnya kemarin abis nyium parfum bapak mualnya jadi agak mendingan katanya." ucap Arini.
Calvin terkekeh lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Sepasang ayah dan anak itu kembali larut dalam obrolan santai mereka. Hingga tiba tiba.....
__ADS_1
ting...tong....
Bel rumah berlantai dua itu berbunyi. Calvin dan Arini sontak terdiam.
"ada tamu?" tanya Calvin.
"mungkin kurir kue nya daddy..." ucap Arini.
Calvin kemudian setengah teriak memanggil sang ART untuk membukakan pintu rumahnya.
"bik, buka pintunya, bik...!!" ucap pria itu.
Tak ada sahutan.
"bik..." ucap Calvin lagi.
"mungkin udah di depan, pak. Makanya nggak denger.." ucap Arini.
Calvin kembali meraih botol minum nya, lalu kembali menenggak nya guna menghilangkan dahaga yang duda itu rasakan.
Tiba tiba...
"baby...."
Suara itu menggema. Membuat Calvin dan Arini pun menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana, Digo nampak datang mendekati sepasang anak dan ayah itu sambil membawa sebuah paper bag berisi sekotak kue tart rasa coklat.
Digo mendudukkan tubuhnya di tengah-tengah antara Calvin dan Arini. Pria yang tengah mengalami kehamilan simpatik itu lantas membuka sebuah box berisi kue tart berbentuk lingkaran dengan diameter dua puluh sentimeter itu.
"siapa yang ulang tahun?" tanya Calvin meledek.
"gua..! puas lu?!" ucap Digo ketus.
"daddy...!! nggak boleh gitu..! itu juga bapak kamu..!" ucap Arini mengingatkan.
"iye, iye, sorry...!" ucap Digo.
"kamu mau nggak?" tanya Digo lagi pada sang istri.
"mauk...!" ucap Arini.
"tapi itu toplesnya ditutup dulu...! bau banget..!" ucap Digo pada sang istri. Laki laki itu mulai merasakan mual lagi hanya karena mencium bau snack di toples Arini.
Wanita hamil itupun dengan segera menutup toplesnya. Digo mulai memotong kue tart nya menjadi beberapa potongan kemudian menyerahkan sepotong untuk sang istri.
"bapak mau?" tanya Arini.
"nggak...! bapak nggak suka kue..!" ucap pria gondrong itu.
Digo meraih sepotong kue disana. Lalu melahapnya. Dalam dua kali gigit, kue coklat sepotong itupun ludes. Laki laki itu kemudian meraih lagi sepotong lalu melahapnya lagi. Begitu seterusnya hingga habis beberapa potong. Pria itu nampak begitu lahap seolah menemukan makanan terenak di dunia.
__ADS_1
Saking enaknya, Digo sampai tak sadar, bahwa kini perlahan lahan kepala itu telah tersandar di bahu penuh keringat milik pria gondrong di sampingnya. Digo bahkan sesekali nampak menggerakkan satu tangannya, memainkan rambut panjang bergelombang milik sang mertua.
Sedangkan Calvin, pria yang sepertinya mulai dicintai badannya oleh sang menantu itu hanya diam sambil mengulum senyum. Biarkan saja, sesuka hati Digo.
Menantu tengilnya itu nampak seperti bocah laki laki yang begitu manja bersandar di bahu sang ayah sambil memakan kue coklat di tangan kanannya.
Arini hanya mengulum senyum. Pemandangan itu justru terlihat lucu dimata Arini.
Sepotong demi sepotong kue terus dimangsa sang Diego. Hingga kini hanya bersisa tiga potong saja kue coklat itu.
Digo sudah kenyang. Perutnya sudah penuh.
"udah, kenyang...?" tanya Arini.
"lumayan..." jawab Diego yang nampak mengusap usap mulutnya menggunakan tisu yang dibawanya. Pria itu kemudian menggerakkan kepalanya yang masih tersandar di bahu Calvin. Ia mulai mengendus endus aroma tubuh yang terasa segar di hidung Digo yang mungkin sedang dalam kondisi 'error'' itu.
Laki laki itu kemudian terdiam. Tiba tiba kesadarannya seolah mulai bekerja. Digo mendongak, menatap wajah pria berjambang lebat yang menjadi tempatnya bersandar dengan nyaman itu.
deeeeegggghhhh...
Calvin nampak mengulum senyum lucu.
Kemudian dalam satu gerakan....
seeeeetttt....
Digo reflek menjauhkan tubuhnya dari Calvin sembari mendorong ringan laki-laki ayah kandung Arini itu.
"lu ngapain?!" tanya Digo kesal.
"apanya yang ngapain?" tanya Calvin.
"lu nempel nempel gue..!" ucap Digo.
"kamu yang nyosor bapak, nak..! kenapa? nyaman ya ama bapak..? sini, nyender lagi..." ucap Calvin meledek sembari menggerak kan tangannya seolah mengajak sang menantu untuk kembali bersandar di bahunya.
"ogah...!!" ucap Digo ngegas.
Arini tergelak melihat tingkah sang suami. Begitu juga Calvin yang sepertinya mulai tertarik meledek menantu tampannya itu.
Entahlah, kehamilan Arini seolah seperti menjadi ajang untuk merobohkan keangkuhan seorang Diego terhadap Calvin selama ini.
...----------------...
Selamat siang...
up 12:32
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1