
...----------------...
Di sebuah ruang ICU rumah sakit besar itu,
pria dewasa dengan rambut gondrong yang terikat tersebut nampak keluar dari kamar mandi ruangan itu. Dengan sebuah baskom kecil di tangan, didekatinya gadis belia yang sudah satu minggu terlelap tanpa pergerakan itu. Ia meraih sebuah handuk kecil di atas nakas, membasahi nya dengan air dalam baskom lalu mengusapkan nya pada tubuh sang gadis kecil kesayangan.
"mandi dulu, anak papa. Biar seger.." ucapnya pelan sembari mengusap usap tubuh Arini dengan hati hati.
Diusapnya perlahan wajah cantik itu. Seutas senyuman tipis terbentuk dari bibir Calvin.
"nggak bosen tidur terus? nggak mau bangun? nggak kangen sama papa?" tanya Calvin dengan mata berair. Sungguh, melihat sang putri yang terbaring tak sadarkan diri seminggu lamanya benar benar membuat hati Calvin ngilu. Ia seolah tak bisa tidur dan makan dengan tenang dengan kondisi sang putri yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan yang berarti.
Calvin masih sibuk mengusap usap tubuh sang putri. Setelah dari wajah, tangan itu lantas bergerak menuju leher, lengan hingga kaki Arini yang kini nampak diperban. Calvin mengusapnya dengan sangat hati hati, mengingat masih ada banyak luka yang belum kering di sekujur tubuh Arini.
ceklek....
pintu ruangan terbuka. Seorang pria teman kerja sekaligus sahabat Calvin, yaitu Ivan, datang mendekat.
"bang..." ucap nya.
Calvin tak menjawab. Laki laki itu menatap nanar ke arah sang putri.
"gue udah beliin makan siang buat lu. Makan dulu gih" ucap Ivan.
Calvin diam tak menjawab.
"kapan anak gue bangun, Van?" tanya Calvin pada pria yang jelas jelas tak mungkin bisa menjawab pertanyaan nya itu.
Ivan menghela nafas panjang.
"semoga secepatnya, bang. Lu jangan pernah berhenti jagain dia." ucap Ivan.
Calvin selesai dengan aktifitasnya. Diletakkannya handuk basah itu kembali ke dalam baskom berisi air tersebut.
__ADS_1
Ivan mendekat,
"biar gue buang, bang. Lu makan aja dulu sana. Gue taruh di luar tadi makanan nya. Biar gue yang gantiin jaga anak lu" ucap Ivan sembari meraih baskom di atas nakas dan membawanya menuju kamar mandi untuk dibuang airnya.
Calvin menghela nafas panjang. Diusapnya pucuk kepala berbalut perban milik sang putri dengan lembut. Laki laki itu lantas sedikit membungkuk, lalu mengecup kening gadis belia itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Calvin memejamkan matanya. Membiarkan bibir merah yang dikelilingi jambang dan kumis lebat itu menempel cukup lama di kulit kening Arini. Pria itu seolah ingin mentransfer sebuah rasa kasih sayang darinya untuk sang gadis kecil yang malang.
Setitik air mata bahkan menetes di pipi Calvin, jatuh membasahi kelopak mata gadis itu. Hingga tiba-tiba....
deeeeegggghhhh....
Calvin terdiam. Sebuah pergerakan samar samar ia rasakan. Kelopak mata Arini bergerak gerak, bergesekan dengan dagu berbalut jambang lebat itu.
Calvin buru buru menjauhkan wajahnya dari sang putri. Diamatinya paras ayu itu dengan sorot mata penuh harap. Netra bulat nan indah yang sudah satu minggu terpejam itu perlahan mulai terbuka. Calvin nampak membuka matanya dengan raut wajah yang perlahan menunjuk kan mimik muka bahagia.
Diraihnya punggung tangan itu, sebuah gerakan lembut juga terlihat dari jari jari Arini.
Arini menatap sang ayah dengan sorot mata sayu nan lemah. Gadis itu tak berbicara. Fisiknya masih sangat lemah. Sesekali gadis itu nampak memejamkan matanya kala merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
Ivan keluar dari dalam kamar mandi. Didekatinya ranjang itu.
"Rin, lu udah sadar?" tanya Ivan.
Arini tak menjawab. Gadis itu meringis, merasakan sesuatu yang cukup sulit untuk ia jabarkan. Hal itupun tak luput dari pandangan Calvin yang sejak awal siap siaga menjaga Arini.
"kamu kenapa, sayang? yang mana yang sakit?" tanya Calvin nampak panik. Arini tak menjawab. Ia meringis. Menangis tanpa suara hingga menitikkan setitik air mata dari pelupuk matanya. Gadis itu merasakan pusing yang luar biasa, namun ia seolah terlalu lemah untuk sekedar mengungkapkan apa yang dirasanya.
Calvin panik...!
"Van, panggil dokter, Van..!" ucap Calvin.
"i, iya bang..!" ucap Ivan yang kemudian keluar dari kamar itu untuk mencari keberadaan dokter. Pria bertato itu berteriak-teriak memanggil dokter rumah sakit tersebut sambil berteriak teriak mengatakan bahwa Arini sudah sadar.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar Calvin nampak panik. Arini merintih pilu membuat Calvin makin teriris.
"sabar, sayang. Dokter masih dalam perjalanan kemari, nak" ucap Calvin sambil mengusap usap pucuk kepala anak itu.
"sa...kiit..." ucap Arini lirih sambil menangis.
"iya, sabar ya.. papa disini, sayang. Kamu tenang" ucap Calvin lembut dengan suara bergetar.
Arini menoleh dengan mata banjir. Ditatapnya pria yang masih sangat ia kenali sebagai ayah kandungnya itu. Laki laki yang pertama kali ia lihat saat membuka matanya pasca tidur panjang dalam masa kritis nya.
Arini makin menangis..
"ba..paaak...." rengeknya lirih.
"iya, ini bapak. Bapak disini sama kamu.." ucap pria itu lagi. Didekatkannya wajah berjambang itu pada wajah sang putri. Dibisikkan nya kalimat kalimat penenang untuk sang putri yang terus menangis merasakan sakit pasca terbangun dari tidur panjangnya.
Tak lama,
Ivan datang bersama seorang dokter dan seorang perawat. Dokter itupun lantas mulai memeriksa kondisi Arini yang tiba tiba merasakan sakit setelah bangun dari tidur panjangnya. Calvin tak berpindah dari posisinya. Ia mendekap sang putri sambil terus membisikkan kata-kata penenang nya. Sementara sang dokter masih sibuk memeriksa Arini yang merasakan pusing di kepalanya.
Tanpa mereka sadari, sesosok pria nampak berdiri di balik pintu ruang ICU yang tertutup. Matanya menatap khawatir ke arah sekumpulan orang orang di dalam ruangan di itu dari kaca bening berbentuk persegi pada pintu tersebut.
Ya, itu Diego. Ingin sekali rasanya ia berlari ke dalam sana, menggantikan posisi Calvin lalu memeluk gadis yang tengah kesakitan itu seerat eratnya.
Diego nampak mengembun. Hampir saja meneteskan air matanya kala netra tajamnya berhasil menangkap sosok gadis menyedihkan itu tengah menangis dipeluk ayah kandungnya.
"daddy disini, baby..." ucap pria itu lirih.
...----------------...
Up 14:56
yuk, dukungan dulu 🥰
__ADS_1