
❤️❤️❤️
04:00
Di sebuah rumah sakit yang cukup besar di kota itu.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu utama bangunan tinggi tersebut.
Pria berjambang cukup lebat keluar dari kursi kemudinya bersama seorang pria babak belur di sana.
Ya, itu adalah Sam dan Diego..!
Duda satu anak itu datang menemui sahabat sekaligus atasannya itu disebuah masjid di kota besar itu setelah mendapatkan panggilan telefon dari sang Diego yang terluka parah. Pengakuan Diego akan bawa Ia baru saja menjadi korban pemukulan oleh Calvin pun berhasil membuat sam terjingkat kaget. Terlebih lagi Digo menelepon sama dengan suara yang tersengal-sengal.
Alhasil, Sam yang saat itu masih asyik terlelap sambil memeluk Carissa disampingnya pun langsung buru buru bangkit dan menuju masjid tempat dimana Digo terkapar. Ia lalu membawa pria malang itu menuju rumah sakit terdekat sesuai kemauan sang Diego.
Namun alih-alih mencari dokter untuk segera mendapatkan pertolongan pertama karena luka lukanya yang cukup parah, Diego justru meminta untuk dibawa ke ruang IGD guna menemui Arini yang ia ketahui dengan kondisi yang tidak baik-baik saja itu.
Sam tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun hanya bisa pasrah memapah laki-laki 35 tahun itu untuk menuju ruang IGD tempat di mana Arini kini tengah mendapatkan perawatan. Dengan langkah yang terseok seok, Sam pun akhirnya sampai di depan ruangan itu.
Calvin dan para anak punk itu nampak menatap tajam ke arah Sam dan Diego.
Dilihatnya di sana, pria babak telur itu nampak menepis lengan Sam yang sejak tadi memegangi tubuh nya. Dengan segala keangkuhan dan kengeyelannya, sifat yang selalu di miliki oleh seorang Diego Calvin Hernandez, pria itu berusaha untuk berdiri sendiri tanpa bantuan sahabatnya tersebut.
"Go, lo mau kemana?!" tanya Sam namun tidak digubris oleh Diego yang kini nampak berjalan terpincang pincang mendekati Calvin.
Buuuuuuuuuuggggghhhhh.....!!
Diko mendorong tubuh laki-laki berambut gondrong itu.
"lu apain Arini...?!!" teriak pria itu murka.
__ADS_1
Calvin tak menjawab. Para anak punk siap siaga seolah mulai memasang ancang-ancang bersiap untuk menyerang Diego jika laki laki itu berani macam-macam dengan bos nya.
Calvin tak menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah pria dewasa yang ia anggap tak lebih dari seorang anak kecil yang sok tahu itu.
"jawab gue, bangs*t..!! Arini kenapa??!!" tanya Diego lagi kini dengan suara membentak. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Termasuk nyeri di bagian dadanya yang nampak memar akibat hantaman kaki dan tangan Calvin.
"gue nggak ngapa ngapain dia..!" ucap Calvin datar.
"kalau dia kenapa-napa dia nggak mungkin masuk IGD..!! anj*nk lu ya...!! bapak macam apa lo...?!" ucap Diego murka kemudian memegangi dadanya kala tiba tiba ia merasakan sesak di sana.
"dia anak gue..! gue nggak mungkin nyakitin dia..!" ucap Calvin.
"anak?! ta* lu..!!" umpat Diego dibarengi sebuah ludahan ke arah Calvin di ujung kalimat nya.
Para pria bertato kawan-kawan Calvin sudah bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk menyerang Diego. Namun Calvin dengan segera menggerakkan tangannya seolah menahan pergerakan teman-temannya itu.
Tangan kekar itu tergerak, mengusap lelehan cairan bening dari mulut Diego yang bersarang di wajahnya. Pria berambut gondrong itu kini nampak bringas. Ditatapnya tajam laki-laki babak belur tersebut. Dada Diego bergerak naik turun. Sorot matanya tak kalah mengerikan dari sorot mata Calvin Alexander.
hingga tiba-tiba...
ceklek.....
Pintu terbuka. Seorang pria berperut buncit dengan seragam dokter serba putih nampak keluar dari ruangan IGD tersebut. Semua mata kini tertuju kepada pria tersebut. Calvin dan Diego yang sudah hampir terlibat baku hantam itu kemudian menghentikan pergerakan mereka. Kedua pria itu pun mendekat ke arah sang dokter.
"dokter, gimana keadaan anak saya?" tanya Calvin memburu.
Dokter yang mendengar pertanyaan dari laki laki itu seketika reflek memalingkan wajahnya kala mencium bau menyengat alkohol dari mulut pria tersebut. Sedangkan Diego yang dari awal sudah diliputi rasa khawatir kini nampak menatap penuh harap ke arah pria berperut buncit tersebut.
"begini, tuan. Kondisi putri tuan tidak terlalu baik. Dia kehilangan banyak darah, dan..........."
"dan apa?!" tanya Diego memotong ucapan sang dokter.
__ADS_1
Semua menoleh ke arah laki laki itu. Sam pun mendekati pria tersebut dan mencoba menenangkan nya.
"dan apa?!!! jangan diem aja...!! kalau dia kekurangan darah, ambil darah gue..!! dia butuh jantung, ambil jantung gue...!! dia butuh apa, ambil dari gue...!!! lu jangan ngomong aneh aneh...!! ambil apa yang dia perlukan dari diri gue tapi tolong selametin Arini..!!!" ucap Diego keras, frustasi sembari berteriak teriak bak orang kesetanan.
Sungguh, ia benar-benar takut kehilangan wanita manis itu.
Sam mencoba menenangkan pria bonyok itu. Diraihnya pundak sang sahabat dan mencoba menenangkan nya. Begitu pula dengan sang dokter yang mencoba menenangkan pria itu.
"tuan, anda tenang dulu..!" ucap sang dokter.
"Go, elu tenang..!!" ucap Sam.
Calvin diam tak bergerak menatap pria itu.
Diego memegangi dadanya. Disentuhnya salah satu bagian tubuh nya yang memar itu kala merasakan sakit di sana.
Laki laki itu nampak melemah. Ia meringis. Sam nampak khawatir. Dan....
buuuuuuuuuuggggghhhhh......
"Go.....!!!!" pekik Sam.
Diego tumbang. Ia pingsan. Jatuh ke lantai yang dingin. Semua panik. Dokter lantas berteriak memanggil beberapa perawat lalu membawa Diego untuk masuk ke dalam ruang IGD itu.
...----------------...
Selamat siang,
up 12:33
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰
__ADS_1