
Siang menjelang,
Di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu...
Seorang gadis cantik yang baru masuk kerja setelah dua hari absen itu baru saja selesai mengantar orderan delivery pesanan pelanggan.
Seperti biasa, wanita berkulit putih itu lantas masuk ke dalam restoran tempat nya bekerja. Menyerahkan uang delivery lalu menuju ke dapur untuk mengambil pesanan selanjutnya.
"Rin, abis ini ada empat paket makan siang, antar ke alamat ini..." ucap seorang pelayan senior disana sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat pelanggan. Arini pun menerimanya. Lalu membaca alamat itu.
"Devil Art" ucap wanita itu.
"wiiss ... tempat apaan nih, mbak?" tanya Arini.
"kayaknya kek studio tato gitu deh. Buat bikin tato..! lo kalau mau sekalian bikin tato bisa tuh.." ucap si pelayan senior.
Arini terkekeh.
"apasih, mbak. Mending buat jajan duitnya daripada buat bikin tato kayak gitu. Badan kok di gambar gambar...!" ucap Arini.
Si pelayan senior pun hanya terkekeh.
"ya udah, lo istirahat aja dulu. Sambil nungguin pesanan siap. Kasihan amat tuh muka udah kek gorengan baru diangkat dari wajan..!" ucap si pelayan senior membuat Arini terkekeh.
Gadis manis itupun lantas mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang disana. Meraih ponsel di sakunya dan memainkan nya sejenak.
Dibukanya aplikasi WhatsApp disana. Ia lantas menuju bar story. Melihat barisan story WhatsApp dari empat orang pria yang memiliki nomor WhatsApp nya. Pak Asep, Fajar, dan Diego.
Diego tak memperbaharui status WhatsApp nya. Sedangkan pak Asep nampak memposting sebuah foto dirinya bersama seorang wanita berdaster yang tengah menenteng kresek hitam berisi sayur belanjaan. Wanita itu adalah pembantu di sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah sang Diego. Mereka sudah menjalin asmara semenjak seminggu yang lalu. Lagi anget angetnya. Pak Asep nampak merangkul pundak si wanita dengan sebelah tangannya. Sedangkan satu tangannya nampak mengacungkan ibu jarinya. Sedangkan wanita ber daster pink tanpa lengan itu nampak malu malu, menutupi sebagian wajah di area mulut dan hidungnya dengan menggunakan satu telapak tangannya
__ADS_1
Arini cekikikan membaca caption dari foto yang baginya alay itu.
"Kalau aku udah sayang sama kamu, hujan badai pun aku tetap apelin kamu."
Arini terkekeh. Ada ada aja tingkah bapack bapack kalau lagi jatuh cinta. Pikir Arini.
Arini kembali menggerakkan tangannya mengusap usap layar benda canggih itu. Dibawah story WhatsApp pak Asep, ada story WhatsApp dari si om seram, Sam. Dilihatnya disana, Sam nampak memposting sebuah foto dirinya dengan caption berbahasa Inggris.
"nih orang ngomong apa sih? nggak ngerti..!" ucap Arini lalu kembali mengusap layar ponselnya. Kini menuju story WhatsApp Fajar yang hanya mengunggah sebuah kata kata bijak.
Arini tersenyum. Ia lantas mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Tak ada yang menarik. Lantaran ia memang hanya punya kontak WhatsApp dari empat orang itu saja. Yang lain tak punya.
Arini menyandarkan tubuhnya di sofa. Hingga ..
"Rin .." suara itu menggema. Si pelayan senior mendekat.
"iya, mbak.." jawab gadis belia itu.
"udah siap tuh. Anterin sekarang gih." ucap pelayan perempuan berusia kurang lebih berusia dua puluh lima tahun tersebut.
"oh, iya, mbak" jawab Arini.
Gadis manis berkulit putih itupun dengan segera menuju dapur. Mengambil empat paket makan siang yang akan ia bawa menuju alamat yang sudah ia kantongi.
"atas nama Ivan ya, Rin" ucap si pelayan senior setengah teriak sambil mengiris bahan bahan makanan di dapur luas itu.
"iya, mbak" sahut Arini sambil bergerak keluar.
__ADS_1
Gadis itupun dengan sigap memasukkan empat paket nasi itu ke dalam box delivery. Arini merasa beruntung. Walaupun kerja di restoran yang identik dengan masak memasak, ia justru di tempatkan di bagian antar makanan. Sesuai dengan kemampuan nya. Coba kalau sampai ia ditempatkan di dapur. Bisa gulung tikar tuh resto..! ingat kan, memasak telur saja Arini tak bisa..!🙈
Motor pun melaju. Mengandalkan peta online dari ponsel yang melekat di atas spidometer. Arini pun menjelajahi jalan raya nan padat itu sembari berdendang dengan riangnya. Enaknya cari duit. Walaupun panas panasan, setidaknya ia bisa tiap hari keliling kota antar makanan. Tak melulu di dalam bangunan dan berkutat dengan pekerjaan yang sama tiap harinya.
Motor pun terus melaju sedang. Hingga sampailah ia pada alamat yang di tuju.
Arini menghentikan laju kendaraan roda duanya didepan sebuah bangunan dua lantai bercat putih kombinasi abu abu dengan tulisan "Devil Art" dengan logo tengkorak kepala di atas nya.
Arini mengamati area sekitar bangunan itu. Banyak beberapa pria wanita bertato yang nampak nongkrong di sekitaran tempat itu.
Arini jadi sedikit risih dibuatnya. Namun ia mencoba tak ambil pusing. Diayunkannya kaki putih mulus itu mendekati pintu kaca dengan tulisan 'open' tergantung disana itu lalu membukanya.
"permisi....delivery..." ucap wanita itu.
Seorang pria paruh baya yang nampak berada di ruangan itupun menoleh. Pria dengan sebuah buku ditangannya itupun menatap ke arah gadis belia itu. Membuat pandangan mata keduanya pun bertemu.
Arini terdiam. Pria itu menatap datar tanpa ekspresi ke arah gadis belia yang nampak datang dengan empat paper bag di tangan itu
"
...----------------...
Selamat sore,
up 15:04
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1
yang suka novelnya boleh lah kasih penilaian bintang 5 nya🥺
ramaikan kolom komentar nya juga🥰