My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 186


__ADS_3

Sore menjelang di sebuah rumah berlantai dua kediaman Calvin Alexander.


Didalam kamar pribadi milik Diego Calvin Hernandez dan Arini Nindya Putri...


"baby....." ucap Digo yang kini sudah lebih baik setelah meminum vitamin dari dokter yang baru saja datang ke rumah itu.


Arini tak menjawab. Ia nampak memasang wajah kesal. Duduk di sebuah kursi meja rias di kamar itu, menatap nanar ke arah sebuah benda pipih dengan dua garis biru berjajar disana.


Pria itu nampak duduk di tepi ranjang. Mulutnya nampak begitu asyik memangsa sebuah lollipop berbentuk hati yang ia beli di jalan saat tengah perjalanan pulang dari rumah sakit tadi.


Ya, sepasang suami istri itu baru saja pulang dari rumah sakit setelah memeriksakan kesehatan sang Diego.


Awalnya Diego menolak untuk datang ke rumah sakit. Ia meminta dokter Irwan, dokter pribadi keluarga Hernandez untuk datang ke rumah nya saja agar ia tak perlu repot repot pergi ke rumah sakit. Namun rupanya sang dokter tengah berada di luar kota. Membuatnya pun tak bisa menemui Diego di kediamannya. Alhasil, sepasang suami istri itu pun harus pergi ke rumah sakit berdua, meskipun Arini harus sedikit memaksa dan merengek pada sang suami agar Digo mau dibawa ke dokter untuk berobat.


Di rumah sakit, dari hasil pemeriksaan, sang dokter rumah sakit disana mengatakan bahwa tidak ada masalah kesehatan apapun dalam diri Diego. Semua normal, termasuk kesehatan lambungnya yang juga dicek secara keseluruhan.


Hal itupun tentu membuat Digo dan Arini penasaran. Hingga sang dokter mulai bertanya rinci mulai dari makanan yang Digo konsumsi, hingga aktifitas aktifitas yang laki laki itu jalani beberapa hari terakhir. Hingga keluar lah dari mulut Digo tentang kegiatan bulan madunya selama hampir satu bulan di kampung halaman sang istri yang baru berakhir kurang lebih seminggu yang lalu.


Dari situ si dokter menyarankan untuk memeriksa kan Arini ke dokter kandungan yang kebetulan juga tengah buka praktek di rumah sakit itu. Lantaran dokter tersebut justru merasa curiga jika bukan sang suami yang sakit melainkan istrinya lah yang tengah hamil. Dan mungkin, gejala yang Digo alami adalah kehamilan simpatik alias couvade syndrome. Sebuah gejala yang sering terjadi pada seorang pria ketika istrinya tengah hamil


Awalnya Arini menolak. Ia yakin ia tidak hamil. Lantaran ia tak merasakan tanda tanda apapun yang biasa dirasakan ibu ibu hamil pada umumnya. Namun dengan desakan dari sang suami, akhirnya wanita itu pun bersedia untuk diperiksakan ke dokter.


Dan...


Positif...!


Arini hamil dengan usia kandungan memasuki minggu ke tiga. Sebuah kabar yang begitu membahagiakan bagi Digo namun terasa mencengangkan bagi seorang Arini Nindya Putri.


Tolonglah, bukankah ini tidak sesuai dengan perjanjian yang ia buat bersama sang suami...?


Kan perjanjiannya Arini akan hamil diusianya yang ke dua puluh satu tahun. Kenapa sekarang ia malah hamil?


Dulu, saat awal awal menikah, ia sempat ingin program KB. Namun Digo melarangnya. Laki laki itu mengatakan jika KB hanya akan membuat tubuh ramping Arini mengembang. Laki laki itu juga mengatakan bahwa ia bisa membuat Arini tetap aman. Tak akan membuat wanita itu hamil sampai usianya dua puluh satu tahun.


Arini menurut saja kala itu. Lantaran Digo kan memang sudah ahli dalam bidang itu. Membuat Arini pun percaya saja dengan ucapan pria matang itu.


Namun kini....


Semua berubah. Arini positif mengandung benih dari sang Diego. Benih yang ditabur tiap malam, akhirnya kini ada satu yang berhasil tumbuh dan menetap di rahim belia gadis muda itu.


Arini membuang nafas kasar di atas kursi meja riasnya. Ia kemudian melirik ke arah sang suami yang masih asyik dengan lollipop nya.


"baby, sini, dong. Kamu masih marah...!" tanya Digo.


Arini tak menjawab.


"Arini...." ucap Digo.


Masih tak menjawab. Ia menatap tajam ke arah sang suami.


"daddy tuh sama aja kayak bapak, tau nggak..!" ucap Arini.


"sama apanya?" tanya Digo.

__ADS_1


"sama sama nggak bisa dipercaya..!" ucap Arini kesal kemudian berbalik badan menatap cermin besar di hadapannya sambil sesekali melirik ke arah sang suami melalui pantulan kaca.


"apanya yang nggak bisa dipercaya...?!" tanya Digo lagi.


Arini berbalik badan lagi. Melempar tes kehamilan ditangan nya ke arah Digo.


"itu apa?!!!" tanya Arini kesal. Lalu berbalik lagi menatap cermin.


Digo mengulum senyum lucu. Diraihnya testpack yang tergeletak di atas lantai itu.


"ya mau gimana lagi. Daddy udah berusaha semaksimal mungkin, sayang. Daddy udah buang di luar. Tapi mungkin waktu itu daddy cepirit dikit di dalem, tapi karena performa nya kuat makanya bisa lari dengan cepat nyamperin sel telur kamu trus jadi deh dedek bayinya..." ucap Digo santai dengan tangan kiri memainkan testpack sang istri sedangkan tangan kanan memegang lolipop berbentuk hati yang entah mengapa justru tak membuatnya mual.


Arini melirik sinis ke arah sang suami.


"udah, nggak usah ngambek..! sini peluk daddy dulu...!" ucap Digo.


"nggak mauk..!" ucap Arini dengan bibir mengerucut.


Digo dengan lollipop di mulut itu nampak meringsut. Mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri yang duduk di kursi meja rias tempat di samping ranjang besar milik mereka.


Digo merengkuh pinggang sang istri menggunakan satu lengan kekarnya. Sedangkan kepalanya kini nampak bersandar manja dipundak wanita cantik yang tengah mengandung benih unggul milik Diego Calvin Hernandez itu.


"udah dong, jangan marah. Daddy udah teler kaya gini masih kamu judesin..!" ucap Digo.


"salah sendiri buntingin anak orang..!" ucap Arini ketus. Membuat Digo reflek mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sang istri. Tangannya bergerak menjitak jidat wanita itu menggunakan jari telunjuknya.


"yang gue buntingin elu..! elu bini gua..!!" ucap Digo tak habis pikir.


Laki laki itu nampak mendengus kesal, kemudian kembali menjatuhkan kepalanya di pundak Arini dan merengkuh pinggang wanita cantik itu.


"tapi Arin belum pengen tua.." rengek wanita itu.


"siapa bilang kamu tua..? Kalau kamu tua, terus daddy apa?" tanya Digo.


"manusia purba" jawab Arini sambil cemberut.


Digo terkekeh. Tangannya tergerak hendak mencubit bibir mengerucut itu saking gemasnya, namun Arini mengelak.


"udahlah, kamu nggak akan tua kalau belum waktunya..! lagian daddy kan cuma nitip benih. Kamu loh, nggak ngerasain apa apa. Malah daddy yang teler. Mau ngapa ngapain nggak enak..! lagian, perempuan kalau lagi hamil itu cantiknya nambah tauk.." ucap Digo lagi.


"preeeeeeetttttttttt..." ucap Arini.


"beneran..." jawab Digo.


"tapi walaupun sekarang daddy yang ngerasain ngidam, kan tetep aja entar pas lahiran aku yang ngerasain sakit..!" ucap Arini.


"emang kalo lahiran sakit?" tanya Digo.


"katanya yang udah udah sih gitu..!" ucap Arini.


"berarti mereka nggak tau trik nya biar lahiran nggak sakit" ucap Digo.


Arini menoleh.

__ADS_1


"emang ada trik nya?" tanya Arini.


"ada..!" ucap Digo.


"sok tau..!" jawab Arini.


"eh, beneran...! daddy tau dari kak Giselle dulu" ucap Digo membawa bawa nama sang kakak yang tak tau apa apa.


Arini nampak.berfikir sejenak.


"emang apa trik nya?" tanya Arini.


Digo mengulum senyum nakal.


"jalannya harus sering sering di kasih pelumas, biar mulus, biar gampang keluar nya.." ucap Digo memulai aksinya.


"caranya?" tanya Arini polos.


Digo mengulum senyum. Lalu mengarahkan pandangan matanya ke arah bawah. Ke arah suatu benda yang kini mulai menegang di dalam celana panjang miliknya.


"ck...! itu sih akal akalan daddy aja..! nggak mauk..! Arin lagi kesel ama daddy..!" ucap wanita itu.


"eh, dibilangin nggak percaya...! serius..! tanya aja ama dokter kalau nggak percaya..! cairan nya itu bisa bikin jalan lahir si dedek jadi mulus..!" ucap Digo.


Arini melirik malas ke arah sang suami.


"yuk, ngaspal jalan dulu, yuk.." ucap Digo lagi.


Arini terkekeh mendengarnya.


"malah ketawa..! ayok..! kalau malem ntar daddy kedinginan, nggak bisa buka baju.." ucap Digo


"Arin masih kesel ama daddy..!!" ucap Arini.


"keselnya di lanjut nanti..! yuukkk...." ucap Digo.


"tapi aku rebahan aja, aku nggak mau gerak..!" ucap Arini.


"iya, ntar daddy yang gerakin sendiri" ucap Digo.


"nggak usah nyalain tv, Arin nggak mau ngeluarin suara..!" ucap Arini.


"iya, ntar daddy yang bikin suara sendiri" ucap Digo lagi sembari membimbing sang istri untuk naik ke atas ranjang, memulai proyek pengaspalan jalan untuk calon si jabang bayi.




...----------------...


Selamat siang


up 11:45

__ADS_1


yuk, dukungan dulu. Yang belum mampir, Jangan lupa mampir..👇👇



__ADS_2