My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 170


__ADS_3

Hari terus berganti, semua berjalan seperti biasanya.


Arini dan Diego masih menikmati masa masa bulan madu sekaligus pulang kampung yang mereka jalani ditemani Calvin sebagai ayah kandung Arini.


Satu minggu sudah sepasang pengantin baru itu menghabiskan waktu di kampung asri tersebut. Kian hari, sikap para penduduk kampung itu kian hari kian mulai bersahabat dengan ketiga manusia yang datang untuk sekedar berlibur itu.


Tak seperti di awal kedatangan Arini beserta ayah dan suaminya. Setelah tragedi pertengkaran antara Arini dan bu Tri di tukang sayur beberapa hari lalu, kini para warga sudah tak berani lagi menghina dan merendahkan anak semata wayang Calvin Alexander itu. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa suami Arini bukanlah orang sembarangan.


Hal itu warga ketahui dari seringnya mereka melihat beberapa kurir makanan cepat saji yang datang ke rumah itu. Sekedar mengantar makanan pesanan dari si empunya rumah.


Seorang pria dewasa yang mengaku sebagai anak buah Diego juga sering menyambangi rumah itu. Mengantarkan sayur mayur dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya.


Sepertinya semua kebutuhan pemilik rumah sudah terpenuhi tanpa harus repot repot keluar rumah. Terbukti, sejak pertengkaran nya dengan bu Tri, Arini sudah tak pernah lagi berbelanja di tukang sayur yang sering lewat di komplek perumahan itu. Jangankan berbelanja, sekedar duduk di teras pun ia sudah jarang.


Tak jauh berbeda dengan Arini,


Bu Tri kini juga jarang terlihat batang hidung nya. Kabar terakhir yang para warga dengar, si biang gosip itu kabarnya baru saja masuk rumah sakit. Katanya sih, penyakit maag akut nya kambuh, tapi entahlah, tak ada yang tahu.


Satu minggu berlalu, pemuda yang beberapa hari lalu sempat datang ke rumah Arini itu juga sama sekali belum terlihat batang hidungnya.


Tak ada kabar dan jawaban dari Agus mengenai kesanggupan nya atas persyaratan yang Digo berikan padanya beberapa hari yang lalu.


Agus memang belum memberi jawaban atas persyaratan yang Digo berikan kala itu. Apakah menerima atau menolaknya. Agus meminta diberi waktu untuk berfikir katanya. Sekaligus waktu untuk menjelaskan pada ibunya untuk menjelaskan mengenai persyaratan yang Digo berikan.


Diego pun meng iya kan nya. Namun, menantu Calvin itu juga tak segampang itu melepaskan Agus tanpa pengawasan. Diam diam ia mengintai pergerakan pemuda itu. Rupanya, Agus diam diam mencoba peruntungan untuk melamar pekerjaan di beberapa perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan Hernandez Group. Tentu saja Agus kalah cepat. Semua sudah Diego dan Sam rancang sedemikian rupa. Agus langsung di tolak sejak pertama ia mengajukan surat lamaran kerja. Hal itu Sam dan Digo ketahui dari banyak6 relasi bisnis Hernandez Group yang melapor pada Sam. Mereka mengaku mendapat surat lamaran kerja dari pria bernama Hilman Agustaf. Namun tak ada satu pun yang menerimanya. Semua lantaran nama itu sudah masuk dalam daftar hitam perusahaan raksasa yang kini di pimpin oleh putra almarhum tuan Hernandez itu. Ancaman pemutusan hubungan kerja dengan perusahaan yang sedang di atas awan itu menjadi ancaman bagi perusahaan dibawahnya yang berani menerima seorang Agus sebagai karyawan mereka. Agus milik Diego. Dia hanya boleh bekerja di perusahaan Diego. Dan Diego ingin melihat ibu dari pemuda itu bersujud di kaki istrinya dan meminta maaf.


........


Malam menjelang...


Saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepasang suami istri itu tengah menikmati malam waktu malam mereka di dalam kamar pribadinya.


Dengan hanya mengenakan piyama lingerie berwarnamerah, Arini nampak merebahkan kepalanya di perut kotak kotak sang suami. Wajahnya menatap kearah sebuah benda menonjol terbungkus bokser abu abu yang berada tepat di hadapannya.


Arini diam tak bersuara. Tangan putihnya tergerak menggaruk garuk pelan tonjolan menggiurkan itu sembari mendengarkan percakapan antara Diego dan Sam melalui sambungan telepon.


"hari ini perusahaan tuan William dapat lamaran kerja lagi dari si Agus.. langsung di tolak..." ucap Sak dari seberang sana.


Diego hanya tertawa sumbang.


"baguslah..." ucapnya.


"lu lama lama matiin rejeki orang lu, Go..! kasihan itu anak kecil lu kerjain..!" ucap Sam pada sang atasan yang memang tak pernah main main dalam memberikan pelajaran untuk orang orang yang tak ia sukai.


Calvin aja di bikin bangkrut. Arini ditipu abis abisan. Apa lagi cuma sehelai Agus...🙈


"lu tenang aja. Gue cuma mau dia dan ibunya datang ke rumah gue. Minta maaf, sujud di kaki istri gue, mengakui semua kesalahan nya karena udah menghina istri gue dari dulu ampe segede ini. Gue nggak akan pergi dari sini sebelum apa yang gue mau terpenuhi. Gue yakin, paling nggak nyampe seminggu tuh bocah datang kemari. Lihat aja..!" ucap Diego yakin. Ia berbicara dengan santainya sembari mengusap ucap pipi sang istri menggunakan jari jari tangannya.


"serah lu lah..! emang dari dulu nggak bisa dikasih tau sih lu..! batu banget tau nggak lo..!" ucap Sam lagi dari seberang sana.


Obrolan antara dua pria dewasa itu pun terus berlanjut. Membahas mengenai pekerjaan dan masalah kantor yang kini Digo serahkan pada Sam.


Arini yang masih asyik dengan mainan menonjol di hadapannya sejak tadi hanya diam. Menunggu Diego selesai dengan pembicaraan nya bersama Sam.


Sekitar dua puluh menit berselang.


Sambungan telepon antara kedua pria itu pun berakhir. Diego menyudahi perbincangan nya. Ia kemudian meletakkan benda pipih itu di atas nakas disamping ranjang.


Diego kemudian melirik kearah sang istri yang masih asyik tiduran dengan perutnya sebagai bantal sambil memainkan pusaka berharga nya itu.


"asyik banget kayaknya punya mainan baru.." ucap pria itu membuat Arini pun berhenti menggaruk garuk benda yang makin terasa mengeras itu lalu berbalik badan menatap ke arah wajah pria itu.


"daddy..." ucap Arini.


"apa?" tanya Digo.


"apa kita nggak keterlaluan?" tanya Arini.

__ADS_1


"keterlaluan kenapa?" tanya Digo sambil membelai pipi mulus sang istri.


"dad, kasihan, lho, si Agus..! Masa dia nggak bisa kerja di mana-mana selain di perusahaan daddy. Dia pasti bingung sekarang. Belum lagi dia pasti dapat tekanan dari ibunya. Bu Tri kan orangnya keras..!" ucap Arini sembari memainkan jari telunjuknya fi pusar sang suami. Dimana bulu bulu halus tumbuh dengan indah di area bawahnya, menjalar hingga ke gundukan besar berbalut bokser abu abu itu.


Diego diam. Ia nampak mengubah mimik wajahnya menjadi tak suka.


"jadi ceritanya kamu kasihan sama mantan?" tanya laki-laki itu sewot. Membuat Arini terdiam seketika


"Astaga, nggak gitu, daddy sayang.." ucap Arini.


Diego berdecak kesal. Ia lantas menjauhkan tangannya dari pipi wanita itu kemudian memalingkan wajahnya tak mau menatap wanita cantik di atas perutnya itu.


Ngambek lagi nih, si kumbang tua..! pikir Arini.


Arini kembali menggerakkan jari jari tangannya. Berputar putar di tepi lubang pusar pria dewasa itu.


"aku itu bukannya khawatir sama mantan, tapi aku khawatir sama daddy. Aku cuma takut kalau banyak orang yang gak suka sama daddy karena sikap daddy yang suka keterlaluan kalau ngasih hukuman ke orang" ucap Arini lembut.


"aku nggak apa apa kok, dad. Yang penting kan sekarang aku udah punya daddy sama bapak. Tanpa perlu daddy melakukan itu, sekarang semua orang juga udah tau kok siapa aku, siapa bapak, dan siapa daddy. Aku nggak mau kalau suamiku jadi jahat sama orang..." ucap Arini.


Digo menoleh ke arah sang istri.


"tapi daddy belum puas, sayang. Dia udah terlalu sering mempermalukan kamu. Dia harus minta maaf. Itu bukan sesuatu yang berlebihan jika mengingat apa yang sudah dia lakukan sama kamu selama ini." ucap Digo. Ia kembali membelai pipi mulus istrinya itu dengan lembut.


"tapi, dad..." ucap Arini.


"udah...nggak usah dibahas lagi...!" ucap laki laki itu memotong ucapan sang istri.


Arini hanya diam.


"serahin semua sama daddy, kamu tinggal terima beres..!" ucap laki laki itu lagi.


Arini hanya bisa menghela nafas panjang.


Hening sejenak....


Arini tersenyum menatap wajah tampan pria itu.


"baby, semua yang daddy lakukan itu buat kamu. Mereka yang dulu berani mengusik kamu maka sekarang mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dari suami kamu ini. Sedangkan keluarga Pak Yanto, yang sudah mengurus kamu, membantu, merawat kamu, dan memantau perkembangan kamu sejak kecil. Mereka sangat berjasa dalam kehidupan kamu. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan imbalan atas itu semua."


"daddy bukannya mau jahat sama keluarga mantan kamu. Anggap aja, daddy adalah perantara Tuhan, yang akan membalaskan setiap perbuatan para penduduk kampung ini terhadap kamu dan keluarga kamu di masa lalu" ucap Diego lembut sembari mengusap usap pipi sang istri.


Arini tak menjawab. Ia hanya tersenyum mendengar ucapan laki-laki itu.


Ya, Diego memang selalu bisa mencintai Arini dengan caranya sendiri. Cara yang mungkin bisa dibilang sedikit arogan. Dibalut dengan keangkuhan dan kesombongan khas orang Diego Calvin Hernandez. Mungkin memang sudah sifat bawaan Diego seperti itu sangat sulit untuk dirubah.


Arini mungkin kini hanya bisa pasrah, meskipun ia masih merasa kurang nyaman dengan tindakan yang suaminya ambil.


Diego kembali menggerakkan tangannya. Kini mengusap usap lembut dua belah bibir wanita cantik itu.


"baby.." ucap Digo.


"apa?" tanya Arini.


"dedeknya bangun, tuh. Gara-gara kamu garuk-garuk mulu dari tadi..." ucap laki-laki itu.


Arini memutar kepalanya, menoleh ke arah benda panjang dan besar yang sejak tadi ia mainkan. Kini terlihat makin membesar dan mengeras seolah meronta-ronta meminta untuk keluar dari sangkarnya.


Arini terkekeh. Ia kemudian kembali menoleh ke arah sang suami.


"daddy, aku punya nama imut buat dia" ucap wanita itu sembari menunjuk ke arah benda yang makin menegang itu.


"nama imut? nama imut apa?" tanya Diego sembari mengulum senyum.


"aku mau kasih dia nama Tidy..." ucap Arini.


"apa itu?" tanya Digo.

__ADS_1


"tit** nya daddy..." cicit Arini.


"HAHAHAHA........"


Diego tertawa lebar. Laki-laki itu tergeletak. Tawanya menggema memecah sunyinya malam desa di kaki gunung itu. Wajah Arini merah merona. Ia menyembunyikan kepalanya di ketiak sang suami. Ia jadi malu sendiri menyadari kesalahannya berucap demikian.


Arini menggerakkan tangan putihnya mencoba membungkam mulut Diego agar laki-laki itu berhenti tertawa.


"daddy, berisik...!!!" ucap Arini.


Diego masih tertawa lebar. Ia sampai meringkuk di atas ranjang saking tak bisanya menahan tawa.


"daddy...!! diem..!!" rengek Arini lagi sembari menarik tubuh Diego agar kembali ke posisi semula.


Diego setengah mati mencoba menghentikan tawanya. Laki-laki itu nampak mengusap lelehan air mata yang menetes di pipinya saking lebarnya tawa yang pecah dari mulutnya.


"daddyyyy......!!!" rengek Arini dengan mata mengembun hampir menangis. Malu sekali rasanya di tertawai suami sendiri.


"daddy..! berhenti..!!" rengek wanita itu.


Diego kembali mencoba menghentikan tawanya. Ia mengubah posisi tubuhnya menjadi miring menghadap sang istri. Diraihnya tubuh wanita itu lalu memeluknya. Arini membenamkan kepalanya di dada bidang sang Diego. Menyembunyikan wajah merah merona dan mata mengembun nya.


Setitik dua titik air mata tumpah, membasahi dada bidang berbulu halus milik pria tampan itu.


"lho, kok nangis sih?!" tanya Diego masih setengah tertawa.


"daddy ketawa mulu, aku maluuuukk...!!" rengek wanita itu.


"hahahahaha....." Diego tergelak lagi. Bukannya kasihan ia justru merasa lucu dengan tingkah menggemaskan istri kecilnya itu.


"Digoooo...!!" rengek wanita itu lagi.


"iya, iya, sorry...sini, sini... peluk daddy lagi..." ucap Diego sambil kembali meraih tubuh wanita itu dan memeluknya erat.


Arini mengusap lelehan air matanya. Diego setengah mati menahan tawanya agar tak pecah.


Cukup lama mereka saling berpelukan. Hingga...


"dah yuk, main sama, itu, tadi siapa namanya..?" tanya Digo menggoda.


"nggak jadi...! nggak usah dibahas..! lupain..!" ucap Arini.


"nggak apa apa..! namanya lucu kok"


"malu, daddy..!" rengek Arini lagi. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Diego


Laki-laki itu terkekeh lagi. Dipeluknya erat tubuh ramping Arini lalu mengecup pucuk kepala wanitanya itu berkali kali.


Diego menangkup wajah cantik itu lalu memberikan kecupan kecupan singkat nan lembut di bibir merah muda kesayangannya tersebut


"Aku suka sama kepolosan dan keluguan kamu" ucap Digo.


Arini tak menjawab. Diego mulai menatap nakal ke arah wanita cantik itu.


"main sama Tidy, yuk" ucap pria itu.


Arini merengek lagi. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Diego makin gemas. Ia mendekap erat tubuh wanita itu lalu mencium pucuk kepalanya berkali kali.


Keduanya kemudian larut dalam canda tawa sebelum akhirnya memulai aktifitas panas yang selalu mereka lakukan tiap malamnya semenjak menjadi sepasang suami istri.


.........


Selamat malam...


up 22:11


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2