My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 33


__ADS_3

Malam setelah jam makan siang....


Di sebuah ruang televisi yang berdampingan dengan kolam renang...


Seorang pria nampak sibuk dengan laptop nya. Dengan kacamata berlensa bening membingkai mata tajamnya, pria tampan tiga puluh lima tahun itu nampak begitu fokus pada layar benda canggih kepunyaan nya itu.


Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Membuatnya malam ini mau tak mau harus lembur di rumah agar seabrek tanggung jawabnya itu cepat selesai.



Seorang gadis manis datang mendekat. Dengan sebuah nampan berisi secangkir teh hangat buatannya, Arini memberanikan diri untuk mendekati sang ayah yang kini terlihat begitu serius itu.


"daddy...." ucap Arini.


Digo tak merespon.


"dad, Arin bikinin teh buat daddy. Biar kuat begadangnya" ucap Arini sedikit takut.


Digo menoleh ke arah gadis itu.



Digo nampak diam menatap wanita dengan piyama lengan pendek yang membalut tubuh rampingnya itu. Wajahnya terlihat pucat.


"kau kenapa pucat begitu? kau sakit?!" tanya Digo.


Arin menggeliat.


"enggak, cuma mau pilek aja..!" ucap Arini.


"kek mayat hidup" ucap Digo sambil kembali bergerak mengubah posisinya menghadap laptop


Arini menatap kesal ke arah daddy palsunya itu sembari mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"taruh situ.." ucap Digo sambil mengangkat dagunya seolah menunjuk ke arah meja. Arini pun meletakkan nampan berisi teh itu di atas meja tepat di samping Digo.


Gadis itu lantas kembali memberanikan dirinya, mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang itu disamping sang ayah.


"daddy......." ucap Arini dengan nada bicara terulur manja.


Digo tak merespon.


Arini mengerucutkan bibirnya. Ia lantas memiringkan kepalanya. Mencoba menengok wajah sang ayah yang tengah fokus bekerja. Tangannya kini bergerak mencolek lengan Digo dengan satu colekan saja.


"daddy..." ucap Arini lagi.


Digo menoleh.


"ck... ! apasih?!" tanya Digo dengan mode kesal.


"dad....."


"apa...?!"


"besok Arin boleh kerja ya...." ucap Arini setengah mengiba dengan wajah melasnya.


Digo menghentikan pergerakan nya sejenak.


"memangnya kenapa sih kau begitu ngotot ingin bekerja?" tanya Digo sambil kembali memainkan laptopnya.

__ADS_1


"ya kan biar Arin bisa punya pegangan, dad. Mayan loh gajinya. Bisa buat kita makan. Ya dad ya....boleh ya.... Arin bosen tauk di rumah nggak ada temennya...!" ucap Arini.


"memangnya berapa gaji mu sebulan? cukup untuk bayar pak Asep? buat bayar listrik rumah ini? air? makan kita sebulan? cukup...?! kalau memang cukup ya boleh..!" ucap Digo kesal. Gaji nggak seberapa ngotot amat pengen kerja..! batin Digo.


"nggak cukup, tapi jauh lebih banyak dari duit yang daddy kasih ke aku kemarin..!" ucap Arini menjawab ucapan ayahnya. Yang sepertinya berhasil untuk kembali memancing perdebatan antara ayah dan anak itu.


Digo reflek menoleh ke arah gadis itu.


"maksudmu apa?! kau mau bilang jika uang yang daddy kasih kemarin itu kurang...?!" tanya Digo.


"ya kalik tiga ratus ribu buat sebulan nggak kurang, dad?!" ucap Arini ngegas.


"kalau itu kurang berarti kau yang boros..!"


"bukan aku yang boros, tapi daddy yang pelit...!!"


"hehh...!! yang sopan kau sama orang tua...!!" tanya Digo kesal. Arini cemberut.


"dengar ya, Arini. Keputusan daddy udah bulat..! daddy melarang kamu untuk bekerja di resto itu lagi...! besok daddy mau kau tetap di rumah..! daddy melarang kamu keluar dari rumah ini tanpa izin dari daddy...!!" ucap Digo dengan suara yang dibuat tegas.


Arini nampak kesal.


"ya udah kalau gitu, kalau aku nggak boleh kerja lagi berarti mulai besok aku akan datang ke kantor daddy tiap siang. Aku bakal bawain daddy makan siang pakai lauk yang aku buat biar daddy nggak perlu jajan jajan lagi..! aku tungguin daddy makan ampe abis..! kalau aku harus hemat berarti daddy juga harus hemat...!!" ucap Arini.


"apa maksudmu?!! kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini?! sejak kapan kau jadi mengatur daddy mu..!"


"ya abisnya daddy juga nyebelin...! orang anaknya mau kerja nggak dibolehin..! suruh hemat lah, ini lah, itulah...! giliran daddy sendiri makan seenaknya..! lagian aku kerja kan juga nggak nyusahin daddy...! orang aku berangkat sendiri, pulang sendiri, kerjaan beres, daddy mau makan juga tetep ada, semua beres, semua bersih...! kecuali kalau aku tuh kerja bikin repot daddy, rumah berantakan..! itu baru nggak boleh...!" ucap Arini nyerocos dengan nada suara yang meninggi.


"daddy melarang kamu kerja karena daddy nggak mau orang orang tau kalau kamu anak daddy...!"


"Arin nggak pernah bilang kalau Arin anak daddy...!!"


" udahlah...! daddy nggak ngizinin kamu kerja..! sekali nggak tetep nggak...! sekarang kamu masuk kamar..! berisik banget malam malam..!" ucap Digo lagi.


Arini mengerucutkan bibirnya. Ia tak mau kalah dari ayahnya. Ia harus tetap bisa bekerja..?


"oke, kalau gitu..! Arin akan berhenti kerja mulai besok...! Tapi..... besok Arin akan datang ke kantor daddy, Arin akan bikin pengumuman, Arin akan memperkenalkan diri. Arin akan bilang kalau Arin anak daddy...! anak yang lahir di luar nikah. Biar semua orang tau...! biar daddy malu sama karyawan karyawan daddy...!!" ucap Arini menantang.


Digo menoleh dengan cepat..!


"ngomong apa kamu..?!" tanya Digo dengan mata melotot.


"abisnya daddy nyebelin...!!"


"berani macam macam daddy gantung kau di tiang bendera..!" ucap Digo melotot.


Arini mendengus kesal.


"daddy jelek...!"


"terserah...!"


"tua...!"


"aku tidak peduli...!"


"kolot...!"


"bodo'...!"

__ADS_1


"kejam...!"


"terserah kau...!"


"TUA, JELEK, INGUSAN, DEKIL, BAU, JAHAT, NGGAK LAKU, BERISIK, PELIT, MESUM, JOROK, NORAK, NGOROKAN, NGESEELIIIIIIIINNNN.....!!!!!!!!!!!!" teriak Arini kesal sambil memukul sandaran sofa di akhir kalimat nya.


Digo mengulum senyum. Tanpa berucap sepatah katapun ia mengangkat satu tangannya, lalu menunjukkan simbol OK (👌) sebagai jawaban dari makian brutal putrinya.


Arini menipiskan bibirnya sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Ia terlihat makin kesal sekaligus gemas. Di tatapnya wajah pria itu dengan penuh rasa jengkel. Ia lantas meraih ponsel di saku piyamanya. Di bukanya ponsel pemberian Sam itu. Ia lantas membuka aplikasi WhatsApp. Menuju bar status. Membuka kamera, lalu....


cekrek...


satu gambar sang ayah di ambilnya tanpa izin. Lalu menggunakan nya sebagai story WhatsApp yang hanya akan dibuka oleh Sam, Fajar, pak Asep si satpam rumah, dan Digo sendiri. Mengingat memang hanya mereka yang menyimpan nomor ponsel Arini. Gadis itu lantas menuliskan sebuah caption atas foto itu. Arini kemudian bangkit.


"daddy jelek...!" ucap gadis itu sembari mengayunkan kakinya menghentak hentak bumi meninggalkan sang ayah yang masih sibuk dengan laptopnya. Tak lupa, mulutnya terus mengomel sepanjang perjalanan menuju kamarnya.


Digo terkekeh. Lama lama kok jadi lucu bocah itu. Ngalah ngalahin badut🤭


Digo meraih teh di atas meja. Diseruput nya air itu.


"enak juga" ucap Digo.


Ia lantas meraih ponselnya. Membuka aplikasi WhatsApp berniat untuk mengirim pesan pada Sam untuk membahas masalah pekerjaan.


Setelah mengetikkan pesan untuk sang sahabat sekaligus asisten itu. Digo iseng iseng membuka bar status. Melihat postingan orang orang yang menyimpan kontak nya disana.


Hingga matanya kemudian menipis.


Arini baru saja membuat story WhatsApp dengan menggunakan foto dirinya. Dibukanya story sang putri. Sebuah foto yang baru saja diambil sang putri dalam posisi menyamping.


Digo mengarahkan pandangannya membaca caption atas foto itu....


"INFO...! PESUGIHAN YANG TUMBALNYA BAPAK KANDUNG...!!!"


.


.


.


.


.


.


.


"ARINIIIII...!!!"


🤣🤣


...----------------...


Selamat sore,


up 14:51


yuk, dukungan dulu 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2