My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 29


__ADS_3

Hari terus berlanjut,


Saat siang menjelang, di sebuah rumah yang cukup besar namun tak lebih besar dan megah dari kediaman milik Diego Calvin Hernandez,


Suasana duka terlihat begitu jelas disana. Sebuah bendera kuning tertancap di pagar besi rumah itu. Para pelayat yang kebanyakan berbusana serba hitam datang silih berganti. Memberikan ucapan bela sungkawa terhadap pria berbadan tinggi besar berjambang lebat dengan rambut gondrong nya yang kini tengah berduka atas meninggalnya ibunda tercinta itu.


Ya, ialah Calvin Alexander. Anak dari Kimmy Alexander yang kini telah di panggil oleh Sang Maha Pencipta.


Sepasang kakak beradik anak dari tuan Grey Hernandez, Giselle Claudia Hernandez dan Diego Calvin Hernandez, nampak turun dari mobil mewah tunggangan mereka. Sepasang saudara yang terpaut usai tiga tahun itu lantas berjalan masuk ke dalam rumah menemui seorang pria malang yang kini tengah dirundung kesedihan itu, Calvin Alexander.


"tuan Calvin..." ucap Giselle.


"nona Giselle..." jawab laki laki dengan kumis dan jenggot lebat mengelilingi area bibirnya itu.


"saya mewakili keluarga besar menyampaikan turut berbelasungkawa, tuan. Semoga nyonya Kim di tempatkan di tempat yang paling baik disisiNya" ucap Giselle tulus.


Tuan Calvin tersenyum.


"terimakasih, nona Giselle" ucap Tuan Calvin.


Giselle masuk ke dalam rumah, duduk berbaur dengan sejumlah pelayat yang lain guna memberikan penghormatan dan doa untuk almarhumah yang telah berpulang.


Digo maju satu langkah. Kini ia berdiri saling berhadapan dengan laki laki yang sangat ia benci itu. Baik Digo, Calvin, maupun Giselle, semua tahu, hubungan Digo dan Calvin memanglah tak terlalu baik. Digo sangat membenci Calvin. Namun Calvin selalu menanggapinya tenang. Baginya Digo hanyalah anak kemarin sore yang masih ingusan dan labil.


Calvin juga tahu jika Digo mencintai Steffi. Itu ia ketahui saat Digo terang terangan memaki maki nya dan mengatakan akan menjebloskan Calvin ke penjara karena telah membunuh Steffi. Hal itu Digo ungkap saat acara pemakaman Steffi bertahun tahun silam. Padahal saat itu usia Digo masih tujuh belas tahun. Masih sangat muda..!


Calvin yang usianya lima tahun lebih tua dari Digo pun juga tak terlalu menggubris nya. Dimata Calvin kala itu, Digo hanyalah remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan yang belum tahu apa apa.


Sejak saat itu Calvin merasa bahwa Digo begitu anti pati padanya. Tapi ia tak berfikir lebih jauh. Ia hanya beranggapan bahwa itu hanyalah sebatas emosi seorang bocah, pengagum mendiang istrinya. Mungkin jika Digo tahu apa yang terjadi sesungguhnya, pria itu akan malu.


Kebencian Diego pada Calvin rupanya makin mendarah daging. Terlebih saat Diego mulai memimpin perusahaan sang ayah. Diego selalu mentargetkan untuk lebih unggul di atas perusahaan Calvin yang kebetulan memang bergerak di bidang yang sama.


Usia yang semakin tua. Masalah pribadi dan internal keluarga yang sepertinya sangat mengganggu pikiran Calvin pun membuat kinerja Calvin Hernandez kian hari kian menurun.

__ADS_1


Kebangkrutan yang kini Calvin alami baginya memanglah terjadi karena kualitas dirinya yang mulai tak mumpuni dalam mengelola perusahaan. Ketidakpecusan dia dalam menjalankan bisnis keluarga besarnya.


Pasca kematian sang ayah karena serangan jantung setelah mengetahui ia menghamili seorang pembantu, sejak saat itu kualitas kerja dalam diri Calvin menurun. Ditambah lagi dengan porak poranda nya kisah rumah tangganya di susul dengan kematian Steffi. Semua berhasil membuat Calvin terpuruk baik mental, hati maupun dari sisi kinerjanya sebagai seorang pemimpin kala itu. Hingga lambat laun setelah bertahun tahun mencoba mempertahankan bisnis keluarga, ia pun mengalami kebangkrutan pada akhirnya.


Banyak aset yang disita. Calvin bahkan menjual rumah masa kecil nya beberapa bulan lalu yang kini telah di tempati oleh Diego. Laki laki itu juga sudah tak pernah lagi mengirimi uang untuk putri semata wayangnya hasil perbuatan salahnya dengan seorang pembantu bernama Dewi. Ia bahkan sampai saat ini belum sempat menanyakan bagaimana kabar gadis belia itu pada salah satu tetangga di kampung halaman sang gadis. Mengingat ia pernah kehilangan ponselnya beberapa bulan lalu dan semua kontak di sana pun hilang.


Digo mengangkat dagunya. Calvin diam seolah menunggu, apa yang ingin laki laki yang dulu pernah menuduhnya pembunuh itu katakan.


Giselle menatap awas ke arah sang adik dan Calvin. Disini wanita itu berperan netral. Ia tak memihak siapapun. Hubungan dua keluarga itu masih baik baik saja. Karena sejujurnya, dendam dan kebencian hanyalah ada pada diri Digo, dan tidak dengan yang lainnya.


Namun, andaikan suatu ketika pria gondrong berjambang yang tengah berduka ini mengetahui tentang keberadaan seorang gadis belia di rumah sang Diego, apakah hubungan baik ini masih akan tetap baik??


.


.


.


"aku turut berduka cita" ucap Digo singkat namun dengan kesan angkuh. Ia bahkan tak sudi menjabat tangan laki laki itu.


"terima kasih, Diego" ucap pria itu.


Digo merapikan jas nya. Lalu berjalan melewati Calvin dengan sombongnya kemudian duduk di sebuah kursi disana berbaur dengan pelayat yang lain.


Calvin tak mengeluarkan ekspresinya. Ia kembali duduk di samping sang ibunda yang tengah berpulang. Menemani nya di sisa sisa waktu yang ada hari ini.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah....


Sebuah motor matic dengan sebuah box di jog bagian belakang nya itu nampak berhenti di sebuah restoran di pusat kota yang ramai tersebut. Seorang wanita belia dengan seragam oren khas karyawan resto itu nampak turun dari kendaraan roda dua yang ia kendarai itu.


Arini menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Lelah sekali. Ia ketiga kalinya ia jalan. Mengantarkan pesanan delivery dari sejumlah pelanggan restoran yang cukup terkenal itu.

__ADS_1


Arini mengusap menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah ingin meregangkan otot otot lehernya. Dengan segera ia pun masuk ke dalam resto itu.


"mbak..." ucap Arini pada wanita berpenampilan anggun pemilik resto itu, Glenca.


Glenca menoleh tanpa berbicara. Dilihatnya wajah gadis itu nampak lesu.


"kamu kok pucet? kamu sakit?" tanya wanita itu.


Arini tersenyum.


"enggak, mbak. Mungkin cuma karena kepanasan aja" ucap Arini. Wanita itu lantas mengeluarkan sejumlah uang dari waist bag yang ia gunakan.


"ini mbak..." ucap Arini sambil menyerahkan uang delivery.


Glenca pun menerima nya.


"oke. Kalau gitu sekarang kamu ke dapur. Ada satu orderan lagi. Kamu tanya aja sama yang lain. Udah siap belum tuh pesenan nya. Ntar kalau udah selesai nganter kamu istirahat dulu deh.." ucap Glenca.


"iya, mbak.." jawab Arini.


Wanita itu lantas undur diri. Gadis yang sejak tadi memang merasakan kurang enak badan itu lantas masuk ke dalam dapur restoran mewah itu. Mengambil gelas kosong lalu menuangkan air putih ke dalam sana kemudian menenggak nya. Netranya terpaku menatap ke arah televisi yang menyala. Dilihatnya disana kotak bergambar dan bersuara itu kini tengah menayangkan sebuah acara berita kematian sosok pengusaha sukses di negara ini yang memang menjadi tranding topik sejak semalam.


Ya, itu adalah berita tentang kematian Kimmy Alexander. Semua media masih saja meliput tentang kabar duka dari keluarga pengusaha itu sejak semalam.


Arini terdiam. Ya, begitulah kehidupan orang penting dan kaya raya. Apapun yang terjadi pada mereka selalu menjadi pusat pemberitaan. Termasuk kematian nya sekalipun.


Arini yang tak mengenal siapa Kimmy pun hanya tersenyum.


”Semoga diterima di sisi Allah ya, nyonya" ucap Arini kemudian meletakkan gelasnya dan mulai kembali bekerja.


...----------------...


up 16:05

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


__ADS_2