
Hari berganti....
06:30
Setelah sehari penuh tertidur dan beristirahat kemarin....
Seorang gadis cantik nampak menggeliat di atas ranjang empuk itu. Netra yang terus terpejam sejak pagi kini perlahan mulai terbuka perlahan. Masih terasa begitu berat. Arini nampak masih tak bergerak. Sorot matanya datar menatap lurus kedepan. Dimana jendela kamar yang luas dan tinggi tertutup gorden putih menjadi objek penglihatan nya.
Wanita itu seolah belum bisa sepenuhnya mensejajarkan isi otaknya. Di edarkan nya pandangannya ke segala arah. Menyapu seisi ruangan luas yang begitu nyaman itu.
Arini mengubah posisi tubuhnya yang semula miring memeluk guling kini menjadi terlentang. Di tatapnya langit langit kamar berwarna putih itu.
Wanita itu lantas celingukan.
"ini dimana?" batin Arini.
Gadis itu seolah belum bisa mengumpulkan baris baris ingatannya yang masih berjalan jalan entah kemana.
Tubuhnya terasa berat. Terlalu lelah. Seolah begitu enggan untuk sekedar bangkit dari ranjang empuk yang terasa begitu nyaman itu. Apalagi harus berfikir dan mengingat ingat apa yang baru saja terjadi padanya.
Arini menggeliat lagi. Ia kembali mengubah posisi tubuhnya. Miring lagi memeluk guling. Ia seolah begitu malas untuk bangun.
Arini melongok ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Arini memejamkan matanya.
Astaga, ini sudah sangat siang. Daddy nya pasti sudah berangkat kerja.
Gadis itu lantas bangkit, melawan rasa malas dan lelah yang kini mendera tubuhnya. Masih ada kewajiban yang harus ia jalankan. Bersih bersih, membuat sarapan dan bekerja...!
Arini bergerak. Diayunkannya kaki itu mendekati pintu kamar tamu. Baru saja ia hendak membuka gagang pintu. Benda berbahan dasar kayu itu sudah terbuka dari luar ..
"daddy .." ucap Arini saat melihat seorang pria tampan dengan kaos dan celana panjang itu muncul dari balik pintu yang terbuka.
"kau mau kemana?" tanya Digo datar dan terkesan angkuh khas ayah Arini itu.
"da, daddy kok, bajunya...nggak kerja?" tanya Arini.
Digo menatap datar sang putri.
"sejak kapan pertanyaan di jawab dengan pertanyaan?" tanya Digo dingin.
Arini menggeliat dengan wajah tertunduk.
"maaf" ucap gadis itu.
Seutas senyum samar nyaris tak terlihat terbentuk dari bibir Diego.
__ADS_1
"mau kemana?" tanya laki laki itu lagi.
"em, tadi mau ke dapur bikinin daddy sarapan. Takutnya daddy keburu berangkat kerja.." ucap Arini.
Digo mengangkat dagunya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik natural tanpa make up itu. Jangankan make up, mandi saja tidak..! Arini hanya di basuh wajah dan tubuhnya oleh bik Sumi kemarin sore.
Arini kemudian mendongak, menatap pria yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu.
"daddy nggak kerja?" tanya Arini polos. Wajahnya terlihat bodoh. Raut wajah yang di sukai oleh Diego.
"kau pikir setelah kau seharian tidur kemarin, aku akan pergi ke kantor?! asal kau tau, bodoh, kalau saja pagi ini kau belum bangun bangun juga, aku sudah berniat untuk mengangkat tubuhmu ke pemakaman dan melempar mu ke liang lahat..!" ucap Digo dengan mimik wajah yang dibuat tegas.
"trus karena musim ujan, jalannya licin, daddy kepleset, daddy yang masuk kubur duluan..." cicit Arini nyaris tak terdengar.
"bicara yang keras..!!" ucap Digo menantang.
"e...enggak..! Arin pengen cepet cepet masak. Daddy pasti laper kan. Arin bikinin sarapan dulu ya..." ucap Arini.
Digo berdecak kesal.
"kau itu bodoh apa tolol..?! kau baru saja mendingan, sekarang mau sok sokan masak, kerja lagi..?!! apa kau tidak tahu kalau sakit mu itu merepotkan ku?!" tanya Digo kesal.
Arini mendengus kesal. Salah lagi kan dia...?!! huufft...! menyebalkan...!
Arini menunduk lagi. Ia sedang malas berdebat dengan ayah labil nya ini...!
"sudah, lebih baik sekarang kau mandi, lalu sarapan dan minum obatmu..! semua pakaian mu sudah ku pindahkan ke lemari itu...! mulai sekarang aku mengizinkanmu tidur disini..! tapi ingat, jangan sampai membuat kotor kamar ini..! dan awas saja kalau kau sampai sakit lagi..! ku tukar kau dengan sapi perah...!" ucap Diego mengancam lalu berbalik badan dan pergi dari tempat itu.
Arini nyengir.
"iya kalik aku mau di tuker ama sapi perah? napa nggak sekalian ama banteng matador biar bisa di ajak seruduk serudukan?! dasar orang tua...! punya bapak satu aja gini amat..!" ucap Arini kesal kemudian menutup pintu kamar itu dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...****************...
Selang beberapa menit waktu berlalu,
gadis cantik itu nampak keluar dari kamar tamu yang kini ditempati nya. Dengan dress bunga bunga pemberian Sam, wanita itu lantas berjalan menuju meja makan.
Arini terdiam. Dilihatnya disana seorang wanita paruh baya nampak sibuk menata santap pagi di atas meja berbentuk persegi panjang itu.
Arini menyipitkan matanya. Sepertinya ia pernah melihat wanita itu.
Itu adalah pembantu rumah tangga yang pernah Arini temui saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah megah ayahnya ini. Wanita itu adalah wanita yang mengantarnya menuju kamar pembantu. Wanita itu juga yang memberikan air putih untuk Arini kala itu.
Ya, itu adalah mantan pembantu Diego..! kenapa dia bisa ada di sini..? pikir gadis itu.
__ADS_1
"selamat pagi, nona" ucap wanita paruh baya berpakaian pelayan tersebut.
Arini mendekat sambil tersenyum.
"pagi.." ucap Arini.
"ibu ini.............?" tanya Arini sambil memiringkan kepalanya seolah meminta jawaban pada wanita itu tentang pertanyaan nya.
"oh, nama saya bik Sumi, nona. Saya pembantu rumah tangga disini. Saya diminta tuan Diego untuk kembali bekerja di rumah ini mulai kemarin" ucap Bik Sumi.
Arini mengangguk samar. Ayahnya mempekerjakan pembantu lagi? katanya mau hemat? kok pakai jasa pembantu.
"em, sudah sembuh? kemarin saya yang menggantikan baju nona. Keringat nona keluar banyak setelah minum obat dari dokter" ucap Bik Sumi.
Arini tersenyum.
"Alhamdulillah, udah lebih mendingan, bik" ucap Arini.
"oh, syukurlah kalau begitu" ucap wanita yang sudah bekerja di rumah itu bahkan semenjak masih ditinggali oleh penghuni terdahulunya.
" ya sudah, nona silahkan duduk dulu, saya buatkan jus untuk nona. Kata tuan kalau mau makan suruh tunggu dulu, tuan masih di kamar ambil hp" ucap bik Sumi.
Arini mengangguk. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya. Ditatapnya meja makan yang nampak penuh dengan aneka masakan lezat ini.
Makanan ini teramat banyak. Mungkin jika membeli bahan makanan ini akan menghabiskan separuh dari uang belanja yang daddy berikan padanya tempo hari.
Dan sekarang Diego buang buang uang hanya untuk sekali sarapan?! gimana nggak bangkrut itu bapak bapak...! untuk urusan perut saja pengeluaran nya tak kira kira ..!!
Arini berdecak kesal. Ia hendak bangkit, berniat untuk menuju lantai dua menemui ayahnya itu dan protes atas pemborosan yang laki laki itu lakukan. Namun baru saja ia hendak bangkit. Tiba tiba......
.
.
.
"baby...."
...----------------...
Selamat pagi,
up 09:12
yuk, ramaikan kolom komentar...kok sepi amat🥺
__ADS_1
mampir juga di novel author yang lain