
Sore menjelang, di studio tato bertuliskan 'Devil art' milik Calvin Alexander..
Di dalam sebuah ruangan pribadi milik Calvin Alexander, gadis belia itu sejak tadi nampak duduk di kursi kerja sang ayah. Memainkan laptopnya, menyusun sebuah gambar yang akan di cetak menjadi kertas kertas tato temporer.
Sang ayah masih berada di ruangan tato. Sejak tadi laki-laki itu belum keluar dari sana. Sedang ada pelanggan yang meminta dibuatkan tato di bagian punggung dengan ukuran yang cukup besar.
Arini meraih kopi di samping laptop. Secangkir minuman hangat yang ia buat di dapur studio tadi guna menemani aktivitasnya sore ini.
ceklek....
pintu ruangan itu terbuka,
seorang pria gondrong masuk ke dalam ruangan itu.
"udah selesai, pak?" tanya Arini.
Calvin tersenyum.
"udah..." jawab pria itu sembari mendekati meja tempat dimana Arini berada. Disandarkannya tubuh itu di tepian meja. Tangan kekar itu lantas bergerak meraih secangkir kopi yang berada di sana. Lalu menyeruputnya.
"pulang, yuk" ucap Calvin kemudian.
"laper, pak..! pengen steak..! beli yuk, pak..!" ucap gadis itu lagi.
Calvin mengulum senyum lagi sambil mengacak-acak rambut panjang sang putri.
"ya udah, ayok..!" jawab Calvin.
Arini bertepuk tangan samar sembari menampilkan wajah sumringahnya. Dengan segera ditutupnya laptop itu lalu disisihkan sedikit menepi dari meja tersebut.
Ia kemudian bangkit, meraih ranselnya yang berada di salah satu sofa di sana, mengenakan nya kemudian kembali mendekati sang ayah.
"yuk, pak..!" kata Arini.
"yok..!" jawab Calvin.
Calvin menggerakkan tangannya merangkul pundak sang putri. Sepasang ayah dan anak itu lantas berjalan keluar dari ruangan tersebut, menuju parkiran di mana motor keduanya berada sambil bercanda selayaknya sepasang sahabat sepantaran.
"pak, tukeran motor, ya...!" ucap gadis itu. Calvin yang sudah mengenakan helmnya hanya tersenyum. Dilemparkan nya kontak motor yang berada di tangannya itu kemudian ditangkap dengan sempurna oleh Arini.
Arini meraih helm pink nya. Bergegas menaiki motor hitam besar milik sang ayah dan menyalakan mesinnya. Tak lupa, ia menggeber geber sebentar kendaraan roda dua itu sambil menunggu sang ayah siap dengan motor trail pink hitamnya.
__ADS_1
Calvin pun juga melakukan hal serupa. Memutar kunci motor yang sudah berada pada tempatnya, menyalakan motor trail milik sang putri dan bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut. Kedua motor itu pun lalu melesat menembus jalan raya. Menuju ke sebuah restoran cepat saji guna membeli makanan yang Arini inginkan.
Sepasang ayah dan anak itu pun berkendara dengan tenang. Arini melesat kan motornya di depan, disusul sang ayah di belakang. Seolah ia ingin memastikan, gadis kecilnya itu aman sampai ke tempat tujuan.
Kedua motor itu melesat dengan kecepatan sedang menembus padatnya jalan raya yang mulai ramai dipenuhi kendaraan bermotor disana. Hingga tak sampai lima belas menit, keduanya sampai di sebuah restoran cepat saji, tak jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka.
Seperti pengunjung pada umumnya, Arini dan Calvin lantas masuk ke dalam bangunan dengan sejumlah pengunjung yang nampak menikmati makanan pesanan mereka itu. Sepasang ayah dan anak itupun memilih satu bangku yang berada di pojok ruangan, duduk di sana sembari menunggu dua porsi steak daging pesanan mereka.
Arini nampak memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan nya datang. Namun tiba tiba...
"iya, sayang..! entar kita rayain ulang tahun kamu berdua, ya..! kita makan malam berdua, kita habisin waktu berdua. Aku pengen jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun buat kamu." ucap seorang pria yang duduk tepat di samping meja Arini. Pria itu nampak berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon. Mungkin kekasih atau istrinya.
Arini diam. Entah mengapa ingatannya melayang layang mengingat sesuatu. Ucapan itu mirip dengan ucapan seseorang yang dulu pernah ia kenal. Sebuah ucapan yang terucap dari bibir seorang laki laki, manusia kedua di bumi ini yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya.
"hmmm? apa? hahahha...iya, baby..! kamu bilang aja, apa yang kamu minta pasti aku kasih..! janji..!" ucap pria yang entah siap itu lagi.
Arini menunduk. Entah mengapa tiba tiba ia jadi merasa sedih.
Calvin yang sejak tadi duduk di hadapan Arini nampak menyipitkan matanya melihat perubahan mimik wajah dari sang putri.
"Rin, kamu kenapa?" tanya Calvin dengan sorot mata penuh selidik.
"enggak, nggak apa apa, kok, pak" jawab gadis itu berbohong.
"bapak lihat kok kayaknya kamu tiba-tiba jadi sedih gitu?" tanya pria gondrong itu lagi.
Arini dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"enggak, kok,...! Arin nggak sedih..! ngapain sedih.?" elak gadis cantik itu.
Calvin masih menyipitkan matanya.
"kamu yakin?" tanya Calvin.
Arini mengangguk.
"Arin nggak sedih, pak ..! cuma laper..!" jawab gadis itu lagi.
Calvin terkekeh.
"ya udah, sabar ya..." jawab laki laki itu.
__ADS_1
Arini hanya mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah laki laki disampingnya yang masih sibuk bertelepon ria dengan seseorang disana.
Arini hanya mengulum tipis. Wanita itu lantas menggelengkan kepalanya. Tak boleh..! ia tak boleh memikirkan lagi pria itu. Ia masih muda. Perjalanan hidupnya masih panjang. Ia harus bisa melupakan pria itu. Pria yang hanya terus terusan mempermainkan perasaan nya.
Arini kembali memainkan ponselnya sembari menunggu steak daging pesanan nya datang.
...****************...
Satu jam kemudian,
setelah puas menikmati salah satu makanan kesukaan nya bersama sang ayah di salah satu restoran cepat saji di kota itu, kini Arini dan Calvin pun bergegas kembali ke kediaman mereka yang kebetulan tak jauh dari lokasi restoran tempat mereka makan tadi. Dengan mengendarai motor besar milik sang ayah, Arini melajukan kendaraan roda dua berwarna hitam tersebut menyusuri jalanan kompleks perumahan di tengah kota itu disusul sang ayah di belakangnya.
Tak lama setelah melewati beberapa rumah dari gerbang komplek, gadis belia itu pun sampai di sebuah rumah berlantai dua tanpa pagar miliknya.
Arini menyempitkan matanya dari kejauhan dilihatnya Sebuah mobil mewah nampak terparkir tepat di depan rumah itu.
"ada tamu? siapa?" pikir Arini sembari terus melanjutkan harley-nya.
Motor besar itu berbelok masuk ke halaman yang tak terlalu luas itu di ikuti Calvin dengan motor trail nya dibelakangnya.
Arini menatap ke arah teras rumah. Dan....
.
.
.
.
deeeeegggghhhh...!
...----------------...
Selamat pagi....
up 06:12
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1