
"tuh, itu bang Ale...!!" ucap seorang anak punk berambut jabrik disana sambil menunjuk ke arah lobby kantor polisi yang posisinya berada dibelakang Diego. Terlihat disana dua orang pria dengan postur tubuh yang cukup mentereng perbedaan nya nampak berjalan mendekat kearah mereka. Para anak punk itu menoleh. Namun tidak dengan Diego yang masih sibuk memeluk dan menenangkan Arini yang sesenggukan.
"bang, sini, bang..!!" ucap salah satu anak punk lagi.
Diego pun akhirnya ikut menoleh. Tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Arini, ia membalik badannya. Menatap ke arah dua pria yang terlihat berjalan mendekat kearahnya. Dan........,
.
.
.
.
.
.
deeeeegggghhhh.....!
Pria tinggi besar dengan rambut gondrong itu berdiri tepat di hadapannya. Netra kedua pria beda usia lima tahun itu saling beradu. Tajam..!
"Calvin..?!" batin Diego. Laki laki itu terkejut. Ia mematung tak bergerak. Sorot matanya tajam. Dadanya penuh sesak. Laki laki itu lantas mengeratkan pelukannya pada gadis yang kini nampak membenamkan wajahnya di dada Sang Diego itu. Seolah tak berani menatap wajah laki laki gondrong yang kini tengah beradu pandang dengan sang ayah.
Jika biasanya, diungkit masa lalunya atau bertemu dengan Calvin akan mengorek luka lama Diego tentang kisah cintanya dan Steffi, maka kini sesuatu yang berbeda tanpa sadar sudah mengubah isi hati seorang Diego Calvin Hernandez. Bukan dendam. Bukan amarah. Tidak ada Steffi.
Melainkan hanya ada rasa awas dan waspada. Ia takut laki laki itu membawa gadis kecil yang kini meringkuk dalam dekapan nya itu pergi. Ia takut kedoknya sebagai ayah gadungan Arini terbongkar..!
Tidak..! ia tidak mau...!
Ia mau Arini tetap di sisinya...! ia tidak mau laki laki itu kembali mengambil wanitanya..!!
Dua pasang mata itu saling beradu tanpa ada satu patah katapun yang terucap. Suasana di dalam ruangan kantor kepolisian itu mendadak berubah menjadi panas dan tegang.
Dua netra itu seolah tak berkedip. Saling serang dengan sorot mata mengerikan menyimpan berbagai perasaan dan kisah rumit dimasa lalu.
Pak Yanto yang baru saja tiba di kantor polisi setelah sempat kesasar dan akhirnya menghubungi Calvin itu kini nampak menoleh ke arah dua pria itu secara bergantian.
Tak ada satupun dari kedua pria itu yang berbicara.
Laki laki lusuh dari kampung dengan sejumlah uban di kepala itu lantas menoleh kearah gadis muda berbaju oren yang nampak dipeluk sang Diego. Ini pasti Arini...! wajah nya tak terlihat, tapi Pak Yanto masih dapat mengenalinya. Sepertinya gadis ini belum menyadari keberadaan nya.
"Ndok, Arini...." ucap pria itu membuat Diego dan Calvin reflek menoleh ke arah pria paruh baya tersebut.
Arini yang tak asing dengan suara itupun perlahan mengehentikan tangisannya. Di gerakannya kepala itu perlahan. Menoleh kearah dua pria di hadapannya dengan sorot mata merah dan banjir air mata. Jas mahal Diego pun kini bahkan nampak basah karena lelehan air matanya.
deeeeegggghhhh.....
"pak Yanto..?" ucap gadis itu.
"Ya Allah, ndok..!! Alhamdulillah kamu disini..!! kamu baik baik aja. Bapak di kampung khawatir sama....................."
ucapan Pak Yanto terhenti. Ia yang hendak memeluk anak gadis Dewi itu tiba tiba menghentikan pergerakan nya, manakala pria tampan yang sejak tadi memeluk gadis muda itu dengan cepat memundurkan tubuhnya, seolah tak mengizinkan pak Yanto untuk menyentuh putri cantiknya itu.
Arini mendongak. Sedikit terkejut dengan aksi sang ayah. Pak Yanto pun juga nampak terkejut.
"lho, lho, lho...! mas, itu Arini kok di kekep terus? mas ini siapa?!" tanya Pak Yanto tak paham.
Arini nampak melongo menatap dua pria itu bergantian.
Harusnya kan mereka saling kenal? kan dulu pernah ketemu? Pak Yanto juga sempat punya nomor ponsel daddy nya. Iya kan?
Arini nampak bingung seperti orang bodoh. Gadis itu mendongak menatap ke wajah Diego.
"dad...?" ucap Arini lirih.
Raut wajah Diego nampak begitu tegang.
Pak Yanto kembali menatap ke arah Arini.
"Rin..! sini ndok..! kamu ngapain disitu sama orang itu? siapa dia?! katanya kamu ke kota mau cari bapakmu..?! kok malah sama dia?!!" tanya Pak Yanto polos.
Arini mengernyitkan dahi nya. Makin bingung. Begitu juga Calvin dan para anak buahnya. Digo makin tak nyaman. Sepertinya bapak bapak ini adalah orang yang sangat mengenal Arini..!
"Rin....ini.................."
"masalah ini saya anggap selesai..! jika ada yang merasa di rugikan atas ulah putri saya, silahkan datang ke kantor saya besok pagi..! saya akan mengganti kerugian kalian sepuluh kali lipat..!"
ucapan pak Yanto kembali terhenti. Diego tiba tiba. memotong ucapan laki laki itu dengan lantangnya secara sepihak.
Calvin mengangkat dagunya dengan sorot mata tajam. Pak Yanto kini mengernyitkan dahinya.
"baby, kita pergi dari sini...!!" ucap Digo sembari menarik tangan Arini yang masih dalam keadaan bingung itu lalu membawanya pergi meninggalkan kantor polisi tersebut dengan langkah kaki yang terburu buru.
Arini bingung. Ia setengah berlari mengimbangi langkah Diego sambil menoleh ke arah pak Yanto.
"lho, lho, lho,...! itu anak orang mau dibawa kemana?! hei, tunggu, mas...! tuan, itu Arini dibawa...!! ayo kejar..!" ucap Pak Yanto sembari berlari mengejar Arini.
Calvin yang masih bingung pun mengikuti langkah pak Yanto dari belakang.
Digo dan Arini sampai di parkiran. Digo dengan cepat membuka pintu mobilnya.
"masuk..!" ucap Digo sambil setengah mendorong tubuh Arini agar segera masuk ke dalam mobilnya.
"tapi, dad...."
"masuk, cepat...!!" titah pria itu lagi tak terbantahkan.
Arini yang masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi pun hendak menurut. Ia hendak melangkah naik ke dalam mobil. Namun....
seeeeetttt.....
"Rin...!!"
sreeeeetttt....
buuuuuuuuuuggggghhhhh
Pak Yanto menarik lengan Arini, berniat untuk menahan sang gadis agar tak pergi. Namun dengan cepat Diego menampik tangan keriput itu dan mendorong nya. Membuat laki-laki paruh baya itu pun hampir terjatuh dibuatnya. Beruntung, Calvin yang berdiri di belakangnya dengan sigap menangkap nya.
__ADS_1
Digo dengan cepat menarik Arini lalu memeluknya kembali dengan begitu erat dan posesif menggunakan satu tangan nya. Seolah tak mengizinkan siapapun untuk menyentuh gadis berharganya itu.
Digo menggerakkan satu tangannya yang lain, menunjuk kearah Pak Yanto dengan sorot mata mengerikan tanpa suara. Seolah ingin berkata 'jangan sentuh gadis ini...!'
"heh...! mas..! mas ini siapa?!! lepasin Arini..!!" ucap pak Yanto ditengah rintik hujan yang mulai mengguyur bumi.
Arini makin bingung. Calvin diam, seolah sudah bisa mencerna apa yang terjadi saat ini.
"pergi kalian...!" ucap Digo dingin.
"dad.." ucap Arini lirih.
"mas..! mas itu siapa? kenapa main tarik tarik Arini??!!" tanya pak Yanto pada Digo.
"Rin...! sini, ndok...!! katanya kamu nyari bapakmu...! ini bapakmu..! tuan Calvin..! orang yang kamu cari cari...! kamu ngapain sama dia...?!!!!"
.
.
.
.
duuuuaaaarrrr....!!
petir bak menyambar saat itu juga. Arini terdiam dengan mulut yang terbuka. Ia diam tak bergerak. Tak berucap. Tak mengeluarkan sepatah katapun...!
"Ndok..! ini tuan Calvin Alexander, bapakmu..! bapak kandung kamu..! orang yang menggendong mu di pemakaman ibu mu..! orang yang mencium pipi dan kening mu berkali kali sebelum dia pergi kembali ke kotanya..!" ucap pak Yanto membuat semua yang berada disana terkejut
Digo memejamkan matanya. Menggelengkan kepalanya samar seolah ingin menunjukkan betapa ia tak mau malam ini terjadi.
Pak Yanto menoleh ke arah Calvin yang diam mematung.
"tuan, ini putri tuan..! putri yang terlahir dari rahim Dewi..! putri yang tuan cari cari. Yang tuan kirimi nafkah melalui saya..! ini, tuan..! ini Arini..! anak tuan..!" ucap pak Yanto lagi dibarengi sebuah senyuman seolah menunjukkan betapa bahagianya ia akhirnya bisa mempersatukan sepasang ayah dan anak yang lama terpisah itu.
Arini dan Calvin saling pandang. Dunia seolah bak berbalik posisi dalam sekejap mata.
"Rin, sini, ndok..! ini bapak mu..!!" ucap pak Yanto lagi pada Arini yang sejak tadi sama sekali tak bergerak dan berucap.
Mendengar ucapan pak Yanto itu, Digo mengeratkan pelukannya pada Arini. Ketakutan muncul. Ia meremas lengan gadis itu seolah tak mengizinkan gadis itu untuk beranjak darinya barang sesenti pun.
Arini mendongak menatap penuh tanya ke arah Diego. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya seolah ingin mengatakan bahwa apa yang dikatakan laki-laki lusuh itu tidak benar. Gadis itu nampak mengembun. Ia terlalu bingung untuk bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"dad .." ucap Arini lirih seolah meminta penjelasan. Air matanya luruh lagi.
Digo menggelengkan kepalanya lagi.
"dia bohong..! mereka bohong..! itu nggak bener, baby..! mereka bohong...! kamu anak daddy..!" ucap Digo dengan suara pelan namun nafas memburu.
"lho, opo to iki...?! Rin, dia..................."
"LU DIEM BANGS*T...!!!" bentak Digo sambil menunjuk ke arah pak Yanto. Ia kembali menarik tubuh Arini mundur menjauh dari laki laki itu. Posisinya terancam..!
Pak Yanto tak mau tinggal diam.
"heh...! itu anak orang..!! Rin, itu bukan bapakmu..! ini bapakmu, Rin..! sadar, ndok..! sini...!!" ucap pak Yanto mulai kalut. Arini masih dalam genggaman Diego. Sedangkan Calvin sejak tadi hanya diam tak bergerak sama sekali.
Buuuuuuuuuuggggghhhhh....!
"pak..!!" pekik Arini.
Digo meninju wajah laki laki itu. Pak Yanto tersungkur jatuh ke halaman berpaving yang kini mulai basah diguyur hujan yang mulai lebat itu.
Diego lantas meraih lengan Arini. Menariknya untuk segera pergi dari tempat tersebut, namun.....
.
.
.
deeeeegggghhhh.....
Diego menoleh ke arah Arini. Gadis itu diam tak bergerak. Seolah menolak untuk diajak pergi oleh sang Diego.
"baby...." ucap Digo dengan raut wajah awas.
Arini menangis pilu ditengah hujan.
.
.
.
"siapa kamu?"
deeeeegggghhhh......
Diego diam mematung. Arini menatap pilu kearah pria itu. Remuk, hancur, sakit, kecewa, dan entah apa lagi yang wanita itu rasakan kini.
Pak Yanto adalah saksi hidup dari Dewi Calvin dan Arini. Ucapan laki-laki itu tidak mungkin bisa dibantahkan, karena memang ia mengetahui semua tentang keluarga kecil yang tak pernah bersatu itu. Seribu satu cara Digo lakukan guna menyembunyikan Arini dari ayah kandungnya, tapi ketika pak Yanto sang saksi hidup sudah bersaksi, maka Diego bisa apa??
"baby, kamu bicara apa? ini daddy..!" ucap pria itu lagi.
Arini makin menangis.
"tolong, aku capek..!!" ucap Arini sesenggukan.
Digo menggelengkan kepalanya.
"baby, ini daddy, sayang..! mereka semua bohong..!! kita pulang sekarang, sayang..! kita harus ngerayain ulang tahun kamu kan?! Ayo, baby. Kita pulang..!!" bujuk Digo lagi sambil kembali menarik lengan Arini namun dengan cepat gadis itu menampiknya.
Genggaman tangan itupun terlepas.
Digo tak bisa seperti ini. Ia tak mau jauh dari Arini..!
"Arini, kamu jangan bikin daddy marah, kita pulang sekarang, baby..!!" ucap Digo sambil lagi lagi mencoba meraih lengan Arini namun gadis itu mundur lagi.
__ADS_1
"Arini..!"
"ARINI AKU DADDY KAMU...!!!"
plaaaaakkkk....!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu.
Arini melakukan nya. Diego mematung. Gadis itu menangis. Menangis meraung raung. Sejadi jadinya
Berteriak teriak di tengah hujan tanpa mengucapkan kata kata yang berarti.
Sesakit itu..! bahkan untuk berucap pun Arini seolah sudah tak mampu..! Ia sudah kehabisan kata-kata..!
Berbulan-bulan ia tinggal dengan laki-laki asing dengan segala tindak tanduknya. Diperlakukan sedemikian rupa. Dipermainkan sedemikian rupa..!
Sakit.....!! saaaangat sakit...!! sudahlah, hancurnya hati itu seolah sudah tidak bisa lagi di jabarkan dengan kata kata.
Digo melemah. Ia berjalan gontai mendekati Arini.
"kita bisa bicara baik baik. Kita pulang dulu ya..."
plaaaaakkkk.....
satu tamparan lagi. Digo makin perih. Arini mengangkat tangannya tinggi seolah meminta Digo untuk pergi dari hadapannya.
Digo masih tak mau. Ia mendekat lagi,
"baby....."
buuuuuuuuuuggggghhhhh....!!
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhhh......!!!!"
Arini menghantam wajah Diego dengan kepalan tangannya. Laki laki itu terpelanting. Arini berteriak sekencang kencangnya ditengah hujan yang kian lebat.
Gadis itu hancur.
Pak Yanto berlari mendekat disusul Ivan.
"ndok, udah, ndok..!" ucap Pak Yanto.
"pak..! kita bawa masuk ke mobil aja..!" ucap Ivan.
Pak Yanto mengangguk. Arini dipapah menuju mobil.
Digo tak mau..! Arini harus ikut bersamanya...!
Laki laki itu lantas bangkit. Hendak mengejar gadis itu.
"Arini...!!!"
namun....
buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
Digo terpenting lagi. Kini jatuh tersungkur ke halaman berpaving itu. Seorang pria gondrong dengan wajah iblis berdiri di hadapannya. Menatapnya tajam penuh amarah.
Digo yang tersungkur mengusap ujung bibir nya yang mengeluarkan darah. Ia berusaha bangkit.
"Arini..!" ucap Digo lagi seolah tak peduli dengan laki laki musuh bebuyutan nya itu.
seeeeetttt....
Calvin mencengkeram kerah kemeja Diego.
"jika kau punya masalah denganku, maka selesaikan saja denganku..? jangan pernah membawa orang lain yang tidak tahu apa-apa masuk dalam permasalahan kita..!!" ucap Calvin mengerikan.
Digo menatap bengis ke arah Calvin.
"minggir lu, anj*nk..!" umpat pria itu.
"lu yang anj*nk..! lu APAIN ANAK GUE SELAMA INI..???!!!!!!!!" bentak Calvin keras.
Diego berontak. Ia mendorong tubuh laki-laki gondrong itu dengan kasar. Calvin murka..! dia kembali menghantam wajah tampan adik Giselle itu. Pertarungan antara dua pria perkasa itupun terjadi di tengah hujan.
Arini menangis sejadi jadinya dalam dekapan pak Yanto di dalam mobil. Ivan ikut iba. Para anak punk itupun terlihat shock dengan apa yang mereka lihat malam ini.
Perkelahian antara dua laki-laki itu masih terus berlanjut. Keduanya saling hantam. Saling pukul. Tak mau mengalah satu sama lain. Semua ingin menumbangkan satu dengan yang lain. Keduanya sama-sama kuat, namun sepertinya Calvin lebih dominan.
Hingga.
Buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
Buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
Buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
pukulan bertubi tubi Calvin layangkan. Diego terkapar bersimbah darah. Ia lemah...! ia kalah...!
Calvin mencengkeram kerah baju pria itu. Mendekatkan wajahnya kuat jadi aku lalu berucap dengan suara pelan namun begitu dingin mengerikan
"dengar baik baik, anak muda..! selama ini aku sudah cukup sabar menghadapi ketololanmu..! tapi kali ini kau sudah keterlaluan...! kau sudah mempermainkan putriku...! dengar baik-baik, Diego..! mulai hari ini, aku mengharamkan kau untuk bersentuhan dengan Arini...!
"dan akan kupastikan, bahwa mulai detik ini, aku mengincar nyawamu...!!" ucap laki laki itu begitu mengerikan.
buuuuuuuuuuggggghhhhh......
Calvin menghantam rahang Digo untuk yang terakhir kali.
Pria itu jatuh lunglai tak berdaya ditengah guyuran air hujan yang makin deras.
Calvin mengusap area bawah hidungnya. Ia lantas berlalu masuk ke dalam mobil itu dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Udah crazy up ya
tepat jam 7 malam... semoga review nya cepet..!
__ADS_1
yuk, dukungan yang banyak..!