
Di hutan sebelah timur dekat telaga, Mo kwi berkata dalam hati, kata telaga inilah yang membuat ia gundah.
Apa Hantu pohon adalah bekas bajak air, banyak pertanyaan di kepala Mo kwi, yang membuat ia bertanya tanya sendiri.
Dan satu hal yang pasti, di darat ia berjaya, tapi di air
Mo kwi hanya bisa menggelengkan kepala.
"Tapi biar dimana tempatnya aku tak peduli, mereka sangat berbahaya," Mo kwi berkata dalam hati.
Mo kwi kemudian bergerak dari pohon ke pohon menuju kearah timur, ia masih ingat dengan ajaran kakeknya Ban li eng, tentang tata letak bintang di langit, yang bisa menunjukan arah jika kita ingin pergi ke timur barat atau utara jika di malam hari.
Dan kali ini tujuan nya sudah pasti dan bertekad menemukan markas dari Hantu pohon, karna waktu yang sudah semakin mendesak, belum lagi pikiran yang bercabang memikirkan pasukannya apakah bisa bertemu dengan rombongan sang ayah atau malah bertemu dengan rombongan pihak musuh.
Setelah agak lama terus menuju ke arah timur, Mo kwi menemukan tempat yang sama sekali asing, dan agaknya inilah tempat yang dimaksud oleh anak buah kelelawar hantu, yang memberitahu markas persembunyian Hantu pohon sebelum digigit oleh Coa mo dan Coa kwi.
Mo kwi melihat sebuah telaga yang tidak terlalu besar, dan banyak tumbuhan tumbuhan air di sekitar telaga, dan di ujung telaga yang Mo kwi liat, sebuah bukit batu yang sangat rata dan licin, sehingga orang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh sehebat apapun, tak kan bisa turun dari bukit itu, karna tak ada tumbuhan dan batu untuk tempat berpijak.
Mo kwi merebahkan tubuhnya di tempat yang agak tersembunyi di sebuah semak belukar dan batu batu yang terdapat di pinggiran telaga, karna hari masih agak gelap, bila benar perkataan dari anak buah kelelawar hantu di sini tempatnya, pasti ada anggota mereka yang keluar masuk, dan Mo kwi sudah, menemukan tempat yang cocok untuk istirahat dan melihat kearah telaga.
Mo kwi membuka mata ketika merasakan panas matahari mulai muncul dan menerpa wajahnya, Mo kwi kemudian merasakan di saku dalam bajunya bergerak gerak, dan tak lama kemudian Coa mo dan Coa kwi, keluar dan berjemur sesekali turun dan minum air telaga, kedua ular sahabatnya itu terlihat saling bercanda di semak belukar yang dekat air.
__ADS_1
Mo kwi tersenyum melihat tingkah polah sahabatnya itu, dan tahu mereka jarang bercanda di luar dalam beberapa hari ini, karna terus berada di saku dalam baju Mo kwi.
Sambil memakan daging kering, bekal yang dibawa untuk mengisi perut, Mo kwi terus melihat kearah telaga, dan telinganya berusaha mendengarkan suara suara yang mencurigakan di sekitar telaga.
Matahari semakin lama semakin tinggi, dan Mo kwi belum melihat atau mendengar hal hal yang mencurigakan, dan masih sabar menunggu di tempat persembunyiannya.
Tiba tiba Mata Mo kwi membesar dan melihat kearah tebing batu yang di bawahnya bayak tumbuhan air yang lebat, tumbuhan air itu tersibak, dan keluar sebuah perahu kecil dari balik tumbuhan yang tersibak, diatas perahu kecil terdapat dua orang bercaping yang satu duduk, dan satu orang mendayung perahu kecil, itu meninggalkan semak belukar, ke sebuah pohon besar yang berada di pinggir telaga, setelah sampai, orang yang duduk kemudian melompat, lalu mengeluarkan tali, dan mengikat perahu, dan di tambatkan di dekat tumbuhan air, dan terhalang oleh semak belukar.
Lalu Mo kwi dari kejauhan melihat kedua orang itu melesat meninggalkan telaga.
Mo kwi dengan sangat berhati hati, perlahan menghampiri, tempat kedua orang itu menambatkan perahu, kemudian ia mencari tempat yang agak tersembunyi, di dekat tempat perahu kecil itu berada, kemudian menunggu kedua orang bercaping itu datang.
Mo kwi terus menunggu, dan akhirnya yang di tunggu tiba, Mo kwi mendengar dari kejauhan, gerak dari dua orang, yang tak lain adalah kedua orang bercaping itu, dan benar perkiraan dari Mo kwi, tak lama kemudian kedua orang bercaping itu datang, dan langsung menuju ketempat perahu yang tadi mereka sembunyikan.
Ketika akan mendorong perahu kecil itu, Mo kwi melesat dan tangannya langsung menghantam kearah leher salah seorang pria bercaping itu.
Kreeeeek.
Suara tulang leher patah terdengar, dan orang itu langsung ambruk, tanpa ada suara keluhan atau jeritan yang keluar dari mulutnya.
Melihat temannya langsung tewas terhantam, lalu ia bergerak meninju kearah Mo kwi, tapi Mo kwi dengan gesit mendahului dan menotok kearah pria itu yang langsung diam terkena totokan Mo kwi.
__ADS_1
Mo kwi menatap orang itu, lalu berkata, "jika kau tak ingin mati, turuti perkataan ku, jika tidak, bersiaplah untuk mati, jika kau mengerti kedipkan matamu," lalu kedua mata itu bekedip, "jika kau berteriak maka kau harus mati," dan kedipan langsung terlihat setelah Mo kwi berkata, Mo kwi kemudian membuka totokannya, tapi kemudian menotok kembali di dada, "tenaga dalammu sudah tak bisa dipakai lagi untuk sementara, dan kau jangan macam macam denganku...!!"
"Antar aku ke markas Hantu pohon,..!!" Mo kwi berkata, pria bercaping itu terkejut ketika mendengar perkataan dari Mo kwi, tapi setelah lehernya di cengkram, pria itu akhirnya mengangguk, lalu keduanya naik keatas perahu kecil.
Mo kwi memakai caping orang yang telah ia patahkan batang lehernya, dan duduk berhadapan.
Ketika sampai di tengah telaga, si pendayung menyeringai seram kearah Mo kwi, kemudian menceburkan diri ke ketelaga, setelah pria itu menceburkan diri.
Tak lama kemudian perahu kecil yang di tumpangi Mo kwi bergoyang, dan terdengar suara, ketukan keras dari bawah perahu kecil yang ia taiki, dan ketukan ketukan itu makin lama semakin kencang, Mo kwi terkejut setelah melihat ketukan itu berasal dari sebuah kampak yang langsung membuat lubang besar di perahu kecil yang ia taiki.
Wajah Mo kwi pucat pasi, ketika mengetahui bahwa dirinya telah di jebak, perlahan perahu kecil mulai tenggelam, Mo kwi yang masih menginjak dasar perahu kecil itu, lalu melesat berusaha kearah pinggir telaga yang terdekat dari posisi perahu yang ia tumpangi
Ketika Mo kwi sudah melesat, Sebuah bayangan keluar dari dalam telaga lalu dengan cepat, langsung menyambar kaki Mo kwi, dan menariknya ke dalam telaga,
Mo kwi terkejut ketika merasakan kakinya di tarik kebawah dengan sangat kuatnya, dan akhirnya ia tercebur, Mo kwi bergerak sebisanya, tapi kaki nya terus di seret, dan air telaga banyak yang masuk dan terminum oleh Mo kwi, Mo kwi menendangkan kakinya, tapi hal itu tak berarti, dan semakin lama tubuh nya terus tenggelam karna kakinya ditarik dan diseret masuk terus kebawah, Air sudah banyak yang masuk, pandangan mata Mo kwi menjadi nanar, dan perlahan bayangan bayangan bermunculan silih berganti, dan yang terakhir adalah.
Bayangan ayahnya Shin mo yang menjulurkan tangannya, Mo kwi tersenyum melihat ayahnya, lalu tangannya keatas meraih tangan Shin mo, dan perlahan pandangannya mulai kabur, dan sebuah penyesalan hanya bisa terucap dalam hati Mo kwi, antara sadar dan tidak, hanya sebuah senyum dan perkataan dalam hati yang tak bisa di ucapkan.
Maafkan aku ayah, tak bisa berjuang bersama sama
Kemudian semuanya menjadi gelap.
__ADS_1