
Melihat para prajurit putri Qiao berguguran di sergap oleh para pasukan elite kaisar Zhiangwen, darah Mo kwi langsung naik ke kepala, dan Mo kwi tak begitu mendengar perkataan Pedang gila yang melesat sambil membabat musuh yang dekat dengannya dengan pedang kelabang biru.
Mo kwi dengan pedang bintangnya berputar menghalau puluhan pedang dan tombak dari pasukan elite kaisiar Zhiangwen, sementara sebagian pasukan bergerak menyusuri kiri dan kanan jalan, dan berusaha mengelilingi istana kaisar Zhiangwen dan ternyata memang pasukan kaisar Zhiangwe berada di sekeliling istana dan bersembunyi, ketika pasukan pimpinan putri Qiao lewat mereka pun langsung menyergap.
Banyak korban berjatuhan di pihak putri Qiao, dan para tetua lalu bertindak mendahului, dan mencari tempat persembunyian mereka yang bersembunyi di rumah atau gedung di sekitar komplek istana kaisar Zhianwen.
Setelah tempat persembunyian mereka banyak yang di ketahui, akhirnya perintah perang terbuka datang dari perdana mentri Qi thay yang merasa kekuatan pasukan mereka telah berimbang.
Perang hebat terjadi di sekeliling istana kaisar Zhiangwen, pasukan putri Qiao lalu membakar rumah rumah dan gedung di sekitar istana kaisar Zhiangwen, supaya tidak di pakai untuk tempat bersembuny kebakaran hebat terjadi, api yang menyala besar dan suara jeritan jeritan kesakitan dan beradunya pedang membuat suasana amat mengerikan, kedua pasukan tampak beringas untuk bisa membunuh siapapun yang berada di dekatnya.
Mo kwi yang berada di lapangan luas, tempat yang biasa dipakai para pasukan kaisar Zhiangwen berlatih atau untuk merayakan upacara kebesaran.
Pedang bintangnya berkelebat kekiri dan kanan, dua serangan yang kearah kepala dan pinggangnya ia hindari dengan langkah kilin sambil Mo kwi bergerak mundur lalu menyabetkan pedang bintangnya kearah leher seorang prajurit pasukan kaisar Zhiangwen.
Craash..!!
Kepala prajurit itu langsung terpental ketika pedang bintang menebas lehernya, tubuh prajurit itu gemetar seperti masih merasakan sakit, dan kemudian langsung rubuh tanpa kepala.
Mo kwi kemudian, menyabetkan pedang bintang nya ke arah seorang berpakaian tempur yang mewah, seorang komadan pasukan kaisar Zhiangwen yang memakai tombak.
Komandan pasukan yang ahli memakai tombak dan mendapat julukan dari pasukannya di sebut Tombak bayangan, karna kecepatannya dalam memainkan tombak sehingga tombaknya, jika di mainkan menjadi bayangan karna saking cepatnya.
Mo kwi menatap komandan pasukan, seorang yang berusia sekitar 60th dan wajahnya masih terlihat gagah.
"Tuan lebih baik menyerah saja, tarik pasukan tuan supaya tak banyak korban berjatuhan, jika menyerah dan mau bergabung..!!" maka kami akan membebaskan tuan dan prajurit tuan dari hukuman.
"Tuan muda..!!" prajurit yang mau menyerah aku tak melarangnya dan itu adalah hak mereka, dan aku memberikan kebebasan pada mereka untuk memilih apa yang terbaik, tapi aku Liu chan komandan pasukan Naga perak, pelindung istana dan Naga emas kaisar Zhiangwen lebih baik mati bertempur, dari pada harus menyerah dan lari dari tanggung jawabku sebagai seorang prajurit.
Mo kwi tersenyum mendengar perkataan dari komandan pasukan naga perak yang bernama Liu chan, perkataan seorang yang gagah dan mempunyai harga diri yang tinggi, Mo kwi sangat menghormati dan menyukai orang yang mempunyai prinsip kuat seperti Liu chan.
Mo kwi lalu membungkukkan badan sambil kedua tangan memegang gagang pedang bintang, dan memberi hormat kepada Liu chan.
"Komandan Liu.!!" terima hormat dari ku," Mo kwi berkata, aku suka dengan kegagahan dan prinsip yang komandan Liu junjung tinggi.
Liu chan membalas hormat dari Mo kwi.
Tuan masih muda tapi sangat bijak dan gagah, masa depan tuan akan cemerlang, Liu can juga mengormati tuan sebagai seorang prajurit.
Mo kwi kemudian mengangkat pedang bintangnya, begitu pula Liu chan yang juga mengangkat tombak, setelah saling memberi penghormatan, keduanya lalu siap bertarung.
Liu chan langsung menyerang Mo kwi, tombaknya sangat cepat telah menusuk kearah dada Mo kwi.
Mo kwi melihat dadanya yang di serang, lalu menebas batang tombak dari Liu chan.
Liu chan yang melihat Mo kwi hendak menebas batang tombak, lalu dengan cepat menggetarkan tombaknya.
Tombak bergetar, batangnya bergoyang dan langsung memantulkan pedang bintang Mo kwi.
Mo kwi terkejut, karna baru kali ini ia melawan seorang yang benar benar ahli dalam memainkan tombak, dan jika batang tombak bergoyang gerakannya tak menentu, dan bisa menahan tebasan dari pedang.
__ADS_1
Setelah tebasannya tak berhasil, Mo kwi langsung bergerak kesamping kiri, lalu menebas pundak kiri Liu chan, orang tua gagah itu mundur sambil satu tangannya memegang tombak menusuk ke arah perut Mo kwi.
Mo kwi yang melihat serangan tombak yang cepat lalu loncat, dan telah berdiri di atas batang tombak milik Liu chan.
Setelah berdiri diatas tombak Liu chan, dengan mengandalkan jurus Dewa angin, Mo kwi lalu mengangkat pedang bintang hendak menebas leher dari komandan Liu.
Liu chan sangat terkejut, ketika Mo kwi menghindari serangannya dan malah loncat dan berdiri diatas tombak, dan pedang berwarna kehijauan mulai bergerak kearah lehernya.
Liu chan lalu dengan semua tenaga dalamnya di kerahkan ke arah tombak miliknya, lalu tombaknya dengan sekuat tenaga ia getarkan.
Tombak yang menampung tenaga dalam dan di getarkan sekuat tenaga, bergoyang sangat kencang, Mo kwi yang menebas leher Liu chan ikut bergoyang, dan tebasan pedang bintang Mo kwi ikut melenceng, dan hawa pedang menebas beberapa rambut Liu chan yang tergerai, Mo kwi langsung loncat kebelakang sambil bersalto lalu turun ketanah.
"Tuan Liu sangat hebat..!!" Mo kwi berkata sambil tersenyum.
Liu chan menarik nafas lega, tapi keringat dingin keluar dari tubuhnya, dan wajahnya berubah pucat, tapi tak lama balik kembali seperti semula, setelah hilang rasa kaget di hati Liu chan.
"Hmm..!!"
Jika aku tak bertindak cepat, mungkin kepalaku sudah terpisah dari badan dan jadi arwah gentayangan, Liu chan berkata dalam hati.
Liu chan langsung menyerang dengan menyabetkan ujung tombaknya kearah leher Mo kwi.
Mo kwi hanya memiringkan kepalanya, dan tombak lewat dekat leher Mo kwi, hawa tombak yg tak begitu besar tak bisa melukai kulit Mo kwi yang sudah di aliri tenaga dalam baja api.
Mo kwi dengan gerak langkah yang cepat lalu menempelkan pedangnya di batang tombak Liu chan dan menyusuri, kemudian menebas kearah bahu Liu chan.
Dan menarik lurus tombaknya, sisi mata tombak mengancam tangan Mo kwi yang memegang Pedang bintang.
Mo kwi melemparkan pedang bintangnya ke tangan kiri, sedangkan tangan kanannya, langsung menepak tombak dari Liu chan.
Tombak Liu chan bergetar dan tangannya yang memegang tombak ikut bergeser akibat tepakan tangan Mo kwi yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Tenaga dalam Liu chan sangat jauh di bwah Mo kwi, tapi komandan pasukan naga perak itu sangat ahli dalam permainan tombak, dan mempunyai pengalaman bertempur dan pandai membaca situasi, jadi kelemahannya dalam hal tenaga dalam sedikit tertutup oleh keahlian lainnya.
"Tuan Liu sangat ahli dalam bermain tombak, aku sangat kagum," Mo kwi berkata.
Setelah berkata, Mo kwi sambil melesat, lalu mengangkat pedang bintangnya dan menebas dari atas pundak kebawah, Liu chan terkejut dan langsung menusukan tombaknya kearah jantung Mo kwi dan berniat adu nyawa, Pedang Mo kwi menebas pundaknya sedangkan tombak langsung menenbus jantung Mo kwi.
Hmm,..!!
Mo kwi mendengus, lalu menarik pedangnya, tangang kirinya langsung menghantam tombak Liu chan dari samping kiri.
Plaaak..!!
Kembali tombak Liu chan bergeser terkena hantaman tangan kiri Mo kwi.
Mo kwi langsung bergerak kearah belakang dan langsung menebas punggung Liu chan, tapi tombak Liu chan seperti mempunyai mata, dan langsung menangkis serangan yang mengarah punggungnya,
Tangan Liu chan sudah mulai pecah pecah, tangannya panas dan sakit akibat getaran dari tombak nya sendiri, yang sering terkena hantaman tenaga dalam tinggi dari Mo kwi, hanya karna tekad kuad saja, tombak banyanganya tak terlepas dari tangan Liu chan.
__ADS_1
Mo kwi yang mulai gusar karna belum bisa melumpuhkan komandan Naga perak, lalu menendang pinggang Liu chan.
Liu chan mengerutkan dahinya ketika melihat Mo kwi menyerang dengan kakinya, Liu chan mundur, tapi pedang Mo kwi langsung menebas ke arah kepala ketika, serangan tendangannya berhasil di hindari.
Liu chan langsung menangkis sambil menepak badan pedang bintang Mo kwi, Mo kwi langsung tersenyum melihat umpannya berhasil.
Tangan kiri nya langsung menghantam pergelangan tangan Liu chan yang memegang tombak.
Plaaak..!!"
Tombak Liu chan terpental, terlepas dari gemgamannya, ketika Liu chan terkejut, tendangan Mo kwi yang terlebih dahulu loncat keatas langsung menghantam pundak Liu chan.
Liu chan langsung jatuh terduduk, dan Mo kwi telah berdiri didepannya dengan satu kaki menekan pundak Liu chan.
Liu chan menghela nafas dalam dalam, dan berkata.
"Silahkan tuan bunuh hamba,..!!" hamba sudah kalah, Liu chan menyebut dirinya hamba, karna telah di kalahkan oleh Mo kwi.
"Aku tak kan membunuhmu karna aku menyukai sifat mu, bergabung denganku dan janji sumpah setia, maka aku akan mengampuni mu ?"
Tuan, aku tak ingin anak cucuku menghinaku karna aku berkhianat kepada kerajaan.
Baik jika kau ingin mati dan kau tak usah Khawatir, relakan anak dan cucumu menjadi budak seumur hidupnya karna ayah atau kakek mereka kalah perang dan menyerah kalah.
Liu chan tergetar hatinya mendengar perkataan Mo kwi, memang keluarga komandan pasukan, mentri atau keluarga kerajaan yang kalah, jika tidak di jadikan wanita penghibur pasti akan menjadi budak, itupun jika tak mati didalam tahanan.
Ketika Mo kwi akan menebas leher Liu chan.
Komandan pasukan itu berteriak,
"Tunggu dulu tuan..!!"
"Baik..!!" aku menyerah dan siap menjadi budak tuan muda, tapi dengan syarat, jangan jadikan keluargaku tawanan perang." Liu chan berkata.
Mo kwi tersenyum mendengar perkataan Liu chan lalu berkata, "baik..!!" jika perang ini berakhir, kau sendiri yang mengamankan keluargamu, dan aku jamin pasukan putri Qiao tak kan memmngganggu keluargamu.
"Tapi kau, harus di uji terlebih dahulu,..?"
Liu chan mengerutkan keningnya dan berkata, ujian apa yang akan hamba terima.
Tarik pasukan Naga perak yg masih hidup untuk bergabung, jika membangkang tak menuruti perkataan komandannya, bunuh langsung mereka dan jangan ada keraguan, karena mereka sekarang adalah pasukan musuh.
Liu chan langsung terdiam, mendengar perkataan Mo kwi.
Mo kwi lalu menarik kakinya dari pundak Liu chan.
Akhirnya dengan wajah yang terlihat sedih, Liu chan berkata.
"Hamba terima perintah tuan muda"
__ADS_1