Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 117 Kerinduan Hati Dua Orang Gadis


__ADS_3

Mo kwi yang tengah mengejar Hantu gunung terkejut, ketika melihat dari kejauhan, berkelebatnya sinat pedang berwarna biru, yang menenbas kearah Hantu gunung.


Dan setelah dekat, wajah Mo lwi langsung menunjukan raut wajah ceria, karna kedua orang yang tengah berjalan itu adalah tabib Huo, dan kakak angkatnya, Pedang gila.


Paman Huo, "kakak sudah sembuh..?" ketika sampai Mo kwi langsung bertanya kepada Tabib Huo tanpa peduli lagi kepada Hantu gunung, yang ia lihat sudah putus kepalanya oleh tebasan kakak angkatnya.


Sementara itu, Pedang gila ketika melihat kearah Mo kwi, lalu memberi hormat sambil berkata.


"Guru,..!!" senang berjumpa kembali."


Mo kwi langsung memeluk kakak angkatnya itu, tanpa terasa matanya berkaca kaca, Syukur pada yang kuasa, kakak akhirnya bisa selamat, Mo kwi berkata, sambil wajahnya menatap kearah langit.


Dia belum lama sembuh dah sadarkan diri, dan selalu bertanya dimana guru, dimana guru, aku takut dia mengamuk di Beiping, lalu aku membawanya kesini.


Tapi baru sampai, dia sudah membunuh orang, tabib Huo berkata, lalu menarik nafas dalam dalam, sambil melihat kearah Mo kwi.


"Paman Huo,..!!" kakak membunuh orang yang sangat tepat, aku memang sedang mengejar orang itu, dia adalah salah satu prajurit malam Kasim Co yang diutus untuk membunuh putri Qiao dan melemahkan pertahanan dari kota Jinan dan semangat para prajurit yang mempertahankan kota ini dari serbuan pasukan kaisar Zhiangwen yang di pimpin oleh kasim Co.


"Jadi kota Jinan sudah tersusupi oleh para prajurit malam kasim Co.?" Tabib Huo berkata, "yang Mo kwi tahu hanya baru orang ini saja paman, tapi ada kemungkinan masih ada yang lain."


"Lalu di mana ketua sekarang berada..?" tabib Huo berkata, "Lebih baik kita bicara di tempat putri Qiao saja paman," Mo kwi berkata, tabib Huo mengangguk lalu mereka bertiga berjalan kearah tempat putri Qiao berada, dan tak memperdullikan mayat Hantu gunung yang kepalanya terpisah dari badan yang tubuhnya mulai membiru, akibat racun dari pedang kelabang biru milik dari Pedang gila.

__ADS_1


Didalam gedung tempat kediaman putri Qiao, duduk Mo kwi yang di kiri dan kanannya ada sang putri dan Han lian yang raut wajah mereka terlihat sangat gembira, Karna Mo kwi sudah memutuskan untuk tinggal di kota Jinan, dan membantu putri Qiao mempertahankan kota ini, dari serbuan pasukan Musuh, tabib Huo dan Pedang gila duduk dihadapan Mo kwi, sambil meminum arak yang telah disediakan, Mo kwi terseyum, melihat Pedang gila telah kembali seperti dulu lagi.


Mo kwi kemudian menceritakan, sejak keberangkatan mereka dari Beiping dan memburu para penyuplai perbekalan milik kaisar Zhiangwen, dan memberantas rombongan kelelawar hantu dan bagaimana ia hampir tewas terjebak oleh rombongan Hantu pohon di dasar telaga, dan di tolong oleh ayahnya, putri Qiao memegang erat erat tangan Mo kwi ketika ia bercerita hampir tewas di dasar telaga, dan ia tahu Hantu gunung ada misi untuk membunuh putri Qiao dari Hantu pohon yang telah ia bunuh, dan bersama dengan Langkah angin, lalu bergegas kemari untuk menolong putri Qiao dari incaran Hantu gunung,


Tabib Huo mengangguk mendengar perkataan dari Mo kwi, sedangkan pedang gila seperti tak peduli, dan hanya meminum arak, sedangkan putri Qiao menatap mesra wajah kekasihnya, yang telah susah payah menempuh perjalanan jauh tanpa henti, untuk menyelamatkan nyawanya, memang jika tak ada Mo kwi hari itu, putri Qiao pasti akan tewas oleh serbuan Hantu gunung.


"Aku datang kesini karna dia selalu merengek ingin bertemu dengan gurunya, tabib Huo berkata sambil melirik kearah Pedang gila, dan juga membantu dan mengobati prajurit prajurit yang terluka, karna memang hanya kebisaan yang aku miliki, tabib Huo berkata.


"Bagaimana persiapan yang tuan putri buat, untuk menghadapi pasukan kaisar Zhiangwen yang berjumlah besar dan di pimpin langsung oleh Kasim Co sendiri, yang juga sangat terkenal dengan ahli strategi,..?" tabib Huo bertanya kepada putri Qiao.


Putri Qiao lalu memberitahukan bahwa ia telah memasang jebakan di sekitar benteng kota Jinan, dari jebakan lobang lobang yang ditutup oleh, semacam ranting ranting kering yang dibawahnya banyak tombak dan bambu runcing, lalu minyak minyak bakar, yang di tanam, belum lagi pasukan pemanah yang akan menyambut mereka.


Tabib Huo mengangguk mendengar perkataan dari putri Qiao, siasat tuan putri sangat bagus, tetapi, jika pasukan yang membawa perbekalan mereka bisa di hancurkan oleh ketua, itu lebih bagus lagi, kita hanya perlu mengulur waktu, dan akhirnya mereka akan mati kelaparan atau menyerang membabi buta, kearah kota Jinan, dan kita tinggal menghabisi mereka, tabib Huo berkata, putri Qiao, Mo kwi dan Han lian mengangguk mendengar perkataan dari tabib Huo


Mo kwi duduk dikamar yang sudah disediakan, sebuah kamar yang besar, dan nyaman. beberapa hari ia hanya tidur di tenda dan pohon pohon, tapi sekarang sebuah kasur empuk sudah terhampar, dan segala makanan ringan dan sepoci arak tersedia.


Ketika Mo kwi akan merebahkan tubuhnya, terdengar ketukan di pintu kamar.


Mo kwi bangkit, lalu menuju pintu kamar, dan ketika ia membuka pintu, dua orang gadis tersenyum dengan wajah merah sambil tertunduk malu, berkata.


"Kwi koko, bolehkah kami masuk..?"

__ADS_1


Mo kwi lalu mempersilahkan putri Qiao dan Han lian masuk.


Setelah kedua gadis itu masuk, Mo kwi menatap kearah kedua gadis itu bergantian, "Ada yang bisa aku bantu ?" Mo kwi berkata kepada putri Qiao dan Han lian sambil tersenyum.


kedua gadis itu mendengar perkataan Mo kwi tertunduk malu, wajah keduanya merah, putri Qiao lalu berkata, kami berdua ingin berbicara dengan Kwi koko, karna sudah lama kita tidak bertemu, Mo kwi tersenyum mendengar perkataan putri Qiao, lalu berrkata. "kalian ingin bertemu dengan aku atau rindu kepadaku..?" Mo kwi berkata sambil mengedip ngedipkan matanya, melihat hal itu, putri Qiao dan Han lian langsunh memburu dan mencubiti tubuh Mo kwi.


"Kwi koko nakal, Kwi koko nakal," Han lian berkata.


lalu meraih dan memeluk tubuh calon suaminya itu kemudian mencium pipi Mo kwi, "eh kau adik lian, main cium, ridak adil ini tidak adil, putri Qiao berkata, lalu memburu Mo kwi dan mendaratkan bibibrnya yang indah dan kali ini tepat jatuh di mulut Mo kwi, yang membuat wajah pemuda itu langsung merah dan tertunduk malu, enci Qiao curang, "aku kan membalas yang tadi enci lakukan ketika di benteng,..!!" Han lian berkata,


"memang enci melakukan apa ?" tanya putri Qiao, "enci kan mencium pipi Kwi koko, sedangkan aku belum," Han lian berkata polos, putri Qiao yang mendengar perkataan dari Han lian wajahnya langsung merah dan tersenyum malu.


Sekarang aku yang akan mencium bibir Kwi koko, Han lian berkata sambil bersiap menubruk kearah Mo kwi, tapi tangan gadis itu di tarik oleh putri Qiao.


"Kalian bercanda terus," mo kwi berkata sambil tersenyum, "cepat kembali ke kamar kalian untuk istirahat," Mo kwi berkata


Tapi keduanya malah diam mendengar perkataan Mo kwi dan saling pandang.


Malah ganti Mo kwi yang tertegun, ketika mendengar putri Qiao berkata,


Kwi koko, mulai saat ini, kami berdua akan tidur bersamamu disini.

__ADS_1


Wajah Mo kwi langsung merah, mendengar perkataan putri Qiao, dan tak bisa berkata kata.


__ADS_2