
Nenek kharmila tak menampik tangannya yang di pegang oleh pedang gila.
Setelah mendengar perkataan Pedang gila, nenek Kharmila berkata dan suaranya sangat pelan, "Kakak biar aku saja, untuk menebus janji dengan tuan muda Mo cian, mengawalnya sampai Nanjing dengan selamat.
Hmm..!!
"Mereka lelaki, biar lelaki juga yang akan membereskan."
"Hai kepiting tua..!!" hebat juga omongan mu ?" orang ketiga dari Setan pedang berkata.
Nenek kharmila sebenarnya merasa khawatir terhadap pedang gila, nenek itu berpikir, Tuan Mo cian adalah pedagang muda yang sukses, seperti apa yang ia dengar di kota Cho an, tapi melihat gerak gerik dari tiga setan pedang dan Tinju angin beserta adiknya bukan orang sembarangan.
Nenek Kharmila merasa sangsi, apakah kepala pengawal yang memanggilnya adik ini, bisa mengatasi setan pedang, sementara cucunya menghadapi Tinju angin.
Nenek kharmila pernah bersama ayahnya sewaktu gadis datang ke Tionggoan, untuk menemui sahabat ayahnya, dan ia tahu bahwa harga diri seorang lelaki di daratan Tionggoan sangat tinggi, walau ia sangsi tapi tak mau mencegah kepala pengawal Mo cian, hanya akan bersiap menolong, jika kepala pengawal Mo cian ini yang telah memanggilnya adik, mendapat bahaya.
Dan selama didalam kereta, Mo kwi selalu menyembunyikan pancaran tenaga dalamnya, sehingga nenek Kharmila hanya tau, bahwa Mo kwi adalah orang biasa saja, seperti tak mempunyai kepandaian.
Nenek kharmila mundur dan berdiri di samping Mo kwi, dan bersiap jika salah satu diantara mereka ada yang mendapat bahaya.
Orang ketiga dari setan pedang sudah mencabut pedangnya yang berada di punggung, dan memasang kuda kuda, sementara Pedang gila, tangannya sudah meraba, gagang pedang kelabang biru miliknya.
Nhiskala juga telah bersiap melawan Tinju angin, ia tidak mengeluarkan pedang melengkungnya, karna melihat Tinju angin tak mempergunakan senjata.
Setan pedang berteriak sambil melesat, menyerang ke arah pedang gila.
Hiaaaaat..!!
Pedang gila melesat lebih cepat, dan sebuah bayangan berwarna biru berkelebat, dan langsung menghantam, ke arah setan pedang, Setan pedang langsung menangkis bayangan biru itu dengan pedangnya,
Traaang.
Dan langsung melompat mundur, ketika merasakan tangannya yang memegang pedang bergetar, dan ia berusaha memegang pedangnya jangan sampai terlepas.
Orang ketiga dari Setan pedang melihat kedepan, dan ia melihat posisi dari musuhnya masih tetap seperti tadi, bersiap, dengan tangan meraba gagang pedang miliknya.
Saking cepatnya Pedang gila menyerang, mencabut kemudian memasukan pedangnya kembali, tak terlihat oleh setan pedang, saking cepatnya gerakan dari Pedang gila.
__ADS_1
Nenek Kharmila yang melihat gerakan, orang yang memanggilnya adik itu, leletkan lidah, tak menyangka kakek bermuka merah itu permainan pedangnya sangat cepat, ia hanya melihat sebuah pedang berwarna agak kebiruan keluar melesat dan kemudian balik lagi, kembali kedalam sarungnya.
2 setan pedang lainnya melihat hal itu langsung melesat, dan berdiri di samping adiknya.
"Adik liat pedangmu..!!" sang Toako berkata kepada adik ketiganya.
Sang adik terkejut, apalagi ketika melihat ujung pedangnya sudah sumpung, terbabat oleh pedang kelabang biru milik pedang gila.
Sementara Tinju angin, tengah melayani Nhiskala.
Memang tak percuma, ia mempunyai gelar Tinju angin, karna pukulan pukulannya, terkedang mengeluarkan angin, yang bisa membuat kulit terasa perih, Sedangkan Nhiskala, memakai jurus tarian raja ular, ajaran dari neneknya Kharmila, tangannya bergerak seperti se ekor ular, mematuk menyabet melayani tinju angin, dan kedua tangan Nhiskala di aliri tenaga dalam, sehingga tak merasakan angin yang keluar bersama pukulan dari Tinju angin.
Pertempuran keduanya berlangsung sengit, dan kedua tangan Nhiskala bergerak seperti layaknya se ekor ular, menyerang dari kiri dan kanan dan selalu mengarah bagian bagian mematikan dari tubuh, dan kepala Tinju angin.
Keringat dingin mulai keluar dari wajah Tinju angin, apalagi ketika mengetahui, angin dari pukulan pukulannya seperti tak berpengaruh terhadap pemuda berkulit coklat tua itu.
Tinju angin langsung menghantam dada Nhiskala, pemuda itu menghindari serangan dari Tinju angin dan bergerak kesamping kiri, lalu tangan dengan posisi miring langsung menyambar kearah Tinju angin.
Tinju angin terkejut, lalu kepalan tangan kiri langsung bergerak menangkis babatan yang kearah lehernya.
Bhuuk
Tinju badai langsung melesat, dan sampai di samping kakaknya.
Mereka berdua lalu menatap ke arah Nhiskala,
"Ternyata gerakan gerakan mu susah di tebak anak muda..!!" tak percuma kau merantau ke daratan Tionggoan ini, Tinju angin berkata.
Sementara itu pedang gila tengah bersiap, melawan 3 setan pedang.
"Kau sepertinya bukan kepala pengawal biasa, sebutkan siapa dirimu sebenarnya kakek muka merah..?" orang pertama dari setan pedang berkata.
"Guruku memberi nama Pedang gila"
Hmm..!!
"Kau mau mengolok olok kami rupanya..!!" aku belum pernah mendengar, pendekar yang di sebut Pedang gila."
__ADS_1
"Hmm..!!" bicara terus kapan bertempurnya."
Pedang gila mendengus.
Setelah berkata, Pedang gila langsung bergerak, Pedang kelabang biru langsung melesat, membabat pinggang orang pertama, dari Setan pedang.
Setan pedang langsung lompat mundur, tak berani menangkis, karna tadi pedang adiknya putus, ketika beradu dengan pedang kakek itu.
Melihat aksi Pedang gila, orang kedua dan ketiga dari Setan pedang langsung bergerak, satu pedang menyambar kearah kepala, dan yang satunya menyambar kearah kaki Pedang gila.
Pedang gila membabat tangan dari Setan pedang yang menyambar kearah kepalanya, sedangkan kaki nya langsung menendang badan pedang yang menyerang kaki, hingga pedang itu mental dan berbalik. Dji ko ( orang kedua ) langsung menarik tangannya sebelum terbabat, dan sam te ( orang ketiga ) langsung lompat mundur, dan ketiga nya lalu menatap ke arah pedang gila, yang tengah memegang Pedang kelabang biru, yang sekarang baru bisa mereka lihat.
"Pedang gila, jangan terlalu lama..!!" nanti kita kemalaman sampai di Nanjing," Mo kwi berkata.
Mendengar perkataan dari gurunya, Mo kwi.
Pedang gila langsung bergerak menggunakan jurus Pedang kilatnya, Pedang kelabang biru menyambar nyambar kearah ketiga setan pedang, kali ini tiga Setan pedang mereka langsung bergerak menghindar, kemudian bergerak kembali mendekati dan mengepung Pedang gila.
Pedang gila sudah berada di tengah, bergerak menghindar dan balik menyerang kearah Setan pedang yang mengepungnya.
Pedang gila teringat ilmu barunya, dan ilmu iblis gila yang harusnya dengan tangan kosong dimainkan oleh Pedang gila menggunakan pedang.
Pedang kelabang biru bergerak cepat tapi tidak beraturan, Mo kwi yang melihat Pedang gila memainkan jurus iblis gila, pemberian ayahnya dengan menggunakan pedang, tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Sedangkan Nenek Kharmila, mengerutkan keningnya melihat Pedang gila memainkan pedang seperti mencak mencak, kadang menyabet, kadang menggebut, pedangnya di anggap kebutan, Ling ji sampai menutup mulut menahan tawa, melihat Pedang gila memainkan jurus barunya itu,
Tapi yang pasti, Setan pedang sangat kerepotan menghadapi jurus iblis gila menggunakan pedang, mereka tak bisa menebak ke arah mana, pedang berwarna biru itu akan menyerang.
Tapi ketika ketiganya berbareng menyerang secara serempak kearah Pedang gila, dengan jurus Iblis gilanya, pedang gila memukulkan pedang gilanya dengan punggung pedang, iya menepak kepala dari orang pertama Setan Pedang.
"Plaak..,dheeees.
Setelah berhasil menepak, kepala orang pertama, dari setan Pedang, tangan kiri Pedang gila langsung menghantam bahu dari orang kedua, dan Pedang gila langsung melompat kebelakang, menghindari tebasan yang mengarah kaki dari orang ketiga Setan pedang.
Mo kwi tersenyum melihat kakak angkatnya, sedangkan penilaian nenek Kharmila menjadi berbeda dan tak meremehkan lagi, orang yang memanggilnya kakak.
"Toako kau tidak apa ?" adik ketiganya bertanya, ketika melihat kakanya mengusap usap kepala yang tadi di pukul oleh badan pedang kelabang biru, sedangkan orang kedua dari Setan pedang, tangan kanannya langsung lunglai, ketika bahu kanannya terhantam oleh tangan kiri Pedang gila, dan tangannya agak susah diangkat, karna urat besar di bahu, yang menghubungkan tangan yang terkena pukulan tangan kiri Pedang gila.
__ADS_1
Pedang gila menatap bergantian kearah satu persatu wajah dari ketiga Setan pedang, lalu berkata.
Tiga kroco apa sudah siap mati ?