
"Bunuh pemuda itu..!!" Dewa sesat berkata kepada Song kwan.
Song kwan lalu bersujud memberi hormat begitu juga Cao cao.
"Ketua..!!" hamba akan melaksanakan apapun perintah ketua, walaupun nyawa taruhannya, dan mungkin ini adalah penghormatan terakhir hamba kepada ketua."
"Semoga ketua dapat menyelesaikan ilmu nyawa iblis dan menghidupkan 10 penjaga neraka untuk menguasai dunia persilatan dan membalas dendam terhadap perguruan Dewa iblis."
"Tolong sampaikan salam hormat hamba kepada pemilik istana hantu," Song kwan berkata kepada Dewa sesat sambil bersujud.
Hmm...!!
Dewa sesat lalu mengangguk dan memberi isyarat tangan kepada Song kwan, atau yang di kenal sebagai tabib hitam dan berkata.
"Song kwan, akan ku sampaikan salam hormatmu pada majikan istana hantu, tapi ku harap kau bisa kembali dengan selamat."
"Cao cao, ikut dengan Song kwan dan lindungi dia."
"Baik ketua," Cao cao berkata.
"Pergilah, bawa pisau darah naga itu, pisau darah naga ini mempunyai racun api, siapapun yang tergores dengan pisau darah naga, darah nya akan seperti terbakar, dan tewas dengan tubuh menjadi kering, karna darahnya akan habis menguap."
Song kwan mengangguk mendengar perkataan dari Dewa sesat, lalu mengambil pisau darah naga dan di masukan kedalam saku, di dalam bajunya.
Song kwan dan Cao Cao, menaiki tangga batu, untuk menuju ke atas.
Sedangkan kakek kurus yang adalah Dewa sesat kembali melanjutkan semedinya untuk menguasai ilmu nyawa iblis, sebuah ilmu golongan sesat yang bisa membangkitat kan 10 penjaga neraka yang merupakan mayat yang sudah di awetkan untuk di jadikan anak buah yang handal, semakin sakti orang itu ketika hidup, maka mayat yang di sebut 10 penjaga neraka itu tersebut akan semakin hebat.
Song kwan menggerakan wadah obor yang berada di tembok, kemudian terdengar suara, berderak dan lemari bergeser, Song kwan dan Cao cao keluar, kemudian melihat kakek bungkuk telah berdiri di depan lemari.
"Kau katakan pada prajurit itu, supaya menunggu sebentar, aku ingin berganti pakaian terlebih dahulu sambil menyiapkan peralatan."
Si bungkuk kemudian keluar menemui komandan prajurit yang datang untuk menjemput tabib Song, dan memberitahukan untuk menunggu tabib Song berganti pakaian.
Komandan itu mengangguk dan mengerti, kemudian duduk di ruangan menunggu tabib Song datang.
Tak lama kemudian tabib Song keluar, rambutnya di gelung keatas dan di ikat dengan pita ber warna hitam.dengan baju dan jubah ber warna abu abu
Dan di belakangnya seorang pria paruh baya yang memakai pakaian putih membawa kotak peralatan tabib Song.
"Ada apa tuan prajurit ?" tabib Song berkata ketika memasuki ruangan.
"Tuan tabib di minta datang ke rumah gubernur Liang cu."
"Yang kau maksudkan adalah Hakim Cu, tabib Song berkata, Tuan tabib, terjadi sesuatu dan kau sepetri biasa tak tahu apa apa." gubernur Liao pan berkata.
Tuan Komandan, hamba jarang keluar karna menyiapkan obat, untuk di jual krmbali.
"Aku tau tabib Song,"
"Silahkan tabib," Komandan prajurit berkata.
Lalu Tabib Song naik ke kereta kuda yang sudah di siapkan komandan pasukan prajurit kota Tianjin.
Kereta berjalan perlahan di jalan berbatu.
Song kwan teringat kembali, ketika kecil, ia hidup terlunta lunta kemudian di temukan oleh Dewa sesat.
Lalu dia diambil oleh Dewa sesat, tapi setelah di lihat susunan tulang dari Song kwan tidak cocok untuk mempelajari silat, Dewa sesat ingin membunuh Song kwan tapi akhirnya tidak tega, karna Song kwan sangat penurut, setelah berpikir masak masak Song kwan di berikan kitab kitab pengobatan yang di curi dari beberapa tabib terkenal dan ternyata dalam.hal ilmu pengobatan, Song kwan sangat berbakat, dan tak lama mempelajari kitab kitab itu.
Akhirnya Dewa sesat memutuskan Song kwan untuk di didik mempelajari pengobatan untuk ikut membantu meluluskan usahanya dalam menguasai dunia persilatan, Song kwan akhirnya menjadi orang kepercayaan dari Dewa sesat, sudah banyak nyawa yg ia selamatkan, dan Dewa sesat masih hidup sampai sekarang juga, berkat keahlian dari Song kwan.
Jika perguruan Dewa iblis yang di dirikan oleh Thian mo mempunyai Huo in, maka perkumpulan Dewa sesat mempunyai Song kwan yang di kenal dengan nama Tabib hitam di kalangan mereka.
"Dan sekarang adalah waktu ku dalam membalas budi dari Dewa sesat yang telah mengurusku dari kecil," Song kwan berkata, sambil tangannya masuk kedalam saku baju, memegang salah satu mustika dunia persilatan pisau darah naga.
Lamunan Song Kwan terhenti ketika melihat rumah gubernur Liang cu di pusat kota.
"Cao cao, apakah kau sudah siap dengan misi bunuh diri ini ?"
Cao cao, mengangguk dan berkata, "aku masih hidup sampai sekarang, karna tabib Song yang telah meyelamatkan hidup ku, mati pun aku tidak menyesal karna hidup ku adalah milik ketua."
Song kwan tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan dari Cao cao.
Dewa sesat ketika berkata, "aku harap kalian bisa kembali dengan selamat," adalah kata kata untuk menghibur saja.
Karna mereka tahu susah kemungkinan bagi mereka untuk bisa kembali hidup hidup, berhasil atau tidak menjalan kan misi membunuh pemuda yang di ceritakan oleh Cao cao, mereka yakin mereka pasti tewas dan Song kwan berpikir mereka harus berhasil menjalankan misi ini, untuk mensukseskan usaha ketua mereka Dewa sesat, untuk menguasai dunia persilatan.
Kereta kuda memasuki halaman rumah gubernur kota Tianjin yang baru, gubernur Liang cu.
Song kwan kemudian turun dari kuda dan di antar oleh komandan prajurit untuk bertemu gubernur Liang cu.
Gubernur Liang cu, Hek mo dan Hek kwi berdiri ketika melihat Song kwan masuk bersama dengan Cao cao.
Song kwan kemudian memberi hormat kepada gubernur Liang cu.
"Maaf gubernur Liang cu, apa yang bisa hamba bantu ?"
"Tabib Song untung kau cepat datang, mari mari, sini..!!" gubernur Song berkata, sedangkan Hek kwi menatap tajam ke arah Song kwan dan Cao cao.
"Tabib Song..!!" penolong kota Tianjin terluka dan sebelum tabib dari istana kami panggil, aku harap kemurahan hati tabib Song untuk melihat dan mencoba membantu mengobati tuan muda Mo kwi."
Gubernur Liang cu berkata.
"Hamba hanya tabib kampung saja gubernur Cu, tapi jika tuan gubernur percaya, maka hamba akan berusaha dengan kemampuan yang hamba miliki untuk mengobati tuan muda yang sakit."
"Apa kau seorang tabib, dan bisa menyembuhkan adik ku ?" Hek mo berkata kepada Song kwan.
"Hamba tak bisa menjanjikan tuan, tapi hamba akan berusaha jika hamba mampu," Song kwan berkata sambil memberi hormat kepada Hek mo.
Hek mo mengangguk mendengar perkataan dari Song kwan, kemudian menatap ke arah Hek kwi.
"Siapa dia ?" Hek kwi berkata kepada Song kwan sambil menunjuk kearah Cao cao.
"Cao cao adalah murid sekaligus pembantu hamba tuan, dan gubernur juga sudah tau dengan murid hamba ini," Hek kwi kemudian menatap gubernur Liang cu yang mengangguk ketika melihat tatapan Hek kwi.
Dan memang Song kwan selalu membawa Cao cao jika mengobati orang di kota Tianjin.
"Silahkan tuan Tabib..!!" Hek kwi berkata setelah melihat bahwa gubernur Liang cu seperti sudah mengenal akrab tabib Song.
Song kwan lalu mengikuti, di belakang gubernur Liang cu, sementara di belakang mereka Hek mo mengikuti.
__ADS_1
Hmm...!!
Siapa anak muda yang di ceritakan oleh Cao cao ini, ketika melihat di depan kamar, dan seorang kakek tinggi kurus yang bertangan panjang dan berambut putih, dan seorang kakek dengan pedang di pinggang dengan kulit wajah berwarna merah.
Dewa langit dan Pedang gila membuka pintu kamar, lalu mempersilahkan mereka masuk setelah mendapat isyarat tangan dari Hek kwi.
Mereka lalu masuk, dan Song kwan melihat seorang pemuda tampan dengan wajah pucat sedang terbaring di ranjang. di temani oleh gadis muda dan seorang nenek tua yang berkulit coklat yang sepertinya bukan dari daratan Tionggoan.
Song kwan mencatat baik baik semua orang yang mereka lihat dan kemungkinan berhasil atau tidaknya ia menjalankan perintah ketuanya Dewa sesat, untuk membunuh pemuda yang sekarang tengah terbaring di atas ranjang.
Gubernur Liang cu memberi hormat kepada Mo kwi yang tengah terbaring kemudian kepada Ling ji.
"Nyonya, ini tabib yang hamba janjikan," gubernur Liang cu berkata.
Ling ji mengangguk setelah melihat Hek kwi memberi isyarat dengan anggukan kepala.
Lalu Ling ji mempersilahkan tabib Song untuk memeriksa keadaan suaminya.
Song kwan lalu mendekati dan duduk di kursi yang telah di sediakan di sisi tempat tidur Mo kwi.
Song kwan lalu memeriksa urat nadi besar di pergelangan tangan Mo kwi.
Song kwan mengangguk anggukan kepala,
Kemudian berkata, "maaf jika boleh hamba tau, apa sebab sakit yang di derita oleh tuan muda, hamba memeriksa, nadi di tangan tuan muda dan peradaran darah di tubuh tuan muda sepertinya tak lancar."
"Dan jalan darah banyak yang tersumbat," Hek mo mengangguk mendengar perkataan dari Song kwan.
"Dia terkena pukulan musuh di punggungnya," Hek mo berkata.
"Tak kusangka Tianjin mempunyai seorang tabib handal," Hek mo berkata, "hamba hanya mempelajari pengobatan dari beberapa biksu dan pendeta perantauan." Song kwan membalas perkataan Hek mo.
Song kwan lalu memeriksa punggung Mo kwi.
Song kwan lalu mengambil sebuah batang kayu bulad yang sudah biasa di pakai untuk mengurut melancarkan aliran darah.
Ketika mengambil batang kayu itu mata dari Song kwan sempat melirik sekeliling dan ia lalu mengambil kayu dan mulai mengurut punggung Mo kwi setelah menotok, di beberapa urat di punggung Mo kwi.
Hoaaaks...!!
Mo kwi memuntahkan gumpalan darah berwarna hitam dari mulutnya.
Ling ji dan yang lain terkejut, melihat Mo kwi memuntahkan darah darah beku sebesar ibu jari.
mereka langsung melesat, mendekati ranjang.
Hek mo langsung menyambar Song kwan, kemudian menarik dan mengangkat tubuhnya siap untuk di banting, sedangkan Dewa langit tangannya sudah mencekal tenggorokan dari Cao cao.
Sedangkan gubernur Liang cu tubuhnya langsung gemetar, apalagi ketika melihat Pedang gila menatap kearahnya sambil memegang gagang pedang kelabang biru yang berada di pinggangnya.
Ling ji mengusap dan membersihkan darah di sekitar mulut Mo kwi.
Wajah Mo kwi mulai terlihat merah, dan tidak sepucat tadi.
"Tunggu dulu,..!!" Ling ji berkata.
Kwi koko, mulai agak membaik Ling ji berkata dengan suara gembira.
Hek mo mendengar perkataan dari Ling ji langsung menurunkan tubuh Tabib Song yang siap akan di banting olehnya.
Cao cao memegangi tenggorokannya, tanpa terasa keringat dingin keluar dari badan Cao cao.
Cao cao ada sedikit kepandaian tapi tak berani ia menggunakannya.
Song kwan dan Cao cao saling pandang dan mereka saling memberi isyarat mata, untuk tidak bertindak. hari ini.
Setelah Ling ji dan yang lain meminta maaf, kemudian tabib Song mulai kembali mengurut urut punggung Mo kwi dan Cao cao menyiapkan ramuan obat untuk memperlancar peredaran darah Mo kwi dari dalam.
Cao cao lalu memberikan bahan bahan obat yang tadi telah di tulis oleh tabib Song.
Ling ji mengambilnya lalu menyuruh seorang dayang untuk merebus bahan obat itu.
Keringat bercucurun dari wajah tabib Song ketika selesai mengurut tubuh Mo kwi.
Setelah berada di kamar, tabib Song baru bisa bernafas dengan lega, begitu pula dengan Cao cao.
"Cao cao, agaknya kita harus menginap lagi beberapa hari, melihat orang orang yang menjaga pemuda itu semakin membuatku ingin membunuh tuan muda itu, apa dia juga yang membunuh setan tawa dan setan senyum Liao pan, Cao cao" mengangguk mendengar perkataan dari Song kwan.
"Tabib Song benar, jika kita tak bertindak hati hati, maka kita sendiri yang akan tewas tanpa mendapatka hasil apa apa," Cao cao berkata, tabib song mengangguk mendengar perkataan dari Cao cao.
Sementara itu di kamar tempat Mo kwi.
Ling ji memapah Mo kwi yang berkata hendak duduk, apa Kwi koko sudah bisa duduk dengan punggung tegak, Ling ji berkata.
Mo kwi kemudian tersenyum, mendengar perkataan Ling ji dan mengangguk, "tabib itu hebat, sebuah permata yang tertimbun," Mo kwi berkata.
"Tubuh ku sudah tidak merasa kaku lagi setelah di urut oleh tabib Song,"
"Kwi koko, ini waktunya minum obat, obat ini pemberian tabib Song," Mo kwi kemudian mengambil mangkok keramik yamg di sodorkan ling ji yang berisi cairan obat lalu meminumnya.
Hawa hangat langsung terasa di perut, kemudian naik ke tenggorokan ketika Mo kwi meminum obat itu.
Mo kwi mengangguk anggukan kepalanya ketika merasakan khasiat obat yang telah di berikan Ling ji, dan di dalam hatinya ia berterima kasih kepada tabib Song.
"Kwi koko bagaimana dengan tenaga dalam mu, apa sudah lancar kembali ?" Mo kwi menggelengkan kepala, wajah nya terlihat sedih ketika mendengar Ling ji mengatakan hal itu.
Mungkin beberapa hari lagi, Kwi koko sudah bisa normal kembali.
"Paman Hek kwi sudah memberitahu pitri Qiao untuk mengrimkan Tabib Huo in, untuk lanjut mengobati Kwi koko, tapi mereka akan sampai beberapa hari lagi, itupun jika tabib Huo berada di kota raja."
"Aku rasa jika tulang tulangku sudah kembali normal, aku rasa aku bisa mulai melatih dan membangkitkan tenaga dalam ku yang buyar.
Hari ke 2 pengobatan.
"Tuan muda jangan memaksakan diri untuk menggunakan tenaga dalam karna itu akan berbahaya buat tuan muda sendirii," tabib Song berkata.
Mo kwi menganggukan kepala ketika mendengar perkataan dari tabib Song.
"Paman tabib sungguh hebat, cara pengobatan paman hampir sama dengan paman ku yang menjadi tabib." Mo kwi berkata.
"Tuan, hamba adalah tabib kampung, dan hanya biasa menyembuhkan tulang yang patah dan menyembuhkan penyakit penyakit yang biasa di derita oleh penduduk kampung di sekitar kota Tianjin."
__ADS_1
"Tabib Song orang baik," Mo kwi berkata, "jika tabib Song mau, aku bisa menghubungkan tabib Song dengan pihak istana, dan menjadi tabib di kota raja."
"Tuan muda hamba tak pantas bekerja di kota raja, hamba senang bekerja di sini, membantu anak anak yang sakit dan membutuh kan pertolongan."
Mo kwi lalu memegang tangan tabib Song kwan dan berkata.
"Tuan tabib adalah orang baik, jangan sia siakan kebaikan tuan dengan hal hal yang bisa merusak citra tuan sebagai seorang tabib."
Tabib Song matanya berkaca kaca, ia merasa terharu mendengar perkataan dari Mo kwi.
Baru kali ini ia mendengar perkataan tulus orang yang memuji nya tanpa bermaksud imbalan atau sesuatu.
Cao cao, berdehem melihat Mo kwi dan tabib Song saling berpegangan tangan.
"Aku memeriksa ada yang aneh dalam tubuh tuan..!!"
Mo kwi tersenyum dan berkata, "apa yang tuan tabib temukan dalam tubuh ku ?"
Racun tuan, racun yang sangat besar, Tabib Song berkata.
"Hampir di seluluh aliran darahku ada racun paman, dan aku sejak dari lahir memang sudah di beri racun oleh kakek ku atas perintah ibu."
Tabib Song mengangguk mendengar perkataan Mo kwi.
"Tuan muda, besok mungkin terakhir pengobatan yang hamba akan lakukan dan, hamba ingin berkosentrasi menotok urat urat syaraf yang menyumbat putaran tenaga dalam di dalam tubuh tuan muda Mo.
"Jika di perkenankan, biar hamba dan tuan berkosentrasi, untuk menyembuhkan tuan untuk yang terakhir kali, karna hamba akan melanjutkan, dan mengamalkan kemampuan hamba untuk membantu para penduduk yang sedang mengalami musibah."
"Baik tabib Song..!!" besok kita selesaikan pengobatan, dan sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih kepada tabib Song yang sudah 2 hari selalu mengobati ku."
Tabib Song tersenyum, begitu juga dengan Cao cao.
Hari ke 3 pengobatan.
Pagi pagi, tabib song sudah datang ke kamar Mo kwi, Tabib Song kwan mengerutkan dahinya ketika pagi pagi melihat Ling ji, Dewa langit, Pedang gila dan istrinya nenek kharmila, sudah berada di dalam kamar pemuda itu.
Maaf jika tuan muda menunggu terlalu lama, tabib Song berkata.
Mo kwi tersenyum, melihat kedatangan tabib yang telah mengobati luka dalam nya selama 2 hari, dan melambaikan tangannya untuk mendekat.
"Kalian keluar lah dahulu, ini pengobatan terakhir ku dan aku tak ingin di gangu. kalian tunggu saja di luar" Mo kwi berkata.
Ling ji ingin berkata, tapi Mo kwi mengangkat tangan supaya Ling ji tak menerukan perkataannya.
Ling ji, Dewa langit, Pedang gila dan nenek Kharmila lalu keluar, dan di kamar hanya tersisa, Mo kwi, tabib Song dan Cao cao.
Mo kwi duduk kemudian seperti biasa Tabib song mengurut urut punggung Mo kwi dan melancarkan peredaran darahnya.
Lalu Mo kwi berbalik, kemudian tabib Song berhadap berhadapan dengan Mo kwi.
Sreet...tuk,..tuk.
Dua kali dada Mo kwi di totok oleh tabib Song.
Mo kwi mengerutkan keningnya ketika dadanya di totok oleh tabib itu.
"Maaf tuan muda Mo, aku hatus menuntaskan balas dendam perguruan kita, hamba bernama Song kwan, dan dikenal dengan julukan tabib hitam, selama 2 hari berkumpul bersama, aku merasa tuan muda Mo adalah orang baik, dan aku tidak tega mencelakai, tapi dendam yang berkarat antara Thian mo dan Dewa sesat yang membuat kita bertemu dengan keadaan seperti ini."
"Jika tuan muda Mo kwi jantan dan tidak berteriak maka aku akan membuka totokan suara tuan, untuk menyampaikan kata kata terakhir, yang tuan akan sampaikan."
"jika tuan setuju tolong kedipkan mata"
Mo kwi kemudian mengedipkan matanya
Tuk.
Mo kwi menghela nafas dan menatap Song kwan, "sungguh sangat di sayangkan orang sepertimu bisa menjadi budak dari dewa sesat, jika kau ingin membunuhku silahkan..!!" tapi ingat mungkin kau juga akan terus menjadi buronan perguruan Dewa iblis."
"Tabib Song cepat..!!" waktu kita tinggal sedikit."
Cao cao berkata.
Tuan muda, Budi dan dendam tak ada batasnya, semua nya tertutup sebuah selaput tipis sehingga orang gampang melihat dan mengenangnya.
Di antara mata ada sebuah rahasia.
"Maaf kan hamba tuan muda."
Silahkan tabib Song, Mo kwi berkata, tubuhnya sudah tak bisa bergerak, tenaga dalamnya juga masih tersumbat.
Song kwan kemudian mengeluarkan pisau darah naga, dari balik bajunya.
Lalu pisau kecil berwarna merah itu, perlahan masuk ke perut Mo kwi di atas pusarnya, tak ada darah yang keluar.
Mo kwi mengerutkan kening nya, perutnya terasa sangat panas seperti terbakar, keringat dingin mulai keluar, darahnya seperti bergolak karna panas.
Wajah pemuda itu perlahan pucat.
"Cao cao coba kau tengok keluar, tabib song berkata.
Cao cao lalu beranjak kearah pintu.
Ketika Cao cao, menuju pintu.
Tabib song berbisik di telinga Mo kwi, lepaskan semua beban, terima semuanya, setelah mendengar perkataan dari Song kwan
perlahan Mo kwi matanya mulai menutup.
"Di balik kesedihan ada kegembiraan."
"Selamat tinggal tuan muda."
Ketika akan mencabut pisau, tabib Song terkejut melihat 2 ular merah, Coa mo dan Coa kwi.
"Ular gurun," mari kita cepat pergi dari sini, dia akan terus duduk, seperti itu mari kita keluar dan memberi tahu.
Keduanya lalu bergegas, setelah keluar kamar.
Tabib Song bertemu Ling ji, lalu berkata, sambil memperlihatkan punggung Mo kwi yang terlihat dari luar kamar tengah duduk bersila.
"Tuan Muda sedang mencoba untuk mengumpulkan tengada dalamnya yang buyar, harap siapapun jangan ada yang mengganggu, karna bisa menyebabkan jalan api ke neraka."
__ADS_1
Ling ji tersenyum dan mengangguk kepada tabib Song kwan dan berkata.
Terima kasih