
Minamoto menatap Shin mo, sedangkan Oijin menatap ke arah Mo kwi, mereka sudah di beritahu oleh Dewa sesat, selain pelindung perguruan Dewa iblis, kedua orang itulah yang sangat berbahaya bagi perkumpulan Bajak merah.
"Tuan tuan, bagaimana dengan tawaran kami ?"
Lamunan Minamoto buyar ketika mendengar perkataan dari pemandu acara.
Minamoto tersenyum ketika melihat banyak dari tamu undangan pindah ke tempat mereka, dan hanya menyisakan rombongan Dewa iblis dan sedikit orang orang dunia persilatan.
Pemandu acara selesai berkata kata kemudian mempersilahkan ketua perguruan Pedang timur untuk memberi kata sambutan.
Minamoto berjalan ke arah panggung arena, setelah sampai tanganya di angkat, memberi isyarat kepada para tamu undangan dan penonton yang hadir untuk diam.
Suasana menjadi hening.
Setelah tak ada lagi yang berkata, kemudian Minamoto berkata.
Tuan tuan pendekar dari berbagai kerajaan dan negri negri di sekitar kota Gaya.
Kami yang tadinya bernama perkumpulan Bajak merah, kali ini berganti nama secara resmi, akan menjadi perguruan Pedang timur.
Usaha dan kegiatan yang dulu perkumpulan Bajak merah lakukan tuan tuan pasti tau, dan kami kedepannya tak akan melakukan hal itu lagi, kami akan berbisnis secara resmi, menjadi pengawal, membuka usaha jasa pengiriman, bahkan berdagang secara resmi.
Markas kami yang berada di pulau Tamna, akan secara bertahap pindah ke kota Gaya.
Kami akan membuka banyak cabang, oleh sebab itu kami membutuhkan kawan yang mau bergabung untuk ikut bekerja sama, membantu kami berkembang.
"Dasar perompak, tetap saja perompak," seseorang berkata dengan kencang.
Wajah Minamoto berubah merah, terlihat raut wajahnya sangat gusar dan marah sekali mendengar perkataan dari orang yang duduk di bangku tamu.
Kami tak mau banyak bicara, dan kami juga membawa teman teman dari negara kami untuk sekedar berkenalan, jika saja ada yang ingin saling berkenalan dan berbagi kepandaian silahkan, dan yang tadi menyebut kami perompak silahkan ke panggung untuk berkenalan dengan para samurai dari negri kami.
Beberapa Buke ( ahli bela diri ) yang duduk dekat bangku minamoto sudah tak sabar.
Setelah minamoto kembali ke tempat duduknya seorang pria paruh baya melesat ke arah panggung.
"Aku si Tinju maut, ingin meminta pertanggung jawaban atas penyerangan kapal ayahku yang di serang oleh perkumpulan Bajak merah !"
Hmm...!"
Pemandu acara yang bernama Musashi dan merupakan adik seperguruan dari Minamoto mendengus, "apa kau tak dengar dan lihat, kami sudah tidak lagi menjadi perkumpulan Bajak merah, tetapi perkumpulan pedang timur."
"Di daratan Tionggoan ada istilah mencuci kedua tangan dalam baskom, dan semua masa lalu nya di anggap hilang, dan mulai dari awal kembali.
Kamipun tadi seperti itu, apa kau masih juga tidak mengerti ?" Musashi berkata.
Phuuih...!!
Tinju maut meludah, mendengar perkataan dari Musashi dan berkata.
Aku tau adat dan tradisi orang yang mencuci kedua tangan di baskom, akan di anggap semua urusannya di dunia persilatan, segala budi dan dendam akan terhapus, tapi dia harus berhenti, dan tak ikut campur lagi dalam urusan dunia persilatan, tapi apa yang di lakukan perkumpulan Bajak merah, setelah kenyang merampok orang, lalu ingin dosa mereka di hapus dan berubah nama menjadi perguruan Pedang timur."
"Pintar sekali otak kalian itu !"
Wajah musashi berubah kelam mendengar perkataan tinju maut dan berkata, "baik !" apa tuan bersenjata ?"
Senjataku adalah ini, Tinju maut berkata sambil mengepalkan tangannya ke atas.
"Myura !" kau hadapi dia."
Musashi menyebut nama dan memanggil Myura kedalam panggung.
__ADS_1
Seorang pria langsung lompat keatas panggung.
Pria paruh baya dengan ciri khas yang sama, dengan rambut di kuncir ke atas berdiri di tengah panggung.
"Tuan Tinju maut, perkenalkan namaku Myura dan aku di tempatku di sebut sebagai ahli jujutsu, jika di tempat kalian di sebut pertarungan tangan kosong," Myura berkata, dan Myura terkenal dengan jujutsu yang menyerang kelemahan kelemahan dan bagian tubuh terlemah dari lawan.
Setelah keduanya saling memberi hormat, karna walaupun tinju maut hatinya geram, tapi di tempat resmi, ia juga harus menunjukan sopan santun dan aturan dunia persilatan tentang pibu yang lebih dulu saling menghormati.
Tinju maut yang bernama, Cie kong kemudian melihat Myura yg santai, lalu menyerang ke arah Myura, tinjunya menghantam dada Myura.
Myura tidak menghindar, Tangan kiri menangkis serangan ke arah dada, kemudian tangan kanan Myura menghantam pinggang Cie kong.
Cie kong dengan tangan kiri menangkis, lalu kakinya menendang ke arah kaki Myura.
Myura loncat menghindari tendangan kaki Cie kong, setelah berada di atas, Myura sambil berputar, kakinya menendang kepala Cie kong.
Cie kong tangan kanannya langsung menangkis.
Plaaak...!
lalu tangan kirinya langsung meninju ke arah perut Myura.
Myura yang mendapat serangan, dengan mangandalkan pantulan dari kakinya yang di tahan, bergerak kesamping kanan menghindari tinju dari Cie kong.
Setelah turun kemudian Myura menunduk, sambil berputar kakinya menyepak kearah Kaki Cie kong.
Cie kong lompat ke atas, tapi Myura langsung melentingkan tubuhnya, dan tangannya dengan telapak di miringkan menyabet pinggang Cie kong yang tidak terjaga.
Buuuuk...!!
Cie kong terpental dan dari mulutnya ada darah keluar melalui sela bibir.
Tapi Myura tersenyum, sambil menghindari serangan serangan dari Cie kong, dan terkadang Myura balas menyerang.
Adu pukulan dan tangkisan terjadi, tapi Cie kong dirugikan karna nafsunya yang tinggi, dan emosi menutup ke waspadaan dari Cie kong sendiri.
Hingga ketika Cie kong meninju ke arah Myura.
Myura manangkap tangan Cie kong, lalu Myura menekuk pergelangan tangan kiri Cie kong.
Kreeeek...!!
Cie kong menjerit, dan tubuhnya langsung terlempar, ketika tendangan Myura dengan telak telah masuk ke perut Cie kong.
Aiiiiissshh..!!
"Tinju maut kupikir hebat, ternyata cuma gelar kosong saja," Myura berkata lalu tertawa.
Ha ha ha.
Huo in langsung memburu Cie kong yang terlempar ke pinggir arena, memeriksa kemudian menarik narik pergelangan tangan.
Kreeek...!!
Huo in telah menyambungkan kembali pergelangan tangan Tinju maut, dan menyuruhnya istirahat.
Sebuah bayangan berwarna putih melesat masuk ke dalam arena.
"Siapa kau ?" tanpa di suruh, sudah lancang memasuki arena pertarungan," Myura berkata.
Tapi kakek yang tak lain adalah Dewa langit, tanpa berkata, tangannya yang sudah berbentuk cakar langsung menyambar ke arah tenggorokan dari Myura.
__ADS_1
Myura terkejut, ketika melihat serangan cepat dari Dewa langit.
Tubuhnya langsung mundur 2 langkah ke belakang.
Myura menatap ke arah Dewa langit.
"Kakek tua, siapa kau sebenarnya dan kenapa kau tiba tiba menyerang ku ?"
Hmm..!!
Dewa langit mendengus, kemudian berkata,
"jika takut mundur saja !"
"Apa kau bilang, aku takut !"
"Enak saja kau bicara kakek tua." Myura berkata.
"Orang tua, apa kau ingin melawan anak buah kami ?" Musashi berkata sambil menatap ke arah Dewa langit.
"Aku tak pernah memakai senjata, mau lawan siapa saja terserah !" Mo kwi yang melihat aksi dewa langit hanya tersenyum dan tak melarang.
Dan Mo kwi juga ingin tahu ilmu silat tangan kosong dari negri sebrang.
Musashi lalu memberi tanda kepada Myura untuk melayani Dewa langit.
Myura setelah mendapat isyarat dari atasannya, langsung bergerak menyerang ke arah Dewa langit.
Pukulannya mengarah ke leher dewa langit, Dewa langit kemudian menangkis, dan tangan kirinya langsung mencengkam tangan kiri Myura.
Myura terkejut, ketika tangannya berhasil di pegang oleh Dewa langit, kakinya berusaha menedang perut Dewa langit, tapi gerakannya tertahan ketika Dewa langit menyentakan tangan kirinya, dan tubuh Myura meluncur mendekati Dewa langit.
Setelah Myura mendekat, tangan kanan Dewa langit langsung mencengkram tangan kanan Myura.
Myura terkejut dan berusaha melepaskan kedua tangannya, tapi cengkraman tangan Dewa langit sangat kuat, sehingga Myura tak berhasil.
krek, kreek, aaarrggghh
Myura menjerit ketika kedua tangannya di tekuk oleh Dewa langit dan terdengar suara patahan tulang dari tangan Myura.
Setelah berhasil mematahkan tangan Myura, Dewa langit langsung melemparkan tubuh Myura ke arah rombongan perkumpulan Bajak merah.
Wajah Minamoto langsung berubah kelam ketika melihat aksi Dewa langit yang sangat mudah mematahkan kedua tangan anak buahnya.
Minamoto lalu memberi isyarat tangan.
Ketika Dewa langit hendak kembali ketempat duduknya.
Sebuah bayangan melesat, dan menebas ke arah Dewa langit.
Bayangan merah dari rombongan Mo kwi melihat Dewa langit di serang, langsung mengeluarkan pedang dan menangkis pedang lawan yang berusaha menebas tubuh Dewa langit.
Traaang...!!
Kedua senjata beradu, keduanya lalu mundur, Dewa langit seperti tak peduli dia di serang, ia kembali ke tempatnya dan duduk, lalu melihat ke arah panggung.
Pedang gila, sudah berdiri diatas panggung menangkis pedang melengkung milik Taiko yang tadi berusaha membokong Dewa langit.
Pedang gila menatap ke arah Taiko dan berkata.
"Sudah kubilang, kau adalah lawanku Teko"
__ADS_1