
Mo kwi terbangun ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk, dengan agak malas ia bangun, sementara disampingnya, putri Qiao dan Han lian masih tidur dengan nyenyak.
Mo kwi melihat seorang pelayan dan Pedang gila sudah berdiri di depan kamar, setelah mengantar Pedang gila, pelayan itu kemudian berlalu.
"Guru," Pedang gila berkata, dan memang biasanya ia selalu bersama dengan Mo kwi, ketika terbangun Pedang gila langsung mencari kamar Mo kwi, yang kemudian diantar oleh pelayan, kekamar Mo kwi.
Mo kwi yang sudah terbiasa dengan Pedang gila yang jarang bicara hanya tersenyum, kemudian menuangkan arak kedalam cangkir Pedang gila, yang tanpa basa basi langsung diminum, dan hana duduk diam di kursi.
Tak lama kemudian putri Qiao dan Han lian bangun, ketika melihat Pedang gila ada di ruangan, tengah duduk, Putri Qiao tersenyum malu, "paman sudah berada disini rupanya," putri Qiao berkata, dan tak dijawab oleh pedang gila, hanya mimik muka saja yang terlihat mengerutkan kening, lalu menuangkan poci arak sambil menyerahkan cangkir kearah putri Qiao dan berkata, Subo ( istri guru ) putri Qiao terkejut mendengar perkataan dari Pedang gila kemudian tertawa senang, lalu putri Qiao mengambil poci arak dan menuangkan arak kecangkir Pedang gila yang sudah kosong, lalu keduanya minum bersama.
Han lian terbangun ketika mendengar suara tertawa dari putri Qiao, setelah membereskan pakaiannya yang telihat acak acakan, kemudian Han lian turun dari ranjang kemudian duduk disamping Mo kwi yang tertunduk malu.
"Enci lagi berbicara apa ?" sampai aku mendengar suara enci tertawa dan terbangun,"
"Adik lian kau tidur seperti orang pingsan saja, kami dari tadi ngobrol ngobrol, kau baru bangun."
Han lian menatap kearah Mo kwi, wajahnya merah kemudian tertunduk malu sambil berkata, aku lelah sekali enci Qiao" Han lian ketika berkata wajah nya merah, putri Qiao tersenyum mendengar perkataan dari Han lian, dan tak bertanya lagi.
"Adik lian kau tau tidak, tadi paman Pedang gila berkata apa padaku..?" Han lian mengerutkan kening ketika mendengar, putri Qiao bicara ia mendengar perkataan darì Pedang gila
"Memang apa yang dikatakannya," Han lian berkata
kepada putri Qiao.
Paman Pedang gila memanggilku Subo, putri Qiao berkata sambil tersenyum, sedangkan Mo kwi hanya duduk diam.
Coba kau tanya saja jika kau tidak percaya." putri Qiao berkata.
Han lian lalu menatap kearah Pedang gila, lalu berkata, "paman Pedang gila, apa paman tau siapa aku ?" tanya Han lian.
Pedang gila hanya menatap cangkir arak nya yang kosong, dan tak lama kemudian keluar perkataan dari mulutnya, "Selir guru," Putri Qiao yang mendengar perkataan dari Pedang gila, sontak langsung tertawa geli, sedangkan Mo kwi tersenyum, sedangkan Han lian cemberut mendengar perkataan dari Pedang gila.
"Aku bukan selir Kwi koko paman, aku istrinya, Subo paman.!!" Subo," Han lian berkata, sedangkan Pedang gila hanya diam dan tak melihat kearah Han lian,
Ketika Pedang gila hendak mengambil poci arak, poci itu disambar oleh Han lian, kemudian berkata, "coba paman sebut lagi, nanti aku tuangkan arak buat paman, jika paman menyebut Subo padaku," Han lian berkata, Pedang gila mengerutkan kening, ketika poci araknya di ambil oleh Han lian, dan tak bicara, hanya diam, sedangkan putri Qiao terus tertawa, melihat Han lian dan Pedang gila.
Mo kwi hanya bisa tersenyum.
lalu berkata untuk mengalihkan perhatian, aku nanti akan memeriksa keluar benteng bersama kakak,
Putri Qiao mengangguk mendengar perkataan Mo kwi, lalu kedua gadis itu keluar, dari kamar Mo kwi, dan Han lian sebelum keluar melotot kearah Pedang gila yang tak peduli dengan Han lian yang tengah meolotot kearahnya.
Siang hari 2 ekor kuda keluar dari gerbang kota Jinan, Mo kwi dan Pedang gila ingin melihat situasi di luar kota Jinan, setelah di beri tahu tempat tempat jebakan yang di pasang oleh putri Qiao dan komandan pasukan, Mo kwi bersama Pedang gila, melihat lihat sekitar luar dari gerbang kota Jinan.
Setelah melewati padang rumput yang berada di depan benteng kota, kemudian Mo kwi memasuki sebuah hutan yang tak begitu lebat.
__ADS_1
Walau terdapat jalan yang membelah Hutan itu tapi tak seorangpun terlihat lewat di jalan raya itu.
Agaknya Tak akan ada orang lagi yang akan melewati jalan ini yang menuju kearah kota Jinan, pedagang atau penduduk yang mencari kayu bakar dihutan untuk dijual ke kota, sama sekali tak Mo kwi temui, suasana sangat hening.
Tapi keheningan itu tak berlangsung lama, sebuah kuda yang berlari cepat dengan beberapa panah menancap di tubuhnya bergerak cepat, tapi kemudian Kuda itu terjungkal, dan rubuh ke tanah,
Sedangkan orang yang menunggangi kuda itu berlari, meninggalkan kudanya yang rubuh, melewati Mo kwi dan pedang gila, wajah nya pucat dan terlihat sangat ketakutan, Mo kwi kemudian menangkap tangan orang itu, dan berkata, Ada apa paman ?
Tuan, cepat pergi dari sini, pasukan besar sudah datang tuan, pasukan pembuka jalan mereka sangat ganas, jika mereka tau, kita penduduk yang berasal dari daerah kekuasaan Raja muda Yan, kita akan langsung di bunuh oleh mereka, Empat orang kawanku, semua tewas oleh mereka, dan aku jika tertangkap juga akan mati, cepat lari tuan muda, orang itu berkata kepada Mo kwi.
"Paman, jika kita tidak salah, kenapa harus takut, jika paman mati, kan kami juga pasti mati."
"Paman hanya lari sedangkan mereka memakai kuda, apa bisa paman menghindar..?" Mo kwi berkata.
setelah mendengar perkataan Mo kwi, pria itu akhirnya bisa tenang.
Dan benar perkiraan dari Mo kwi, tak lama kemudian datang rombongan berkuda yang terdiri dari 20 orang berkuda dengan memakai seragam, pasukan kaisar Zhiangwen, dengan sebagian membawa pedang dan juga tombak.
Seorang prajurit yang membawa tombak maju, dan melihat kearah Mo kwi, Pedang gila, yang membawa pedang di punggung, dan melihat pria yang di buru oleh mereka berada di belakang Mo kwi.
Hmm..!!
"kalian pasti mata mata Raja muda Yan, yang berasal dari kota Jinan..!!" prajurit itu berkata
"Tuan prajurit..!!" maaf kami bukan mata mata, kami hanya penduduk biasa, yang sedang melakukan perjalanan." Mo kwi berkata, sambil memberi hormat dengan membungkukan sedikit badan, kearah prajurit yang bertanya.
"Tuan Prajurit..!!" kami membawa Pedang untuk menghalau binatang buas," Mo kwi berkata.
Ti beng, habisi saja mereka, nanti kita telat menyisir tempat ini, salah seorang kawan dari prajurit yang berada di belakang berkata, Pedang gila langsung menatap kearah orang yang tadi bicara.
Prajurit yang tadi menyebut Ti beng, merasa tengah di tatap oleh Pedang gila kemudian berkata, apa yang kau lihat..?" Mo kwi lalu memegang tangan Pedang gila yang sudah akan bergerak.
Maaf kan kakak ku tuan Prajurit, dia memang seperti itu, tapi dia orang baik, dan tidak suka berkelahi, Mo kwi berkata, kepada prajurit itu.
Ti beng lalu mengangkat tombak dan menempelkannya di dada Pedang gila yang hanya diam, karna tangannya masih di pegang oleh Mo kwi.
"Kakek tua, sepertinya kau orang yang tidak sabar, dan mukamu kenapa merah sekali, apa kau habis minum arak..?"
Hahaha
"Ti beng, percuma kau tanya tanya, sepertinya iya bisu dan tuli," lagi lagi orang yang di belakang Ti beng berkata, dan kawan kawan yang lainnya ikut tertawa mendengar perkataan, dari salah seorang temannya itu.
Mata Pedang gila semakin berkilat mendengar perkataan dari prajurit itu, Mo kwi tahu jika ia melepaskan, pasti Pedang gila akan menghabisi mereka, tapi Mo kwi juga belum tahu apakah mereka cuma 20 orang, atau masih banyak kawan lainya di belakang mereka.
"Tuan prajurit..!! bagaimana jika melepaskan kami, dan biarkan kami melanjutkan perjalanan," Mo kwi berkata kepada Ti beng sambil memberi hormat.
__ADS_1
Phuuuuiihh..!!
"Kau pikir gampang pergi dari sini..!!" kembali prajurit itu berkata.
Mo kwi menatap prajurit itu, lama lama hatinya kesal mendengar celoteh orang itu.
Mo kwi kemudian melepaskan tangannya dari Pedang gila.
Pedang gila menepis tombak yang menempel didada, kemudian melesat dengan cepat.
Whuuuut....sreeeet...!!
Sinar biru dari pedang kelabang biru berkelebat, prajurit yang tadi bicara, dengan masih menunggang kuda tapi kini kepalanya sudah menggelinding, ke tanah.
Setelah menebas, Pedang gila berkata.
"Banyak omong"
Lalu kemudian Pedang gila bergerak, Pedang gila kemudian langsung membabat dada, prajurit yang berada di samping prajurit yang hilang kepalanya, dan masih terduduk di kudanya, pasukan lain yang melihat terkejut, mereka langsung menyerang Pedang gila.
Pedang gila mengamuk, setelah menangkis kemudian langsung membabat kearah, kuda kuda pasukan penyisir jalan itu
Para prajuri melompat turun dari kuda mereka yang tewas di babat satu persatu oleh Pedang gila,
Jeritan terdengar ketika jurus Pedang kilat dari Pedang gila menyambar, leher, tubuh, tangan dan bahkan kaki mereka, sebuah tombak melesat mengarah Pedang gila, yang di lemparkan Oleh Ti beng.
"Traaak...!!"
Pedang gila bergerak kesamping kemudian menebas badan tombak, yang langsung terhempas dan putua menjadi dua,
Pedang gila menatap Ti beng dan 5 orang prajurit yang tersisa,
Pedang gila lalu bergerak, Pedang kelabang biru menyambar dan langsung menusuk kearah dada salah seorang prajurit, sebuah pedang menebas leher Pedang gila, Pedang gila langsung mundur menghindar, sambil menyabetkan pedangnya, dan jeritan terdengar, ketika pedangnya menggores lengan dan perlahan racun menyebar, dan prajurit itu langsung tewas.
Wajah Ti beng pucat, setelah melihat kawan kawannya tewas dengan sangat mengerikan.
Dan Ti beng Langsung pucat, setelah dadanya tertancap oleh Pedang kelabang biru.
Ke 20 orang prajurit itu tewas dengan seluruh tubuhnya membiru.
Setelah memberesi orang orang itu,
Pedang gila melangkah kearah Mo kwi.
lalu berkata,
__ADS_1
"Beres guru."