Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 207 Cita Cita semu kepala Naga


__ADS_3

Hanya kepala naga yang tersisa yang sedang bertempur melawan Mo kwi, dan kepala naga sudah pasrah dengan keadaan, dan berharap ia bisa membawa Mo kwi atau siapun yang dekat dengannya unruk tewas bersama, tak ada penjaagaan diri lagi dari kepala naga yang memang kalah segalanya, dalam jumlah anggota, kesaktian maupun tenaga dalam.


Serangan serangan kepala naga sudah serangan bunuh diri yang bermaksud tewas bersama, dan Mo kwi tahu apa yg ada di pikiran murid tertua Dewa sesat itu, pisau darah naga dan pisau raja neraka yang sangat di takuti oleh kepala naga, berusaha di hindari karna ia tahu jika tergores salah satu pisau itu, maka umurnya tak akan sampai besok pagi akan tewas.


Kepala naga adalah murid tertua dari Dewa sesat, tapi Dewa sesat adalah seorang tokoh yang licik dan selalu curiga terhadap orang, walaupun orang itu murid atau mereka yang dekat dengannya.


Kepala naga menjadi murid Dewa sesat memang sudah mempunyai ilmu yang tinggi, ia dan adiknya yang di sebut 3 pendekar naga. berhasil di taklukan oleh Dewa sesat dan diangkat murid, tapi hanya sebatas mengatur, rencana dan segala sesuatu tentang perguruan Naga merah, dan hanya memberi petunjuk petunjuk dan memberi masuka ilmu mereka, tanpa satupun menurunkan ilmu andalan milik Dewa sesat sendiri.


Itulah sebab kenapa murid Dewa sesat yang terkenal sebagai tokoh sakti, yang di segani dikalangan golongan hitam dan dianggap mempunyai ilmu paling tinggi, diantara para datuk sesat dan sebanding dengan Thian mo, tapi ilmu kepandaian ketiga saudara naga masih jauh dari kepandaian Mo kwi.


Kepala naga berusaha bertempur mendekat ke arah rombongan Mo kwi dan setelah dekat ia akan menghantam siapa saja yang bisa ia jangkau dan tewas bersama, pedang perak yang bersinar terang tertimpa sinar bulan purnama, membuat pemandangan menarik di malam itu.


Sinar merah, dari pisau darah naga dan sinar putih keperakan dari kepala naga, bergerak saling sambar dan saling tindih untuk berusaha melukai atau membunuh lawannya.


Kepala naga terus menyabetkan pedangnya, jurus pedang naga yang ia keluarkan memang danyat layaknya se ekor naga yang mengamuk, tapi lawannya kali ini adalah Mo kwi si iblis gurun, walau berusia muda tetapi mempunyai kepandaian dan berbagai macam ilmu dari tokoh tokoh yang dulunya pernah berjaya.


Langkah kilin, dan jurus pedang malaikat yang di gunakan oleh Mo kwi mengimbangi ilmu Pedang naga, apalagi setelah Mo kwi melemparkan pisau raja neraka dan menyerang kepala naga dari atas dengan ilmu pedang terbang, membuat kepala naga semakin kerepotan meladeni serangan serangan ganas pisau beracun Mo kwi.


Traang.


Pedang perak menahan pisau raja neraka yang menyerang dari atas, kemudian tubuhnya bergerak ke samping kiri, menghindari tusukan Pisau darah naga yang menusuk ke arah perut.


Pukulan pukulan Dewa naga yang menimbulkan angin terkadang di pakai untuk menahan jurus pedang terbang Mo kwi.


Semakin lama bertempur keringat semakin banyak keluar, karna faktor umur yang jauh berbeda dengan Mo kwi yang masih berusia muda, kepala naga terus berusaha menggeser tubuhnya sediki demi sedikit ke arah Ling ji dan nenek Kharmila, dan kepala naga berniat menghabisi kedua wanita itu, yang menurut perkiraannya, tenaga kedua wanita itu belum pulih dan masih lemas akibat totokan dan obat pemabuk yang ia berikan.


"Walau aku harus mati tetapi aku harus membawa beberapa orang diantara mereka untuk menemaniku di akhirat nanti," Kepala naga berkata dalam hati.

__ADS_1


Gerakan Kepala naga selalu menghindar bila di serang dengan mendekati rombongan Mo kwi, khususnya Ling ji dan nenek Kharmila.


Mo kwi terus menyerang dan pemuda itu tanpa sepengetahuan kepala naga memberi isyarat agar Pedang gila mendekati Ling ji dan nenek Kharmila.


Pisau raja hitam masih terus berputar, mengikuti gerakan tangan kiri Mo kwi dengan jurus pedang terbang, sedangkan pisau Darah Naga terus mencecar Kepala naga.


Kepala naga menyeringai seram ketika semakin lama ia semakin dekat dengan kedua wanita itu, ia hanya melihat Ling ji dan nenek Kharmila,


Ketika pisau raja neraka menyerang ke arah perut dan Pisau darah naga menyambar kaki, kepala naga meloncat kebelakang, dengan sangat cepat, kemudian langsung pedang nya menyabet ke arah nenek Kharmila yang terdekat olehnya.


Tapi sebelum pedang kepala naga mengenai nenek Kharmila.


Sebuah bayangan berwarna biru melesat dengan cepat.


Craash...aaarrrggghh.


Kepala naga menjerit kencang, dan tubuhnya menggigil menahan sakit akibat tebasan dan racun pedang kelabang biru.


Nafsu membunuhnya semakin terlihat dari matanya, tanpa peduli dengan serangan dari musuhnya, Kepala naga yang di jidatnya terdapat tanduk, kemudian menerkam ke arah Ling ji, tangan kiri dengan jari terbuka seperti cakar, menerkam ke arah Ling ji, tapi sebuah bayangan hitam melesat dan langsung menembus punggung dan masuk sampai perut kepala naga.


Keluhan suara pelan terdengar dari mulut kepala naga dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk dan tewas seketika.


Pedang gila yang kesal, langsung menendang kepala naga, hingga terpental jauh, dan Mo kwi menggerakan tangan kirinya, pisau raja neraka keluar dan melesat kembali ke arah Mo kwi.


Mo kwi menghampiri Ling ji dan nenek Kharmila.


"Bagaimana, apa kalian sudah sehat kembali ?"

__ADS_1


Kami sudah sehat Kwi koko cuma agak lemas saja, Ling ji berkata, Mo kwi tersenyum kemudian memegang bahu Ling ji, sedangkan Pedang gila sedang asik bersama dengan nenek Kharmila.


"Mari kita kembali ke kota Seju, dan besok kita lanjutkan perjalanan ke kota Gaya, ayah pasti sudah lama menunggu kedatangan kita."


Semua anak buah Mo kwi mengangguk mendengar perkataan ketuanya, kemudian meeeka kembali ke penginapan di kota sejuu sambil bersiap untuk berangkat ke kota Gaya.


Mo kwi setelah di penginapan berusaha menyembuhkan Ling ji dengan menyalurkan tenaga dalam miliknya.


Ling ji duduk, bersila diatas tempat tidur, baju nya di buka, tanpa benang sehelai pun menempel di tubuh bagian atas, lalu kedua telapak Mo kwi setelah bergerak ke atas dan menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya, kedua telapak Mo kwi langsung perlahan menenmpel di punggung istrinya.


Ling ji memejamkan mata, merasakan kenikmatan hawa tenaga dalam yang terasa hangat masuk ke dalam tubuhnya.


Lelah dan perasaan lemas di tubuh Ling ji perlahan hilang, gadis belia itu, setelah mendapat saluran tenaga dalam dari suaminya, kemudian tampak matanya terpejam, dan terlelap rasa takut, stres akibat penculikan seakan lenyap


Mo kwi membaringkan tubuh istrinya, yang tertidur pulas, lalu menyelimuti tubuh bagian atas yang polos tanpa busana, dan ia pun kemudian berbaring di samping istrinya, dsn juga ikut terlelap


Ke esokan harinya, Li chun dan Langkah angin menyiapkan kereta kuda dan kuda kuda yang akan di pakai untuk berangkat ke kota Gaya.


Siang hari setelah istirahat yang cukup, dan menyiapkan perbekalan, Mo kwi dan rombongan bergerak menuju kota Gaya, untuk memburu Dewa sesat dan anak buahnya yang di duga bersembunyi di kota Gaya.


Kereta kuda berjalan santai keluar


Tatapan dingin dari para pendekar yang menunggang kuda malah terlihat gagah dan membuat orang segan memandang mereka lama.


Monkwi tersenyum bangga melihat anak buahnya, dan bertekad untuk mengalahkan Dewa sesat, dan haparapan memang ada di bahu pemuda pemuda seperti mereka.


Sambil menatap luris ke depan sambil mengendarai kuda, Mo kwi berkata dalam hati

__ADS_1


Kota Gaya, persiapakan dirimu, besok kami akan datang


__ADS_2