Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 148 Sayembara Di Mulai


__ADS_3

Ketika sampai penginapan, Mo kwi, Ling ji, nenek Kharmila dan Pedang gila berkumpul.


Mereka sedang merundingkan langkah langkah, yang akan di tempuh.


Aku dan kakak akan pergi ke sayembara, Ling ji dan nenek Kharmila tunggu saja di penginapan, waktu sudah mepet, aku sudah berjanji 4 hari, dan besok hari ketiga, mungkin juga, besok pasukan dari Jinan sudah makin mendekati daerah kota Nanjing.


"Jika memungkinkan hari ke empat, kita bisa membuka salah satu pintu gerbang kota, dan paling lambat hari ke 5, lihat situasi nanti saja,"


"Ling ji dan nenek Kharmila diam di penginapan sambil menunggu paman Hek kwi, dan Ling ji sudah tau apa yang harus kau lakukan, Mo kwi berkata, Ling ji mengangguk mendengar perkataan dari Mo kwi sambil tersenyum.


Aku tak mengajak Ling ji dan nenek Kharmila, karna di tempat sayembara aku yakin, pasti ada musuh nenek Kharmila, pendeta dari Thian tok itu.


Pedang gila mendengus mendengar perkataan dari Mo kwi,


Mendengar dengusan dari Pedang gila, Mo kwi langsung menoleh kearah Pedang gila, sambil tersenyum dan berkata.


"kenapa..!!" apa tak suka berpisah dengan nenek Kharmila ?" terdengar jawaban dari Pedang gila, "tidak," kakek yang wajahnya berkulit merah itu berkata, sambil meminum araknya.


Ling ji tersenyum, sedangkan nenek Kharmila, wajahnya yang kecoklatan, agak merah dan terlihat wajah nya yang jengah, ketika Mo kwi meliriknya.


"Dan Ling ji juga takutnya ada yang mengenali di tempat sayembara, sewaktu ia menjadi bawahan kasim Co," Mo kwi berkata kembali.


"Kakak, jika kau ingin selalu merasa dekat dengan nenek Kharmila, selama pergi denganku, titipkan sesuatu milikmu yang berharga..!!"


Mo kwi berkata, sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ling ji, Ling ji tersenyum dan berkata, :benar apa yang di katakan gurumu kakak,


Jadi kakak pergi dengan tuan, kakak bisa merasa tenang."


Hmm..!!


Sambil meminum araknya, Pedang gila tanpa melihat kearah Ling ji berkata, "budak tahu apa..!!"


Hahaha.


Mo kwi langsung tertawa, mendengar perkataan Pedang gila, sedangkan Ling ji wajahnya terlihat cemberut.


Chiis..!! terdengar suara dari bibir Ling ji yang mungil.


Kakak, titipkan Pedang kelabang biru milik mu, dan kau bawa senjata milik nenek Kharmila.


Mendengar perkataan gurunya, Pedang gila lalu melirik ke arah nenek Kharmila, ketika melihat nenek Kharmila mengangguk kearahnya.

__ADS_1


Pedang gila langsung mengambil pedang Kelabang biru dari pinggangnya, lalu di berikan kepada nenek Kharmila.


Pedang kelabang biru sudah seperti nyawa kedua bagi Pedang gila, dan ia memberikan pedang itu, tanda ia percaya kepada nenek Kharmila.


Nenek Kharmila tersenyum, lalu memberikan pedang pendeknya, yang bernama pedang walet, karna ujung nya bercabang seperti buntut walet, maka di sebut pedang walet.


Mo kwi tersenyum melihat mereka berdua.


Mo kwi memang menyuruh pedang gila untuk menitipkan pedang kelabang biru kepada nenek Kharmila.


Pedang kelabang biru, jika keluar dan terlihat di sayembara, dipastikan akan geger, pedang kelabang biru adalah salah satu mustika, dan Mo kwi tak mau, hal itu sampai terjadi.


Ke esokan harinya, Mo kwi dan Pedang gila menunggang kuda menuju tempat sayembara, yang terletak di dalam komplek istana, di tempat prajurit kaisar Zhiangwen berlatih.


Sebuah lapang yang luas di sulap menjadi tempat arena pertarungan, dan tenda yang besar dengan tempat duduk yang lumayan banyak, khusus untuk para pejabat kerajaan.


Perdana mentri Qi thay selalu melihat kearah pintu masuk begitu pula dengan mentri Cu ming, dan melihat satu persatu para tamu undangan dan peserta sayembara yang masuk.


Perdana mentri Qi thay tersenyum ketika melihat seorang pemuda tampan berpakaian sutra biru, dengan jahitan benang emas, terlihat gagah, dan seorang kakek berwajah merah, berpakaian hitam, dengan wajah merahnya yang terlihat dingin, berjalan


ke arah tenda para pejabat tinggi kerajaaan dari kaisar Zhiangwen.


Mo kwi membungkuk kan tubuhnya ketika tiba di hadapan perdana mentri Qi thay.


Perdana mentri Qi thay tertawa dan berkata, "ah tidak, tuan Mo cian, acara belum di mulai," sambil mata perdana mentri Qi thay, melirik ke arah hiasan pinggang Mo kwi, sebuah batu giok hijau tua, yang terukir Naga dan burung Hong, berbentuk bulat dan sangat indah, ukiran batu giok itu sangat halus, membuat mata tak bosan memandangnya, di ikat dengan rumbai benang emas, tergantung di pinggang Mo kwi.


Setelah Mo kwi duduk berdampingan dengan perdana mentri Qi thay, Mo kwi menarik hiasan giok di pinggangnya.


"Perdana mentri Qi..!!" Mo cian pikir, Giok Naga dan burung Hong ini, lebih pas jika berada di pinggang perdana mentri Qi, sambil memberikan hiasan miliknya yang terbuat dari batu giok, kepada Perdana mentri Qi thay.


"Untuk ku..!!" Perdana mentri Qi thay melotot sambil melihat hiasan itu, "benar perdana mentri..!!" Mo kwi berkata, sambil menyerahkan hiasan pinggang itu.


Tanpa berkata lagi, perdana mentri Qi thay, langsung mengambil hiasan pinggang yang terbuat dari giok, dari tangan Mo kwi.


Mentri kurus dan wajahnya terlihat Licik, membolak balikan, giok itu, wajah nya langsung tersenyum melihat ukiran giok itu yang sempurna.


dan langsung ia selapkan di sabuk pinggangnya.


"Tuan Mo cian, sangat baik, aku akan membantu usaha tuan Mo cian di kota Nanjing ini, jangan segan segan datang padaku jika tuan Mo cian ada kesulitan di Nanjing."


"Maaf jika nanti Mo cian menyusahkan perdana mentri..!!" perdana mentri Qi thay mengangguk mendengar perkataan dari Mo kwi.

__ADS_1


terdengar suara gong dibunyikan, lalu Perdana mentri maju ketengah arena, memberikan , kata sambutan.


Pembawa acara membuka sayembara, setelah perdana mentri Qi thay selesai memberikan kata sambutan.


Sayembara di buka, beberapa nama di panggil, dan beberapa pertempuran kelas prajurit tak begitu seru,


telah selelai,


Dan babak kedua adalah acara yang paling ramai dan di tunggu tunggu, dari tahap awal, sampai tahap menjadi komandan pasukan, yang mengepalai para pasukan yang mengikuti sayembara.


"Tuan Mo cian, apa pengawal mu mau mengikuti, sayembara ?"


"Mungkin hanya untuk meramaikan saja tuan, perdana mentri sekali dua kali tak apa, hitung hitung mengendurkan otot dan urat urat nya."


"Jika begitu, silahkan tuan, Mo cian, peserta awal lomba ini adalah yang di anggap enteng,


bagus untuk belajar," perdana mentri Qi thay berkata.


Mo kwi kemudian mengangkat tangannya memberi isyarat kepada Pedang gila, yang berdiri di belakang Mo kwi, untuk maju kedepan


Pedang gila yang dari tadi selalu mengawasi kedua kakek tua berkulit kehitaman, Sharika dan Sharmani.


ketika melihat tangan gurunya keatas, Pedang gila lalu berjalan, ke rah arena panggung.


Di tengah panggung, telah berdiri, pria yang belum tua, memakai pakaian, celana hingga bajunya dari kulit macan.


Pria itu, adalah guru sekolah beladiri yang berada di kota Nanjjng


Pedang gila menatap pria itu.


Begitu, gong berbunyi, pria itu langsung menyerang ke arah kepala Pedang gila.


Cakarnya menyabet wajah, Pedang gila terlihat menghindari serangan, dengan memeringkan kepala sambil kakinya menggeser, dengan ilmu iblis gila, Pedang gila telah berada di pinggir pinggang, macan dari Nanjing.


Bhuuuk..!!


Macan dari Nanjing langsung terjungkal, ketika tinju pedang gila, menghantam perutnya.


dan sakitnya bukan kepalang, sehingga Macan kota Nanjing, mengangkat tangan, tanda menyerah.


Sambil berjalan, ke arah gurunya, Pedang gila terlihat menggerutu, dari mulutnya berkata.

__ADS_1


Pakaian macan, ilmu kambing


__ADS_2