
"Jadi, yang tadi itu..?"
Benar ketua, itu adalah salah seorang dari penjaga neraka.
Menurut cerita dahulu kala.
10 penjaga neraka adalah 10 tokoh sakti yang dulu sangat di takuti, karna mereka tak kenal takut, tak kenal sakit, dan tak kenal arti kata mundur.
Tapi hamba melihat itu bukan 10 penjaga neraka seperti yang terdapat dalam cerita dongeng, karna yang tadi adalah mayat hidup, sedangkan 10 penjaga neraka yang sebenarnya adalah manusia sejati.
Huo in berkata.
Memang, orang tadi tak.kenal takut, tak kenal sakit dan tak kenal mundur, tetapi dia bukan manusia, karna orang tadi adalah mayat hidup, jika ketua tak bisa menemukan titik lemah antara pertemuan energi jahat dari roh mayat itu dengan energi dari orang yang mengendalikan, biarpun tubuh mereka sudah terpotong masih bisa bergerak, karna mereka memang sudah mati dan di gerakan oleh sebuah ilmu sesat ( hitam ) Huo in berkata.
"Jika bisa menemukan orang yang mengendalikan, dan merebut lonceng itu, ada kemungkinan mayat mayat hidup itu tak kan bisa berbuat apa apa."
"Tapi jika benar mereka di istilahkan 10 penjaga neraka, dan jika benar ada 10 mayat hidup seperti tadi bahkan lebih, kita semua akan kesulitan menghadapi mereka."
Huo in menarik nafas sambil menatap awan senja.
Mari kita rundingkan setelah sampai di kota Tianjin, Shin mo berkata, dan jangan terlalu jauh terpisah dengan rombongan, karna musuh kita sekarang berbeda dengan yang sebelumnya, mereka sangat licik dan mempergunakan berbagai cara untuk membasmi perguruan kita, karna mereka menganggap perguruan Dewa iblis lah yang menjadi penghalang mereka untuk menguasai dunia persilatan.
Mereka mengangguk mendengar perkataan Shin mo, kemudian merapatkan barisan lalu memacu kuda kuda mereka menuju kota Tianjin.
Hari ke 7 di kota Tianjin.
Ling ji terus menatap kearah suaminya, sudah beberapa hari Ling ji jika tidak di paksa tak mau makan, sementara tubuh Mo kwi sangat panas, luka akibat tusukan pisau darah naga sudah rapat kembali, tubuh Mo kwi sudah mulai kurus dan sudah terlihat cekungan di wajah Mo kwi dan kedua sahabatnya, Coa mo dan Coa kwi selalu bergerak di sekliling tubuh pemuda itu.
Hek mo selalu menunggu adik kesayangannya, dan setiap gubernur Liang cu datang Hek mo selalu mengusirnya, malah jika tak di halangi oleh Hek kwi, kemungkinan besar gubernur Liang cu sudah tewas, karna Hek mo berpikir, bahwa adiknya bisa seperti itu karna gara gara gubernur Liang cu yang mengundang tabib Song.
Apalagi jika berpapasan dengan Pedang gila yang langsung memegang gagang pedang kelabang biru ketika melihatnya, dan nenek Kharmila selalu memegang tangan suaminya yang sudah gatal ingin menebas gubernur Liang cu.
Gubernur Liang cu melihat kamar Mo kwi seperti melihat kuburannya sendiri, dan tak berani mendekat.
Dan hatinya merasa tenang ketika Hek kwi menyuruh gubernur Liang cu tak usah datang ke kamar Mo kwi.
Li chun sudah pulih kembali, pemuda itu merasa sangat sedih melihat keadaan adik angkatnya.
Karna untuk yang terakhir kalinya ia masih di selamatkan oleh adik angkatnya itu, ketika di kepung oleh pasukan naga merah dan prajurit Liao pan.
tapi ketika melihat adik angkatnya seperti itu, Li chun tak bisa menolong atau sekedar meringankan beban dari adik angkatnya.
Ketika tengah melamunkan hal itu, Li chun melihat Dewa langit tengah asik minum arak sambil mengunyah daging kering yg di iris tipis tipis di depannya.
Hmm...!!
"ku lihat kau seperti tak ada sedih sedihnya," Li chun berkata sambil menatap tajam ke arah Dewa langit.
Dewa langit melirik sebentar ke arah Li chun, kemudian menenggak kembali araknya.
"Kau dengar omongan ku tidak ?" Li chun berkata.
Hmm...!!
Dewa langit mendengus mendengar perkataan Li chun, dan kembali meminum arak dari cawannya.
"Susah sekali jika berteman dengan orang yg susah di ajak bicara," Li chun berkata sambil menuangkan arak ke cawan miliknya.
"Siapa temanmu ?" tiba tiba Dewa langit berkata.
"Teman..!!"
__ADS_1
"Apa maksud mu ?" siapa teman yang susah kau ajak bicara," Dewa langit berkata.
"Ya kau..!!" teman itu yang susah diajak bicara," Li chun berkata dengan nada kesal.
Hmm..!!
"Aneh," Dewa langit berkata
"Apanya yang aneh ?" Li chun berkata, sambil melihat Dewa langit yang tengah meraih cawan araknya.
"Dari tadi kau bicara denganku, tak susah," Dewa langit berkata, sambil meminum araknya.
Li chun yang mendengar perkataan dari Dewa langit langsung berdiri, dan langsung menunjuk sambil berkata, "kau, kau,"
"Ah sudahlah, percuma aku marah, bisa sama gilanya dengan meraka, Si gila sudah ada yang jaga, sekarang datang lagi gila baru.
Li chun setelah berkata, kemudian pergi keluar kamar.
Ketika Li chun keluar, ia berpapasan dengan Pedang gila yang hendak ke kamar Mo kwi.
Li chun langsung menunjuk Pedang gila, dan berkata.
"Lebih baik kau diam, dan tak usah bicara,"
Kemudian pergi meninggalkan Pedang gila,
Pedang gila hanya menatap kepergian Li chun.
Kemudian membuka pintu kamar Mo kwi sambil mengelengkan kepala.
"Sehabis di pukuli prajurit Tianjin, dia jadi gila." dan terus Pedang gila menggelengkan kepala, sambil melangkah kearah Dewa langit dan bergabung Minum arak, tanpa ada yang berkata kata.
Shin mo yang mendengar perkataan dari Huo in mengangguk, kemudian memberi isyarat kepada rombongan untuk memeprcepat laju kuda mereka.
Hari masih sangat pagi ketika Shin mo dan rombongan anak buahnya sampai di gerbang kota Tianjin.
Puluhan kuda di pagi hari tiba di depan gerbang kota.
Pasukan penjaga pintu gerbang, menatap Shin mo yang baju dan mukanya penu debu, rambutnya yang berwarna putih dan matanya merah, dengan bulatan tengah mata yg berbeda dengan mata manusia.
Membuat prajurit penjaga gerbang bergidig ketika Shin mo menatap kearahnya.
Komandan prajurit penjaga gerbang kota berkata.
Siapa tuan tuan Sekalian, dan ada keperluan apa tuan tuan pagi pagi datang ke kota Tianjin.
"Buka gerbang, aku ingin menemui gubernur kota Tianjin..!!" Shin mo berkata.
"Maaf tuan, kota Tianjin sedang genting, kami harus tahu siapa orang yang akan masuk kota Tianjin," komandan prajurit itu berkata.
"Beritahu gubernur Kota Tianjin, aku ayah pemuda yang bernama Mo kwi, dan ingin melihat keadaan anaku."
Komandan prajurit terkejut mendengar perkataan Shin mo, tapi ia juga teringat kembali, tabib Song yang selalu membantu, ternyata seorang musuh.
Apa mereka benar benar ayah tuan muda Mo, tapi yang kudengar, tuan muda Mo adalah suami dari putri Qiao, masa ayahnya seperti orang biasa saja ?
Maaf tunggu sebentar tuan, Komandan prajurit itu lalu menyuruh seseorang untuk segera melapor.
Tak lama kemudian datang dua orang pria paruh baya dan seorang kepala pasukan kota Tianjin.
Begitu melihat rombongan Shin mo, kedua pria yang ternyata adalah langkah angin dan Mata malaikat, langsung menyuruh komandan prajurit untuk segera membuka pintu gerbang.
__ADS_1
Shin turun dari kuda. dan memasuki gerbang.
Langkah angin dan Mata malaikat langsung bersujud, "hormat ketua," sudah lah.
Wajah komandan prajurit langsung pucat ketika tahu bahwa mereka benar rombongan ayah tuan muda Mo.kwi.
Selama perjalanan langkah angin bercerita bahwa kejadian di kota Tianjin, bagaimana ia dan mata malaikat tertangkap, dan dipakai untuk menjebak Mo.kwi, lalu di selamatkan oleh pelindung perguruan
bersama dengan Ling ji, dan 2 pelindung beserta Dewa kipas dan Cha pao, pergi memburu Dewa sesat yang sudah mencelakai Mo kwi.
Rombongan sampai di tempat kediaman, gubernur Liang cu.
Gubernur Liang cu langsung menhampiri melihat rombongan Shin mo datang, Hek kwi maju dan berkata, maaf kan kelalaian hamba, dan siap menerima hukuman.
"Sudah lah," Shin mo berkata setelah melihat Hek kwi dan gubernur Liang cu memberi hormat.
"Antar kan aku ke tempat anak ku," Shin mo berkata
Lalu mereka masuk dan ketika tiba di depan kamar Mo kwi.
Shin mo merasa hatinya amat sedih.
Shin mo, Huo in dan Guan yu.
Masuk, ketika melihat Hek mo, Shin mo lalu memberi hormat, paman terima, ah sudahlah, tak usah banyak basa basi
Ling ji bersujud dan hanya berkata, "ayah "
Shin Mo terpaku melihat keadaan putranya Mo kwi.
yang tubuhnya terlihat kurus.
Tanpa terasa mata Shin mo berkaca kaca, melihat keadaan anak nya, tangannya terkepal, dan gigi yang bergemurutuk
Wajah ketua perguruan Dewa iblis, kelam menahan amarah melihat keadaan putranya.
"Paman Huo coba tolong periksa keadaan Mo kwi..!!"
Huo in kemudian maju, ketika hendak memeriksa.
Coa mo dan Coa kwi, langsung berada dalam posisi menyerang.
jika
"Aku akan menyelamatkan tuan mu aku bisa."
Huo in berkata.
Kedua ular sahabat Mo kwi seperti mengerti perkataan dari kemudian membiarkan Tabib Huo yang langsung memegang nadi Mo kwi.
Wajah Huo in tampak berubah.
Shin mo yang melihat Huo in, lalu berkata.
"Bagaimana paman ?"
Huo in lalu melepaskan tangan Mo kwi.
Tabib Huo Kemudian berkata kepada Shin mo.
"Tunggu"
__ADS_1