Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 154 Pintu Benteng Istana Yang Kokoh Dan Susah Di Tembus.


__ADS_3

Sementara itu, Shin mo dan rombongan Mo kwi, terus bergerak menuju ke arah istana Kaisar Zhiangwhen, semua pasukan pasukan musuh yang mereka temui jika tak menyerah mereka babat dan tak ada kata ampun, sedangkan mereka yang menyerah dan meletakkan senjata langsung di tawan dan untuk sementara di ikat dan di jaga ketat.


Putri Qiao, Mo kwi dan Han lian, terlihat bersama sama. dan pasukan dari putri Qiao sudah berbaris di depan pintu gerbang istana kaisar Zhiangwen, memang agak rumit, dan ada beberapa pintu gerbang masuk istana yang terdapat pos2 penjagaan di atasnya.


Para prajurit putri Qiao tampak berbaris di depan gerbang istana, dan mereka menunggu untuk, menerima perintah apa yang harus mereka perbuat.


Shin mo dan Mo kwi, melihat kearah pos penjagaan yang berada di atas gerbang pintu istana yg terlihat kokoh, para prajurit pilihan istana kaisar Zhiangwen berbaris dan siap dengan panah panah yg sudah diarahkan, kepada siapa saja yang berusaha mendekati pintu gerbang istana.


"Penjagaan mereka sangat ketat," Shin mo berkata kepada putranya Mo kwi.


Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari ayahnya dan berkata, "benar ayah..!!" agaknya di balik pintu gerbang istana itu, juga sudah bersiap ratusan panah dan tombak untuk menghalau jika pintu itu berhasil di robohkan."


Shin mo mengangguk mendengar perkataan dari putra nya Mo kwi.


"Menurut mu apa yang kita harus lakukan ?" Shin mo berkata kepada putranya.


"Mo kwi akan keatas untuk melihat lihat," Shin mo tersenyum mendengar perkataan dari putranya, dan berkata, "


"baik,..!!" mari kita bersama sama keatas." Mo kwi mengangguk mendengar perkataan dari ayahnya.


Shin mo dan putranya Mo kwi, lalu meminjam sebuah tameng yang terbuat dari kayu, setelah meloloskan Pedang bintangnya Mo kwi dan Shin mo bersiap,


"Kwi koko hati hati," putri Qiao berkata, dan Han lian pun berkata yg sama terhadap kekasihnya itu.


Mereka berdua lalu melesat keatas benteng istana kaisar Zhiangwen.

__ADS_1


Baru setengah jalan mereka melesat keatas, ratusan anak panah melesat, menuju ke arah Shin mo dan putranya.


Shiing,..shiiing...shiiing.


Mo kwi langsung mengibaskan tangan kirinya, hawa tenaga dalam keluar dari tameng kayu, menghalau sebagian panah yang di lepaskan oleh para prajurit kaisar Zhiangwen, dan pedang bintangnya, berkelebat menghalau, dengan mengeluarkan angin, dan sebagian panah runtuh ketanah terkena angin dan tebasan pedang bintang Mo kwi.


Trak..trak..ting..ting.


Tiba tiba, 2 buah sinar hitam, langsung menghantam 2 buah panah besar, yg melesat dengan sangat cepat nya, satu ke arah kepala Mo kwi, dan satu lagi kearah badan pemuda itu, karna memang Mo kwi yg melesat terlebih dahulu, sehingga ia yang menjadi bulan bulanan, dari panah para prajurit kaisar Zhiang wen, dan Shin mo yang berada di belakang putra nya ikut menghalau, Shin mo terkejut ketika melihat panah besar yang mengarah ke tubuh anaknya, dan langsung mengeluarkan pukulan jari iblis untuk menghalau, atau menghantam kedua panah besar itu


Braaaak,...blaaar..!!


"Munduuur,...!!"


Terdengar teriakan yang menggelegar dari mulut Shin mo, karna melihat panah yang tak henti hentinya, menyerang putranya Mo kwi, biarpun Shin mo melihat Mo kwi bisa menghalau panah panah itu, tapi mereka belum sampai atas, dan panah panah masih terus menghujam dan panah panah besar lah yg di takuti oleh Shin mo, sehebat hebatnya tenaga dalam sesorang, tapi ketika sedang berada di udara dan kaki tak bertumpu pada tanah, kekuatan tenaga dalam yg di keluarkan tidak maksimal, dan lama kelamaan tenaga dalam akan cepat habis, karna terbagi dua, dengan ilmu meringankan tubuh yang di gunakan ketika melesat, semakin tinggi seseorang melesat, maka tenaga dalam yg di keluarkan semakin besar, dan yang di takuti Shin mo adalah, sebelum Mo kwi sampai, putranya sudah kehabisan nafas karna terus menghalau panah panah yang mengincar putra nya itu.


Putri Qiao matanya berkaca kaca, hatinya berdebar debar dan takut terjadi apa apa terhadap kekasihnya, apalagi setelah melihat, dua buah panah besar melesat, dan untungnya bisa di halau oleh Shin mo, ayah dari kekasihnya itu.


Ketika Mo kwi dan Shin mo turun, putri Qiao, para tetua, komandan pasukan langsung memburu ke arah keduanya, dan ketika melihat tak ada satupun dari baju mereka yg sobek atau tergores, mereka kagum, karna mereka melihat sendiri hujan anak panah yang sangat mengerikan, dan merasa jika mereka yg naik ke atas, kecil kemungkinan mereka akan selamat, dari hujan anak panah yang telah mereka lihat itu.


Putri Qiao tanpa malu di depan para anak buah langsung memeluk kekasihnya, mereka yang melihat kedua pasangan itu merasa terharu, danbtak berkata apa apa.


"Kau tak apa apa sayang ?" putri Qiao berkata, sambil membenamkan kepalanya kedada Mo kwi setengah terisak.


Mo kwi mengelus kepala kekasihnya dan berkata.

__ADS_1


"Sayang..!!" aku tidak apa apa, "Qiao moi tak usah khawatir," Mo kwi berkata kepada kekasihnya.


Mereka lalu berkumpul, dan membahas, apa yang sudah di alami dan di lihat oleh mereka tentang situasi pintu benteng istana kaisar Zhiangwen, mereka yang berada di pos pos penjagaan dan berjajar diatas benteng adalah, para ahli memanah, dan memang sudah memperisapkan diri bila ada yg ingin menjebol pintu benteng istana kaisar Zhiangwen, dan mereka semua ada di setiap sudut bemteng istana. pasukan kita akan banyak jatuh korban, jika kita tak bisa mengatasi, dan memaksa untuk menerobos pintu gerbang istana.


"Apa ada yang mempunyai usul bagaimana cara kita membuka pintu benteng istana dan menerobos masuk, tanpa menimbulkan banyak korban di pihak kita,..!!" putri Qiao berkata.


Mereka yang berkumpul dan membahas, hanya diam, karna belum menemukan, cara dan strategi dari yang putri Qiao katakan, apalagi setelah mereka melihat panah besar, dengan pegas dan roda gigi dan dibawa dengan memakai roda, yang sengaja di ciptakan untuk menghalau pendekar pendekar dengan kemampuan tenaga dalam tinggi, dan sebagian lagi ada terdapar panah panah besi, yang tepotong dua akibat tebasan pedang bintang, dan belum tentu, bisa tertebas oleh pedang pedang biasa yg di pakai oleh sebagian para tetua dan komandan pasukan.


Mereka semua terdiam, dan masih memikirkan cara, bagaimana untuk megatasi masalah ini.


Ketika mereka semua tengah termenung, tiba tiba tercium bau amis darah, dan mereka semua bertanya tanya, bau amis darah apa yg mereka cium. dan akhir dari rasa penasaran mereka terjawab ketika tak lama kemudian, mereka melihat sesorang tengah berjalan, mendekati mereka yang tengah berkumpul


Seorang kakek berwajah merah tengah menenteng sebuah caping yang terbalik, dan tali pengikat leher caping itu dipakai jinjingan untuk menenteng caping itu, bagian bawah caping tampak masih ada darah yg menetes, dan sebagian darah membeku, dan bau amis darah yang tercium oleh mereka yang berkumpul, berasal dari caping yang di bawa kakek berwajah merah itu yang tak lain adalah pedang gila.


Di Dalam caping terdapat kepala pendeta Sharmani. yg sudah berubah menjadi biru akibat racun pedang kelabang biru.


Pedang gila tersenyum menatap nenek Kharmila yang berada di tempat mereka yang tengah berkumpul.


"Adik,..!!" pendeta ini tak punya rambut, kakak cari kain untuk membungkus tak ada, hanya menemukan caping."


"Ini untuk mu..!!" Pedang gila berkata.


"Chiiis..!!" banyak baju prajurit yang tewas, kenapa tak kau ambil, bawa bawa kepala buntung dalam caping, seperti tokoh sesat saja, nenek kharmila cemberut sambil berkata kepada Pedang gila


Mo kwi yang melihat keduanya, lalu tersenyum, apalagi setelah melihat kepala pendeta, yang menjadi biru akibat racun pedang kelabang biru, sebuah ide terlintas di kepalanya.

__ADS_1


Hmm..!!


"Agak nya hanya itu satu satunya jalan," Mo kwi berkata dalam hati.


__ADS_2