Pendekar Gurun

Pendekar Gurun
Ch : 81 Akhir Dari Sebuah Sayembara


__ADS_3

Mo kwi terkejut melihat kedatangan Kwan bin, dan tak menyangka, Kwan bin berada di kota Nanchang.


Mo kwi tau, Pedang gila dalam hal kepandaian masih berada di bawah Kwan bin, tapi Mo kwi ingin melihat sikap Kwan bin dalam mengatasi masalah ini, karna Kwan bin masih menjabat sebagai pelindung partai perguruan tengkorak putih.


Dan Mo kwi ingin tahu, apa yang akan Kwan bin lakukan,


Kwan bin menatap Pedang gila yang memang tak di kenalnya, tapi Kwan bin mengenal pedang yang di pegang oleh kakek dengan kulit wajah berwarna merah.


"Siapa kau,..?" setahu aku, pedang itu adalah milik dari iblis sesat,"


Pedang gila tak menjawab, tapi kemudian pedang kelabang biru miliknya mengangkat dan menunjuk kearah tangan besi, dan terdengar mulut pedang gila berkata, "tak adil."


Kwan bin mengerutkan kening mendengar perkataan pedang gila, Tangan besi juga kaget melihat pedang gila, tapi ia lebih kaget lagi melihat Kwan bin telah berada disini,


Melihat Kwan bin berada di arena, wajah nenek cambuk petir mulai terlihat tenang, ia tahu sipat Kwan bin, tidak seperti Mata malaikat yang kejam dan suka dengan keinginannya sendiri, tanpa mau tau keinginan anak buahnya.


Fei yi, yang melihat kakek berwajah merah, yang ia pikir hanya kaum kroco, guru dari pemuda tampan itu, tak menyangka, gurunya saja terdesak hebat, tapi kakek itu sekali datang langsung bisa menebas tangan besi, yang katanya tak mempan sentaja, tapi putus oleh pedang berwarna agak kebiruan milik kakek berwajah merah, yang tadi berjalan bersamanya.


Fei yi wajah nya gembira dan berkata kepada Pedang gila, "kakek, kau hebat..!!" Pedang gila tak melihat kearah Fei yi, tapi keluar dari mulutnya,


"Kroco minggir,.!!" Fei yi yang teringat perkataannya kepada Lan chi yang menyebut kroco, kepada kakek itu dan muridnya tertunduk malu, dan kemudian berjalan dan berdiri disamping Lan chi, dan berada di belakang nenek cambuk petir.


"Raja maling, kau jaga Tangan besi, setelah aku selesai mengatasi kakek wajah merah ini, aku ingin tahu apa yang terjadi sehingga kalian sesama satu perguruan saling serang," Raja maling mengangguk, dan berkata, "baik tetua pelindung," sambil membungkukan badan memberi hormat.


Wajah Tangan besi pucat mendengar perkataan Kwan bin, dan berpikir bagaimana cara ia menghindari masalah ini.


"Kau masih tak mau menjawab pertanyaanku.!!" Kwan bin berkata kepada Pedang gila.


Melihat pedang gila hanya diam, Kwan bin gusar, lalu mengeluarkan Pedang iblis yang berwarna hitam, dan bersiap, mereka yang berada di sekitar keduanya lalu mundur, melihat kedua jago tua itu tengah bersiap.

__ADS_1


A kew yang melihat ke arena, wajahnya pucat, dan berkata kepada Mo kwi, "tuan muda, gurumu apa bisa menang melawan kakek itu..?" sepertinya akan kalah, kakek itu adalah si Pedang iblis, pelindung dari perguruan tengkorak putih, ilmunya sangat tinggi." Mo kwi berkata.


A kew menatap pemuda yang tengah melihat ke arena, wajahnya seperti bingung, "gurunya pasti kalah, ko orang ni sepertinya tak peduli, malah nonton..!!" jika gurunya mati, kan dia juga akan di buru oleh orang orang perguruan tengkorak putih, benar benar guru dan murid orang orang yang aneh," a kew berkata dalam hati.


Pedang gila, melesat kearah Kwan bin, pedang kelabang birunya menyambar kearah kepala Kwan bin.


Traaaaang...!!


Kwan bin menangkis, pedang kelabang biru, Pedang gila mundur setengah langkah, tanda tenaga dalamnya masih di bawah Kwan bin, Kwan bin menyeringai, setelah tahu tenaga dalamnya, lebih unggul dari kakek berwajah merah itu.


Kwan bin, gantian yang menyerang kearah Pedang gila, bayangan pedang berwarna hitam, melesat kearah pinggang Pedang gila, Pedang gila berkelit mundur selangkah, kemudian meloncat dan balik menyerang Kwan bin dari atas, Kwan bin mengangkat pedang iblis nya untuk menangkis, tapi Pedang gila, tak meneruskan serangannya, lalu meloncat kebelakang, setelah turun, pedang gila melesat dengan cepat, ilmu pedang kilatnya di gunakan membabat kedua kaki Kwan bin, hanya sinar biru yang tipis terlihat akibat cepatnya pedang kelabang biru melesat.


Kwan bin terkejut melihat cepatnya serangang Pedang gila, ia lalu meloncat, dan mengibaskan tangannya kearah kepala Pedang gila, suara angin menderu mengahantam Pedang gila, Pedang gila tak tinggal diam, tangan kirinya bergerak menghantam keatas, menyambut kibasan tangan pedang iblis Kwan bin.


Dhuaaaaar...!!


"Siapa kau sebenarnya..?" sepertinya ilmu pedangmu sudah tak asing lagi," Kwan bin berkata sambil menatap tajam kearah Pedang gila.


Pedang gila, seperti acuh mendengar perkataan Kwan bin, dan hanya menjawab, "aku Pedang gila."


Sedangkan mereka yang menonton, merasa takjub dengan kedua tokoh tua itu, kecepatan ilmu pedang mereka, kekuatan tenaga dalamnya yang tinggi.


Fei yi yang tadi mengatakan kroco kepada kakek berwajah merah dan muridnya, merasa malu, setelah melihat kakek berwajah merah yang berjalan bersamanya tadi, ternyata ilmu pedang nya sangat tinggi, dan bisa menandingi seorang pelindung dari perguruan tengkorak putih, yang gurunya saja seperti nya sangat segan, dan takut kepada Kwan bin, tapi kakek berawajah merah, itu sepertinya tak peduli dan mampu melayani pedang iblis, dan kemampuan mereka sepertinya tak berbeda jauh.


"Aku baru mendengar nama Pedang gila," Kwan bin berkata, jangan kau buang buang waktu ku, dengan omongan ngelantur, cepat katakan siapa kau sebenarnya..?" Kwan bin berkata, "jangan sampai aku ketelepasan tangan dan memubunuh mu..!!"


Pedang gila tak menjawab, ia malah melintangkan pedang kelabang biru didadanya, sebuah posisi ilmu pedang yang bisa untuk bertahan dan menyerang tergantung situasi.


Kwan bin yang melihat posisi Pedang gila, menyeringai seram, "agaknya kau memilih ****** daripada memberitahu, siapa kau sebenarnya."

__ADS_1


"Bersiaplah untuk mati," Kwan bin berkata sambil menatap tajam kearah Pedang gila, pedang iblisnya berdengung, tanda aliran tenaga dalam telah tersalur, dan wajah Kwan bin berubah menjadi sangat bengis.


"Kau mampu," Pedang gila berkata, mendengar hanya dua kata yang keluar, itupun dianggap seperti ejekan oleh Kwan bin, dari kakek ber wajah merah didepannya.


Kwan bin dengan segala kemampunnya melesat dengan cepat dan menyerang kearah Pedang gila.


Tangan besi yang melihat Kwan bin dan kakek berwajah merah sudah hendak bertempur kembali, dan kali ini, lebih dasyat, melihat inilah waktu yang tepat untuk melarikan diri.


Tangan besi yang berada di samping Raja maling kemudian bergerak melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya, berusaha meninggalkan tempat itu, tapi sebuah sinar berwarna merah yang mengandung hawa panas bergerak cepat menyambar tubuh Tangan besi, yang masih diudara,


Shiiiiiiing,...craaaaaas...!!


Tubuh Tangan besi terbelah dua, dan masing masing potongan tubuhnya terlempar, dan jatuh ketanah dalam keadaan hangus,


Suasana lalu menjadi hening, Kwan bin langsung berhenti menyerang, ketika merasakan sebuah hawa pedang melesat dengan cepat, melewati tubuhnya, dan menghantam kearah Tangan besi, ia terkejut melihat kehebatan dan tenaga dalam yang dikeluarkan oleh orang yang menyerang Tangan besi.


Kwan bin lalu melihat seorang pemuda berpakaian hitam dan tampan berjalan ke arena.


.


Pemuda itu tersenyum dan berkata, "apa kabar paman, lama tak berjumpa..?" Kwan bin tersenyum melihat pemuda itu, lalu berkata sambil membungkuk memberi hormat.


"Kwan bin pelindung perguruan Tengkorak putih memberi hormat kepada ketua," nenek Cambuk petir dan Raja maling terkejut ketika melihat kwan bin, berkata seperti itu kepada pemuda didepannya, lalu terdengar suara Kwan bin yang tengah membungkuk, kepada kedua orang itu.


"Apa perlu kepala kalian berada di lantai, untuk memberi hormat kepada ketua perguruan tengkorak putih yang baru


Mendengar perkataan Kwan bin? pucat wajah nenek cambuk petir dan Raja maling.


Lalu keduanya membungkuk di depan Mo kwi.

__ADS_1


__ADS_2