
Setelah mendengar arahan dari putri Qiao mereka yang berkumpul mengangguk.
"Pedang gila, kau lindungi putri Qiao dan Nona Han lian," Mo kwi berkata kepada pedang gila.
"Baik guru" Pedang gila berkata.
"Ingat sebelum matahari terbit, kita kejutkan mereka," putri Qiao berkata, mereka mengangguk mendengar perkataan putri Qiao.
Setelah selesai, akhirnya mereka berpencar.
Mo kwi dan Hek kwi kemudian bergerak kearah barat, mereka terus mengintai pintu gerbang kedua, kota Guiyang.
Mo kwi membuka matanya yang sedang bermeditasi, ketika mendengar suara perlahan dari Hek kwi.
"Tuan muda, sudah saatnya kita bergerak," Hek kwi berkata, Mo kwi kemudian bangkit, dan bersama Hek kw, menghampiri komandan pasukan, yang bersamanya menerobos pintu barat.
"kalian tunggu saja dulu disini, setelah aku dan paman Hek kwi berhasil melumpuhkan penjaga dan membuka gerbang dan memberi tanda, baru kalian masuk, dan usahakan para pemanah jaga jarak, dan melindungi kawan kawan yang dibarisan depan," kedua kepala pasukan depan dan panah mengangguk mendengar perkataan Mo kwi, kemudian mereka bersiap.
Mo kwi dan Hek kwi bergerak sangat cepat, lalu mereka meloncat keatas benteng kota Guiyang, mata keduanya mengawasi rumah rumah penduduk yang masih sepi, namun ada beberapa rumah penduduk yang mulai terdengar suara aktivitas.
Bagaikan dua ekor kelelawar hitam Mo kwi dan Hek kwi bergerak mendekati arah pintu gerbang, mereka kemudian menuju sebuah pohon besar yang dekat dengan pos penjaga pintu gerbang.
Para penjaga pintu gerbang, terlihat mata mereka mulai mengantuk di pos penjagaan, semalaman mereka tak tidur, karna selalu diawasi oleh kepala regu mereka, untuk antisipasi serangan dari orang orang dunia persilatan, kata komandan mereka, yang mendapat perintah langsung dari gubernur Qi, dan saat subuh, menjelang matahari keluar, menunggu giliran penjaga yang menggantikan mereka di pagi hari, rasa ngantuk yg hebat mulai menyerang keduanya.
Mo kwi dan Hek kwi berlindung di sebuah pohon besar, sambil melihat kearah pos penjaga pintu gerbang.
"Tuan muda, biar hamba yang membereskan mereka," tak lama setelah berkata, Hek kwi melesat kearah para penjaga pintu gerbang, komandan regu itu terkejut melihat Hek kwi sudah berada di depan pintu pos penjaga, sebelum ia berteriak, Hek kwi melesat, dan menepak urat besar di leher kepala regu, tanpa bersuara kepala regu tewas, karna urat kematiannya ditotok oleh Hek kwi, kemudian Hek kwi memukul dada penjaga, hingga tewas, lalu penjaga satu lagi yang terkejut, tak bisa berkata ketika Hek kwi menangkap dan menarik leher penjaga itu, kemudian memutarnya.
Kreeeeek,..!!
Suara tulang leher penjaga pintu gerbang berderak. dan penjaga itu langsung tewas seketika.
tanpa susah payah dan mengeluarkan pedang pendeknya, 2 orang penjaga gerbang dan kepala regu tewas, ditangan Hek kwi.
Setelah beres kemudian mereka mengamati situasi, setelah merasa aman, lalu Hek kwi membuka pintu gerbang sisi barat kota Guiyang.
__ADS_1
Pasukan dibawah pimpinan Mo kwi bergerak perlahan, dan masuk kota setelah mendapat isyarat tangan dari Hek kwi, ketika sudah membuka pintu gerbang.
Setelah mereka semua masuk, Hek kwi kemudian menutup kembali gerbang kota Guiyang.
Perintahkan 3 orang anak buah mu menjaga disini, cari orang yang sesuai dengan pakaian penjaga yang tewas, lalu kenakan seragam mereka.
Dan perintahkan yang lain untuk tidak bergerombol, tapi dibagi, jadi beberapa kelompok tapi jangan berjauhan, kedua komandan itu mengangguk, mendengar perkataan Mo kwi.
Awasi kami dari kejauhan, kami akan mendatangi rumah gubernur Qi dan mengacau disana, dan menarik pasukan mereka kesini, dan setelah itu kau tahu tugasmu, kedua komandan itu mengangguk.
Mereka kagum kepada Mo kwi, masih muda tapi sudah mempunyai jiwa pemimpin, dan mereka merasa hormat dan takluk kepada Mo kwi.
Mo kwi lalu mengikuti Hek kwi yang sudah tahu dimana rumah gubernur Qi, dan kemudian melesat dengan cepat, mereka juga memburu Waktu agar tidak merepotkan barisan yang akan menyerang dari depan.
Hek kwi sampai di sebuah rumah besar, lalu dengan gerak cepat, keduanya melumpuhkan para penjaga dan masuk kedalam rumah gubernur Qi, tak lama kemudian suara ribut ribut terdengar, gubernur Qi yang masih mengantuk, dan sedang memeluk selir termudanya diranjang, membuka mata dan mendengus kesal, sambil berteriak.
Penjagaaaa,..!! Tapi tak ada jawaban, Penjagaaaa,..!!
Gubernur Qi berteriak kembali, tapi masih tak terdengar jawaban, ia lalu memakai pakaiannya kemudian bergerak keluar kamar, dan ketika ia membuka pintu kamarnya, sebuah pedang pendek telah menempel di leher gubernur Qi, dan Hek kwi sudah menyeringai seram kearah gubernur Qi, sambil berkata, jika berteriak, kepalamu akan jatuh Hek kwi berkata, gubernur Qi terkejut dan wajahnya pucat pasi, apalagi ketika ia dibawa ketengah ruangan dan melihat mayat mayat berserakan, makin pucat wajah gubernur Qi.
"Si..Siiapa kalian, dan apa mau kalian..?" ambil saja harta yang kalian mau, tap..taapi jangan bunuh aku," gubernur Qi berkata dengan suara gemetar ketakutan.
Waktu terus berjalan dan matahari perlahan mulai keluar, dan pagi itu cuaca masih dingin, dua buah bayangan berkelebat, bergerak menghabisi para prajurit yang berdatangan, didepan rumah gubernur Qi
karna mendapat laporan ada perampok memasuki rumah gubernur Qi.
Semakin lama prajurit kota Guiyang semakin banyak berdatangan, Mo kwi dan Hek kwi yang sudah mengeluarkan masing masing senjata mereka, mengamuk sambil mundur, prajurit yang melihat keduanya mundur lalu mengejar terus, puluhan prajurit terus bertambah, memburu keduanya.
Dan ketika bertempur sambil mundur, mendekati arah tempat rombongan mereka berkumpul, didekat pintu barat, teriakan teriakan terdengar, dan panah panah melesat kearah puluhan prajurit kota Guiyang, Mo kwi, Hek kwi dan rombongan mereka mengamuk, melawan prajurit kota Guiyang, yang masih terus berdatangan.
Dengan jurus malaikat pedangnya, pedang bintang Mo kwi bergerak kesana dan kemari, dan selalu meminta korban, begitu juga dengan sepasang pedang bayangan hantu milik Hek kwi, dan akhirnya prajurit kota Guiyang memilih menjauhi Mo kwi dan Hek kwi, mereka gentar dengan keganasan pedang keduanya, hampir kurang lebih seratus orang prajurit kota guiyang tewas oleh rombongan Mo kwi, dan pasukan panah sangat berguna, jika ada yang mencoba membokong, panah panah mereka selalu melesat dari tempat tersembunyi dan menghantan dada atau kepala mereka, sehingga puluhan prajurit yang tersisa lari terbirit birit meninggalkan mereka dan melapor ke barak depan.
Sementara, Pasukan Putri Qiao yang berjumlah kurang lebih 150 orang dengan 40 pasukan panah, bergerak menyerang gerbang depan kota Guiyang.
Pasukan penjaga pintu gerbang utama tak menyangka, mereka di serang oleh pasukan yang lumayan terampil walau tak terlalu besar, tapi gerakan mereka sangat rapi dan teratur, tak lama kemudian gerbang kota guiyang telah terbuka dan perlahan putri Qiao masuk, dengan diiringi oleh pedang gila, tombak angin Han lian dan rombongan anak buah mereka.
__ADS_1
Perlahan rombongan putri Qiao masuk kekota Guiyang.
Dan ketika mereka sampai di sebuah tempat yang seperti lapang besar yang berada di tengah kota,
Putri Qiao menunggangi kuda putih dan terlihat sangat anggun dan berwibawa, tiba tiba terdengar suara berdesing, dan sebuah benda tak terlalu besar, seperti berputar kencang menuju arah kepala putri Qiao yang tengah menunggang kuda.
Zhiiiiiing....Traaaang..!!
Pedang gila, bergerak sangat cepat dan sinar biru melesat menghantam benda yang mengincar kepala putri Qiao, dan terlihat sebuah kapak kecil telah terpotong dua, terkena tebasan dari pedang kelabang biru milik pedang gila yang kini telah berdiri, didepan kuda putri Qiao, sambil melintangkan pedang kelabang biru didepan dadanya
Ha..Ha..Ha.
Beberapa bayangan melesat, setelah mendengar suara tertawa.
Kapak setan tertawa sambil menatap kearah putri Qiao.
"Sungguh berani kalian datang ke sarang harimau," kapak setan berkata,
"Hanya dengan kekuatan seperti ini kalian ingin mengejarku..?"
"Chuiiiiih, sungguh sangat menghinaku," kapak setan berkata sambil bertepuk tangan, setelah bertepuk tangan, tak lama kemudian bermunculan orang orang dan puluhan siwi mengepung rombongan putri Qiao, di tengah lapang.
"Benar dugaan ku, kalian bersembunyi disini, apa kalian sudah berdoa..?" putri Qiao berkata, meledek kapak setan.
Kapak setan berani muncul setelah mengamati rombongan putri Qiao, yang hanya mengandalkan tombak angin dan kakek tua berwajah merah yang tak lain Pedang gila, dan selain itu, mereka tak melihat yang lain, setelah berunding dengan rajawali api, akhirnya mereka mengepung rombongan putri Qiao di lapang ini.
Dengan kekuatan seimbang, dan mereka pasti akan dibantu prajurit kota Guiyang, kapak setan dan rajawali api sangat yakin mereka bisa menghabisi rombongan putri Qiao, yang sekarang berada didepan mereka.
Ha..Ha..Ha
"Yang seharusnya berdoa adalah kau, bukan aku," kapak setan berkata sambil tertawa.
Tiba tiba datang seorang memakai seragam seperti komandan pasukan kota Guiyang, lalu berbisik bisik kepada Kapak setan, yang wajahnya langsung berubah ketika mendengar perkataan dari komandan pasukan itu.
Putri Qiao tersenyum melihat perubahan di wajah kapak setan, lalu berkata.
__ADS_1
"Kau pasti mendapat laporan bahwa kepala gubernur Qi sudah terpisah dari badannya."
"Apa benar perkataanku...?"