
Mo kwi dengan lesu kearah ruangan besar yang tak jauh dari pintu, Mungkin jika aku membawa pedang bintang.
Pemuda itu menatap Ling ji dan Dewa langit yang sedang berusaha menyadarkan Mata malaikat dan Langkah angin.
Sementara di luar, komandan prajurit terus memberi perintah untuk menambah kayu kayu bakar yang akan membuat hangus orang yang berada di dalam rumah batu atas perintah gubernur Liao pan.
Sementara di hutan sebelah barat, Cha pao sedang keliling hutan mencari cari kayu berharga dan tumbuhan tumbuhan aneh yang dapat ia makan, sudah menjadi kebiasaan Cha pao, jika melihat hutan yang baru ia lihat, maka ia akan menjelajahi hutan itu dan mencari tempat tempat tersembunyi yang ada di hutan untuk menemukan tumbuhan aneh dan langka.
Sudah 2 hari ia keliling hutan dan tak menemui apa yang ia cari, wajah nya terlihat kesal, sambil jalan tanpa arah tujuan, sesekali Cha pao mengayun kan kampak nya kearah pohon pohon yang ia lewati, pohon sebesar paha manusia, hanya sekali hantam dengan kampaknya langsung rubuh, karna hantamaan kampak Cha pao di aliri tenaga dalam tinggi, Ketika Cha pao melihat sebuah pohon rindang sebesar dua kali pelukan orang dewasa, Cha pao menghampiri pohon itu, setelah dekat, kampak nya ia ayunkan.
Craaak...!!
Kampak Cha pao, langsung masuk setengahnya kebatang pohon, pohon rindang itu bergoyang sangat keras.
Cha pao tak tahu bahwa diatas pohon itu ada seorang kakek tua yang berpakaian hijau, tengah tertidur di sebuah batang pohon yang besar, yang tadi ia kampak.
Ketika pohon besar itu bergoyang keras, kakek tua yang berada di atas terkejut.
"Kurang ajar, kampret, setan alas, siapa orang yang menganggu tidur siangku ?"
Ketika kakek itu menatap kebawah, ia terkejut melihat seorang berambut putih berusaha mencabut kampaknya, yang sudah tak terlihat karna masuk sangat dalam di batang pohon.
"Kurang ajar, dasar tukang kayu kurang kerjaan, kakek dogol, apa dia sengaja menebang pohon tempat aku tidur, di dekitar sini banyak pohon lebih besar dan bagus kualitas kayunya, kenapa ia pilih pohon dimana tempat aku tengah tidur."
Kakek itu lalu mengeluarkan sebuah kipas dan mengibaskan kipasnya, kebawah kearah kepala Cha pao.
Whuuus...!!
Serangkum angin keluar dari kipas langsung kebawah menuju arah kepala Cha pao.
Cha pao yang merasakan ada angin menyambar kepalanya lalu menangangkat tangan kirinya ke atas, sementara tangan kanannya masih berusaha, mengeluarkan kampak miliknya dari batang pohon.
Blaaar...!!
Hawa pukulan tenaga dalam bertemu, menimbulkan suara gemuruh, dan membuat daun duan dan ranting bayak yang patah dan berguguran.
Kakek berbaju hijau itu melotot ke bawah dan wajah nya tampak kesal.
"Kurang ajar..!!" dasar tak tahu diri, aku hanya menggunakan 3 bagian tenaga dalam, hanya untuk memperingatkan saja, kakek itu malah tak memandang sedikitpun keatas, untuk melihat siapa yang menghantamnya.
"Benar benar harus di beri pelajaran..!!" Kipas berwarna hitam dari kakek berbaju hijau itu langsung bergetar, dan si kakek langsung menarik nafas dalam dalam, dan hendak menghantam Cha pao yang berada di bawah, ketika kakek itu akan menghantam, bersamaan dengan tercabutnya kampak Cha pao dari batang pohon.
Setelah tercabut Cha pao langsung mengayunkan kampaknya, ke batang pohon, dan si kakek dari atas langsung akan mengibaskan kipasnya.
Craaak...!!
Kakek itu terkejut, kipas nya langgsung mengibas tapi arah nya jadi berbeda, karna beraamaan dengan rubuhnya pohon tempat ia tidur.
Serangkum angin sangat kencang melesat, dan arahnya berubah lain ke bawah, tapi lurus dan menghantam pohon pohon yang berada di depan, Cha pao.
Cha pao mengerutkan keningnya.
Eh, aku tebang satu, tapi kenapa pohon pohon di depan banyak yg rubuh, Cha pao berkata dalam hati.
Suara gemuruh pohon tumbang terdengar kencang, dahan dahan yang patah beradu, burung burung berterbangan ke angaksa karna terkejut.
__ADS_1
Kakek berbaju hijau itu loncat turun, ketika pohon tempat ia tidur rubuh, setelah sampai di belakang Cha pao, kakek itu langsung membuka kipas nya dan tubuhnya melesat dengan cepat, kipas di miringkan, lalu menyerang dan menebas tengkuk Cha pao.
Cha pao yang tanpa melihat langsung menganyun kan kampak nya kebelakang.
Traaak...!!
Kipas dan gagang kampak bertemu sekaligus menahan serangan kakek berbaju hijau itu.
Kakek itu terkejut karna serangannya kipasnya dapat di tangkis oleh Cha pao tanpa melihat atau berbalik.
Cha pao lalu berbalik, dan keduanya lalu tertegun dan sama sama berkata, "Kau"
Hahaha
Keduanya tertawa lalu saling menghampiri dan berpelukan, tak kusangka bertemu dengan saudara Cha disini, kakek berbaju hijau itu berkata.
"Tong eng, sedang apa kau di hutan ini."
"Eh, apa tadi kau yang menyerang aku ?" Cha pao berkata kepada kakek berbaju hijau yang ia panggil Tong eng.
"Aku tak tahu bahwa itu kau saudara Cha, dan kau yang mulai duluan mengganggu aku, aku sedang tidur di pohon itu dan kau menebangnya," sambil menunjuk pohon yang rubuh,
"Kau tidur di pohon ?" Cha pao berkata, dengan nada heran, benar aku sudah seminggu berada di hutan ini dan mengintai seseorang atas suruhan,: tiba tiba Tong eng teringat sesuatu, lalu kemudian diam tak bicara lagi, "mengintai siapa ?" Cha pao berkata,
"Ah sudah lah..!!" nanti saja aku ceritakan."
"Dan kau sedang apa di sini ?" Tong eng bertanya.
"kaki dan tangan ku gatal melihat hutan," Cha pao berkata.
Tong eng ketika ditanya dengan siapa oleh Cha pao tak menjawab, karna ia tahu dan hampir semua anggota Dewa iblis tau, kenapa Cha pao sering keluar masuk hutan dan jarang mau ke kota kota, karna ada suatu ganjalan di hati, dan Tong eng tahu hal itu, jika ia bercerita tentang orang yang bersamanya, maka Cha pao akan langsung pergi
( kisahnya akan di ceritakan di lain kesempatan )
Kembali ke rumah batu.
Mo kwi, Ling ji, Dewa gila, Mata malaikat dan Langkah angin, yang berada di rumah batu merasakan hawa di dalam rumah batu semakin panas, Ling ji dengan ilmu unsur airnya, membuat hawa tenaga dalam, semacam pelindung, dan mereka berkumpul menjadi satu. pelindung yang sangat sejuk dan dingin dari ilmu unsur air Ling ji, untuk melindungi mereka berlima dari hawa panas, karna kobaran api yang besar yang membakar rumah batu, dimana mereka terjebak di dalamnya.
Ketika prajurit prajurit itu terus mengumpulkan batangan kayu kayu kering yang besar dan sangat banyak, dan terus di lemparkan kearah rumah kayu itu.
Para prajurit dan komandan mereka tak menyadari, bahwa apa yang sedang mereka lakukan tengah di awasi oleh 6 pasang mata, yang belum lama datang karna tertarik melihat api yang sangat besar di dekat hutan.
"Toako apa yang sedang mereka lakukan ?" tanya salah seorang dari mereka.
"Mereka sepertinya sedang membakar seseorang di rumah batu itu,"
"Prajurit prajurit kurang ajar, siapa yang mereka bakar ?" aku memang sudah curiga dengan gubernur kota Tianjin bukan orang baik baik, dan jika benar maka pasti mereka membakar musuh yang tangguh di dalam rumah batu itu.
"Mari kita tolong mereka,.!!" setelah berkata, orang yang di sebut Toako melesat kearah para prajurit itu, dan langsung menyerang, tangan nya langsung mengibas, dua orang prajurit yang sedang membawa Kayu lalu terpental dan langsung tewas.
Komandan prajurit itu terkejut ketika melihat 2 orang anak buahnya tewas, dan melihat tiga orang datang, sang komandan langsung mencabut pedang, lalu menyerang salah seorang dari 3 orang yang datang.
Tapi komandan prajurit itu terkejut ketika menebas ke arah orang itu, dan ternyata orang itu sudah hilang dari hadapannya, belum hilang rasa kejutnya, sebuah tangan dari samping langsung menghantam leher komandan prajurit itu.
Kreeeek...!!
__ADS_1
Komandan prajurit itu langsung terpental, dan langsung tewas dengan tulang leher yang remuk.
6 orang anak buahnya yang melihat, terkejut dan sangat takut, tapi sebelum mereka lari, dua orang berpakaian hitam itu langsung menghantam satu persatu prajurit prajurit itu, dan semuanya langsung tewas.
Orang yang di sebut Toako melihat kayu kayu yang terbakar, dan menumpuk di rumah batu itu, lalu kedua tangannya bergerak, setelah menarik nafas dalam2 lalu ia mendorongkan kedua tangannya.
Suara gemuruh angin keluar dan menghantam kearah rumah batu itu, sebagian kayu kayu berterbangan, tapi masih banyak kayu kayu yang membakar rumah batu itu.
Toako sudah lah, mungkin orang itu juga sudah matang di dalam, Toako lihat, pintu dari baja itu sudah merah membara saking panas dan banyak nya kayu dan miyak bakar.
Hmm..!!
Orang yang di sebut Toako mendengus.
Sedangkan Mo kwi dan anak buahnya sudah pasrah di dalam rumah batu, Ling ji sudah kehabisan tenaga dalam, karna terus menggunakan ilmu unsur air, untuk menahan hawa yang sangat panas, setelah Ling ji tak menggunakan lagi ilmu unsur airnya, baru mereka merasakan hawa panas yang sangat luar biasa.
Di saat saat genting itu, Mo kwi mendengar suara dari luar.
"Apa ada orang di dalam,..Apa ada orang di dalam ?"
Mo kwi ingin mejawab, tapi ia berpikir biarpun ada orang di luar tak.mungkin mereka dapat menolong.
dan suara itu mungkin hanya sebuah ilusi belaka.
Sementara mereka yang berada diluar berdiri di depan pintu baja.
"Kalian berdua minggir..!!" pintu baja itu memang tebal, tapi karna sangat panas, menjadi merah, dan baja apapun akan menjadi tidak begitu keras jika terlalu panas, aku akan menghantam engsel pintu baja ini, jika benar dugaanku, maka engsel pintu baja ini akan rapuh karna panas berlebih."
Setelah berkata, orang itu lalu memasang kuda kuda, kedua tangannya bergerak kekiri dan ke kanan.
Kemudian ia menarik nafas dalam dalam.
lalu kedua tanganya di hantamkan kedepan.
Whuuut,...braaaak,..blaaaaam
Engsel pintu yang tebal, tapi karna sangat panas menjadi lembek.dan pintu baja itu langsung jatuh karna engsel pintu terkena hantaman tenaga dalam tinggi dan tak kuat menahan pintu.
jatuh nya pintu baja menimbulkan suara keras dan gemuruh di sertai percikan api.
Ketiga orang itu lalu melihat kedalam rumah batu yang pintu bajanya sudah terbuka.
Agaknya kita terlambat, salah seorang berkata.
Sang toako tersenyum ketika melihat dua buah bayangan melesat dari dalam rumah batu.
Seorang berpakain putih yang mengapit dua orang di kiri dan kanan, sementara yang seorang lagi, menggendong seorang gadis.
Keduanya lalu sampai di depan ketiga orang itu.
Mo kwi lalu meletakan Ling ji di tanah, dan ketika ia melihat kearah ketiga orang itu, Mo kwi tertegun.
Begitu pula ketiga orang itu yang juga tertegun, ketika melihat Mo kwi.
Ternyata ketiga orang itu adalah kakeknya.
__ADS_1
Kim mo, Hek mo dan Nio nio.