
Pendeta Sharwani menatap pedang kelabang biru, yang tadi di berikan nenek kharmila, sebuah pedang dengan logam berwarna kebiruan, tampak dari sarung pedang terlihat, bahwa pedang itu bukanlah pedang sembarangan.
"Pasti pedang yang mengandung racun yang sangat jahat, aku harus hati hati terhadap pedang itu," Pendeta Sharmani berkata dalam hati, dan pendeta tua itu juga tak yakin apa, senjata yang ia pakai, mustika tulang purba miliķnya dapat menahan senjata dari Kakek berwajah merah itu.
"Kakak..!!" kau harus hati hati terhadap tangannya itu," nenek kharmila berkata, "adik tenang saja," Pedang gila berkata.
"Maju lah," pendeta sharmani berkata, Pedang gila mendengus mendengar perkataan dari pendeta Sharmani.
"Tamu yang maju lebih dulu," Pedang gila berkata.
"kau saja yang maju..!!" pendeta sharwani berkata,
Nenek kharmila yang melihat mereka tarik ulur, mengerutkan dahi, dan berkata, "kalian mau bertempur tidak ?"
"Mau" terdengar jawaban dari keduanya.
"lalu kenapa diam ?" nenek Kharmila berkata.
"Peraturan, tamu menyerang lebih dulu..!!" Pedang gila berkata, sementara Sharwani mendengar perkataan dari Pedang gila, membalas perkataan dari Pedang gila itu, "kalau aku tidak mau, kau mau apa ?" pendeta Sharmani berkata.
Nenek Kharmila mendengus mendengar perdebatan mereka berdua, lalu berkata, "dasar kalian tua gila, bikin pusing kepala saja," setelah berkata nenek kharmila, melesat pergi meninggalkan mereka berdua, menyusul rombongan Shin mo menuju arah istana kaisar Zhiangwen.
Melihat nenek Kharmila pergi, wajah Pedang gila berubah sangat kelam.
"Kau sudah bikin adik Kharmila kesal, gundul..!!"
Pedang gila langsung melesat, menyabetkan pedang kelabang birunya kearah leher dari pendeta Sharmani.
Pendeta Sharwani terkejut melihat kecepatan Pedang gila, dalam melancarkan serangan, tanpa ragu lagi, pendeta Sharwani bergerak mundur menghindari serangan Pedang gila, lalu balik menyabetkan senjatanya, mustika tulang purba, kearah perut dari Pedang gila.
Pedang gila langsung menyabet tangan yang menggenggam tulang purba itu, pendeta Sharwani, menarik serangannya, karna jjka di teruskan, pasti tangannya akan putus.
Pendeta Sharmani lalu bergerak kekiri, dan kali ini senjata tulang purba itu, langsung menghantam, bahu Pedan gila, Pedang gila langsung menangkis sabetan Tulang purba itu, dengan pedang kelabang biru miliknya,
Traang..
Suara nyaring terdengar, pendeta Sharwani, langsung mundur ketika kedua senjata mereka beradu, lalu melihat kearah senjata tulang putih, yang seperti tulang tangan manusia itu.
Ketika melihat tak ada cacad, akibat beradunya kedua senjata mereka.
Mata pendeta Sharmani berkilat, sambil menatap tajam kearah Pedang gila, setelah melihat mustika tulang purbanya mampu menahan pedang kelabang biru milik Pedang gila, Tanpa menunggu lagi, lalu pendeta Sharmani langsung menyerang pedang gila,
__ADS_1
Mustika tulang purba yang tak terlalu panjang dan berbentuk seperti tulang manusia itu, langsung menyambar kearah kepala Pedang gila.
Pedang gila menangkis serangan yang menuju kearah kepalanya dengan pedang kelabang biru, tapi tiba tiba serangan berubah dan langsung menuju bahu kanan dari Pedang gila.
Kakek berkulit wajah merah itu, mendengus melihat perubahan mendadak, dan langsung mengibaskan tangan kirinya dengan jurus iblis gila ke arah leher dari Pendeta Sharmani.
Pendeta Sharmani, mendengus geram, melihat serangan itu, karna ia berharap musuhnya itu akan menangkis, jika seperti ini, maka ia dan musuhnya akan sama sama terkena serangan.
Pendeta Sharmani, dengan terpaksa lalu menarik serangannya, lalu menangkis dengan mengibaskan tangan kirinya manangkis serangan dari Pedang gila.
Dhuaar...!!
Kedua hawa tenaga dalam bertemu, dan keduanya tampak seimbang, tapi sebenarnya yang tak disadari oleh Pendeta Sharmani adalah, ia menggunakan tenaga dalam sebesar 7 bagian, sementara Pedang gila hanya enam bagian.
Dan keduanya lalu mundur setelah tenaga dalam mereka bertemu.
Pedang gila sangat bernafsu melihat serangan dan gerakan aneh dari ilmu yang di keluarkan oleh pendeta Sharmani.
Pedang gila lalu melintangkan pedangnya di depan dada, kaki kirinya di tarik kebelakang, lalu tubuhnya dengan cepat bergerak, kearah pendeta Sharmani,
Gerakan pedang gila, menebas pinggang pendeta Sharwani sangat cepat sekali, pendeta Sharmani terkejut melihat cepatnya gerakan pedang gila, lalu dengan cepat pendeta itu loncat mundur, sambi ia bergerak kearah kanan, dan mustika tulang purba balas menyerang dan menyambar pinggang Pedang gila, pedang gila tak peduli dengan serangan dari pendeta Sharmani, karna jarak nya yang jauh, dan terus bergerak, tapi wajah pedang gila sangat terkejut, ketika melihat tangan pendeta Sharmani terlihat seperti memanjang, lebih dari seperti tangan umumnya.
Bhuuuk..!!
Setelah terkena hantaman dari pendeta sesat itu, Pedang gila langsung melentingkan tubuhnya, dan mundur kebelakang.
Setelah jauh, Pedang gila mengerak gerakan tubuhnya, membungkuk, lalu menggerak gerakan tangan kekanan dan kekiri, untuk menghilangkan rasa sakit di pinggang, yang terkena hantaman dari senjata tulang purba, milik pendeta Sharmani.
Hahaha
"Ada apa dengan pinggang mu, muka merah, apa sakit ?" pendeta Sharmani berkata, mengejek Pedang gila, mulut mengejek, tetapi dalam hati pendeta Sharmani, sangat terkejut, tadinya berpikir pukulannya itu bisa membunuh, atau setidaknya membuat musuhnya luka parah dan tak sadarkan diri, tapi kali ini, kakek muka merah, hanya mengerak gerakan pinggang nya.
Hmm..!!
Setelah merasakan rasa sakit di pinggangnya agak berkurang,
Pedang gila menatap kearah pendeta Sharmani.
Pedang gila teringat perkataan dari nenek Kharmila yang memberitahu untuk berhati hati terhadap tangan pendeta itu,
Jadi tanganya bisa memanjang, Pedang gila berkata dalam hati.
__ADS_1
Matanya terus menatap kearah tangan pendeta itu, yang di hiasi gelang gelang yang terbuat dari emas dan bergemerincing.
Pedang gila, lalu meletakan ujung pedang kelabang biru masuk.sedikit di tanah, lalu pedang kelabang biru mencongkel tanah itu, tanah yang di congkel oleh Pedang kelabang biru melesat kearah pendeta Sharmani, lalu di susul dengan pedang yang tegak lurus melesat dan menusuk ke arah leher dari pendeta Sharwani.
Pendeta Sharmani menghantamkan tangan kirinya untuk menghalau tanah yang melesat kearahnya sementar itu, tangan yang memegang tulang purba, bergerak sama lurus kearah Pedang gila.
Blaaar....Creeeeps...!!
Tanah yang melesat, hancur dan berubah menjadi serpihan debu terkena hantaman dari tangan kiri pendeta Sharwani, sedang kan ujung pedang kelabang biru, di tahan oleh mustika tulang purba milik pendeta Sharmani.
Pedang gila mengerahkan tenaga dalamnya, kearah pedang kelabang biru, begitu juga dengan pendeta Sharmani, pedang kelabang biru, menerima tenaga dalam yang besar dari Pedang gila, warna biru pedang itu semakin terang, dan pendeta Sharwani kali ini baru merasakan bahwa tenaga dalamnya masih berada di bawah musuhnya, Pedang gila.
Tenaga dalam mengalir semakin besar, dan Pedang kelabang biru berdengung, butiran keringat sebesar biji jagung mulai terlihat di wajah pendeta Sharwani, dan pendeta Sharmani terkejut ketika mendengar suara.
Krek,..kreeek.!!
Mustika tulang purba mulai terlihat retak, dan retakan itu mulai melebar, pendeta Sharmani terkejut, lalu sekuat tenaga, ia kerahkan semua tenaga dalamnya.
Blaaaar...!!
Mustika tulang purba hancur berkeping keping, pendeta Sharmani loncat mundur, dadanya terasa sesak, akibat dari dorongan. tenaga dalam Pedang gila.
Pedang gila loncat mundur, lalu dengan cepat pedang ia lintangkan di depan dada, lalu salah satu, kaki ditarik kebelakang,
Setelah, ..!!
Dengan teriakan.kencang, pedang gila melesat cepat kearah pendeta Sharmani
Jurus akhir tingakt 7, ilmu yang jarang di pakai oleh.
Pedang gila, yang bernama, sambaran kilat perir, dengan sangat cepar, meluncur ke arah pendeta Sharmani.
Craaas..!!
Pendeta Sharmani hanya bisa menatap ngeri, dan telinganya mendengar seperti suara petir, menyambar ke arahnya.
Dan kepala Pendeta Sharmani langsung putus ketika Pedang kelabang biriu menyambar leher pendeta itu.
Tubuh tanpa kepala itu terhempas ketanah
Pedang gila lalu menghampiri, kepala dari Pendeta Sharmani, ketika akan membawa kepala itu, Pedang gila langsung mengerutkan dahi, melihat kepala yang tanpa rambut, membuatnya mencari sehelai kain untuk membungkus kepala itu.
__ADS_1
"Sudah mati masih nyusahin orang," Pedang gila mendengus sambil berjalan mencari kain untuk membungkus kepala pendeta Sharmani.