
Kapal yang di kemudikan oleh Dewa langit terus melaju kencang karna semua layar terkembang dan angin yang bertiup juga lumayan kencang.
Shin mo dan Mo kwi sama sama saling tatap, dan bingung kenapa kapal itu tidak berhenti apa mereka ( Pedang gila dan Dewa langit ) tewas dan kapal berhasil di kuasai kembali oleh anak buah perkumpulan Bajak merah.
Begitu pula kapal pemburu yang mengejar dari belakang, kepala pasukan kapal pemburu anak buah Ciao lam juga bingung dan berpikiran sama dengan yang ada di kepala Shin mo dan Mo kwi, bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan kapal pengintai milik bajak merah.
2 kapal dan 1 perahu terlihat ber iringan di tengah laut, seperti saling kejar.
Pedang gila dan Dewa langit menengok ke belakang ketika melihat, kapal yang berhasil mereka rebut makin jauh.
"Kenapa mereka semakin jauh, apa mereka sudah tidak mengejar kita lagi ?" Dewa langit berkata.
"Pedang gila !" tadi kau sudah lakukan apa yang kusuruh ? Dewa langit berkata
"Memang kau suruh apa padaku ?" Pedang gila berkata.
"Aku kan suruh kau untuk menghentikan kapal ini ?" Dewa langit membalas perkataan Pedang gila.
"Menghentikan kapal" bagai mana caranya ?" Pedang gila berkata, sambil menatap ke arah Dewa langit.
"Jadi kau dari tadi tidak melakukan apa yang ku bilang ?" Pedang gila menggelengkan kepala mendengar perkataan Dewa langit.
"Aku di beri tahu oleh juru mudi kapal ini, jika ingin menghentikan laju kapal, kita harus menghancurkan layarnya," mendengar perkataan
dari Dewa langit, Pedang gila langsung menuju tengah dan melihat 3 buah layar terkembang, lalu tersenyum, rupanya ini biang keladi yang membuat kapal melaju dengan cepat.
Pedang gila lalu mengeluarkan Pedang kelabang biru.
Anak buah kapal yang tertotok tapi masih bisa bicara terkejut melihat Pedang gila mengeluarkan pedangnya dari pinggang.
"Jangan bunuh hamba tuan, tolong jangan bunuh hamba," anak buah kapal berkata.
Wajah anak buah kapal yang tertotok pucat pasi dan raut wajah ketakutan terlihat.
Hmm !
"Aku tak kan membunuhmu," Pedang gila berkata.
Lalu dengan Pedang di tangan, Pedang gila melesat sambil menyabetkan pedang kelabang biru miliknya.
Sreet, Sreet,..breet, breet.
Layar utama robek di beberapa bagian, ketika melihat robekan kain layar masih melambai lambai, Pedang gila lalu melesat kembali dan menebas ke arah tali yang terdapat kain layar, Pedang gila juga melakukannya terhadap layar yang lain, merobek robek dan menebas tali yang menghubungkan dengan kain layar.
Setelah selesai, Pedang gila menatap Tiang tiang layar kapal sambil tersenyum.
"Apa yang tuan lakukan ?" anak buah kapal itu bertanya.
"Aku baru saja memperlambat laju kapal ini !" Pedang gila berkata.
__ADS_1
"Memperlambat laju kapal " anah buah kapal berkata, sambil mengerutkan keningnya
"Lalu kenapa merobek layar kapal ?"
Hmm..!
"Kau terlalu banyak tanya !" untuk menghentikan laju kapal, menurut juru mudi kapal mu ini, dengan cara merobel robek layar kapal.
Anak buah kapal yang tertotok mengerutkan keningnya.
"Bukankah dengan menarik simpul tali yang terikat di tiang utama, maka layar akan terlipat sendiri. kenapa harus di robek robek oleh kakek itu ?" anak buah kapal berkata dalam hati.
Kapal pengintai perkumpulan Bajak merah ketika berhasil di rebut, 1 layar utama dan 2 layar tambahan di sobek sobek oleh Pedang gila, laju kapal pengintai itu tak cepat seperti tadi, hanya mengikuti pergerakan angin yang tak seberapa.
Sehingga kapal pemburu milik Ciao lam, dan perahu yang di pakai oleh Shin mo dan Mo kwi. berhasil mendekati kapal yang telah di rebut oleh Pedang gila dan Dewa langit.
Dan akhirnya kapal pengintai Bajak merah berhasil di susul.
Shin mo, Mo kwi dan kepala pasukan kapal pemburu milik Ciao lam, naik ke kapal yang berhasil di rebut oleh Pedang gila dan Dewa langit.
Shin mo tersenyum, begitu juga dengan Mo kwi, sedangkan kepala pasukan kapal Ciao lam, hanya bisa gelengkan kepala melihat perahu milik ketua mereka yang menancap di ruangan kapal yang berada di tengah, dan sebagian ruangan terlihat, karna lubang yang cukup besar.
Lalu melihat layar layar yang sobek sobek dan tali layar putus.
Kepala pasukan meminta kepada anak buah kapal untuk membuat layar sementara, sehinga tak usah di tarik oleh kapal mereka.
"Aneh ?" kapal pengintai ini tadi begitu cepat, kenapa sekarang semua layarnya hancur !"
Shin mo dan Mo kwi juga berpikiran sama.
"Kakak !" tadi kapal ini kami tak sanggup mengejarnya, tapi kenapa sekarang kapal ini, menjadi lambat dan semua layarnya hancur ?" Mo kwi berkata sambil menatap ke arah Pedang gila dan Dewa langit.
Sedangkan Pedang gila mendengar perkataan dari Mo wki saling tatap dengan Dewa langit.
"Murid sudah menyuruh juru mudi kapal, untuk menghampiri perahu guru, tapi juru mudi tak bisa membuat kapal berjalan mundur, jadi untuk memperlambat kapal, juru mudi kapal menyuruhku untuk menghentikan laju kapal ini," Pedang gila berkata.
"Lalu apa yang juru mudi katakan untuk menghentikan laju kapal ?" Mo kwi berkata.
"Juru mudi menyuruhku untuk menghancurkan semua layar, supaya kapal berhenti." Pedang gila berkata.
Shin mo tersenyum, sementara kepala pasukan kapal mengerutkan kening mendengar perkataan dari Pedang gila.
"Tuan cukup menarik tali simpul yang ada di tiang layar, maka layar akan menutup dan kapal menjadi lambat." kepala pasukan kapal berkata.
Mo kwi tersenyum mendengar perkataan dari Pedang gila, lalu menganggukan kepala mendengar penjelasan dari kepala pasukan kapal milik Ciao lam.
"Siapa juru mudi kapal ini kakak ?" Mo kwi berkata kepada Pedang gila.
"Hamba yang menjadi juru mudi kapal ini Dewa api," Dewa langit berkata.
__ADS_1
Mo kwi tersenyum, sedangkan Shin mo dan kepala pasukan kapal tertawa, setelah merangkai, dan meyimak cerita kedua tokoh tua itu.
Setelah membereskan kapal dan kapal hanya ruangan tengah saja yang hancur, dan kondisi kapal yamg masih bagus, kepala pasukan kapal meminta ijin kepada Shin mo untuk membawa kapal, bergabung dengan kapal inti.
Mereka kemudian membawa kapal yang berhasil di rebut, di perbaiki, dan di pakai lagi.
Mo kwi lalu menyuruh Dewa langit untuk belajar mengemudikan kapal dengan anak buah Ciao lam, selama dalam perjalanan, Dewa langit sangat antusias belajar mengemudikan kapal dengan anak buah dari Ciao lam.
Tak terasa mereka sudah 3 hari berada di atas laut dan hampir mendekati Pulau Tamna, markas dari perkumpulan Bajak merah. dan itu di tandai dengan munculnya 2 kapal pengintai milik PerÄ·umpulan bajak merah.
Sore hari, rombongan besar kapal Ciao lam terlihat, setelah dekat dan kapal merapat, Shin mo, Mo kwi dan yang lain lalu naik keatas kapal inti, dan Ciao lam sudah menunggu di tempat Shin mo naik keatas kapal.
"Selamat datang ketua !" dan agaknya ketua berhasil mendapatkan kapal pengintai musuh," Ciao lam berkata.
"Bukan aku paman, melainkan anak buah anakku yang mendapatkannya," Shin mo berkata.
"Bukankah paman juga mengejar kapal pengintai musuh, lalu bagaimana hasilnya ?" Shin mo berkata.
"Hamba berhasil mendapatkan kapal pengintai itu, tapi orang orang di dalammya tak bisa memberi informasi yang kita butuhkan." Ciao lam berkata.
"Dan jika kita tak menemukan jalan aman menuju pulau Tamna, maka kita harus kembali dan mempersiapkan diri, karna jika di laut kita kekurangan bekal, maka kita akan cilaka, air tawar lah yamg sangat kita perlukan jika kita berada di laut ketua," Ciao lam berkata.
Shin mo mengangguk mendengar perkataan dari Anak buahnya Ciao lam, karna Ciao lam sudah sangat paham dengan pertempuran dan kehidupan diatas laut, dan hitungannya tentang situasi ini pasti untuk kebaikan semua anggota perguruan.
"Ada perahu datang, ada perahu datang"
Terdengar teriakan ber ulang ulang dari pengintai yang berada di atas tiang utama kapal.
Ciao lam lalu menyuruh anak buahnya untuk menarik perahu yang mendekat ke arah kapal utama.
Dua orang lalu naik ke atas kapal.
Huo in yang berada dalam perahu kecil itu bersama seorang yang berkaki satu.
"Hormat ketua, maaf jika menganggu, hamba hanya mengantar teman yang ingin bertemu dengan penyelamatnya, yaitu tuan muda Mo kwi." Huo in berkata kepada Shin mo.
Mo kwi mengerutkan kening melihat siapa yang datang, lalu tersenyum.
Tuan sudah sembuh rupanya, maaf kan aku karna terlambat menyelamatkan tuan sehingga tuan kehilangan sebelah kaki tuan.
"Aku yang harus berterima kasih kepada Tuan Mo kwi dan Tuan Huo in, aku ingin Sepuku ( menusukan pisau kecil kedalam perut, bunuh diri ) untuk menutupi rasa malu, Tapi tuan Huo in menasehati aku, dan berkata. Hidup haruslah berguna bagi orang lain, kata kata itulah yang membuat aku terharu."
"Perguruan Dewa iblis tak usah khwatir.
Semua jalan masuk ke pulau Tamna.
Oijin tahu dan akan membantu."
"Sekarang, Oijin tahu mana kawan dan mana lawan,"
__ADS_1
Setelah berkata Oijin membungkuk memberi hormat kepada Shin mo dan Mo kwi, lalu berkata.
"Oijin siap menerima perintah Tuan Mo kwi."